Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Tepis Keraguan


__ADS_3

Sore itu Grietta menjadi pendiam. Ia tak lagi bicara, padahal sebelumnya sudah mulai bicara banyak. Gadis kecil ini sedang duduk menatap langit di balik jendela. Tak ada harapan dalam pandangan matanya.


Ustadz Lana dan Wafa melihatnya turut sedih.


"Semalam dia banyak sekali cerita, dia sudah mulai bicara lagi dan sekarang dia dia m dengan alasan yang entah dia dapat dari mana bawa informasi Bapaknya mau pulang," ungkap Wafa berisik dengan Ustadz Lana.


"Apa sebelumnya kamu menelepon Pak Bian atau sedang bicara dengan pak Bian mengenai jadwal pulangnya beliau di rumah?" tanya Ustadz Lana.


Wafa menggeleng. "Kami bahkan belum berkomunikasi selama hampir satu bulan. Komunikasi itu terjadi antara aku dengan asisten pribadinya saja, itupun melalui pesan singkat bukan telepon." jelasnya.


Helaan nafas lembut keluar dari hidung Ustadz Lana. Pria ini berusaha untuk membuat semangat Grietta kembali. Ia menghampiri gadis itu, membelai rambutnya perlahan, kemudian bertanya, "Grietta, kenapa kamu disini sendirian?"


Gadis kecil ini menoleh. "Nana?" sebutnya. "Nana, aku, tidak mau, pulang ..." begitulah ucapnya dengan satu kata demi satu kata.


"Sebenarnya tidak ada yang mau ngajak kamu mau pulang hari ini. Kenapa kamu terus merasa sedih dan mengatakan jika Mama Wafa sudah tidak mau kamu lagi?" tanya Ustadz Lana dengan lembut.


"Apa kamu tidak kasihan dengan Mama Wafa? Lihatlah, dia begitu sedih karena kamu terus diam seperti ini dan Mama Wafa tidak mungkin akan mengembalikan kamu kepada Papamu kecuali Papamu sendiri yang menjemputmu ke sini,"


"Lihat, Mama Wafa sedang sedih karena kamu terus seperti ini. Apa kamu tega membuat Mama Wafa-mu sedih?"


Kata-kata yang diucapkan oleh Ustadz Lana membuat Grietta tertunduk lesu. Gadis kecil itu kemudian memandangi Wafa yang saat itu sedang melihat dirinya. "Mama—" ucapnya lirih.


Wafa berlutut di depan Grietta. Kemudian mengatakan bahwa dirinya belum menerima kabar dari Bian kapan pria itu akan kembali dari bisnisnya. Mendengar ucapan Wafa membuat gadis kecil yang manis ini sedikit lega. Namun, Wafa sendiri juga merasa jika akan ada hal yang membuatnya sedih di masa depan, yang dimana ada hubungannya dengan pertemuannya bersama Grietta.


"Nana, aku ingin bermain dengan Nana dan juga Mama. Bisakah Malam ini kita pergi bersama? Hanya bertiga saja?" pinta Grietta, menunjukkan ketiga jarinya. Bicaranya saat itu sudah mulai tertata rapi meski masih terbata-bata.


Permintaan itu membuat Wafa dan Ustadz Lana saling memandang. Tak lama, pandangan itu langsung beralih karena tahu tidak seharusnya mereka saling berpandangan.


"Nana, Mama," Grietta sambil menarik masing-masing tangan kedua orang dewasa yang selalu ada untuknya itu.

__ADS_1


"Pergilah!" seru Sari dari belakang sana.


Semua melihat ke arah wanita yang tengah hamil muda itu. "Kalian bertiga bisa pergi malam ini. Akan aku beri waktu kalian sampai jam 9 malam harus sampai rumah," lanjutnya.


"Um, saya ... saya ...." Ustadz Lana terlihat keberatan.


"Kenapa, Ustadz? Apakah anda keberatan dengan permintaan Grietta?" Sari memberikan kode, jika Grietta memerlukan kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Melihat Ustadz Lana dan juga adiknya bersama-sama menumbuhkan rasa percaya diri pada Grietta untuk bicara kembali, Sari sangat yakin jika Grietta sendiri bisa merasakan apa itu kasih sayang orang tua dari mereka berdua.


"Ingat tujuan awal. Allah maha mengetahui, Mbak dan Abi percaya kepada kalian tidak akan pernah melakukan hal yang tidak-tidak dan fokus untuk kesembuhan Grietta saja," ujar Sari. "Pergilah ...."


Setelah shalat isya', mereka berpamitan dengan pak kyai juga tentunya. Untuk membahagiakan Grietta juga, pak kyai mengizinkan Wafa pergi bersama dengan Ustadz Lana. Benar adanya jika pak kyai sangat senang jika Wafa bisa menikah dengan pria pilihan beliau. Namun tetap saja, ada hal kekhawatiran seorang ayah terhadap putrinya pergi bersama dengan laki-laki yang bukan mahramnya.


"Yang terpenting kalian jangan pulang terlalu malam. Bersenang-senanglah secukupnya, ingat tentang aturan dan norma-norma agama, paham?" tutur pak kyai.


"InsyaAllah saya akan menjaga Wafa dan Grietta dengan sebaik-baiknya, kyai. Kami pasti juga akan selalu mengingat batasan-batasan itu," sahut Ustadz Lana.


"Assalamu'alaikum—"


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh."


Tujuan pertama mereka malam itu adalah alun-alun kota. Ada banyak sekali permainan di sana yang pastinya akan membuat gadis kecil berusia 6 tahun ini pasti bahagia. Sekitar 20 menitan barulah mereka sampai di alun-alun kota.


"Alhamdulillah, kita sudah sampai. Ayo, kita turun!" seru Ustadz Lana.


"Nana, bisakah Nana menggendongku?" pinta Grietta.


"Apapun yang tuan putri inginkan, Nana pasti akan lakukan. Ayo!" sahut Ustadz Lana. Ia turun dari mobil, kemudian membuka pintu untuk Grietta.

__ADS_1


Benar saja, Ustadz Lana menggendong Grietta dan langkahnya diikuti oleh Wafa dari belakang. Mata Grietta terus menatap ke arah beberapa anak yang sedang mewarnai di sana.


"Apa kamu ingin mewarnai?" tanya Ustadz Lana, sadar pandangan Grietta mengarah kemana.


Grietta melihat ke arah Wafa, seolah gadis kecil ini tengah menanti izin. Wafa pun mengangguk setuju dan membuat gadis kecil ini bersorak, "Yeay!"


"Pak, satu ya!" Ustadz Lana memesan cat air untuk Grietta.


"Wafa, saya mau menjawab telepon dulu. Jika nanti kamu mau jalan-jalan tolong hubungi aku dulu ya supaya kita tidak saling mencari nantinya," ucapnya dengan nada yang begitu lembut.


"Iya, Ustadz," jawab Wafa setuju.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh."


Selesai meracik cat pewarnanya, pemilik dari penjual lukisan itu memberikan cat air itu pada Wafa. Gadis berusia 20 tahun ini segera mengajak Grietta mewarnai. Hingga sampai menit ke 7, tangan Grietta terhenti karena melihat anak yang ada di depannya.


Anak itu sedang melukis bersama dengan kedua orang tuanya dengan canda tawa dan sesekali Wafa mendengar sang ayah memuji anaknya. Ia sangat tahu apa yang ada di pikiran Grietta malam itu.


'Pasti Grietta sedang merindukan kedua orang tuanya. Panasnya dulu pernah bercerita jika Nyonya Flanella tak pernah menyayanginya. Bahkan pak biar sendiri juga terkadang tidak pernah memberikan kasih sayang kepadanya,' batin Wafa.


'Grietta, anak sekecil kamu sudah merasakan betapa tidak adil di dunia ini. Meski cara hidup kita berbeda, aku sangat tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Mendambakan kasih sayang dari orang tua yang sama sekali tidak pernah memperhatikan anaknya. Aku sangat tahu sekali bagaimana rasanya.'


Wafa membelai rambut lurus Grietta. "Sayang, ayo selesaikan. Setelah ini, kita bisa bermain permainan yang lainnya juga, hmm?"


Gadis kecil itu mengangguk.


Meski malam itu Wafa sedang bermain bersama Grietta, perasaannya masih tidak nyaman dengan memikirkan gadis kecil itu. Wafa selalu berdoa supaya Bian tidak cepat pulang supaya dirinya bisa berlama-lama bersama dengan Grietta.

__ADS_1


Baru saja dipikirkan, Bian mengirim pesan pada Wafa yang berisikan ....



__ADS_2