
Bruak!
Nampak yang dibawa oleh Flanella ia banting di meja. Melihat raut wajah putrinya yang ketakutan membuat Flanella menahan amarahnya.
'Sialan, ternyata wanita telah mempengaruhi anakku. Tidak akan aku biarkan, wanita itu harus menyingkir dari pikiran Grietta!' seru Flanella dalam hati.
"Okay, Grietta. Terserah kamu mau melakukan apa. Perlu kamu ketahui saja, orang yang kamu sebut sebagai Mama itu tidak pernah peduli padamu," ungkap Flanella.
Mata Grietta langsung terbelalak.
"Kenapa? Apa kamu tidak tahu jika Mama Wafa-mu itu setelah hari rayanya akan menikah dengan pria lain, bukan dengan Bian," lanjut Flanella dengan senyum sinisnya.
Grietta berdiri dan menatap ibunya dengan sengit.
"Ponsel ini bisa kamu gunakan untuk bertanya pada Bian. Yakinkah jika Bian akan menikahi Mama Wafa-mu itu dan menjadikanmu putri mereka? Itu mustahil, Grietta," lirih Flanella.
"Kamu tidak ada hubungan apapun dengan mereka berdua. Kamu bukan anak kandung Bian, kamu adalah anak kandung kami, Mami Flanella dan Papa Sidhart!"
Grietta tentu tercengang mendengarnya.
Tiba-tiba saja ...
Plak!
Tamparan itu Flanella dapatkan dari suaminya—Tuan Sidhart.
"Sid!" sentak Flanella, matanya hampir saja lepas dari tempatnya.
"Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu. Apa kamu ingin aku mencongkel bola matamu itu?!" desis Sidhart.
Flanella langsung terdiam.
"Tidak ada yang boleh menyakiti perasaan putriku, apa kamu mengerti!" tegas Sidhart. "Sudah aku katakan jangan pernah mengatakan apapun tentang masalah itu lagi, atau kita akan benar-benar kehilangannya," desisnya.
"Jika aku mendengar kata-kata itu lagi keluar dari mulutmu, aku kan pastikan bahwa kamu akan menderita sama hidupmu, mengerti?!" ancam Sidhart.
Sebelumnya sudah dibuat tercengang oleh ungkapan ibu kandungnya. Kini Grietta kembali dibuat ketakutan dengan sikap dan kata-kata kasar dari Sidhart, yang diduga adalah ayah kandungnya.
"Nak, kamu pergilah ke kamar. Hari ini akan datang pengasuh baru, dia akan menemanimu ketika kamu ada di sini, hm?" sikap Sidhart berubah 180° begitu berbincang pada Grietta.
__ADS_1
Ketakutan, Grietta patuh dan segera lari ke kamarnya. Menutup rapat-rapat pintu kamar dan mencoba menenangkan diri, meski harus dengan menangis ditutupi bantal.
***
Buka bersama sekaligus reunian telah tiba waktunya. Iya, itu sudah berlalu satu minggu setelah insiden pengambilan paksa Grietta oleh ibu kandungnya. Selama itu juga, Wafa dan Bian sama sekali tidak berkomunikasi dan tidak pernah lagi bertemu.
"Akhirnya kita datang ke acara ini juga!" seru Inneke, bahagia.
"Hei, apa aku cantik mengenakan jilbab ini? Hmm, pasti teman-teman kita pada tidak menyangka aku mengenakan jilbab, mereka juga pasti mengira aku log in ke Islam, ha-ha-ha," tawa Inneke bahkan terjeda.
Wafa memutar bola matanya. Segera turun dan pergi ke lantai atas yang sudah di booking untuk acara reuni sekaligus buka bersama. Ketika masuk ke lift, Wafa tak sengaja bertemu dengan Ferdian.
"Loh, Wafa! Kamu di sini?" sapa Ferdian.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Wafa.
"Waalaikumsalam, hehe. Kamu di sini juga? Lama sekali kita tak jumpa, Wafa!" seru Ferdian.
Inneke menyentil lengan Wafa. "Kenapa dia ada di sini? Curiga aku," bisiknya lirih.
"Sttt, jangan keras-keras," tegur Wafa.
Ferdian mengatakan jika dirinya adalah orang yang mensponsori acara buka bersama. Ferdian yang memiliki usaha kuliner, rupanya dia yang memasak menu buka bersama Wafa dan teman seangkatannya pada sore hari itu.
Tatapan Ferdian membuat Wafa risih, ia selalu mencari celah supaya tidak terlihat olehnya.
'Kenapa dia selalu melihatku dengan tatapan seperti itu? Ya Allah, ini sungguh membuatku tidak nyaman, astaghfirullah hal'adzim ....' batin Wafa.
Sesungguhnya memang Ferdian ini memiliki niat jahat. Telah lama sekali dia mendambakan Wafa dan ingin memilikinya seutuhnya. Berkali-kali juga Wafa menolak dengan alasan ingin fokus belajar. Namun, kedekatan Wafa dengan Bian dan ustadz Lana rupanya membuat amarah Ferdian bangkit.
'Takdir mungkin memang berpihak padaku. Hari itu jika aku tidak datang ke acara pernikahan sepupuku, aku tidak mungkin bertemu dengan salah satu angkatan Wafa ketika sekolah. Hmm, rencanakan sebentaagi akan sempurna, kini sudah berjalan sesuai alur yang aku inginkan,' gumamnya dalam hati.
Allahuakbar, Allahuakbar ....
"Alhamdulillah ...."
Waktunya berbuka puasa. Dari kejauhan, Ferdian terus mencuri-curi pandang wajah Wafa yang meneduhkan itu. Setelah melihat Wafa sudah selesai makan takjil, Ferdian menawarkan minuman yang dimana minuman itu ada dalam menu yang disajikan malam itu.
"Malam hadirin semuanya. Saya Ferdian, kepala tim dari penyajian makanan acara buka bersama hari ini mengucapkan banyak terima kasih karena tim kami telah menerima banyak sekali pujian dalam menyajikan makanan,"
__ADS_1
"Sebagai bentuk rasa terima kasih saya, saya akan menambahkan minuman yang saya buat dengan resep sendiri. Namanya air sejuk dari teluk hati,"
Nama dari minuman karya Ferdian mendapat respon baik dari teman-teman seangkatan Wafa. Tak sedikit dari mereka juga tertawa karena merasa terhibur dengan nama minuman yang Ferdian buat.
"Silahkan, di sana ada beberapa varian rasa dan bisa saja diminum hangat maupun dingin," Ferdian meminta para tim nya untuk membagikan pada para tamu.
Ferdian pun berjalan mendekati Wafa seraya berkata dengan manis. "Khusus minuman yang saya bawa ini, saya akan persembahan pada seseorang yang telah menjadi motivasi saya dalam berkarya, yakni Wafa Thahirah—dia adalah orang yang menginspirasi saya selama membuat minuman ini,"
"Wafa, silahkan ...."
Ferdian memberikan minuman tersebut. Tahu betul Wafa tidak mungkin akan menolak di depan umum, Ferdian begitu yakin sekali Wafa akan meminumnya sampai habis.
"MasyaAllah, tabarakallah. Terima kasih sebelumnya, Kak Ferdian. Saya jadi malu karena saya orang yang belum bisa dijadikan inspirasi," Wafa menerima segelas minuman yang dibuat khusus untuknya.
"Mohon untuk dihabiskan, Nona Wafa. Aku akan merasa terkesan jika kamu mau menghabiskannya," pinta Ferdian.
Tanpa tahu dan tanpa curiga, Wafa meminum minuman tersebut sampai habis. Ferdian memang terlihat begitu tenang, senyuman yang menenangkan itu tak terlihat seperti senyuman licik.
'Hmm, 10 menit lagi, Wafa. 10 menit lagi kamu akan menjadi milikku,' batin pria gila itu.
"Terima kasih, Wafa. Terima kasih karena kamu bersedia menyenangkan hatimu," ucap Ferdian.
"Ya Allah, Kak. Harusnya aku yang berterima kasih karena kamu telah menjadikan aku yang orang biasa ini menjadi inspirasi," sahut Wafa dengan senyuman tulus.
Seperti yang sudah direncanakan. Setelah 7 menit berlalu, Wafa merasa pusing dan tidak enak badan. Inneke yang entah kemana dia, sibuk dengan diri sendiri tidak tahu jika sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.
"Wafa, kamu kenapa?" tanya Ferdian, mendekati Wafa.
"Tidak tahu, Kak. Tiba-tiba saja kepalaku sangat pusing, badanku juga terasa berat dan ... sedikit panas," jawab Wafa.
"Sebaiknya kamu istirahat terlebih dahulu, Wafa. Kebetulan sekali siang tadi aku sudah cek in, ini kunci kamar yang sudah aku pesan, kamu gunakan saja sementara untuk istirahat," Ferdian memberikan kunci kamarnya.
S1 end sampai di sini.
S2 juga sudah release, yes....
Selamat membaca, kebenaran Grietta anak kandung siapa akan terbongkar di S2, begitu juga dengan apa yang terjadi pada Wafa selanjutnya. Thanks sudah setia dengan S1 Cinta Dari Mas Duda. Sampai jumpa disana. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Judul S2, sama yaa.... Cinta Dari Mas Duda 2
__ADS_1