Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Wafa Terluka?


__ADS_3

"Berisik!" teriak Parto.


"Bapak, Ibu, ambil wanita itu dan beri dia pelajaran. Tangisannya itu membuat kepalaku pusing saja!" perintah Parto kepada kedua orang tuanya untuk menyiksa Qia.


"Aku akan bermain dulu dengan wanita ini," Parto rupanya tertarik akan kecantikan wajah Wafa. Hal itu membuat Inneke bingung mau menyelamatkan siapa dulu.


"Ya Tuhan, kedua sahabatku sedang dalam masalah. Siapa yang harus aku bantu lebih dulu?" batin Inneke mulai sebak.


Saat itu, Wafa memberikan sinyal kepada Inneke untuk lebih dulu membantu Qia. Sebab, dirinya bisa mengatasi pria kasar itu sendiri. Wafa melakukan itu karena sadar jika Qia sedang hamil tua. Tidak akan baik bagi kandungan Qia jika tubuh lemahnya disiksa habis-habisan oleh kedua mertuanya.


Ketika Inneke hendak beranjak ke arah Qia, Sumi, sang istri sah Parto keluar dari kamar dan langsung menarik tangan Inneke. "Hei, mau kemana kamu? Dasar sok ikut campur!" ketusnya.


"Sialan, lepaskan aku!" Inneke memberontak.


"Jangan harap!" desis Sumi dengan senyum liciknya. Timbullah perkelahian di antara mereka berdua. Mereka saling campak-campakkan dan juga cakar-cakaran.


Di sisi Wafa, saat itu Parto sedang mengendus-endus wangi tubuh dari gadis berusia 20 tahun itu. "Lepaskan saya!" Wafa sudah mulai memberontak.


Tangannya digenggam erat oleh tangan kasar satunya milik Parto. Kemudian, tangan yang sebelahnya lagi menjambak jilbab dan rambutnya Wafa. Posisi itu sangat sulit bagi Wafa untuk bergerak.


"Cantik, menikahlah denganku. Aku akan memperlakukanmu dengan baik, lebih baik dari Qia, jika kamu mau menjadi istri ketigaku," bisik Parto. Wajahnya mulai menunjukkan muka mesum yang membuat Wafa semakin jijik saja.


"Dalam mimpimu, cuih!" reflek, Wafa pun meludahi Parto.


Memang tidak baik meludah kepada orang. Tapi dengan cara seperti itulah, Wafa bisa lepas dari cengkraman pria mesum seperti Parto. "Kurang ajar!" Parto pun melempar tubuh Wafa kembali ke almari bufet di ruangan itu.


Kening Wafa kembali terbentur. Benjolan sebelumnya, kini menjadi terluka karena saat itu, tepat sekali kening yang sebelumnya benjol, mengenai paku kecil yang ada di sudut almari bufet tersebut. Ketika Wafa sedang merasakan sakitnya terbentur, tiba-tiba ada dua tangan yang meraih lengannya. "Pak Bian?" sebutnya lirih.


"Wafa, kamu ... keningmu terluka?" saat itu juga, Bian menjadi marah. Emosinya memuncak ketika melihat kening Wafa mengalirkan darah.

__ADS_1


"Pak, saya pusing sekali," ucap Wafa lirih.


"Heh! Siapa lagi kamu! Singkirkan tangan kotormu itu dari calon istri ketigaku!" sentak Parto.


Kata, 'calon istri ketiga' itu, membuat Bian langsung menatap tajam Parto. "Apa katamu? Calon istrimu? Dia adalah calon istriku. Sejak kapan menjadi calon istrimu?" ketusnya.


Mendengar ucapan Bian, membuat Wafa terkejut. Bahkan, Inneke juga bisa mendengar pengakuan dari mulut pria kaya raya itu.


"Kamu tunggulah di sini, ya." Bian meminta Wafa untuk menunggunya.


Pria kaya raya itu mendekati Parto. Dalam hitungan detik saja, Parto mampu dilumpuhkan oleh Bian. Tubuhnya terkapar tak berdaya di pinggir sofa. Lalu, Bian tak tanggung-tanggung juga menarik tubuh Sumi yang kala itu sedang bermain jambak-jambakan dengan Inneke. Tanpa melihat gender, Bian tidak peduli jika Sumi terluka.


"Aduh!" teriak Sumi kesakitan kala punggungnya terpentok meja kecil.


"Kau telpon polisi. Katakan jika di sini ada kekerasan dalam rumah tangga dan juga penganiyaan," desis Bian kepada Inneke.


Kemudian, Bian masuk ke ruangan yang dimana itu adalah kamar mertua Qia. Dari luar, terdengar suara kedua mertua Qia berteriak kesakitan. Entah apa yang dilakukan oleh Bian, tapi saat itu Bian keluar membawa Qia dalam gendongannya.


"Qia?" Wafa menoleh ke arah Qia.


"Astaga, Qia. Tuan kaya, ada apa dengannya?" tanya Inneke, mendekat ke arah Bian.


"Apa kau buta? Dia sedang pingsan, bodoh! Cepat, kita bawa ke rumah sakit. Kau yang menyetir, saya tidak paham dengan jalanan kota ini," cetus Bian.


"Kau mengataiku bodoh? Apa kau sepintar itu, hah?" kesal Inneke.


"Wafa, ayo, kamu juga harus ke rumah sakit. Lukamu harus segera diobati," tidak lupa, Bian pun juga mengajak Wafa bersamanya.


Keributan itu sampai mengundang beberapa warga dan juga Bapak RT di kampung itu. Inneke memasrahkan keluarga suaminya Qia kepada aparat desa karena sebentar lagi polisi akan datang. Warga disana sangat senang keluarga Parto itu akan diciduk polisi. Selama hidupnya, keluarga itu selalu menyusahkan warga yang lainnya terutama warga yang kurang mampu. Tapi, karena tidak ada yang berani melapor, akhirnya kelakuan keluarga Parto semakin merajalela saja.

__ADS_1


"Alhamdulilah, ya. Ada yang melaporkan keluarga itu. Bersyukur saja kita dan berterima kasih kepada teman-temannya Qia," ujar salah satu warga di sana.


"Iya, kasihan sekali Qia. Selamat bertahun-tahun hidup dengan keluarga seperti itu. Maha baik Tuhan, sekarang dia terbebas dari belenggu rumah tangganya yang tidak sehat,"


"Benar, sekali!"


Para warga pun tidak lupa berterima kasih kepada Bian, Wafa dan juga Inneke. Sayangnya, mereka bertiga tidak sempat memberikan keterangan apapun kepada warga karena terburu-buru membawa Qia ke rumah sakit.


"Wafa, apa kamu baik-baik saja? Keningmu ... darahnya, lumayan banyak, loh!" seru Inneke mengkhawatirkan keadaan Wafa.


"Heh, fokuslah menyetir. Tidak bisakah kau mengurangi bicaramu itu? Membuat saya pusing saja!" kesal Bian.


"Ck, iya, iya!" jawab Inneke kesal juga.


Saat itu, Wafa fokus dengan Qia yang masih tak sadarkan diri. Wajah dan tangannya terdapat banyak luka lebam. Wafa sampai menangis melihat keadaan sahabat lamanya itu.


"Wafa, tenanglah. Kita akan segera sampai ke rumah sakit. Temanmu akan baik-baik saja," ujar Bian dengan kelembutannya. "Heh, kau! Cepatlah menyetirnya!" tegas Bian kepada Inneke.


Perbedaan sikap itu membuat Inneke sedikit kesal kepada Bian. Tapi, tidak bisa membenci karena bagaimanapun juga, adanya Bian, membantu mereka selamat dari keluarga gila suaminya Qia.


Setelah sekitar 15 menit, sampailah mereka ke rumah sakit. Bian meminta Inneke untuk mengurus semua masalah Qia, sementara dirinya memaksa Wafa untuk melakukan pemeriksaan. Hati Bian memang terketuk dengan kehadiran Wafa. Sehingga membuatnya bisa memperlakukan Wafa dengan istimewa.


"Kamu ikut dengan saya! Maaf, jika saya menyentuhmu," kata Bian, menarik tangan Wafa.


"Dan kamu, tetaplah di sini supaya jika dokter keluar, ada yang bisa diajak berbicara tentang kondisi temanmu!" cetus Bian kepada Inneke.


"Ta-tapi ..." belum juga Wafa berkata, Bian sudah menariknya dan membawanya ke ruangan di sebelah ruangan pemeriksaan Qia. Dia memanggil dokter khusus luka kulit di rumah akut itu dan memintanya untuk segera memeriksa Wafa.


Luka yang dialami Wafa tidak terlalu serius. Tapi memang harus di perban. Darahnya memang sudah berhenti mengalir, tapi Bian kekeh meminta dokter dan para perawat di sana untuk menutup luka Wafa. Hal itu membuat Wafa tertawa melihat wajah panik Bian.

__ADS_1


__ADS_2