Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Pulang Dadakan


__ADS_3

Malam itu juga, Wafa sudah keluar dari rumah sakit. Grietta dengan pengasuhnya juga datang untuk menjemput Wafa pulang.


"Mama!"


Panggilan Grietta seolah sebagi obat untuk Wafa. Gadis kecil itu tersenyum manis, lalu berlari ke arah Wafa yang saat itu duduk di kursi roda.


"Mama, aku merindukanmu," ucap gadis kecil itu dengan pelukan hangatnya.


"Aku juga sangat merindukanmu. Bagaimana harimu, cantik? Apa kamu senang bisa pulang ke sini?" Wafa menyentil dagu Grietta, kala gadis itu melepaskan pelukannya.


Gadis kecil itu menundukkan kepalanya. Nampak tidak senang dengan pertanyaan Wafa. Grietta bertanya, "Aku ingin pulang bersama, Mama. Pulang ke pesantren, apa bisa?"


Wafa menatap Bian. Pria itu sedang memalingkan pandangannya begitu ditatap oleh Wafa. Dari sana, Wafa menyimpulkan jika Bian tidak mengizinkan Grietta ikut bersamanya pulang ke pesantren.


"Sayang, tempatmu ada disini, bukan? Kamu besar disini, kenapa harus ikut denganku?" tanya Wafa, membelai wajah kecil Grietta.


"Aku bahagia bersama dengan Mama Wafa. Aku tidak ingin tinggal dengan Papa—ataupun orang-orang disini. Aku hanya ingin Mama Wafa!" seru Grietta, menghentakkan kakinya.


Grietta merengek, membuat keributan yang membuat Bian harus membentaknya. "Cukup, Grietta!"


"Hentikan rengekanmu itu. Tak bisakah kamu memahami situasi, kakak—maksudku, Mamamu Wafa baru saja pulih, bagaimana kamu bisa merepotkan begitu?" tegas Bian.


"Mas ..." suara lembut Wafa membuat Bian langsung diam.


"Sayang, lain kali kamu bisa ikut dengan Mama pulang. Tapi sekarang, kamu pulangnya harus ke rumah Papa. Alangkah baiknya jika kamu menjadi anak yang patuh, hm?" tutur Wafa dengan kelembutan.


Rencananya malam itu setelah Wafa keluar dari rumah sakit, Bian langsung ingin mengantarnya pulang ke negaranya. Wafa terus memohon pada Bian supaya mau mengantarnya pulang karena ingin menyambut bulan suci bersama dengan keluarganya.


Awalnya Bian juga mencegah, ingin Wafa tetap bersamanya sebagai bentuk pemilihan. Tapi apa daya, Bian tidak bisa mengatakan tidak pada Wafa. Dia akhirnya menyetujui keinginan Wafa.


***


Perjalanan menuju Bandara.


"Ish, kenapa kita harus beda mobil seperti ini? Bukankah tujuan kita sama? Mengapa Pak Bian harus memisahkan aku dengan Wafa?" protes Innenke.

__ADS_1


"Kali saja Tuan mau ada hal penting yang dibicarakan dengan Nona Wafa. Mengapa harus resah, kalian juga bakal bertemu kembali, bukan?" sahut Zaka Yang.


Inneke menyeritkan alisnya. "Kau tak paham saja. Menyetirlah dengan benar, berapa menit lagi kita sampai ke Bandara?" tanyanya.


"Ini sudah mau sampai. Memangnya kenapa?" Zaka Yang tetap saja membalas ocehan Inneke.


Mereka berdua memang tidak ada damainya ketika bertemu. Ada saja yang membuat mereka berdebat. Bahkan mereka juga selalu saja mempermasalahkan hal sekecil apapun itu.


Di dalam mobil yang Bian kendarai.


"Tuan, sebentar lagi kita akan sampai. Apakah saya harus ikut turun membawakan barang-barang Anda?" tanya sekertarisnya.


"Tidak perlu. Kau bisa langsung pulang saja. Katakan pada rekanmu untuk langsung pulang juga," perintah Bian.


"Baik, Tuan."


Suasana masih canggung saja setelah sore tadi ada kesalahpahaman diantara keduanya. Salah paham tentang apa memangnya?


Yah, sore sebelum Grietta datang, Bian sempat bicara berdua saja dengan Wafa membahas sakitnya Wafa yang tidak terlalu parah, tapi Bian bersikap seolah gadis itu sedang sekarat. Apalagi sampai membentak perawat, hal itu diceritakan oleh Inneke.


Sore ..


"Kenapa juga kamu marah? Saya baik-baik saja, hanya demam karena dehidrasi. Mengapa sampai membentak perawat segala? Apa salah mereka?" protes Wafa.


"Wafa, kamu tidak tahu. Perawat laki-laki itu ingin menyentuhmu, makanya saya melarangnya dan meminta perawat perempuan yang menangani dirimu," jelas Bian dengan wibawanya yang tinggi.


"Seharusnya jamu berterima kasih pada saya, kenapa malah mempermasalahkan? Saya yakin, jika gadis cerewet (Inneke) itu bicaranya dilebih-lebihkan," Bian memalingkan pandangannya.


Pria gagah dan tampan itu terlihat serius dan yakin sekali apa yang diucapkannya suatu fakta yang jelas.


"Tapi tidak harus sampai kamu memarahinya, bukan? Mas, pejabat negara, petugas medis, abdi negara sekalipun pasti sudah di sumpah. Jadi kenapa harus panik, mereka akan mengerjakan pekerjaannya secara profesional," cetus Wafa.


"Kamu ini gimana? Kamu sendiri yang bicara kepada saya, jika antara laki-laki dan perempuan itu tidak boleh saling bersentuhan jika mereka bukanlah suami istri ataupun sedarah," Bian masih saja tidak paham.


"Iya, benar. Saya juga yang mengatakan itu padamu. Tapi mereka juga bekerja tidak dengan hawa nafsu. Jadi sah-sah saja, Mas," Wafa juga sedikit bingung menjelaskannya karena melihat duda kaya itu sudah menyulut emosinya.

__ADS_1


Dari situlah kecanggungan dimulai.


***


Sesampainya di bandara, tidak menunggu terlalu lama pesawat mereka pun berangkat. Pesawat mereka juga delay, mendarat di negara tetangga. Kemungkinan jika mereka akan tiba di tanah air pagi hari.


Wafa, Bian, Inneke, Zaka Yang dan juga Grietta saling diam. Mereka tak banyak bicara dan sesekali bicara, itu pun hal yang penting. Lelah dan mengantuk juga mereka alami, jadi diam itu adalah pilihan yang tepat.


Hingga menjelang fajar, akhirnya mereka sampai di tanah air. Di sana sudah ada yang menunggu, dua mobil sesuai dengan perintah Bian. Satu untuk Bian mengantar Wafa, satunya lagi untuk Zaka Yang sebagai alat pengantar Inneke.


"Lagi-lagi kendaraan kita harus terpisah. Tak bisakah aku dan Wafa pulang bersama saja? Mobil ini jelas ada dua, satu untuk kalian bertiga, satunya lagi untuk kami, apakah tidak bisa?" protes Inneke.


"Jika kamu tidak bersedia, silahkan kamu pulang sendiri. Wafa tetap akan pulang bersama dengan saya!" tegas Bian.


Setelah mengatakan itu, Bian langsung meminta Wafa untuk masuk ke mobil. Wafa tidak bisa menolak, dia tersenyum sembari mengangkat bahunya pada Inneke, tanda jika dirinya tidak berdaya.


'Hilih, kau senang diantar oleh duda kaya, 'kan? Gadis ini, benar-benar ... aghhrrrr! Aku membenci pria ini, kenapa dia harus bersamaku!' kesal Inneke dalam hati.


"Ayo, aku akan mengantar kamu pulang," ajak Zaka Yang, membukakan pintu.


"Hmmm...." Inneke masuk tanpa melihat wajah Zaka Yang.


Lalu, di dalam mobil yang Wafa tumpangi, Dia sedang memanggul Grietta. Sepeti biasa, gadis kecil itu sangat manja dan ingin berlama-lama bersama dengan Wafa.


"Grietta, turun dan duduk sendiri. Kakakmu Wafa lelah, jangan tambah kau bebani dengan harus memangku dirimu seperti itu," perintah Bian itu dikatakan menggunakan bahasa Mandarin, tentunya membuat wafat tidak mengerti.


"Tidak, dia bukan kakakku. Dia adalah Mamaku, sudah berapa kali aku bilang, Papa!" kesal Grietta.


Pasangan anak dan ayah itu saling mendebatkan seorang Wafa. Sang ayah yang mengkhawatirkan gadis yang mulai ia sukai, sementara anaknya ingin selalu bermanja dengan gadis yang sudah ia anggap seperti mamanya sendiri.


Perdebatan yang tidak diketahui artinya oleh Wafa itu membuatnya pusing. Terpaksa, ia harus meminta keduanya untuk dia.


"Tak bisakah kalian diam sejenak? Saya pusing mendengar kalian bicara dengan nada tinggi seperti itu, tolong beri saya waktu untuk menenangkan diri"


Keduanya langsung diam.

__ADS_1


__ADS_2