Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Ungkapan Hati Bian.


__ADS_3

Pukulan keras itu sampai membuat Ferdian tersungkur. Luka hati Wafa tidak membuat garis itu dendam kepada Ferdian. Ia pembantu Ferdian berdiri tapi malah ditepis oleh Ferdian sampai Wafa jatuh di lantai.


"Aduh!" keluh Wafa ketika terjatuh.


"Wafa!" Bian segera membantu Wafa berdiri. "Kamu baik-baik saja? Katakan, mana yang sakit, apa bagian belakangmu sakit?"


"Kau me—" baru saja Bian ingin menarik kerah Ferdian, Wafa menghentikannya. Gadis itu menggeleng kepala, tanda jika dia tidak suka dengan sikap Bian.


Bian pun juga patuh, dia terhenti dan memalingkan wajahnya. "Kau urus dia!" perintah Bian pada asisten pribadinya. "Dan kamu ikut saya." lanjutnya pada Wafa.


Tanpa menyentuh bahu maupun lengan Wafa, Bian mengajaknya pergi bersama. Kemudian, hanya tinggal Zaka Yang saja yang ditugaskan untuk membereskan Ferdian.


Sore itu, Bian dan Wafa duduk di mobil sebelum pulang. Masih saling diam karena suasana menjadi canggung tentang fitnah itu. Mobil juga belum jalan karena masih menunggu Zaka Yang.


"Terima kasih untuk hari ini. Jika Bapak tidak datang tepat waktu, mungkin tidak tahu sampai kapan saya akan selalu bersama dengan fitnah Mayumi," ucap Wafa.


"Tidak perlu berterima kasih kepada saya. Saya melakukan itu karena saya berpikir memang itu adalah tugas saya," sahut Bian. "Jika kamu terluka, ataupun jalan masalah yang benar-benar bukan karena kamu buat, entah kenapa adik saya juga merasa sakit," imbuhnya, menatap keluar kaca mobil.


Mendengar itu, seketika Wafa jadi bimbang. Tapi Wafa juga masih sadar diri, ia berpikir jika Bian melakukan itu karena dirinya sudah membantu mengurus putrinya ketika Bian pergi.


"Saya tidak pernah tahu apa yang saya rasakan saat ini. Tapi ketika tadi kamu mengatakan bahwa ada orang yang memfitnahmu, aku langsung marah dan hatiku pisahkan sakit," ungkap Bian.


"Tolong jelaskan padaku, apa arti dari yang aku rasakan ini?" tanya Bian, kali itu menatap Wafa.


Wafa hanya diam, dia jadi gugup. Tapi sesaat, Wafa juga membalas pandangan mata Bian. Jantungnya berdebar kuat dan membuatnya tidak bisa bicara.


"Wafa," panggil Bian lirih.


"Ya," sahut gadis itu lirih juga, tatapannya bingung.


"Saya belum pernah merasakan hal ini seumur hidup saya meski saya pernah jatuh cinta. Apa kamu tahu apa perasaan saya padamu? Lalu bagaimana perasaanmu padaku, apakah mungkin kita memiliki gejala yang sama?" tanya Bian.

__ADS_1


"Em—" Wafa semakin bingung menanggapi pertanyaan Bian.


"Apa saya sedang terkena penyakit? Sebaiknya aku periksa saja." tukas Bian.


'Apa ini? Pak Bian jatuh cinta padaku, tapi dia tidak menyadarinya? Astaghfirullah hal'adzim, ini malah membuatku semakin bingung saja. Kenapa jantungku juga berdebar kencang seperti ini, sih?' batin Wafa.


Wafa bertanya tentang perasaannya Pak Bian dulu ketika bertemu dengan ibu kandungnya Grietta. Namun Pak Bian sendiri juga tidak pernah merasakan hal yang dirasakan saat ia bersama dengan Wafa.


"Pak Bian jatuh cinta dengan Bu Flanella itu ... bagaimana? Masa iya tidak seperti yang saat ini Bapak rasakan ketika bersama dengan saya?" tanya Wafa.


'Allahu Akbar, pertanyaan macam apa ini. Kenapa aku mempertanyakan hal seperti ini? Haduh, Wafa, Wafa. Bisa-bisanya kamu ini—ahhh!' batin Wafa mulai tersiksa lucu.


"Saya tidak pernah cinta dengan Flanella. Dia bukan kekasih saya sebelumnya. Kita hanya teman biasa saja. Tapi saya pernah jatuh cinta ketika syekh masih duduk di bangku sekolah pertama. Tapi rasanya tidak seperti ini," ungkap Bian.


"Apakah saya jatuh cinta padamu? Tapi bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Emangnya jatuh cinta beneran itu rasanya seperti apa?" lanjut Bian.


Krik ... krik ... krik ....


Suara jangkrik itu menghiasi suasana hatinya Wafa.


"Orang jatuh cinta itu yang merasakan diri sendiri, Pak. Sayang mana tahu jika Bapak jatuh cinta sama saya atau tidak," kata Wafa lirih. "Coba bapak tanya saja sama orang yang ahli jatuh cinta," usulnya.


"Memang ada orang seperti itu?" tanya Bian polos.


"Maybe ..." sahut Wafa dengan senyum terpaksa.


Berhenti saja suasana tidak mengenakkan itu dipecahkan oleh hadirnya Zaka Yang. Dengan laporan bahwa dia sudah membereskan Ferdian, membuat Bian puas.


Kemudian Bian menawarkan diri untuk menghukum Mayumi dan Dani sesuai dengan keinginannya. Namun Wafa menolak dan membiarkan mereka berdua dihukum oleh masyarakat karena pasti kabar Mayumi hamil sudah tersebar.


"Kenapa kamu harus sebaik itu? Bukankah mereka sudah melakukan kejahatan padamu? Bukankah kamu harus membalasnya supaya mereka jera dan tidak lagi memiliki peringatan jahat di masa depan?" Bian masih berharap Wafa balas kelakuan jahat Mayumi.

__ADS_1


"Tidak, saya tidak mau membalas mereka," jawab Wafa.


"Ayolah, Nona Wafa. Anda harus tegas pada orang-orang seperti mereka," desak Zaka Yang.


Plak!


Bian menepuk keras pundak Zaka Yang. "Untuk apa kau mendesaknya? Berhenti bicara dan cepat bawa kami ke rumah Wafa," perintahnya.


"Eh, untuk apa kita ke rumah Nona Wafa, Tuan? Bukankah sore ini kita ada pertemuan dengan Tu—" ucapan Zaka Yang terhenti ketika Bian membungkam mulutnya.


"(#?@(#?#)$?#(#! )@)@-?)"


Wafa sampai tidak paham apa yang Zaka Yang katakan. Ujung-ujungnya, Zaka Yang ditinggal di kampus dan Buan mengantar Wafa pulang sendiri. Tapi sebelum itu, Wafa sudah menelepon Inneke supaya menjemput Zaka Yang, dan Inneke pun terpaksa setuju karena sahabatnya yang memohon padanya.


"Apa yang Bapak lakukan pada Tuan Zaka itu salah. Kenapa juga bapak menurunkan beliau di sana sendirian?" protes Wafa.


"Ck, Kamu memanggilku dengan sebutan Bapak, tapi memanggil asistenku dengan sebutan Tuan. Kamu menyebalkan!" Bian merajuk.


"Eh, menyebalkan? Saya menyebalkan kata Bapak? Pak Bian yang menyebalkan, kenapa juga jadi saya?" Wafa protes lagi.


Bian meminggirkan mobilnya, dan berhenti di sana.


"Kok, berhenti?" tanya Wafa, menoleh ke kanan-kiri.


"Kamu bilang saya menyebalkan? Huft, kamu yang lebih menyebalkan. Selama satu bulan saya diluar negeri, wajahmu, namamu dan segalanya tentangmu selalu saja menghantui pikiran saya. Bahkan saya mau tidur saja tidak bisa tenang, tidak bisa menghubungimu, tidak bisa ngobrol denganmu, dan bahkan sa—" ucapan Bian terhenti ketika dia sadar apa yang ia katakan.


Teringat, Wafa sambung mengalihkan dengan pertanyaan yang dimana Bian mau mengajaknya ke luar negeri. Izin dari Abi-nya juga diungkapkan oleh Wafa, tapi Wafa juga mengatakan jika Abinya terlihat tidak tulus ikhlas.


Bian pun mengatakan jika dirinya lah yang akan meminta izin pada pak kyai. Awalnya Wafa menolak karena takut malah akan menjadi masalah. Tapi Bian memaksa karena itu sudah menjadi tanggung jawabnya.


"Kamu tidak perlu takut, diizinkan atau tidak, kita lihat nanti saja. Saya berharap orang tuamu bisa mengizinkan kamu ikut bersama dengan saya dan Grietta," kata Bian.

__ADS_1


"Mengenai apa yang saya katakan tadi, itu murni dari dalam hati saya. Kamu jangan jadi risih dengan saya, atau berpikir jika saya ingin macam-macam dengan kamu." tukas Bian lirih.


Wafa juga masih bingung dengan ucapan Bian. Bahasanya tidak tersusun rapi meski baku.


__ADS_2