
"Jadi Wafa ini beneran anak orang kaya? Kenapa dia juga tidak ngelawan saat Mayumi menghina dia miskin?" gumam Ferdian masih berada di depan gapura Pesantren. "Aku sudah menduganya ketika kita pertama kali bertemu beberapa tahun yang lalu itu,"
"Sangat tidak banyak di masa itu ada seorang gadis SMP memiliki ponsel sendiri. Rupanya dia orang berada—"
"Ck, karena harta yang aku nikmati sekarang adalah milik orang tua dan keluarga besar pesantren. Jadi untuk apa aku mau makan segalanya kepada orang-orang yang tidak penting bagiku," tiba-tiba saja Wafa sudah ada di belakang Ferdian.
Kedatangan Wafa yang tiba-tiba ini membuat Ferdian terkejut. Dia sampai membalikan badan dan melompat sedikit jauh dari Wafa berdiri.
"Astaga, Wafa? Sejak kapan kamu di sini?" tanya Wafa sembari mengusap-usap dadanya karena masih deg-degan terkejut. "Hei, kau sungguhan Wafa 'kan?" sambungnya, menatap Wafa lekat-lekat.
Wafa sedikit membuang muka. Dia masih kesal saja kepada Ferdian karena tiba-tiba menariknya ketika di parkiran kampus tadi. "Yah, sejak aku melihat kamu bicara dengan penjaga pesantren," jawabnya.
"Emm itu, aku ... Cuma penasaran saja, kok. Tidak ada maksud lain dan juga tidak ada rencana lain apapun. Real hanya ingin tahu Di mana rumah kamu saja," ungkap Ferdian.
Sebenarnya pun Wafa juga tidak ingin membawa siapapun masuk ke pesantren apalagi mengajak seorang lelaki. Tapi karena tidak mungkin bagi dirinya berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya di pinggir jalan seperti itu. Maka akan terlihat buruk dan bisa saja mempermalukan keluarganya.
"Ayo masuk. Malu saja jika kita bicara di pinggir jalan seperti ini. Apalagi ini di depan gerbang pesantren dan masih kawasan rumah orang tuaku," ajak Wafa.
"Hah?" Ferdian mengangkat tidak percaya dengan ajakan Wafa.
"Ayo, kalau tidak mau ya, sudah!" Wafa pun juga tidak peduli jika Ferdian tidak mau mampir ke rumahnya.
Kesempatan itu pun tidak ingin Ferdian sia-siakan. Akhirnya dia pun mengikuti ajakan Wafa untuk mampir ke rumahnya di pesantren. Ferdian sangat takjub dengan pesantren yang Wafa tinggali, sore hari mereka mengadakan kerja bakti setelah mengaji ashar. Terlihat seperti biasa saja dari di pinggir jalan, tapi dalamnya sungguh luar biasa.
"Ngapain tadi kamu mengendap-endap seperti itu? Kenapa juga tidak langsung ke rumah saja?" tanya Wafa basa-basi.
"Memangnya, boleh? Bukannya kalian para yang islamnya ketat kek gini, paling anti, ya sama yang namanya lawan jenis belum muhrim berduaan gini?" Ferdian malah balik bertanya.
Wafa pun hanya bisa menghela nafas karena ucapan yang kurang tepat dari mulut Ferdian. "Siapa yang berduaan saja, Ferdi, Senior yang paling dihormati. Di sini banyak santri juga 'kan? Di rumahku juga ada ayah dan dua saudari sepupu," jelasnya.
__ADS_1
"Lalu, yang laki-laki itu siapa? Masih muda pula?" tanya Ferdian.
"Dia Kakak sepupuku," jawab Wafa.
Setelah berjalan cukup lama, melewati tanah yang begitu luas dan juga lapangan yang begitu lebar, akhirnya Wafa pun sampai membawa Ferdian masuk ke rumah pribadi milik Pak Kyai. Di mana memang Wafa juga tinggal di sana terkadang. rumah yang biasa Wafa dan Sari tinggal di sebenarnya ada di belakang bukan rumah yang besar itu. rumah besar itu hanya khusus untuk menyambut tamu saja.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Wafa.
"Kamu duduk saja dulu di situ," Wafa mempersilahkan Ferdian untuk duduk.
Ferdian pun duduk di ruang tamu. Dia melihat sekeliling sudut ruangan itu, matanya tertuju oleh foto keluarga besar Wafa yang terpajang di sana. Wafa kecil nampak cantik memakai gamis warna putih di tengah tengah antara semua saudaranya. Wajah ayu Wafa ternyata sudah tertulis sejak dini.
"Ternyata dia memang putri seorang Kyai di sini. Semuanya kelihatan gagah dan anggun seperti ini. Tidak salah juga jika dia ini terlahir menjadi wanita yang hebat." gumam Ferdian.
Tak lama kemudian, Wafa keluar membawakan minum dan beberapa camilan untuk Ferdian. Tak lama setelah itu, di susullah Zira dan Dian menyambut Ferdian dengan ramah. Ferdian ini merasa benar-benar tertipu oleh gaya kesederhanaan Wafa di kampus, yang tidak menunjukan siapa dirinya yang sebenarnya.
Jika dibandingkan dengan Mayumi, harta yang dimiliki oleh keluarga Wafa jauh lebih besar dari Mayumi. Kedua adiknya juga terlihat sederhana. Keluarga besar Wafa ini sukses membuat Ferdian tersentuh. Hati yang selama ini beku, telah mencair sedikit demi sedikit karena hadirnya kembali seorang Wafa.
Ferdian duduk kembali ke sofa.
Dian ini orangnya sangat dewasa. Kita bicara dengan Ferdian seperti orang yang sedang berbicara dengan teman putrinya. Padahal Dian dan Wafa seumuran.
Ketika Wafa menemani Ferdian duduk di ruang tamu, tiba-tiba ada pesan masuk dari Zira yang menggodanya.
[Hati-hati setan dimana-mana. Kalau Mas Reyhan tahu jika kamu bawa pulang lelaki, pasti kamu akan kena marah dan ada badai besar nanti] - pesan dari Zira.
[Sebaiknya kamu jangan dekat-dekat dengan pria itu deh. Jauh lebih tampan Pak Bian dibandingkan dengan pria itu. Please, jauhi dia!]
Wafa hanya tersenyum ketika Zira dan Dian menggodanya. Dia juga tidak pernah menganggap serius celotehan dari kedua saudaranya. Tapi apa yang dikatakan oleh Zira ini ada benarnya. Ferdian tetap tidak bisa dibandingkan dengan Pak Bian.
__ADS_1
"Diminum dulu. Pasti haus juga, kan? Jalan dari depan gerbang sampai ke rumah ini?" Wafa mempersilahkan Ferdian untuk minum terlebih dahulu.
Setelah mendengar itu, Ferdian langsung meminum teh yang sudah dibuat oleh Wafa dan juga makanan ringan yang dibawakan oleh wanita yang pernah ia sukai itu.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Reyhan, yang baru saja kembali dari masjid. Tadi Ferdian melihatnya ketika Reyhan mau berangkat ke masjid.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Sudah pulang, Mas?" jawab Wafa.
"Hm, aku langsung ke kamar. Lelah banget tadi perjalanan jauh banget," sahut Reyhan, menatap sinis Ferdian. "Oh iya, besok aku juga sudah balik ke rumahku sepertinya. Umi dan Abah juga sudah kembali dari Madinah, soalnya. Kau, Zira. Ikut pulang juga bersama Mas," tegasnya.
Zira yang mengintip dari belakang pintu pun hanya memalingkan wajahnya saja ketika kakaknya menegur.
"Dia Kakak kamu 'kan? Tadi kamu memanggilnya dengan sebutan Mas," tanya Ferdian.
"Iya, dia adalah Kakakku. Usianya juga tidak jauh-jauh dari kita. Dia belum sedewasa itu," jawab Wafa.
"Oh gitu, dia ganteng ya, gagah gitu. Pasti orang tuanya juga nggak jauh jauh wajahnya dari dia," Ferdian yang tampan pun bisa insecure dengan tampilan Reyhan.
Wafa tersenyum manis menanggapi ucapan Ferdian.
"Sumpah demi apa, gue merasa gugup gini? Wafa orang pertama yang bikin gue mati gaya kek gini," kata Ferdian dalam hati.
Wafa kembali mendapat pesan. Kali itu, dia mendapatkan pesan dari Reyhan.
[Kalau aku sih No. Pak Bian meski beda agama, tetap nomor satu pilihanku. Meski baru kenal dengan Pak Bian, dan meskipun dia duda, dia adalah pilihan yang terbaik] - pesan dari Reyhan.
Semua anggota keluarga memang sudah bertemu dengan Bian. Dan kebetulan memang hanya Bian yang mampu menghipnotis anggota keluarga pesantren meskipun Bian berbeda keyakinan dengan Wafa. Tapi sebenarnya hal itu hanya candaan saja.
Ferdian merasa canggung dan grogi di samping Wafa. Tidak tahu apa apa yang ingin dia tanyakan lagi. Akhirnya dia pun pamit dan undur diri untuk pulang. Wafa juga mempersilahkan, mau bagaimanapun lagi Ferdian juga tidak penting baginya.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, Ferdian ini terus saja masih teringat akan wajah Wafa yang selalu menunduk ketika Ferdian menatapnya. Ia semakin penasaran dengan Wafa dan berniat untuk mendekatinya, dan memenangkan tantangan dari Dani.