
Malam hari, Wafa menemui ayahnya yang sedang duduk sendirian di teras rumahnya. Terlihat jika sang ayah sedang membaca buku. Wafa membawakan pisang goreng yang baru saja ia goreng.
"Assalamualaikum," salam Wafa.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balas Pak Kyai.
"Abi sedang santai, ya? Monggo teh hangat dan pisang gorengnya," Wafa menyajikan apa yang ia tawarkan.
Mereka duduk berdampingan. Wafa mendekatkan cangkir tehnya untuk ayahnya. "Abi, silahkan." pintanya.
"Terima kasih, ya ...." Pak Kyai membelai kepala Wafa.
Sudah sangat lama sekali keduanya tidak bertatapan berdua seperti itu. Setiap kali Wafa ingin bicara berdua dan menghabiskan waktu sejenak saja dengan Pak Kyai, selalu saja ada yang membuat keduanya salah paham dan terkadang tidak ada waktu lagi bagi keduanya bersantai berdua.
"Abi serius, ikhlas mengizinkan Wafa pergi dengan Inneke ikut Pak Bian?" tanya Wafa memastikan.
"Sayang Abi lakukan saat ini memang harus ikhlas, Nduk. Andai saja tapi tidak ikhlas dari hati yang paling dalam, takutnya malah akan menjadi celaka bagimu," jawab pak kyai.
"Yang Abi lihat dari Pak Bian ini, beliau adalah orang yang bertanggung jawab. Dia juga tegas dalam memilih keputusan. Tapi ada sikap keras kepala yang sangat besar padanya," lanjut Abi.
"Tapi menurut Abi, Pak Bian adalah pria yang luar biasa. Beliau bisa mengurus putrinya dengan baik, mengupayakan kebaikan bagi putrinya, kemudian juga bisa mempercayai kamu yang dimana kamu adalah orang lain untuk menjaga putrinya,"
"Beberapa waktu lalu, Abi ngobrol santai dengan Ustadz Lana. Tidak menyangka saja, Ustadz Lana pun juga selalu membicarakan hal baik dari Pak Bian,"
Helaan nafas lemah itu terdengar lagi. "Abi sangat berharap, kamu dan Ustadz Lana bisa bersama, Nduk." tukasnya.
Wafa langsung mengerutkan alisnya. "Kenapa ujung-ujungnya seperti itu?" tanyanya. "Jika Abi mau tahu, Wafa masih belum bisa menerima lamaran Ustadz Lana!" tegasnya.
"Subhanallah, memangnya kenapa? Apa kurangnya? Ustadz Lana adalah pria yang baik, memiliki ketaqwaan iman pada Allah yang kuat, usaha juga sudah punya, kedua orang tuanya juga sudah memberikan restu, apalagi yang kurang?"
Wafa memutar bola matanya.
"Ini masalah hati, Abi," kata Wafa mempertegas lagi.
"Lah, Abi sama almarhumah Umi kamu saja dulu tidak saling cinta. Tapi bisa tuh, kita jatuh cinta setelahnya," celetuk pak kyai.
"Beda, Abi!" seru Wafa.
__ADS_1
"Bedanya dimana? Sama saja, 'kan? Lama-lama juga cinta itu akan tumbuh, kok. Orang dulu aja Abi begitu," sahut pak kyai.
Wafa memalingkan wajahnya. Zaman pun juga sudah berubah, dahulu dengan perjodohan, orang bisa saja menikah dengan mudah. Tapi untuk masa itu, Wafa sendiri saja enggan untuk dijodohkan karena merasa dirinya tidak mampu mencintai Ustadz Lana.
'Entah kenapa aku tidak bersemangat jika Abi membahas tentang Ustadz Lana.' batin Wafa.
"Um, apa hatimu sudah dihuni oleh orang lain?" tiba-tiba pak kyai bertanya seperti itu.
"Maksud Abi—apa?" tanya Wafa.
"Kamu selalu saja dekat dan memiliki waktu bersama dengan Pak Bian. Apakah di antara kalian ada sesuatu yang mungkin hubungannya spesial?" goda pak kyai.
Wafa membelalakkan matanya. Terkejut dengan godaan yang ayahnya lontarkan. Ia pun menjadi gugup, meraih cangkir tehnya, kemudian minum dengan perlahan. "A-Abi, kenapa menggodaku seperti itu? Mana mungkin ada hubungan yang seperti itu?" ucapnya gugup.
Melihat respon putrinya, pak kyai mengangguk pelan dan tersenyum tipis. 'Rupanya benar yang dikatakan Ustadz Lana, Reyhan dan hatiku sendiri. Putriku jatuh cinta pada bagian tapi dia belum menyadarinya.' batin beliau.
"Assalamualaikum," salam Dian, keluar membawa satu piring pisang goreng lagi yang masih panas. "Nih, aku tambahin lagi pisang gorengnya. Masih panas, mantap!" serunya.
"Terima kasih," ucap pak kyai dan Wafa bersamaan.
Dian pun duduk ikut mengobrol dengan Wafa dan pak kyai.
Wafa menyahut. "Hmm?"
"Kudengar tadi kamu difitnah saat kampus? Fitnah kehamilan, maksudnya gimana itu? Kamu dituduh hamil gitu?" tanya Dian.
Wafa mengangguk.
"Kok bisa? Gimana ceritanya? Tadi aku hanya dengar samar-samar saja ketika Pak Bian menjelaskan." tanya Dian lagi.
Di saat sedang serius²nya bicara, Zira pulang dari pondok, menyapa dan langsung minta pisang goreng yang baru saja ditambahkan oleh Dian.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Zira.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
"Wahh, pisang goreng, nih! Mau satu ah!" seru Zira, mencomot pisang goreng yang masih panas itu.
__ADS_1
Saking panasnya, Zira sampai mangap-mangap ketika makan. Ia pun mengatakan, "Hihang hohengnya pangah hehahi. Hahi hangkak!" kata gadis konyol itu, mengangkat jempol tangannya.
Tingkah Zira mengundang gelak tawa Wafa dan pak kyai. Sampai Dian yang baru keluar lagi membawakan cireng, menepuk pundak Zira karena sudah kurang ajar makan di hadapan orang tua, apalagi Zira saat itu makannya juga berdiri.
***
Di rumah, Bian menceritakan apa yang ia rasakan pada asisten pribadinya. Begitu juga dengan Zaka Yang mengeluh karena sore tadi harus mendengarkan ocehan dari Inneke yang menurutnya sangat mengganggu.
"Kenapa denganmu, Zaka? Kulihat, sejak tadi kau terus saja menggerutu. Apa kau sedang lapar?" tanya Bian.
"Sayangnya masih kesal saja dengan sahabatnya Nona Wafa," jawab Zaka Yang.
"Ada apa dengannya? Memangnya apa yang ia lakukan padamu, sampai kau kesal seperti itu?" lanjut Bian bertanya.
Zaka Yang menghentak kakinya, menyulut dengan mengenal nafas kasar. Masih teringat jelas dalam ingatan Zaka Yang saat Inneke tiba-tiba mencium pipinya. Namun setelah itu, Inneke malah mengatai Zaka Yang dengan seisi kebun binatang.
Saat itu Zaka Yang sedang mengoceh menceritakan tentang kekesalannya pada Inneke. Namun Bian malah tidak fokus dengan cerita dari asistennya itu. Iya malah teringat dengan perdebatan lucunya dengan Wafa.
Mengingat beberapa waktu ketika Wafa tersenyum padanya. Ketika membayangkan wajah Wafa, jantung Bian berdebar sangat kencang. Pria itu sampai tidak nyaman dan merasa ada yang aneh pada dirinya. Ia menyentuh bagian dadanya.
'Apa ini? Apakah aku sakit jantung? Mengapa bangunku berdebar kencang?' batinnya.
"Nah, belum lagi jika kami bertemu kem—" ocehan Zaka Yang terhenti ketika melihat Bian menunduk dengan telapak tangannya menyentuh dadanya.
"Tuan, ada apa?" tanya asisten teladan itu. "Apakah anda sakit? Mengapa anda menyentuh dada seperti itu?" sambungnya.
Sayangnya, Zaka Yang tidak mendapat jawaban dari Tuannya.
"Astaga, Tuan! Ayo, katakan! Setidaknya jawab satu pertanyaan dariku!" desaknya khawatir.
"Sstt, kenapa kau sangat berisik. Diamlah!" desis Bian.
Bian menyuruh asisten pribadinya untuk diam. Kemudian memastikan lagi bahwa jantungnya benar-benar aman atau tidaknya.
'Masih berdebar kencang dan perasaanku menjadi gelisah memikirkan Wafa. Ada apa, ya?' batin Bian.
Zaka Yang sudah panik, ia berlari ke dapur segera. Lalu kembali dengan membawakan Bian segelas air putih.
__ADS_1
"Tuan, ayo minumlah. Obat ini akan membuat anda baik-baik saja," pinta Zaka Yang, menyodorkan segelas air putih dah satu kapsul obat penenang.
Bian menatap Zaka Yang dengan tajam.