
Wafa pun berdiri, kemudian dengan santainya ia menuangkan jus alpukat miliknya ke baju mahalnya Mayumi. Semua orang melongo melihat adegan itu. Senior dan junior manapun mana ada yang berani menantang balik Mayumi sampai saat ini. Wafa ini adalah tipe orang yang pandai menyesuaikan diri. meski dirinya adalah seorang Ning, tapi dia juga tidak sabar dan juga sepatu Ning pada umumnya. Menjadi anak kedua membuatnya tumbuh menjadi wanita yang tangguh. Wafa ini juga begitu modern, jadi dia tidak terlihat kampungan atau seorang wanita yang terlalu agamis karena hidupnya memang sedikit lebih bebas daripada kakaknya, Sari.
Ferdian terus saja menatap Wafa dengan tersenyum kecil. Masih teringat dengan polosnya Wafa beberapa tahun lalu ketika masih menjadi anak sekolah menengah pertama. Wafa yang sekarang, memang semakin menarik saja dimata Ferdian.
"Hah, apa ini ... alpukat? Jijik banget, sih, iyuh. Lu berani melawan Mayumi? Apa lu belum tahu siapa Mayumi ini?" Lalita pun mulai jadi kompor. "Kalau Lu tahu siapa Mayumi, Lu tidak akan mudah ngampus di univ ini, woy!" sambungnya dengan ketus.
"Selama ini tidak ada yang berani berbuat begini ke gue. Lu akan keluar dari kampus ini dengan rasa malu yang sangat besar, Wafa!" Mayumi sudah mulai murka.
"Oh ya? Jadi saya yang pertama? Wah, Jadi saya harus mendapat apresiasi dong," Wafa malah bangga. "Hei, mbak senior. Ini kampus, bukan tempat bully membully. Jika kamu berani melakukan hal seperti ini kepada saya lagi, maka saya tidak akan pernah tinggal diam. Bisa saja besok tas mahalmu ini yang akan jadi korbannya, hm?" desis Wafa.
"Dasar miskin! Gue tahu kalau lu itu masuk ke universitas ini karena beasiswa. Lu pasti sangat miskin banget 'kan? Sampai harus masuk ke universitas elit ini dengan biaya pemerintah 'kan?" hina Mayumi. "Udah miskin, nggak tau diri!" imbuhnya.
Mayumi pun mengumumkan kepada seluruh mahasiswa di kantin tersebut bahwa Wafa adalah Gadis miskin yang masuk di universitas tersebut karena beasiswa. Mayumi hanya tidak tahu saja beasiswa yang dimiliki oleh Wafa saat itu, meskipun Wafa tidak menerima beasiswa dari universitas tersebut pun dia masih mampu membayar biaya kuliahnya.
Keluarganya yang berada memang tidak terlihat karena kesederhanaannya. Tanah dan lahan milik Pak Kyai juga tidak hanya satu dua saja. Usaha-usaha lain seperti garmen rumahan, ekpor kayu dan batu bata ke seluruh wilayah juga lancar. Belum lagi usaha lainnya.
Hanya yayasan milik Wafa saja yang memang tidak ingin makan dari hasil uang usaha keluarga. Makanya Wafa masih selalu menerima jika ada bantuan atau donatur lainnya.
"Saya memang miskin, tapi tidak seminus akhlak kalian yang receh seperti ini. Oh ya, saya sangat sabar menanti hari dimana kamu ingin mengeluarkan saya dari kampus ini. Goodbye, cantik!" balas Wafa dengan senyuman.
Wafa sebenarnya malu berperilaku seperti jagoan waktu itu. Akan tetapi, jika ia tidak membalas apa yang Mayumi dan gengnya lakukan, maka Mayumi akan terus saja membullly-nya. Lalu itu juga akan membuat seorang manapun yang di bully oleh geng Mayumi, bisa lebih berani melawannya.
Perlawanan Wafa membuat Mayumi sangat kesal. Dia dipermalukan oleh seorang junior yang menurutnya tak tau diri. Di kamar mandi, Mayumi terus saja melampiaskan kekesalannya pada anak lain yang takut dengannya.
"Lihat saja nanti. Huh, pelakor kecil itu, dia akan bersujud minta maaf di kaki gue. Lihat aja nanti!" Mayumi yakin jika dirinya bisa melumpuhkan Wafa.
"Beb, lu salah menyebut dia sebagai pelakor kecil. Ingat, dia lebih tua dari kita setahun. Jadi, julukan yang tepat buat dia adalah, pelakor tua yang tidak aku laku sehingga dia harus gatal dengan semua pria yang ada di kampus ini," mode kompor Lalita on.
"LALITA!" teriak Mayumi.
__ADS_1
Sedangkan Lalita hanya bisa mengatakan sabar dan sabar saja. Dia juga Mulai penasaran dengan latar belakang Wafa yang berani sekali menentang Mayumi.
Sementara itu, Dani sedang berceloteh.
"Bro, lu lihat tidak tadi? Baru kali ini ada yang berani melawan cewek gue hahaha. Hebat tuh cewek. Taruhan yuk, Bro. Siapa di antara kita yang bisa mendapatkan tuh cewek, itulah pemenangnya. Jika lu menang, ambil deh mobil gue. Tapi jika lu kalah, motor sport lu itu jadi milik gue. Gimana?" Dani mengajak Ferdian untuk melakukan hal yang tidak.
"Dasar cowok tidak tahu diri. Sok cakep banget kamu. Males juga aku nanggepin anak kecil sepertimu. Sudahlah, aku pergi saja—" Ferdian pun pergi meninggalkan kantin.
Dani hanya menganga kesal karena Ferdian tidak pernah bisa diajak bergaul. Padahal Dani berpikir jika Ferdian bisa diajak bergaul, maka popularitasnya di kampus itu akan semakin meningkat.
Ketika Ferdian sampai di atas, dia melihat Wafa yang sedang duduk di sana sendirian. Ferdian pun mendekati Wafa dan bertanya kepada gadis tersebut Apa yang dilakukan di atas sana. "Kenapa kamu di sini? Ini tempatku." katanya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, kamu muslim 'kan? Tolong, biasakan jika bertemu dan menyapa seseorang menggunakan salam," sesuai dengan pikiran Ferdian, Wafa tidak akan menunjukkan bahwa dirinya mengenal Ferdian sebelumnya.
Karena memulai dengan nol lagi seperti sebelum berkenalan, Ferdian pun langsung menarik tangan Waga. Sontak, hal itu membuat Wafa terkejut. Seharusnya Ferdian tahu bahwa Wafa bukanlah seperti wanita pada umumnya yang gampang atau bisa disentuh kapan saja.
"Astaghfirullah hal'adzim!" ucap Wafa menepis tangannya dari Ferdian. "Jangan sembarangan menyentuh!" tegurnya.
"Jika—" ucapan Ferdian terhenti.
"Jika apa? Apakah jika saya melawannya, saya akan di keluarkan dari kampus ini, begitu? Saat hari itu terjadi, kalian akan tau siapa saya. Dan iya, bukan saya yang mendekati kalian. Tapi kalian lah yang terus mengganggu saya selama saya mengenyam pendidikan di kampus ini. Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh!" Wafa begitu ketus kepada Ferdian karena memang dia sudah merasa terganggu dengan hadirnya.
Ferdian baru pertama kali itu melihat Wafa marah.
"Huh, menarik!" Ferdian tersenyum.
Ferdian pun ternyata sama saja seperti lelaki yang ada di kampus sana. Dia menelpon Dani dan menyetujui tantangan dari Dani tadi untuk mendapatkan Wafa. Awalnya, memang Ferdian ini sudah tidak ingin mengenal lagi Wafa karena memang itu sudah jadi kesepakatan mereka. Tapi melihat Wafa kembali membuat imannya goyah.
***
__ADS_1
Saat pulang, Dani menunggu Wafa di parkiran. Wafa terpaksa pulang bersama dengan Tian. Karena Reyhan sedang pergi bersama sahabatnya ke tempat yang lumayan jauh dan tidak bisa menjemput Wafa.
"Jika hasilnya seperti ini, lebih baik tadi aku terima saja tawaran dari Mas Reyhan ikut bersamanya," gumam Wafa kesal. "Apa sebaiknya Aku meminta Inneke untuk menjemputku saja, ya?" lanjutnya.
Permainan Dani dan Ferdian di mulai. Salah satu dari mereka menghampiri Wafa di parkiran.
"Hay, Ustadzah. Mau pulang ya? Apa kamu mau aku antar?" Dani menawarkan tumpangan.
Mayumi tak sengaja mendengar rayuan Dani kepada Wafa. Yah, namanya saja orang sedang cemburu, biarpun yang salah cowoknya, tetep aja yang disalahin orang lain.
"Apa-apaan ini? Lu emang nggak ada kapok-kapoknya, ya, godain cowok gue. Lagian Sayang, dia ini anak orang miskin, mana tahan dia sama ac mobil kamu. Malah yang ada nanti dia mabuk dan mengotori mobil kamu yang mahal itu," Mayumi sudah cemburu kelas akut.
"Kalian juga mau bertengkar jangan di depan saya bisa tidak? Pusing tau nggak sih ngeliat orang bertengkar kayak gini. Udah 'kan? Kalau begitu saya pamit, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!"
"Eh, enak aja main pergi pergi. Namanya anak miskin gini kali ya, nggak ada sopan santunnya sama sekali. Huft, secara orang tuanya miskin, cuma bisa masukin kampus negeri modal beasiswa miskin. Paling Bapaknya juga cuma penjual gorengan pinggir jalan iyuh," Mayumi terus saja menghina Wafa.
Langkah Wafa terhenti ketika Mayumi menyebut kata 'bapak'. Tidak ada anak yang rela jika orang tuanya di senggol hanya karena urusan pribadi. Wafa menoleh ke Mayumi dan menghampirinya. "Mau kamu apa?" tanyanya lirih.
"Kalau saya miskin, juga apa masalah kamu? Saya tidak pernah mengurangi beras di rumah kamu 'kan? Kenapa sejak tadi pagi kamu selalu heboh seperti ini? Berisik tahu nggak sih!" Wafa sudah sangat muak dengan Mayumi.
"Songong bener nih si miskin. Cepat minta maaf ke gue, dan sujud di kaki gue. Kalau perlu cium sekalian kaki gue!" Mayumi semakin gila.
"Saya hanya akan bersujud kepada sang Maha Pencipta, dan saya hanya akan mencium kaki Ibu saya. Maaf jika kamu tidak mencukupi kebutuhan saya, jangan sekali-kali kamu meminta sujudku. Itu sangat menjijikkan!" desis Wafa.
"Kurang ajar!" Mayumi hampir saja menampar pipi mulus Wafa. Beruntungnya Ferdian datang tepat waktu dan menepis tangan Mayumi.
Membuat Mayumi terkejut saja siapa yang menepis tangannya itu. "Kak Ferdi?" sebut Mayumi.
"Kamu bisa, tidak? Perbaiki sikap burukmu itu kepada junior di kampus ini. Perilakumu ini sangat menjijikkan, Mayumi," cetus Ferdian. "Kamu, ikut aku!" Ferdian menarik tangan Wafa dan memasukkan dengan paksa ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Fer, asem! Jangan main tarik gadis sholehah gue, woy!" teriak Dani.
Wafa terus saja memohon agar Ferdian melepaskan tangannya. Tapi, Ferdian terus saja menggenggam tangan Wafa sangat kuat. Wafa pun didorong masuk ke mobil dengan paksa. Tak sengaja tangan Wafa terbentur transmisi gigi mobil Ferdian. Dengan cepat, Ferdian langsung mengunci pintu mobilnya. Wafa benar-benar kesal saat itu juga.