Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Pengalaman Di Pabrik Kayu


__ADS_3

"Wah, berani bener itu cewek!" seru HRD.


Wafa kembali menggebrak meja lagi. Melotot matanya mantap Bian yang saat itu juga ikut terkejut.


"Pak Bian marahin saya? Pak Bian kenapa marahin saya? Tadi saya sudah mau keluar dari toilet, tapi saya dihadang dengan wanita yang tadi, yang bulu matanya hampir lepas," ucap Wafa lirih.


"Saya juga tadi sudah hampir mau ke kantor. Tapi banyak karyawan laki-laki yang ada di jalan menuju kantor. Saya tidak berani ... Pak Bian kenapa memarahi saya? Jika Grietta tahu—" ucapan Wafa terhenti, melirik Bian yang saat itu sudah panik ketika dirinya menyebut nama putrinya.


Pemandangan yang jarang sekali karyawan pabrik kayu lihat dari Bos besarnya yang hanya bisa diam ketika wanitanya sedang bicara. Bian sendiri juga tidak tahu mengapa, jika bersama dengan Wafa sulit untuk memberi peringatan keras.


"Baiklah, baiklah. Wafa, saya minta maaf jika tadi membentak kamu. Tapi saya benar-benar tidak bermaksud. Perdebatan ini, kita sudahi, okay?" Bian mengalah.


Wafa menahan tawa. Gadis ini mengangguk tanda menyetujuinya. Bian kembali mengingatkan Wafa untuk beribadah sholat maghrib. Duda ini memanggil asistennya dengan keras. "ZAKA YANG!"


"Hadir, Tuan!" seru Zaka Yang langsung datang begitu dipanggil oleh Bian.


Bian memerintahkan asistennya untuk menyiapkan makan untuk dirinya dan Wafa setelah gadis itu selesai shalat maghrib. Zaka Yang menyanggupi, keluar segera dan mencari makanan yang sesuai dengan makanan keseharian Wafa.


Sementara itu, Sadana dan HRD yang ada di belakang pintu saling bertatap. Mereka belum pernah melihat Bian membawa seorang wanita ke pabrik dan tiba-tiba saja mengatakan jika Wafa adalah calon istrinya, membuat keduanya tidak percaya.


"Aku yakin jika Pak Bian ini hanya main-main saja dengan gadis berjilbab itu," dengus Sadana.


"Sttt, bagaimana kamu bisa begitu yakin, Bu Sadana? Bagaimana jika gadis itu benar-benar calon istrinya Pak Bian?" sahut HRD. "Hm, sudahlah ... Alangkah lebih baiknya jika kita tidak mengganggu mereka. Jika benar gadis itu adalah calon suaminya Pak Bian, kita memang harus sadar diri!" serunya sambil menyentuh bahu Sadana.


Sadana langsung menepis tangan HRD cantik itu. Ia ingin memastikan bahwa Bian hanya main-main saja dengan Wafa dengan caranya sendiri. Saat itu juga, Sadana keluar membeli makanan juga untuk Bian. Makanan kesukaan Bian, Sadana pun juga sampai tahu karena memang wanita itu sungguh-sungguh dengan perasaannya.


Selesai shalat magrib, Wafa segera ke ruangan Bian lagi. Suasana pabrik kayu di malam hari memang terasa berbeda auranya dibandingkan dengan siang atau sore. Wafa terus merasa tidak enak saja perasaannya ketika berada di sana.

__ADS_1


Ketika Wafa melintasi ruang produksi, dia melihat ada seorang anak kecil yang tiba-tiba saja berlari ke arahnya. Awalnya wajah anak itu terlihat girang sekali, namun semakin dekat, wajahnya terlihat begitu mengerikan. Bola mata anak itu terlepas dari tempatnya, tapi tidak sampai jatuh ke lantai. Bibirnya menganga dan mengeluarkan darah, kepalanya miring hampir mau putus, kemudian larinya terhenti.


Hai~~~


Sosok anak itu menyapa Wafa dengan wajah mengerikan. Sontak, Wafa langsung memejamkan mata dan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an, termasuk ayat kursi dengan harap sosok itu pergi menjauh.


"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyum, laa ta’khudzuhuu ...."


Ketika sedang berdoa, ada seseorang yang menyentuh pundaknya. Wafa menjerit sekeras-kerasnya sampai membuat orang tersebut ikut menjerit. Jeritan keduanya membuat beberapa mekanik yang memang sedang check in mesin berlari ke arah mereka.


"Ada apa, ada apa?"


"Kenapa? Ada apa ini?"


Semuanya panik, antara Wafa dengan seseorang tadi saling bertatap. Orang tadi adalah mekanik juga rupanya.


"Fir, ada apa?" tanya salah satu mekanik yang terlihat paling tua.


"Mbaknya kenapa? Menjerit-jerit seperti itu, ada apa?" tanya mekanik tua itu lagi.


Tidak menjawab, Wafa hanya diam saja dan mencoba melihat arah dimana sosok anak kecil itu tadi berada. Sosok itu sudah tidak ada lagi di sana, Wafa bisa bernafas lega.


"Maaf, ya, Mas. Membuat Masnya kaget dan ikut menjerit," ucap Wafa ramah. "Maaf juga untuk bapak-bapak. Pasti pekerjaan kalian terganggu karena saya," sambungnya.


Kedua mekanik yang baru datang itu memastikan jika Wafa benar-benar baik. Setelah ditanya ini itu, barulah kedua mekanik itu pergi meninggalkan Wafa bersama dengan mekanik yang masih muda di sana.


"Mbaknya mau ke mana? Saya akan antar kalau mbaknya mau," tanya Firdaus.

__ADS_1


"Saya mau ke kantor, ruangannya Pak Bian. Mas bisa antar saya ke sana, tidak? Saya masih merinding ini," Wafa meminta mekanik muda itu mengantarnya.


Firdaus mengangguk, dengan ramah dia mempersilakan Wafa untuk jalan lebih dulu. Usia Firdaus kira-kira sepantaran dengan Wafa. Keduanya memang humble sekali, sehingga sebentar berkenalan saja sudah akrab.


Wafa menceritakan apa yang ia alami sebelumnya karena Firdaus bertanya. Firdaus juga mendesak Wafa bercerita karena dirinya sering mengalami hal yang sama. Jadi, Firdaus bisa memberikan saran pada Wafa untuk berhati-hati.


"Jadi, alangkah baiknya kamu jangan hiraukan mereka. Ya masa di pabrik dan jam segini masih ada anak kecil? Bahkan anak orang kantor saja tidak mungkin masuk ke produksi, Mbak," ujar Firdaus.


"Ya namanya juga tidak tahu," sahut Wafa. "Saya pikir tadi benar-benar anak manusia. Ternyata ... Astaghfirullah hal'adzim, saya tidak mau membayangkan lagi lah, merinding!" imbuhnya.


Keduanya sudah sampai kantor. Dari ruangannya, Bian melihat kebersamaan Wafa dengan Firdaus. Ia terlihat kesal melihat Wafa terus tersenyum pada pria lain. Meski belum mengerti maksud dari ketidaksukaannya, tetap saja Bian merasa kesal melihatnya.


"Ini kantornya Pak Bian," ucap Firdaus. "Kalau begitu, aku pamit dulu, ya. Lain kali kalau kamu datang kemari, bisalah cari aku saja. Aku akan mengajakmu keliling pabrik ini nanti," sambungnya.


"Siap, Fir. Hehe, enak kalau punya kenalan seumuran seperti ini," sahut Wafa. "Sudah sana, kamu kerja dulu. Saya masih harus menemui Pak Bain soalnya," lanjutnya.


Keduanya berpisah, percakapan mereka juga didengar oleh Bian. Sadar Wafa sudah mau membuka pintu, Bian langsung lari ke kursinya dan memasang wajah santai.


"Malam, Pak Bian," sapa Wafa.


"Selamat malam," sambut Pak Bian. "Sudah, beribadahnya?" tanyanya.


"Alhamdulillah, sudah. Hm ... Pak Bian bisa antar saya pulang sekarang?" lanjut Wafa. "Atau mau ketemu dengan Grietta dulu?" tawarnya.


Bian menggelengkan kepala.


Hidangan sudah ada di atas meja. Bian hendak mengajak Wafa makan malam bersama saat itu.

__ADS_1


"Kita makan saja dulu. Saya tahu kalau kamu pasti belum makan sejak siang. Kemarilah, saya akan mengambilkan nasi dan lauknya untukmu," Bian sampai harus menyiapkan mangkuk kecil juga untuk Wafa sendiri.


Saat Bian sibuk menyiapkan makanan untuk Wafa, ponsel gadis ini berdering. Ia mendapat telepon dari ustadz Lana, dimana ustadz muda ini juga sudah mengirimkan pesan terlebih dahulu pada Wafa sebelum shalat maghrib tadi.


__ADS_2