Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Ditatap dan Menatap


__ADS_3

"Pak, mohon maaf bisa sedikit lebih jauh, tidak? Saya kok, merasa tidak nyaman Pak Bian terlalu dekat seperti ini dengan saya," ujar Wafa, memberanikan diri untuk menegur.


"Oh, astaga. Maafkan saya Wafa, saya benar-benar khawatir dan kamu jadi—" ucapan Bian terhenti karena tidak tahu mau beralasan apa lagi. Sebab, dirinya juga tidak tahu mengapa reflek begitu saja mendekat ke arah Wafa.


"Tenang saja, Pak. Terima kasih karena Bapak sudah mengkhawatirkan keadaan saya. Tapi, sepertinya saya sudah baik-baik saja. Bagaimana caranya saya pulang? Keluarga di rumah pasti sangat khawatir jika melihat keadaan saya seperti ini," sahut Wafa. "Oh iya!" serunya.


"Mobil saya bagaimana, Pak?" tanya Wafa menjadi panik.


"Mobil kamu aman. Di tempat kamu kecelakaan itu ternyata depannya adalah bengkel mobil. Kebetulan sekali pemilik bengkel mobil itu yang memiliki warung tenda yang ada di depannya. Jadi saya meminta pemilik bengkel itu untuk memperbaiki mobil kamu," jawab Bian, sangat jelas sekali ketika menjelaskan.


Meskipun lega mendengar kendaraannya sudah ditangani oleh bengkel, Wafa tetap saja terlihat seperti orang yang memendam kesedihan. Wafa yang merasakan kesedihan Wafa itu pun sampai bertanya dengan keadaannya.


"Are you okay?" tanya Bian lirih.


Mendengar pertanyaan Bian, Wafa langsung menatap Bian dengan mata indahnya yang seperti rembulan itu. Sudah dua kali Bian ditatap Wafa secara langsung dan kembali merasakan getaran yang sama.


Mata yang katanya indah seperti rembulan itu tiba-tiba saja meneteskan air matanya. Saat itu memang Wafa sedang tidak baik-baik saja dan baru biar yang bertanya kabarnya.


"Why are you crying? Semuanya baik-baik saja 'kan?" tanya Bian lagi.


"Saya dijodohkan dengan orang yang baru saya temui satu kali. Ketika kita pulang tadi, Bapak lihat banyak orang di rumah saya 'kan?" ucap Wafa.


Bian mengangguk pelan.

__ADS_1


"Mereka adalah keluarga dari pria yang mau melamar saya. Orang tuanya adalah sahabatnya Abi. Saya tidak habis pikir saja kepada Abi, mengapa bisa melakukan perjodohan tanpa diskusi dulu dengan saya,"


"Sajak sore tadi sampai sebelum saya keluar dan mengalami kecelakaan ini, saya terus berdebat dengan Abi dan juga Kakak saya. Sebenarnya saya merasa bersalah karena telah membentak Abi. Tapi rasa kecewa saya ini terlalu besar sampai saya tidak bisa mengontrolnya dan membuat rasa kecewa ini menjadi emosi."


Wafa terus bercerita tentang keadaannya dan juga apa yang dirasakan saat itu. Sikap Bian ini tidak seperti biasanya. Dia termasuk orang yang tidak pernah suka dengan urusan orang lain. Jangankan menerima persahabatan dengan seseorang, yang dimaksud memang tidak bisa menguntungkan dirinya dengan contohnya, menjadi klien atau teman kerjasama dalam pekerjaan.


Pria berusia 30 tahunan ini jarang sekali menerima curhatan atau curahan hati orang lain. Baginya, itu hanya akan membuat dirinya semakin tertekan menjalani hidup karena menyimpan rahasia orang lain.


Akan tetapi, Wafa ini seolah menjadi pengecualian baginya. Saat itu Wafa menceritakan segalanya tentang lamaran dan juga penolakan lamaran tersebut kepadanya. Tapi Bian dengan begitu khimadnya menikmati curahan hati Wafa sampai menatap Wafa begitu dalam.


"Wafa, sebenarnya saya bukan pendengar yang baik karena saya juga tidak pernah peduli dan urusan orang lain. Tapi mendengar cerita kamu ini, saya rasa kamu malam ini tidak perlu pulang ke rumah. Bagaimana jika kamu menginap di rumah saya? Grietta tiba jam 8 malam tadi. Tapi karena saya menunggu kamu di sini, jadi asisten saya menjemputnya," kata Bian mengungkapkan kejujurannya tentang bagaimana dirinya tidak bisa menjadi pendengar yang baik.


"Grietta sudah pulang?" tanya Wafa, wajahnya berubah seketika.


"Iya,"


"Iya,"


Wafa menjadi murung. "Pasti Grietta sangat sedih," lanjutnya. "Tadi juga saya kepikiran untuk tidak pulang ke rumah. Tapi jika saya pulang ke yayasan, pasti Mbak Nur atau yang ada di yayasan juga sudah istirahat,"


"Saya kan sudah mengatakan dan mengajak kamu untuk menginap di rumah saya. Lagi pula di rumah saya kan banyak orang. Jadi, tidak mungkin jika kita hanya berdua saja di rumah. Bagaimana, apa kamu mau ikut saya pulang?" kembali Bian mengajak Wafa pulang bersamanya.


Entah setan apa yang merasuki Wafa malam itu sehingga dia bisa menerima ajakan seorang pria yang baru dikenalnya belum genap satu bulan. Dengan mudahnya Wafa mengiyakan ajakan Bian pulang bersama.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan administrasi, mereka keluar dari rumah sakit. Namun, keluarnya mereka dari rumah sakit itu ternyata dilihat oleh Ferdian yang juga berada di rumah sakit karena menjaga Ibunya yang sedang sakit.


"Bukankah, itu Wafa?" gumamnya.


"Dengan siapa dia? Lalu, kenapa baru jam segini keluar dari rumah sakit? Siapa yang sakit, ya? Tapi tadi kulihat kening dia diperban, deh?"


Karena penasaran Ferdian sangat besar, dia pun sampai mengikuti Bian dan juga Wafa ke parkiran. Ferdian melihat keduanya masuk ke mobil mewah yang terparkir khusus di sana.


"Pasti yang bersama Wafa saat ini adalah orang kaya. Lihat saja mobilnya, mobilnya sangat mewah seperti itu. Pasti orang kaya!" serunya.


"Tapi kenapa seorang Wafa, yang notabenenya adalah anak seorang Kyai tapi keluar sampai jam segini?" Ferdian masih bertanya-tanya karena penasaran.


"Ah, pasti itu salah satu kerabatnya. Mana mungkin Pak Kyai mengizinkan putrinya pulang sampai larut dengan orang lain. Di dalam sana juga pasti ada orang. Iya, bener. Pasti itu!" pikiran Ferdian ini sangat positif sekali. Padahal dirinya merasa cemburu karena melihat Wafa jalan bersama adalah seorang pria hanya berdua saja.


Dijalan, Bian menelepon orang rumah untuk menyiapkan satu kamar dan juga memilihkan kamar yang ada di samping kamarnya. Bian juga meminta orang rumah untuk menyiapkan makan malam tapi tidak yang terlalu berat untuk dua orang.


Di sisi lain Bian sedang sangat senang karena Wafa mau menginap, di sisi Wafa, dirinya sedang senam jantung karena merasakan ada yang mengganjal di hatinya. Wafa juga tahu jika dirinya tidak seharusnya menginap di rumah seorang pria yang bukan mahramnya. Tapi tidak mungkin juga Wafa merubah pikiran dan meminta Bian untuk mengantarnya ke yayasan saja karena memang kebetulan arah yang diambil Bian ini tidak sejalur dengan arah ke yayasan.


Sehingga, membuat gadis manis ini seperti merasa tertekan tapi juga senang karena ingin bertemu dengan Grietta, si gadis kecil yang bisa menambah moodnya Wafa baik dan naik.


"Kenapa semakin lama jantung ini berdebar semakin kencang, ya? Seakan mau copot aja deh dari porosnya. Astaghfirullah hal'adzim, amit-amit, ya Allah ...." batin Wafa.


"Nanti sebelum kamu tidur, kamu isi dulu perut kamu, ya. Saya sudah meminta orang rumah untuk menyiapkan makanan malam untuk kamu. Sekalian nanti ganti baju karena saya juga meminta asisten saya untuk membelikan dua set baju untuk kamu ganti malam ini dan juga besok pagi," ujar Bian.

__ADS_1


"Waduh, Pak. Saya malah jadi ngerepotin Bapak seperti ini." Wafa merasa tidak enak hati.


Tanggapan Bian hanya tersenyum saja dan kembali fokus menyetir. Bian juga tidak lupa memberikan ponselnya Wafa kepadanya. Sebab, ponsel Wafa ini mati dan Bian belum tahu karena rusak atau habis dayanya.


__ADS_2