Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Wafa Membawa Grietta Pulang


__ADS_3

Ba'da magrib, barulah mereka bertiga sampai di pesantren. Hari itu adalah hari pertama juga Grietta akan menginap di rumahnya Wafa. Sore sebelum mereka bertiga tiba, ada seorang utusan dari rumah Bian mengantar pakaian dan keperluan lainnya untuk Grietta selama menginap di rumahnya Wafa.


"Assalamu'alaikum," salam Wafa.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


Saat itu yang membukakan pintu adalah Zira. Baru selesai sholat, karena ia masih mengenakan mukena. Wafa sedikit khawatir membawa Grietta karena saat itu hubungannya dengan ayahnya sedang tidak baik.


"Wafa, bagus! Akhirnya kamu pulang!" seru Zira.


Dari belakang, muncullah Ustadz Lana yang saat itu menggendong Grietta. Nampak sekali Grietta begitu nyaman dalam gendongan Ustadz Lana.


"Eh, ada Ustadz Lana juga?" Zira sampai terkejut. "Loh, siapa ini bocil? Matanya ilang, weh!"


"Hush, kalau ngomong!" tepis Wafa.


Wafa menengok kembali ke arah mobil yang terparkir di samping rumah. "Mbak Sari masih di sini?" tanyanya.


Zira mengangguk. "Iya, Ustadz Zamil juga. Katanya ada kepentingan dengan Mas Reyhan gitu," jawabnya.


Wafa mengajak Ustadz Lana dan Grietta masuk. Sari melintas dan menyambut kedatangan Wafa dan Ustadz Lana. Saat itu memang semua pria yang ada di rumah sedang berada di pesantren.


"Wafa, Ustadz, kalian ... eh, siapa si cantik ini?" Sari juga menyukai anak-anak, sehingga dia tidak mengabaikan Grietta yang duduk disebelah Ustadz Lana.


"Ada apa ni rame-rame?" Dian juga keluar karena mendengar ada orang yang datang. "Wafa, Ustadz Lana, kalian pergi bersama kah?" pertanyaan itu juga pertanyaan yang ingin Sari tanyakan sebelumnya.


Ustadz Lana dan Wafa pun menjelaskan mengapa Mereka bisa bersama. Sari, Zira dan Dian tentu saja percaya, apalagi memang Grietta nyata ada di depan mata mereka. Gadis kecil itu terlihat waspada ketika Sari, Zira dan Dian duduk di depannya.


"Kalian sudah sholat maghrib?" tanya Sari.


"Sudah. Kami sholat di masjid alun-alun tadi. Lumayan juga jalanan tidak ramai, jadi sampai rumah belum isya'. Nggak kemalaman juga untuk Grietta istirahat," jawab Wafa.


"Oh, ngomong, tadi ada seseorang yang katanya dari rumah Pak Bian. Dia membawakan koper kecil warna merah muda. Tunggu sebentar!" Dian masuk ke dalam dan mengambilkan koper tersebut.


Koper itu milik Grietta tentunya. Sebelumnya diterima oleh Zira, tapi memang diurus oleh Dian karena Zira sulit sekali menjalankan tanggung jawab dari orang lain.

__ADS_1


"Ini dia kopernya." tidak dalam waktu lama, Dian sudah keluar membawakan koper kecil yang dia maksudkan.


Respon Grietta rasanya cepat sekali, dia tersenyum bahagia melihat kopernya. Wafa pun meminta Dian untuk memberikan koper tersebut kepada pemiliknya, si gadis kecil yang menggemaskan.


Tapi ketika Dian hendak memberikan koper tersebut, Grietta langsung menyembunyikan dirinya di belakang Ustadz Lana. Sepertinya Grietta takut dengan orang-orang baru di rumah Wafa.


"Eh, dia takut padaku, kah?" Dian jadi sedih.


"Iyalah takut, kamu kan setan, kak!" seru Zira, tukang menggoda Dian.


"Zira!" tegas Dian dan Sari bersamaan.


"Astaghfirullah hal'adzim, kalian mengagetkan aku. Kenapa kalian galak sekali padaku, sih? Aku kan, jadi sedih," Zira mulai lagi aktingnya.


Grietta tersenyum melihat tingkah Zira. Dia tak lagi menyembunyikan diri di belakang Ustadz Lana.


"Eh, dia menyukaimu sepertinya. Ayo, kamu sapa dia, Zira," bisik Dian.


"Okay!" seru Zira semangat.


"Grietta, kamu jangan takut pada kakak-kakak ini. Mereka semua baik, kok," kata Wafa. "Yang ini namanya Kak Sari, dalam perutnya sana, ada adik kecil yang akan lahir nantinya," lanjutnya dengan menunjuk Sari.


"Lalu, yang ini namanya Kak Zira. Kakak Zira ini sama sepertimu yang suka sekali bermain. Jika Grietta tinggal di sini nanti, Grietta bisa bermain dengan Kakak Zira," lanjut Wafa.


Zira melambaikan tangannya.


"Kemudian yang terakhir ini namanya Kak Dian. Kakak Dian ini bisa memanah dan naik kuda, loh! Selamat Grietta mau tinggal disini, Grietta bisa belajar dengan Kakak Dian bermain panah dan naik kuda, hm?" tukas Wafa.


Dian pun melambaikan tangannya.


Wafa sudah mengenalkan keluarganya pada Grietta. Setelah Grietta mulai menerima keadaan, datanglah Ustadz Zamil dan pak kyai yang baru pulang dari masjid pesantren. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam mereka.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh ...."


Melihat ramai-ramai di ruang tamu, pak kyai penasaran dengan apa yang terjadi. Beliau bertanya pada Sari yang saat itu berdiri paling belakang.

__ADS_1


"Sari, kenapa Zira dan Dian jongkok di depan Wafa? Apalagi yang dilakukan oleh adikmu itu?" tanya pak kyai berbisik.


"Habis sebaiknya hilangkan prasangka buruk itu terhadap Wafa. Hari ini dia membawa anaknya pak biar kemari karena Pak Bian sedang berada di luar negeri," Sari masih mau membela adiknya, karena memang pak kyai salah jika terus berprasangka buruk pada Wafa.


"Anaknya Pak Bian? Kenapa harus Wafa yang mengurusnya, bukankah biasanya orang kaya itu ada seorang pengasuh atau pembantu rumah tangga seperti itu?" sahut Ustadz Lana.


Sari menggelengkan kepala. Dia juga belum tahu persis seperti apa keluarga Pak Bian yang sebenarnya. Pak Kyai dan Ustadz Zamil dikejutkan pula dengan adanya Ustadz Lana di antara mereka.


"Loh, Ustadz Lana juga ada di sini to?" tanya pak kyai.


Ustadz Lana langsung berdiri, kemudian menghampiri beliau seraya mencium tangannya. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, pak kyai," salamnya.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Kapan Ustadz Lana datang?" tanya pak kyai.


"Kebetulan saya datang bersama dengan Wafa dan juga Grietta. Kita tadi pergi bersama mengantar Grietta les piano dan jalan-jalan sebentar, pak kyai," jawab Ustadz Lana.


"Siapa Grietta?" tanya Ustadz Zamil.


"Grietta adalah anaknya Pak Bian," jelas Ustadz Lana.


Bertemulah Grietta dengan pak kyai. Gadis kecil itu bingung mau bersembunyi dimana karena Ustadz Lana sedang berdiri berada di dekat pak kyai. Akhirnya, Grietta pun menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya yang kecil.


"Eh, dia takut sama Abi, ya?" tanya pak kyai terkejut.


Semuanya menahan tawa melihat tingkah Grietta, kecuali Wafa yang memang sedang tidak baik hubungannya dengan sang ayah. Terlebih lagi, Wafa juga belum berita dan meminta izin bahwa dirinya akan membawa pulang gadis kecil itu.


Ustadz Lana membisikkan sesuatu pada pak kyai. Dia menjelaskan bahwa Grietta belum bisa bicara karena ada musibah yang pernah menimpa dirinya. Mendengar hal itu membuat pak kyai terus menatap gadis kecil yang masih menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Apa yang anda bisikkan, Ustadz?" tanya Ustadz Zamil juga penasaran.


"Saya yang akan menjelaskan," Sari menyahut dan membisikkan kenyataan pahit tentang Grietta.


Sebelum pak kyai dan Ustadz Zamil datang, Wafa sudah menceritakan keadaan Grietta lebih dulu pada Sari, Zira dan Dian. Kini, tinggal mereka bertiga yang akan menjelaskan pada pak kyai dan Ustadz Zamil.


Apakah pak kyai akan menerima keputusan Wafa membawa pulang Grietta?

__ADS_1


__ADS_2