
"Kita sudah sampai," ucap Bian, membantu Wafa turun dengan membukakan pintu mobilnya.
"Terima kasih," balas Wafa dengan senyuman. "Iya, hati-hati!" seru Bian, dengan meletakkan tangannya di atas kepala Wafa supaya kepala gadis itu tidak kena.
Perlakuan baik Bian membuat Wafa semakin salah paham. Gadis baik hati ini langsung beristighfar kala itu. Ia tidak ingin hal buruk menguasai pikirannya, apalagi tentang Bian. Kemudian, Wafa mengecoh pikirannya dengan melihat Inneke dan Grietta sudah berada di depan gedung dimana mereka berhenti.
"Kalian sudah ada di sini?" tanya Wafa.
Grietta segera berlari ke arah Wafa, gadis kecil itu langsung memeluk tubuh mungil Wafa dengan erat. Senyum gadis kecil itu membuat hati Wafa lega. Tapi ada hal yang membuat Wafa heran pada Grietta, pasalnya Grietta belum buka suara selepas ayahnya pulang dari luar negeri seminggu yang lalu.
"Hei, kenapa pipimu memerah? Apa ada serangga yang menggigit pipimu?" tanya Wafa.
Grietta menggeleng, ia menunjukkan cuaca dingin hari itu yang membuat pipi putihnya memerah.
"Haha, kamu jadi manis sekali dengan pipi yang merah ini. Jadi pengen cubit pipinya yang gembul ini, deh!" Wafa malah gemas sendiri dengan Grietta.
"Baiklah, ayo kita masuk." ajak Bian.
Bian melangkah lebih dulu, lalu diikuti oleh Zaka Yang yang menuntun tangan mungil Grietta. Ketika hendak melangkah mengikuti mereka masuk ke gedung apartemen, Inneke menahan tangan Wafa. "Stt, sini kau!" Inneke menarik lengan Wafa.
"Apa, sih?" tanya Wafa berbisik.
"Ayo sambil jalan, nanti yang ada malah kita ketinggalan langkah kaki mereka," Inneke masih menarik lengan Wafa.
Gadis yang biasanya heboh itu hanya bisa pasrah. Ia memang keturunan etnis Tionghoa, tapi tidak pernah belajar bahasa Mandarin dan tentunya tidak tahu harus bagaimana di negeri yang masih sangat asing baginya.
"Ada apa, sih, Ke?" tanya Wafa lagi.
"Ini sebenarnya kita kesini mau ikut acara peringatan kematian saja, 'kan? Kenapa malah ke apartemen? Gending ini apartemen, 'kan? Mewah sekali, jadi tidak mungkin jika gedung ini adalah rumah damai," bisik Inneke.
"Berpikir positif saja, Inneke. Lagian kamu juga China, 'kan? Masa iya kamu merasa asing di tempat seperti ini?" kata Wafa yang selalu berpikir positif.
__ADS_1
"Lambemu!" sahut Inneke.
Mereka pun masuk ke lift, kemudian Zaka Yang memencet tombol 8, yang dimana artinya mereka sedang menuju ke lantai 8 gedung tersebut. Memang gedung apartemen itu terlihat mewah, tempatnya bersih dan juga wangi. Tak banyak orang lalu lalang.
Ting~
Akhirnya mereka sampai di lantai 8. Berjalan beberapa langkah, lalu Bian menghentikan langkahnya di pintu nomor 2 dari lift. Terlihat jelas jika di lantai itu hanya ada 2 unit apartemen saja.
Zaka Yang memencet pin pintu apartemen tersebut dengan cepat. "Tuan, silahkan ...." ucapnya ketika pintu sudah terbuka.
"Kalian masuk duluan, aku akan mengubah pin nya lebih dulu," kata Bian.
"Oh, lihatlah. Dia begitu waspada dengan kita, memang kurang ajar!" umpat Inneke, meski hanya bisa berbisik dengan Wafa.
"Stt, tidak boleh suudzon, Inneke," balas Wafa.
"Heleh, tidak suudzon. Tapi memang kenyataannya begitu. Kau saja yang buta." ketus Inneke.
"Iya?"
Wafa menoleh ke arah Bian, begitu juga Inneke yang masih ada di depan Wafa.
"Kamu tunggu disini sebentar," pinta Bian dengan suaranya yang lembut. "Kamu, masuklah!" perintahnya pada Inneke.
Tatapan sinis Inneke seolah bisa menusuk hati Wafa, gadis terlahir menjadi anak tunggal itu bibirnya komat-kamit seperti dukun yang sedang membaca mantra, kakinya melangkah pergi meninggalkan Wafa bersama dengan Bian di depan pintu.
Wafa menahan tawa melihat tingkah sahabatnya. Tak habis pikir dengan Inneke yang sedari tadi selalu saja komat-kamit. "Oh, iya. Ada apa, Pak Bian? Apa anda ingin bicara berdua saja dengan saya?" tanya Wafa.
"Tentu saja! Itu sebabnya saya menahan kamu dan meminta temanmu itu untuk masuk terlebih dahulu," jawab Bian..
"Kalau begitu ... Ada hal apa yang ingin Bapak sampaikan kepada saya?" tanya Wafa lagi.
__ADS_1
"Kemarilah!" Bian mengajak Wafa berdiri di depan pintu dari dalam. Kemudian menutup pintu secara perlahan.
Rupanya, Bian sedang merestart pin pintu apartemennya. "Kemarilah, kamu berisi disini dan lihat lcd yang ini." pintanya.
Wafa yang terkejut ketika Bian menyentuh bahunya, meluruskan wajahnya dan memintanya menatap lcd. Dari layar itu, wajah Wafa nampak di scan, kemudian Bian juga menarik telapak tangan Wafa yang saat itu sedang mengenakan kaus tangan.
"Lalu—um, kamu buka kaos tangan kamu dan bisa pencet yang sebelah sini menggunakan jempol tanganmu," lanjut Bian.
Tidak tahu mengapa, Wafa malah patuh saja dengan perintah Bian.
"Oke, terkahir. Kamu bisa pakai pin sesuai dengan yang kamu inginkan, Wafa. Ayo, buat pin barunya," Bian menunjuk lcd kecil yang ada di bawah ganggang pintu.
"Maksudnya apa, ya, Pak? Saya harus buat pin baru, begitu? Lalu, gunanya?" tanya Wafa bingung.
"Kamu akan tinggal di apartemen ini sementara berada disini. Sesuai janji saya pada ayahmu bahwa saya tidak mungkin membawamu pulang ke rumah, maka saya menyiapkan apartemen ini untuk kamu dan temanmu," jelas Bian.
Deg!
Wafa tidak menyangka jika Bian bisa menjaga amanah Pak kyai untuknya.
"Pak Bian, tapi sepertinya apartemen ini terlalu mewah untuk saya dan Inneke. Bapak bisa bawa saya ke kamar pembantu atau bisa menyewa rumah yang lebih kecil, gitu?" usul Wafa, ia tak enak hati jika sampai Bian mengupayakan semuanya untuknya.
Bian menghela nafas pelan. "Wafa, untuk apa kamu tinggal di kamar pembantu? Bahkan pelayan di rumah saya saja tidak memiliki kamar di rumah saya sendiri. Mereka akan pulang setiap petang dan datang setiap pagi," ungkapnya.
"Buatlah pin sesukamu yang mudah kamu ingat. Saya tidak menerima satu protes apapun darimu. Nikmati saja harimu berada di sini, anggap jika saat ini kami sedang liburan, hm?" Bian begitu baik pada Wafa.
Kebaikan Bian ini membuat Wafa salah paham. Tapi ia juga sadar diri tidak mungkin baginya bisa bersama dengan Bian sampai di masa depan. Tak ingin membuat merasa kecewa padanya, Wafa patuh dan segera membuat pin baru untuk akses keluar masuk apartemen tersebut.
"Baiklah, malam nanti saya akan mengajakmu berbelanja di supermarket untuk mengisi kulkasnya. Siang dan sore ini, kita pesan makanan saja, okay?" lanjut Bian dengan senyuman.
Wafa pun membalas dengan senyuman. Ia masih bingung bersikap yang bagaimana lagi pada Bian. Melihat kemewahan apartemen itu membuat Wafa malah pusing. Wafa sempat berpikir jika Bian ini orang yang kekayaannya biasa saja. Terlihat dari usaha Bian yang ada di Indonesia. Siapa sangka Bian bisa mendapatkan apartemen mewah yang cukup terkenal di Kota besar.
__ADS_1