Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Nasihat


__ADS_3

"Jadi begini, dari Grietta dulu, okay?" kata Ustadz Lana memandang putri Bian itu dengan kehangatan.


"Grietta, marah itu boleh-boleh saja. Tapi usahakan jika di tempat umum, ramai seperti ini, Grietta harus menahan amarah itu," ujar Ustadz Lana.


"Memangnya, kenapa?" tanya Grietta.


"Loh, kok, kenapa? Jika Grietta marah-marah di tempat ramai seperti ini, lalu pengunjung restoran lainnya terganggu dengan teriakannya Grietta, kemudian orang itu tidak terima, lalu menghampiri Grietta dan marah pada Grietta, bagaimana?" terang Ustadz Lana.


"Grietta mau kah, kalau dimarahi orang lain? Itu bisa saja mengganggu orang lain jika Grietta teriak-teriak di tempat umum," lanjutnya. "Um, jadi ... Ada baiknya jika Grietta kesel, mau marah, harus tahan emosi dulu. Ingat nama Mama Wafa, sebut dalam hati Grietta, kemudian tarik nafas dalam-dalam, keluarga dengan pelan-pelan."


Ustadz Lana masih ada keterbatasan dalam bicara dengan Grietta. Di sisi lain memang gadis kecil itu baru saja berani bicara, di sisi lain juga keyakinan yang membuat Ustadz Lana sedikit cukup ketika hendak menyebut Tuhan atau hal lainnya yang bersangkutan dengan keyakinan.


"Kemudian untuk Sabrina," Ustadz Lana giliran menatap Sabrina.


"Memang benar Kakak Wafa bukan Mamanya Grietta. Namanya Ustadz juga bukan Nana. Panggilan dari Sabrina untuk kita berdua memang sudah betul, MasyaAllah sekali dan kami sangat berterima kasih," lanjut Ustadz Lana.


"Tapi bagi Grietta, Kak Wafa memang adalah Mama baginya dan Grietta juga biasanya memanggil Ustadz dengan sebutan Nana. Itu tidak masalah selagi kami berdua ikhlas menerimanya,"


"Sabrina, lain kali, alangkah baiknya tidak pernah lagi mempermasalahkan hal seperti ini. Itu sudah menjadi hak Grietta mau memanggil kami seperti apa. Bahkan kalau Sabrina mau, Sabrina bisa memanggil Ustadz dengan sebutan Ayah, selagi Ustadz ikhlas menerima,"


"Jadi, jangan memaksa Grietta untuk memanggil seperti apa yang kamu inginkan, okay? Setiap orang itu memiliki hak, Sabrina tahu hak, tidak?"


Sabrina menganggukkan kepala. Sabrina memang sudah diberitahu tentang hak asasi oleh ibunya sendiri semasa ibunya masih hidup. Hak asasi atau bisa disebut dengan sederhananya pendapat sendiri.


"Apa kalian berdua sudah paham, dengan yang dikatakan Ustadz Lana?" tanya Wafa.


Grietta dan Sabrina menundukkan kepala. Jika Sabrina sudah mengangguk paham, Grietta malah belum memberikan jawaban. Wafa meminta Grietta menegakkan kepalanya, lalu apa bisa melihat kedua bola mata Grietta yang sedang kebingungan.


"Grietta belum mengerti, ya?" tanya Wafa lirih.

__ADS_1


Grietta mengangguk.


Wafa menghela nafas ringan. "Sayang, dengarkan Mama. Kamu harus bedakan mana rumah dan mana tempat umum, tempat ramai seperti ini. Berteriak, itu tidak diperbolehkan, meski anak-anak seperti kalian berdua akan dimaklumi," tuturnya.


"Tapi, anak yang baik, harus bisa menahan amarah. Malah boleh, teriak pun juga boleh karena bentuk dari apresiasi diri dari kekesalan. Grietta mau jadi anak baik, kan? Anak baik itu harus selalu sabar," Wafa mengusap dada Grietta dengan lembut.


"Anak baik, anak pintar, Grietta Hutomo putranya Buan Hutomo, patuh ya ..." Wafa menghembuskan nafasnya di ubun-ubun Grietta, disertai dengan doa supaya Grietta bisa lebih sabar lagi.


Membaca surah Al-Insyirah. Membaca Surat Thaha ayat 1-5. Membaca doa amalan nabi Daud: "Ya allah, lembutkanlah hati anakku ini (sebut namanya lengkap) seperti Engkau telah melembutkan Nabi Daud akan besi."


Tiba-tiba Sabrina mendekati Grietta dan Wafa, ia pun meminta maaf pada Grietta dan mengaku salah karena sudah memaksa Grietta memanggil Wafa dengan sebutan kakak. Grietta pun juga minta maaf pada Sabrina karena telah membentaknya, bahkan berteriak-teriak padanya.


"Baiklah, karena sudah saling meminta maaf dan mengakui kesalahan masing-masing, jadi sudah bisa memesan makanan yang kalian mau, ayo!"


Mereka pun bergembira, memesan makanan dan makan bersama. Sabrina akhirnya merasakan kebahagiaan sebagai seorang anak-anak, biasanya ia akan menghabiskan waktunya untuk berjualan membantu almarhum ibunya melunasi hutang-hutang kepada ayah kandungnya sendiri.


Sore hari, yah! Mereka bermain sampai sore hari. Terakhir kegiatan, Wafa dan Ustadz Lana membawa Grietta dan Sabrina ke alun-alun kota. Disana Bian akan datang menjemput Grietta sesuai dengan kemauan Wafa yang meminta waktu seharian untuk bermain dengan gadis kecil itu.


"Kenapa kita berhenti di alun-alun, Kak?" tanya Sabrina.


"Ada sesuatu hal yang harus Kakak dan Ustadz Lana lakukan disini. Jadi Sabrina harus bersabar sebentar saja, bisa? Kakak mohon—" jawab Wafa.


Sabrina mengangguk. "Tentu saja. Sabrina berterima karena Kakak sudah mau mengajakku jalan-jalan. Jadi Sabrina akan patuh pada Kak Wafa!" sahutnya.


"Terima kasih, ya ...." ucap Wafa.


Mereka hanya berdiri di samping mobil menunggu Bian datang. Grietta belum tahu bahwa sore itu ayahnya akan menjemputnya. Gadis kecil itu terlihat begitu polos tidak tahu apapun, bermain dengan boneka yang didekapnya.


Sekitar 10 menit mereka menunggu, mobil Bian akhirnya tiba. Grietta langsung paham juga mobil itu adalah mobil ayahnya, ia langsung memeluk erat boneka kuda poninya dan melihat dengan kedua mata yang melebar ketika ayahnya turun dari mobil.

__ADS_1


'Papa?' batin Grietta.


'Mama, Nana, mau aku pergi?'


Grietta terus mengira jika Wafa dan Ustadz Lana sudah tidak menginginkan dirinya. Dari sana, Grietta tidak mau bicara lagi pada siapapun juga. Gadis kecil itu mengkerut berdiri dibelakang Wafa.


"Selamat sore semuanya," sapa Bian, begitu turun dari mobilnya.


"Selamat sore, Pak Bian," jawab Wafa dan Ustadz Lana saling bersahutan.


Bian melihat Grietta bersembunyi dibalik tubuh Wafa.


"Grietta Hutomo, apa kamu tidak ingin menyapa Papamu? Apa kamu tidak merindukan Papa?" tanya Bian.


"Grietta, ayo, disapa dulu Papamu. Papa sudah pulang, dan sudah saatnya juga kamu pulang," ucap Wafa dengan lembut.


Awalnya Grietta menolak untuk menemui Bian dan keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi karena Wafa dan Ustadz Lana terus membujuknya, akhirnya putri Bian ini mau menemui ayahnya. Sebenarnya saat itu juga Bian merasa tidak senang karena Ustadz Lana bisa mendapatkan perhatian Grietta, bahkan juga terlihat sekali Ustadz Lana dekat dengan Wafa. Dan di sana juga Bian tidak tahu mengapa dirinya tidak suka dengan kedekatan Wafa dan Ustadz Lana.


'Kenapa aku tidak menyukai pria ini berada di sisinya Wafa? Meskipun aku selalu mendengar dari Zaka Yang bahwa pria ini yang membantu Wafa merawat putriku, entah kenapa hatiku tidak tergerak sekalipun!' batin Bian kesal.


"Grietta, kamu harus pulang bersama dengan Papa. Peringatan kematian kakekmu akan segera dilaksanakan. Tidak akan lengkap jika tanpa dirimu, bukankah kamu menyayangi kakek ketika kakek masih hidup?" Bian sampai jongkok hanya untuk bicara dengan Grietta.


Grietta kembali mundur, kemudian menggenggam tangan Wafa erat-erat.


'Kenapa Grietta tidak mau bicara? Apa dia marah pada Pak Bian?' gumam Waf dalam hati.


"Sebaiknya kalian bicara lebih dulu, saya dan Sabrina akan menunggu di sana. Sabrina, ayo!" Ustadz Lana memberikan waktu bagi Wafa dan Bian membujuk Grietta.


Tinggallah mereka bertiga ketika Ustadz Lana dan Sabrina pergi. Bian kembali berdiri, menatap Wafa dengan tatapan yang seolah bahwa dirinya minta tolong untuk membujuk Grietta.

__ADS_1


__ADS_2