
"Kamu yang tenang. Teman kamu itu pasti akan baik-baik saja," ucap Bian mencoba menghibur Wafa.
"Pak Bian, saya sangat khawatir dengan keadaannya. Kami sudah tidak bertemu bertahun-tahun. Lalu, sekarang ... tapi saya memang harus pulang juga. Tamu di rumah juga masih menunggu," sahut Wafa lirih.
"Jalan-jalannya kita tunda saja. Bagaimana jika saya mengantar kamu pulang dulu. Kapan-kapan, jika keadaan sudah membaik, barulah kita memikirkan untuk kebahagiaan Grietta? Tapi, ada kontrak yang harus kamu tanda tangani lagi, Wafa,"
Bian menghentikan mobilnya. Lalu memberikan kontrak di mana isi kontrak itu adalah pekerjaan untuk Wafa supaya bisa membuat Grietta bahagia dan kembali ceria. Di sana, ada sejumlah gaji yang sangat menggiurkan juga untuk Wafa. Keadaan Wafa saat itu memang sedang tidak baik. Jadi, dia tidak membaca sepenuhnya dan langsung menandatangani begitu saja.
"Kamu sudah baca semuanya?" tanya Bian.
"Saya percaya kepada Anda. Apalagi, di sini saya juga hanya harus membuat Grietta tersenyum kembali. InsyaAllah, saya sanggup dan saya akan usahakan bisa," jawab Wafa.
"Tapi, Wafa. Alangkah baiknya kamu—" belum juga Bian menyelesaikan ucapannya, Wafa sudah menyelanya untuk segera mengantarnya pulang ke pesantren.
Tidak bisa berkata-kata lagi, Bian pun menuruti saja apa kata Wafa. Dia mengantar Wafa sampai di depan gerbang pesantren. Kini, Bian juga sudah tahu dimana Wafa tinggal. Sebelum Wafa turun, Bian memberikan salinan kontrak itu kepada Wafa.
"Senang bekerja sama dengan kamu, Wafa. Kontak saya juga sudah kamu save, 'kan? Pulanglah dan sampai berjumpa lagi," kata Bian dengan senyumnya yang licik.
Kontrak itu tidak hanya berisikan untuk Grietta saja. Tapi ada hal lain yang belum Wafa baca. Ingin sekali rasanya Bian tertawa saat itu juga. Tapi tidak tega karena memang situasi sedang tidak mendukung.
"Baik, Pak. Saya masuk dulu. Terima kasih sudah mengantar saya pulang," ucap Wafa.
"Iya, sama-sama."
Setelah melihat Wafa masuk, Bian juga bergegas menjemput Grietta ke yayasan. Tak tahan lagi ingin tertawa, Bian pun akhirnya tertawa. Dimana tawa Bian ini sudah tidak terlihat lagi pasca perpisahan antara dirinya dengan istrinya dulu. Sekarang, mampu tertawa dengan lepas lagi setelah bertemu dengan Wafa.
Sementara itu, Wafa yang baru saja pulang langsung disambut oleh kakaknya, Sari. Tamunya sudah keburu pulang dan Sari pun kesal dengan Wafa karena pulang terlambat.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Wafa lirih.
__ADS_1
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Darimana saja kamu? Jam segini baru pulang? Sepenting apa, sih, rapatnya itu? Mau maghrib, loh, ini!" seru Sari.
Wafa celingukan. Dia mencari-cari dimana keluarga ustadz Zamil. Memang sudah tidak ada di sana. Wafa pun tertunduk lesu dan meminta maaf kepada kakaknya.
"Maaf, Mbak. Aku benar-benar ti—"
"Tunggu!" permintaan maaf Wafa terhenti oleh Sari.
Sari menatap wajah adiknya yang terdapat perban di keningnya. "Kenapa dengan kening kamu, Wafa?" tanyanya panik.
"Oh, ini? Ini ...."
"Wafa, kamu kenapa? Apa kamu jatuh? Kamu pulang dengan siapa? Katakan kepada Mbak, Wafa!" Sari panik bukan main.
Wafa sampai tidak sempat menjelaskan karena kepanikan Sari. Sampai-sampai, membuat abinya keluar karena Sari memanggilnya.
"Abi ... Abi ... Cepat keluar, Abi!"
"Lihat kening Wafa. Kening Wafa terluka, Abi!"
Sayangnya, respon Kyai tidak sesuai ekspektasi Wafa. Kyai merasa jika Wafa tidak akan kenapa-napa karena pulang dengan selamat. Respon Kyai ini membuat Wafa sedih. Pasalnya, Abinya yang dihormati paham sekali tentang agama, tapi malah berbuat tidak adil kepada dirinya.
"Abi," panggil Wafa.
"Aku tidak sekuat yang Abi pikirkan selama ini. Aku juga punya hati, Abi. Aku punya perasaan juga. Aku tidak setangguh yang Abi tahu. Aku anak Abi yang masih membutuhkan kasih sayang Abi. Kenapa Abi selalu menganggap aku ini terbuat dari baja? Padahal aku ini juga lemah seperti kertas, Abi!"
"Abi selalu saja menyayangi Mbak Sari. Memberikan apa yang diinginkan Mbak Sari. Tapi kenapa tidak denganku? Padahal, sudah sangat jelas aku ini anak kandung Abi. Kenapa Abi memperlakukan aku seperti ini?"
"Hari ini, Abi menerima lamaran Ustadz Zamil untuk Mbak Sari. Padahal Abi sendiri tahu yang sebenarnya. Oke, itu tidak masalah. Tapi aku baru saja mengalami kejadian buruk, Abi. Tapi respon Abi seperti ini?"
__ADS_1
"Apakah aku tidak penting bagi Abi? Aku ini terluka Abi!"
Setelah mengungkapkan isi hatinya, Wafa pun langsung masuk dan berlari ke kamarnya. Sementara Kyai hanya diam dan melanjutkan langkahnya pergi ke masjid. Hal itu membuat Sari bingung berada ditengah-tengah dan tidak tahu harus melakukan apa untuk ayah dan adiknya.
**"
Setelah shalat maghrib, Sari tidak menemukan adiknya berjamaah di pesantren aula putri. Dia pun segera pulang dan mengetuk pintu kamar Wafa.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Wafa. Apa kamu di dalam?"
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa?" Wafa membuka pintu.
"Mbak mau masuk!" tanpa persetujuan Wafa, Sari langsung masuk ke kamarnya dan duduk di ranjang.
Sari menatap adiknya dengan tatapan aneh. Sari ini tahu betul jika adiknya sedang tidak baik-baik saja. Dia pun menarik tangan adiknya dan memintanya untuk duduk disisinya. "Ada apa?" tanyanya.
"Kamu terlihat tidak baik. Apakah ada yang membuatmu kesal, marah, atau sedih?" lanjut Sari.
"Aku menyukai Ustadz Zamil, Mbak. Apa kamu tahu, aku sudah menyukai Ustadz Zamil sejak aku kecil. Tapi kenapa malah Mbak yang dilamar? Padahal aku pikir, Ustadz Zamil menyukaiku juga karena ... Astaghfirullah hal'adzim. Apa yang aku pikirkan ini?" batin Wafa mulai berperang.
"Wafa ...." panggil Sari dengan lembut.
"Aku tidak apa-apa, Mbak. Serius, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah saja, kok," jawab Wafa.
"Yakin?" tanya Sari.
"InsyaAllah. Aku baik-baik saja dan tidak ada masalah apapun. Soal tadi dengan Abi, aku hanya kesal saja karena Abi tidak seperti khawatir denganku," jawab Wafa.
"Kamu salah paham dengan Abi. Sebenarnya Abi itu dari tadi mengkhawatirkanmu karena belum pulang-pulang juga. Mungkin, Abi seperti itu karena tidak tahu harus berkata apa. Antara sedih, marah dan juga bingung jadi satu. Jadi tidak tahu harus berekspresi bagaimana. Apalagi, pulang-pulang, kamu malah terluka seperti ini," ungkap Sari.
__ADS_1
Wafa menghela nafas panjang. Dia sangat menyesal karena belum bisa mengatakan tentang perasaannya. Tapi, rasa tidak tega kepada kakaknya jauh lebih besar. Mengingat jika kakaknya adalah seorang yatim piatu, Wafa berpikir jika Sari berhak bahagia bersama dengan Ustadz Zamil meski dirinya harus menyembunyikan luka hatinya.
Mencintai dalam diam itu membuat Wafa sedikit lelah. Apalagi, dalam satu hari itu sahabatnya juga masih berada di rumah sakit. Belum ada kabar sama sekali. Belum lagi dirinya terluka karena suami sahabatnya. Wafa benar-benar lelah malam itu.