
Wafa mengirim pesan pada Inneke.
Tak ada balasan apapun dari Inneke. Wafa kembali dihampiri oleh Ustadz Lana dan Sabrina, mereka juga baru saja dipamiti oleh Bian dan juga Grietta.
"Mereka sudah pergi? Begitu saja?" tanya Ustadz Lana.
"Iya, Ustadz. Bahkan Grietta saja hanya menyalamiku tanpa mengatakan apapun. Padahal sebelumnya dia sudah berteman denganku dulu," sahut Sabrina.
"Benar. Sepertinya Grietta sedang ingin menyembunyikan dari Pak Bian tentang dirinya yang sudah mulai bicara. Tadi dia hanya bersalaman dengan saya dan melambatkan tangan saja," timpal Ustadz Lana.
"Entahlah, Ustadz, Sabrina. Bahkan saya merasa juga begitu. Sejak Pak Bian datang, Grietta tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya tersenyum ketika dia setuju, dan dia akan diam saja dengan ekspresi kesalnya ketika dia tidak setuju," ungkap Wafa.
"Mungkin saja memang Grietta ingin memberi kejutan untuk Pak Bian di rumah. Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh gadis kecil itu, dia semakin cerdik saja!" seru Ustadz Lana.
Kemudian, Ustadz Lana mengajak Wafa dan Sabrina pulang. Sebelum itu, mereka mampir di masjid alun-alun terlebih dahulu untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai umat muslim.
Dalam doanya Wafa, iya hanya ingin kebahagiaan menyertai Grietta. Melihat gadis kecil itu bahagia, tentunya Wafa juga ikut bahagia. Tidak peduli bagaimana caranya, Wafa harus segera mengakhiri kontrak yang telah Ia tandatangani itu.
'Bagaimana jika semua ini berakhir begitu cepat? Kontraknya berlaku untuk satu tahun. Ini sudah 4 bulan berjalan, Grietta sudah bisa bicara. Perpisahan akan semakin dekat, kenapa hatiku sangat sakit sekali rasanya?'
'Ya Allah, pertemuan dan juga perpisahan sudah sering aku jumpai. Namun mengapa kali ini berbeda?' batinnya.
Jika Wafa berdoa demi kebahagiaan Grietta, karena bahagia Grietta adalah bahagianya, lain dengan Ustadz Lana yang berdoa supaya kebahagiaan dan doa yang sedang Wafa panjatkan sore itu terkabul.
'Ya Allah, apapun doa yang Wafa panjatkan pada-Mu, kumohon Engkau kabulkanlah. Melihatnya bahagia, aku pasti akan ikut bahagia, meski bahagia-nya tidak bersamaku. Aamiin Allahumma aamiin.'
Setelah selesai sholat, ketika hendak memakai sepatunya, Wafa dikejutkan dengan kehadirannya Hana. Wafa sendiri tidak tahu mengapa Hana ada di masjid tersebut.
"Wafa!" teriak Hana.
"Astaghfirullah hal'adzim," ucap Wafa mengusap dadanya. "Kak Hana?" sebutnya lirih.
"Astaga, ini kamu?" tanya wanita itu. "Wah, bagus sekali! Kemarilah, ada hal yang ingin aku katakan padamu. Ini sangat penting sekali!" Wanita itu sampai menarik-narik tangannya Wafa.
Sampai Wafa kesulitan ketika hendak memakai sepatunya yang tinggal sisi sebelah saja.
"Kak Hana, pelan-pelan saja. Aduh, sepatuku!" Wafa sampai menjatuhkan sepatunya karena kehilangan keseimbangan.
__ADS_1
"Lupakan sepatumu ... eh, baguslah. Mas, ayo kamu ambil dulu sepatu tekan saya, okay? Okay, la ..." Hana meminta Ustadz Lana yang saat itu ada di sampingnya Wafa untuk memungut sepatunya.
Hana kembali menarik guava sampai ke ujung parkiran yang ada di masjid alun-alun tersebut. Rupanya Hana ingin memberitahukan kepada Wafa perihal Flanella yang tidak akan lama lagi pasti kembali ke Indonesia setelah melakukan bulan madunya.
"Gawat, gawat, gawat! Gawat Wafa!" seru Hana.
"Kak Hana, tolong tenanglah. Gawat kenapa, lalu tolong tunggu sebentar, aku akan memposisikan kakiku terlebih dahulu," tanya Wafa, sambil memposisikan kakinya dengan benar supaya bisa berdiri dengan tegak.
"Flanella akan kembali ke Indonesia. Kemungkinan satu sampai dua bulan lagi dia akan pulang. Kamu harus berhati-hati, Wafa!" ungkap Hana.
Wafa mengerutkan keningnya. Tentu saja gadis ini tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Hana tentang kepulangan Flanella yang tidak mungkin ada hubungannya dengannya.
"Hei, Wafa. Kenapa respon kamu seperti itu saja?" desis Hana.
"Lah, terus? Memangnya aku harus bagaimana, Kak Hana?" tanya Wafa masih terheran-heran.
"Astaga, iya minimal panik lah, atau terkejut gitu, supaya ada effort ketika aku sudah memberitahumu tentang kepulangannya Flanella," jawab Hana.
"Iya, tapi hubungannya denganku ini apa? Jika Nyonya Flanella mau pulang ya silahkan Ini juga negaranya, bukan? Jadi tidak ada hubungannya denganku, Kak!" seru Wafa.
Rupanya ketika dicermati, apa yang coba Hana jelaskan ini adalah jika Flanella pulang dan berusaha untuk mengambil Grietta, maka dijamin wafat tidak akan pernah bertemu lagi dengan gadis kecil itu. Hana mendengar cerita dari temannya Flanella saat ini, katanya Flanella akan mengambil hak asuh putrinya itu dan akan dibawa ke luar negeri.
***
Wafa dan Ustadz Lana pulang, mengantar Sabrina dan mengobrol sebentar di ruang tamu yayasan. Wafa tidak menceritakan ajakan Bian, takut jika Usatdz Lana akan salah paham. Apalagi soal yang Hana katakan padanya tentang ibu kandungnya Grietta.
"Wafa, kenapa kamu hanya diam saja? Apa wanita tadi telah mengatakan hal buruk padamu?" tanya Ustadz Lana, ketika ia hendak mau pulang.
Wafa menggelengkan kepala. "Tidak, Ustadz. Saya hanya lelah saja karena seharian ini sudah menghabiskan banyak energi untuk Grietta dan Sabrina," alasan Wafa.
"Owalah, begitu. Saya pamit dulu ya kalau tidak ada masalah padamu, Malam ini saya harus menghadiri suatu acara, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamit Ustadz Lana.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati dijalan, Ustadz."
Ketika Ustadz Lana baru melangkah, dia pun menghentikan langkahnya itu sambil bergumam dalam hatinya, 'Wafa, apakah saya tidak cukup baik bagimu? Sehingga kamu belum bisa membagi deritamu pada saya? Saya tahu jika kamu sedang tidak baik-baik saja.'
Setelah itu, Ustadz Lana pulang, begitu dengan Wafa yang sedang berjalan ke arah jalan pulang. Ketika sampai di rumah, ia melihat Inneke sudah menunggunya. Inneke menemui Wafa di malam hari di pesantren untuk membahas tentang kepergian mereka ke Tiongkok yang akan dilaksanakan satu minggu lagi.
__ADS_1
"Kamu baru pulang?" tanya Inneke.
Wafa melongok ke dalam rumah.
"Tenang saja, Abi belum pulang katanya sejak pagi. Jadi kamu tidak perlu khawatir kalau jam segini baru pulang. Ayo, segera masuk dan ceritakan bagaimana bisa Pak Bian mengajak kita ke luar negeri mendadak seperti itu!" Inneke langsung menarik tangan Wafa.
Setelah menceritakan segalanya kepada sang sahabat, barulah Inneke paham. Sebelumnya memang Inneke sempat salah paham terhadap Wafa antara hubungannya bersama dengan Bian.
"Jadi, semuanya karena iblis kecil itu?" tanya Inneke.
"Grietta namanya. Kenapa kamu selalu menyebutnya dengan kata iblis, sih!" tegas Wafa.
"Wafa, iblis—maksudku gadis kecil itu, si Grietta, dia kecil-kecil licik banget, Wafa. Kamu harus hati-hati. Siapa tahu dia kongkalikong dengan bapaknya supaya bisa mendapatkan hatimu, bisa saja kan?" ucap Inneke dengan sejuta pikiran buruknya.
"Astaghfirullah hal'adzim, Inneke. Mana mungkin hal seperti itu terjadi. Grietta masih kecil, tidak mungkin dia memiliki pikiran seperti itu. Kamu terlalu kebanyakan baca novel dan komik deh!" tampik Wafa.
"Njirr, kagak gitu, woy!" tepis Inneke, Dia tidak rela jika Wafa menuduhnya korban dari kisah novel dan juga komik. "Padahal yang aku tonton kan serial India," lanjutnya.
"Nah, itu! Itu Inneke!"
Wafa sempat heran dengan sahabatnya ini yang suka sekali menonton hal-hal yang kurang tepat. Apalagi Inneke menjelaskan jika serial India yang baru ia tonton itu konfliknya tentang perselingkuhan dan perebutan hak asuh anak.
Tak ingin semakin pusing, Wafa meminta Inneke untuk pulang. Kemudian membahas hal lainnya besok. Tentu saja Inneke langsung mengiyakan karena gadis itu harus memenuhi janjinya untuk minum-minum bersama dengan teman barunya.
Setelah mandi, dan lain-lain, Wafa langsung merebahkan tubuhnya. Teringat dengan wajah Bian yang tiba-tiba muncul ketika Wafa memejamkan matanya.
"Astaghfirullah hal'adzim, apa-apaan ini!" Wafa langsung terbangun dari rebahannya.
"Allahumma inni a'uuzubika minal hammi wal hazan. wa a'udzubika minal ajzi wal kasali, wa a'udzubika minal jubni wal bukhli, wa a'udzubika min gholabatid daini wa qahrir rijaal."
"Astaghfirullah, doa apa yang aku ucapkan ini. Ya Allah, ya Allah, maafkan hamba mu ini,"
"Aghhrrrr! Entahlah!"
Wafa membenamkan diri ke ranjang dan berusaha tidur.
(Doa yang Wafa ucapkan adalah doa melupakan orang yang pernah dicintai)
__ADS_1