Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Lamaran Ustadz


__ADS_3

Seorang ustadz yang melamar Wafa saat itu bernama Maulana Mubarok, biasa di panggil dengan nama Lama, Ustadz Lana. Ustadz Lana berusia 27 tahun. Kuliah lulusan Kairo juga tentunya. Ustadz Lana ini adalah putra satu-satunya. Ia adalah pria yang baik dan juga taat agama. Tapi yang namanya tidak suka tetap saja tidak suka. Wafa masih enggan untuk membuka hati atau menerima lamaran siapapun saat itu.


"Maksud dan tujuan saya datang kesini ingin meminta izin kepada Pak Kyai untuk melamar putri Pak Kyai untuk saya jadikan sebagai istri saya. Saya berjanji akan membahagiakan dan memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya," ucap Ustadz Lana.


"Dan ... apakah Wafa menerima lamaran saya?" lanjut Ustadz Lana dengan harapan besar.


Lamaran masih belum diterima oleh Pak Kyai karena hari itu, Pak Kyai menyerahkan semua keputusannya kepada Putri bungsunya itu. Pak Kyai juga terlihat begitu lelah, hingga membuat Wafa menjadi tidak tega dan dia pun ingin sekali bertukar pikiran dengan Ustadz Lana di luar. Tapi sayangnya, Bian mendengar dan menyaksikan lamaran itu.


Beberapa detik yang lalu, Bian baru sampai persis di depan pintu rumah Pak Kyai karena buku Wafa tertinggal di dalam mobil. Namun, ketika sampai di depan pintu, Bian mendengar lamaran dari mulut Ustadz Lana untuk Wafa.


Bian tidak bisa membiarkan kelopak matanya berkedip, tidak ingin melewatkan sedetikpun hal menyakitkan di depannya itu. Senyuman tipis di sudut bibir Wafa kian menambah luka dalam hati Bian. Luka yang tidak tahu dari mana asalnya itu membuat dada Bian sakit.


"Om, kenapa Om ada di sini? Masuk sana!"


Datanglah seorang anak kecil yang mengagetkan pengusaha muda ini. Kemudian, dia pun berjongkok di depan anak itu dan memberikan buku yang berada di tangannya kepadanya. "Kamu mengenal Kakak yang cantik itu 'kan?" tanyanya.


Anak itu mengangguk.


"Tolong kamu berikan ini padanya, ya. Tadi tertinggal di mobil. Lalu ... ini ongkos kirimnya. Sampaikan kepada Kak Wafa, jika saya pulang dulu, mengerti?" Bian memberikan selembar uang ratusan ribu kepada anak itu.


"Baiklah, Om. Terima kasih uangnya!" seru anak itu terlihat girang.


Anak itu segera masuk, Bian juga berdiri lagi. Menatap sebentar acara yang formal itu, lalu mengepalkan tangannya. Kekesalan Bian itu memang masih diduga tanpa sebab. Ia pun melangkah pergi dari rumah Pak Kyai tanpa berpamitan kepada Wafa.


"Aku baru mengenalnya belum sebulan ini. Tapi kenapa aku merasa tidak senang ketika dia dilamar pria lain?" gumam Bian ketika di perjalanan.

__ADS_1


"Hatiku seperti ada yang menusuknya. Sakit, tapi aku sendiri juga tidak tahu mengapa,"


"Hal ini sungguh tidak membuatku tenang saja. Kira-kira, Wafa menerima lamaran itu tidak, ya? Semoga saja tidak!"


Kekaguman Bian kepada Wafa, tidak sengaja menimbulkan perasaan meski itu belum besar perasannya. Rasa sakit yang ada di hatinya itu sungguh jelas bahwa Bian memiliki perasaan kepada Wafa. Pria ini berjalan menuju mobil tanpa menoleh ke rumah Pak Kyai lagi.


Kembali ke acara lamaran, Wafa meminta waktu untuk bicara berdua dengan Ustadz Lana karena memang ingin menolak lamaran tersebut tapi tidak di depan semua orang karena takut akan ada hati yang terluka. Padahal sudah ada yang sakit hati. (Bian)


"Alhamdulillah, terima kasih untuk Pak Kyai, Umi, Ustadz Lana dan juga rombongan karena sudah hadir di sore hari ini," ucap Wafa, memberanikan diri.


"Sebelumnya saya mohon maaf karena mungkin kurang sopan karena belum atau tidak langsung menjawab lamaran dari Ustadz Lana. Apakah saya boleh bicara dengan Ustadz Lana secara pribadi dulu?"


"Mohon maaf lagi sebelumnya, saya dan Ustadz Lana kan sudah dewasa, jadi saya meminta izin dan juga minta rasa kepercayaan kalian bahwa saya dan juga Ustadz Lana bisa bicara empat mata secara baik-baik," Wafa mulai gugup.


"Saya—" ucapan Wafa dihentikan oleh Ustadz Lana.


Keduanya melihat Pak Kyai dan juga Ayahnya Ustadz Lana. Dua ulama ini menyetujui dan memberikan kesempatan bagi Wafa dan juga Ustadz Lana untuk bicara pribadi. Pak kyai sendiri juga langsung mengizinkan karena tahu jika Wafa ingin menolak lamaran tersebut tanpa melukai perasaan dari keluarga Ustadz Lana.


Keduanya berjalan menuju aula lama pesantren. Di mana aula tersebut sudah tidak pernah digunakan lagi kecuali jika ada kepentingan mendadak dan membutuhkan ruangan lain.


"Baiklah, kamu sudah menjelaskan semuanya tentang pesantren ini. Apakah ada hal lain yang ingin kamu sampaikan kepada saya, sehingga kamu mengajak saya untuk bicara secara pribadi?" tanya Ustadz Lana to the point.


Wafa mengumpulkan keberanian dulu karena dirinya ingin langsung menolak lamaran dari Ustadz Lana. Setelah menghela napas panjang, lalu membuangnya secara perlahan, walaupun mulai mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Saya belum siap menikah," ungkap Wafa.

__ADS_1


"Saya siap menunggu," sahut Ustadz Lana.


Wafa langsung menoleh ke arah Ustadz Lana, meski kemudian langsung membuang muka lagi.


"Tapi saya tidak mau menikah dengan Ustadz Lana," lanjut Wafa.


"Saya akan menunggu sampai kamu mau menikah dengan saya," balas Ustadz Lana lagi.


Wafa menganga lebar. Seakan dia tidak percaya jika Ustadz Lana ini kekeh sekali ingin menikahi dirinya. Sampai Wafa bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, hal apa yang membuat Ustadz Lana ini bisa tertarik ingin menikahinya.


"Astaghfirullah hal'adzim, itu namanya pemaksaan, Ustadz!" seru Wafa.


"Di mana letak pemaksaannya? Apakah saya tadi mengucapkan hal yang memaksa kamu tetap harus menikah dengan saya?" tanya Ustadz Lana santai.


"Lah, itu tadi apa? Ustadz mau menunggu saya karena saya belum siap menikah. Terus, Ustadz juga mau menunggu sampai saya siap menikah dengan Ustadz. Jika itu tidak pemaksaan, namanya apa? Ujung-ujungnya tetap sama kan, saya menikah dengan, Ustadz?" ketus Wafa.


Sejenak, Ustadz Lana diam memandang langit. Rasa kagum yang dimiliki oleh Ustadz Lana sudah tertanam sejak dirinya bertemu dengan Wafa untuk yang pertama kalinya. Bagaimana dengan Ustadz yang satu ini? Ia mengagumi seseorang tapi baru saat ini memberanikan diri untuk melamarnya.


"Pokoknya saya belum siap nikah dan saya tidak akan menerima lamaran ini!" tegas Wafa.


"Tegas sekali Wafa ini?" batin Ustadz Lana. "Bahkan dia tetap komitmen dengan keputusannya sejak pertama," sambungnya.


Setelah beberapa saat ketika mereka saling diam, tiba-tiba Ustadz Lana bedanya, "Apa ada orang lain yang sudah ada di hati kamu?" tanyanya.


Pertanyaan dari Ustadz Lana itu membuat Wafa sedikit terkejut sampai dia menatap pria yang seharusnya tidak boleh ditatap lama-lama. Dari reaksi Wafa, Ustadz Lana sudah menemukan jawabannya. Ia pun tersenyum kepada Wafa dan meminta Wafa untuk melanjutkan jalannya berkeliling di sekitar pesantren.

__ADS_1


Jawaban apa yang Wafa berikan dari pertanyaan Ustadz Lana?


__ADS_2