Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Bian Salah Tingkah


__ADS_3

"Aku pergi!"


Bian beranjak dari tempatnya.


"Tuan, anda mau kemana? Ini ...." Zaka Yang mencegahnya.


Tatapan tajam setajam pisau dari mata Bian membuat Zaka Yang terdiam. Pria ini tahu betul jika Tuannya sedang tidak baik-baik saja. "baiklah, silahkan anda pulang dulu, Tuan. Ini kunci mobilnya," ucapnya sembari memberikan kunci.


Bian menerima kunci itu, kemudian segera pergi. Tujuannya hanya satu, yakni ke rumah sakit untuk menjenguk Wafa.


"Gadis ini benar-benar membuatku kesal saja. Apakah tidak bisa membalas pesanku dengan cepat?"


"Lihat saja, aku akan memarahinya. Sedang apa dia? Kenapa tidak membalas pesanku?"


Bian kembali membuka ponselnya. "Sialan! Dia tidak membalas?" kesalnya.


Sementara itu, di rumah sakit Wafa sedang tadarusan karena merasa bosan. Di ponselnya ada game, memang. Tapi dia lebih memilih untuk bertadarus supaya merasa tentram.


Terlintas sebuah ingatan tentang Ramadhan tahun kemarin yang membuatnya sedih. Ingatan itu menunjukkan ketika dirinya sedang bersama dengan ayahnya.


"Ramadhan akan datang dalam dua hari lagi. Aku takut jika sahur pertama nanti aku tidak bersama dengan Abi dan juga Mbak Sari,"


"Abi memang jarang sekali menghabiskan waktu bersamaku. Tapi setiap Ramadhan akan datang, abi selalu memintaku untuk menemani beliau pergi ke pasar mau beli kebutuhan anak-anak di yayasan,"


"Apa alasannya aku gunakan nanti ketika Abi bertanya, mengapa aku begitu lama tinggal di sini. Sedangkan yang semua orang tahu, acara peringatan kematian itu hanya sehari,"


Ketika Wafa diam dengan ingatannya, Inneke kembali membawa beberapa makanan dari luar. Dia juga membeli camilan untuk sahabatnya juga.


"Aku kembali!"


"Lihat apa yang aku bawa untukmu, Wafa!" serunya.


"Apa itu?" tanya Wafa, begitu Inneke memberikan tas kecil wadah belanjaannya.


"Kamu buka sendiri. Aku sengaja membelikan itu untukmu," jawab Inneke, mengeluarkan makanan dari tas belanjaan lainnya. "Apa kamu sudah makan? Aku lapar sekali, jadi aku makan duluan, ya ...."

__ADS_1


Wafa sibuk membuka hadiah dari Inneke. Tak disangka, Inneke membelikannya sebuah jilbab yang sangat indah. Jilbab itu memang terlihat sederhana, tapi jika dipakai akan membuat pemakainya merasa nyaman.


"Adem sekali bahan dari jilbab ini. Kamu membelinya dimana? Bukankah di daerah sini ...."


"Apa? Daerah sini apa? Ini Cina, Wafa. Disini kaum muslim juga banyak, bahkan mencari makanan ataupun barang-barang untuk kaum muslim saja mudah di sini. Tidak seperti di Korea sana yang kebanyakan ada di satu tempat saja," celetuk Inneke, menyela pertanyaan Wafa.


"Kamu pakai, jangan hanya disimpan. Sengaja aku memberikan itu untukmu. Ketika aku melihat jilbab itu, aku langsung teringat padamu. Jadi aku belinya, apa kau suka?" tanya Inneke, dengan mulut penuh makanan.


Wafa mengangguk, dia juga tidak lupa mengucapkan terima kasih pada sahabatnya kata sudah perhatian. Mereka pun saling berpelukan sebentar.


"Ah, iya. Dua hari lagi puasa kan, ya?" ujar Inneke. "Hm, apa kita bisa pulang sebelum hari itu tiba?" tanyanya.


"Seharusnya kondisiku saat ini sudah diperbolehkan pulang. Tapi dokter bilang, aku harus menunggu keputusan dari Pak Bian," jelas Wafa.


"Buset, dah. Itu lakik kenapa kayak gitu sih? Semaunya sendiri, sok berkuasa begitu. Benar dia kaya, tapi kan kalau kamu dah sehat begini—" pernyataan Inneke terhenti ketika melihat Wafa menatapnya.


Tatapan Wafa memang tidak seperti biasanya. Jadi Inneke tahu jika itu kode supaya Inneke tidak meneruskan ucapannya.


"Aku akan coba membujuknya untuk membawaku pulang sebelum puasa pertama dijalankan," ucap Wafa.


"Tradisi Ini kan ada dalam setahun sekali. Momen yang sangat berharga dan sangat berarti bagi kaum muslim sepertiku. Ingin sekali aku sahur dan buka bersama dan keluargaku, Ke. Kamu juga tahu itu," ungkap Wafa lirih.


Inneke berhenti makan, dia menjadi sedih ketika Wafa menceritakan keinginannya bersama dengan keluarga menyambut hari yang suci.


"Kenapa kamu berhenti makan?" tanya Wafa. "apa kata-kataku tadi menyinggung perasaanmu?" imbuhnya lagi.


Inneke menggelengkan kepala. "Sama seperti dirimu, Wafa. Sesekali Aku juga ingin sekali merasakan bagaimana bahagianya berkumpul dengan keluarga." katanya.


"Nyatanya ... Kedua orang tuaku lebih memilih sibuk dengan urusannya masing-masing. Pekerjaan mereka jauh lebih penting daripada anak satu-satunya yang mereka miliki," imbuh Inneke.


"Kalau kamu mau nangis, kamu bisa nangis sekarang sebelum Pak Bian dan asistennya datang," Wafa yang menyadari sikap sahabatnya, memintanya untuk meluapkan perasaannya.


Saat itu juga Inneke makan sambil menangis. Masing-masing dari mereka berdua memang memiliki konflik keluarga yang berbeda. Sejak kecil, meski memiliki kedua orang tua yang lengkap sampai saat ini, Inneke jarang sekali mendapatkan kasih sayang dari mereka.


Begitu juga dengan Wafa, dia selalunya mendapatkan ketidakadilan karena sang ayah lebih menyayangi kakaknya dibandingkan dengannya, selaku anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


Keduanya hanya bisa saling menguatkan. Makan sambil menangis memang begitu menyakitkan, tapi tersenyum dibalik luka itu jauh lebih menyakitkan.


Bruak!


Suara bantingan pintu terdengar sangat keras sampai membuat Wafa dan Inneke terkejut. Mereka langsung melihat ke arah pintu.


"Pak Bian?" sebut Wafa dan Inneke bersamaan.


"Kau—" tunjuk Bian pada Wafa. "Kamu, kenapa kamu tidak membalas pesan dari saya. Apakah kamu begitu sibuk, sampai tidak bisa membalas pesan saya?"


Buan datang-datang langsung mengamuk.


"Lalu kamu—kenapa kamu menangis? Ingusmu keluar, sangat menjijikkan," Bian sampai hati mengatakan itu pada Inneke yang sedang sedih.


"Hish, bahkan air mataku masuk kembali karena kamu mengejutkannya. Menyebalkan sekali, pria tidak punya hati!" Inneke kesal, dia mengambil kotak makannya dan keluar untuk melanjutkan makan siangnya.


Kembali Bian langsung menatap sinis Wafa. Sudah sangat jelas sekali dalam tatapan Bian, dia sedang marah. Wafa pun memilih untuk tidak bertanya apapun.


"Dimana ponselmu?" tanya Wafa.


Wafa menunjukkan ponselnya.


"Saya telah mengisi kartu baru dan juga paket internet di ponselmu itu. Kamu sudah mulai bisa mengirim pesan, lu kenapa kamu tidak membalas pesan dari saya, Wafa?" Bian terlihat menjaga sekali bahasanya, supaya tidak terlihat jika dia sedang kesal pada Wafa.


Sayangnya, Wafa sangat peka. Dia paham sekali dengan perasaan yang Bian rasakan.


"Maafkan saya, Mas. Saya tidak membalas pesan karena saya sedang tadarus. Di mana seorang muslim yang hatinya sedang gelisah memilih untuk membaca kitab suci sebagai penenang hati," jelas Wafa.


"Saya merindukan rumah ...." tukas Wafa dengan lirih.


Melihat Wafa sedih seperti itu, membuat Bian pun tak tahan melihatnya. Amarahnya tiba-tiba mereda, bahkan pria itu sampai tidak bisa berkata-kata lagi.


"Hari ini saya akan bicara dengan dokter. Jika kamu sudah diperbolehkan pulang, maka malam ini juga kita akan pulang ke Indonesia," kata Bian.


"Sungguh?" tanya Wafa, wajahnya berseri-seri sekali.

__ADS_1


Bian yang terpukau dengan sejuknya wajah Wafa pun tak bisa mengatakan suatu hal yang buruk. Pria itu mengangguk, bahkan sampai memberikan janji pad Wafa untuk segera mengajaknya pulang ke tanah air.


__ADS_2