
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
"Waalaikumsalam warahmatullahi, bagaimana? Bagaimana reaksi istri Ustadz Zamil? Apakah dia baik, ramah atau malah cuek?" tanya santri lainnya.
"Lihatlah, aku sampai gemetar. Beliau baik banget, bahkan terus menyebar senyuman. Bicara juga dengan ramah. Pokoknya baik," jawab santri yang sebelumnya membawa makanan.
"Terus, bagaimana lagi? Apakah benar-benar cantik? Ada yang bilang kalau beliau ini keturunan orang arab,"
"Matanya berwarna coklat terang. MasyaAllah, cantik sekali dan kulitnya berwarna putih. Tutur katanya itu loh, bikin adem!"
Sementara para santri menggosip tentang Sari yang baru saja datang, di rumah, Sari malah asik makan bersama dengan Ustadz Zamil.
"Oh, iya. Hubungan Ustadz dengan Ustadz Fauzi apa, ya? Kok, beliau juga tinggal di sini?" tanya Sari dengan mulut penuhnya.
"Mas Fauzi itu, kakak saya. Anak dari Umi yang pertama. Yah, jelasnya saya adik sambungnya. Memangnya kenapa?" jelas Ustadz Zamil dengan santai.
"Terus di mana istrinya? Bukankah waktu itu sudah pernah menikah? Sepetinya saya, Abi dan Wafa saja hadir di hari pernikahannya, kok," Sari masih saja ingin tahu segalanya.
"Istri dari Mas Fauzi sudah meninggal. Belum sempat menikah lagi karena kakaknya masih sayang dengan istrinya," jawab dan jelas Ustadz Zamil. "Lagipula, Mau Fauzi juga sebenarnya belum mau menikah waktu itu."
Sari menjadi tidak enak hati karena menanyakan hal seperti itu kepada suaminya. Meninggalkan kisah pasutri baru, ada seorang gadis berusia 20 tahunan yang sedang galau dan gelisah karena masih belum ada kabar juga dari seorang pria asing yang sudah mulai dikhawatirkannya. Wafa mulai cemas tanpa sebab.
"Wafa, astaga. Sudahlah, Pak Bian-mu itu pasti meeting dadakan. Mungkin saja dia belum sempat memberi kabar, atau mungkin saja ada urusan keluarga gitu. Santai saja, lah ...." Inneke masih saja menghibur.
"Kak Ine, siapa Pak Bian itu?" tanya Zira.
"Huft, dia adalah ...."
Yayasan milik Wafa juga semakin lama semakin ramai anak-anak saja. Vita juga sudah melahirkan sehari yang lalu. Gadis berusia 18 tahun itu melahirkan putri yang cantik yang diberi nama Fahira Thahirah. Nama belakang Wafa diambil oleh Vita karena Wafa sangat berjasa bagi kehidupannya. Kini, Vita dibiayai oleh Wafa untuk mengejar paket c supaya bisa lulus setara SMA. Dengan begitu nantinya Vita bisa mencari pekerjaan dengan mudah.
Dua minggu berlalu. Tepatnya sekitar 18 hari Wafa tidak bertemu dengan Bian dan juga putrinya. Wafa sudah mulai terbiasa tanpa kehadiran mereka. Gadis ini juga sudah mulai berkuliah lagi tapi mengambil jurusan yang berbeda supaya dirinya tetap semangat mengejar ilmu bukan mimpi lagi. Hal itu juga ia lakukan demi anak-anak yang berada di yayasan miliknya.
__ADS_1
***
Setelah Wafa berhasil masuk di universitas Jogja sesuai dengan keinginannya, tak disangka lelaki yang pernah menyukai Wafa pun mengikutinya masuk ke universitas itu. Bahkan, Inneke pun sebenarnya ingin ikut pindah. Tapi tidak diperbolehkan oleh kedua orang tuanya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh bidadariku. Semangat buat hari pertama ospek, ya. Mungkin 3 hari lagi, Insyaallah kalau gak ada halangan aku mau ke rumah. Boleh?"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Kak. Hah? ke rumah aku maksudnya? Ngapain?" Wafa jadi bingung juga mengapa dirinya harus ospek lagi. Sebab, dirinya hanya pindah kejuruan saja. Tapi juga pindah universitas.
"Itu biar jadi rahasia 3 hari ke depan, ya, cantik. Sudah sana berangkat dulu. Nanti telat lho.. Kakak-kakaknya pasti lagi galak kalau pas ospek gini. Eh, kamu kan jauh lebih galak. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
Mendapat semangat dari Ferdian, lelaki yang pernah bertemu dengan Wafa ketika SMP dulu membuat Wafa semangat menjalani ospek di kampus. Wafa ke kampus diantar oleh kakak sepupunya, Reyhan, kakak kandung Zira. Semenjak Wafa dekat dengan seorang laki-laki, Reyhan ini menjadi lebih ketat dalam menjaga Wafa atas perintah Pak Kyai. Bahkan kemana-mana pun Reyhan yang selalu mengantarnya.
"Makasih ya, Mas. mas Reyhan sudah mengantarku sampai parkiran gini," ucap Wafa.
Reyhan memandang wajah Wafa dari ujung kepala hingga kaki berulang-ulang. Seperti ia tak ingin Wafa pergi untuk kuliah sendirian. Hal itu sebenarnya membuat Wafa sedikit risih. Karena bagaimanapun juga, Reyhan hanyalah Kakak sepupunya.
"Mas Reyhan kenapa, sih? Ada yang aneh, ya, sama penampilan aku?" tanya Wafa.
"Semoga saja itu kenyataan!" ucap Wafa kesal.
"Ih, kamu gitu deh. Ya sudah sana. Aku mau pulang dulu ya, masih ada hal yang harus aku lakukan. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," Reyhan pun sebenarnya juga tidak memiliki perasaan apapun kepada adik sepupunya. Namun harus bagaimana lagi karena dirinya adalah seorang anak laki-laki satu-satunya di keluarga pesantren.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati!" ucap Wafa.
Baru beberapa detik kemudian, Tian, lelaki yang menyukai Wafa datang dengan tiba-tiba sampai mengagetkannya.
"Wafa" Panggil Tian, Kristian.
"Tian, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kamu jangan ngagetin gitu, dong!" seru Wafa mengusap dadanya.
"Itu kakak kamu, ya? Oh ya, kamu kok .... gak pernah balas chat aku, sih? Kan aku jadi sedih—" Tian benar-benar membuat Wafa semakin ilfil sama seperti kakak sepupunya.
__ADS_1
"Kamu kuliah disini juga?" tanya Wafa basa-basi.
"Iya dong, bareng yuk!" ajak Tian dengan percaya diri dan semangat.
Harusnya Wafa menolak. Namun, dia tidak enak hati menolak ajakan Tian. Bagaimanapun juga, Wafa belum memiliki teman di kampus itu. Usia mereka ternyata sama-sama terlambat ketika pindah kejuruan. Entah Tian sengaja atau tidak, tapi Wafa memang tidak menyukai adanya Abigail di sana.
Ketika Wafa dan Tian jalan, tidak sengaja Wafa bertabrakan dengan senior kampus di sana. Membuat Wafa hampir saja jatuh karena tersenggol lelaki itu, namun dengan sigap cowok itu menahan tubuh Wafa supaya tidak jatuh ke lantai.
"Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Dani, nama lelaki itu.
"Alhamdulillah, saya baik-baik saja, kok. Maaf jika tadi saya jalannya tidak benar," jawab Wafa. Sesuai pengalaman Wafa ketika ospek memang selalu ada senior yang pastinya akan mencari masalah dengannya.
"Oh, tidak masalah. Mana saja yang kamu tabrak adalah aku. Coba kalau yang. Eh, kamu mahasiswa baru di sini, ya?" sahut Dani.
Wafa mengangguk pelan.
"Sayang, kamu ngapain sih masih disini. Tuh lihat wajah idiot-idiot mereka. Hahahah sudah tidak sabar sekali aku, mau ngerjain mereka," ucap Mayumi, yang kemungkinan senior juga di sana. Diketahui, dia juga kekasihnya senior yang bernama Dani itu.
"Eh, iya. Ayolah kalau begitu!" seru Dani.
"Buat kamu, lain kali hati hati, ya ...." imbuh Dani tersenyum manis kepada Wafa.
Sikap dan itu langsung ditepis oleh Mayumi. "Ih Sayang. Kamu Kenapa sok manis dengan cewek lain, sih? Tidak menghargai aku sebagai pacarmu di sisimu, deh!" kesal Mayumi.
Nama gadis itu adalah Mayumi. Gadis modern yang modis dan terlihat seperti anak orang berada. Tapi, tidak memiliki akhlak yang baik. Selalu menyombongkan apa yang ia miliki. Padahal apa yang dia miliki itu adalah milik ayahnya.
"Kamu ini," saat itu Dani terlihat suit sekali memperlakukan Mayumi.
Cowok bernama Dani itu memang tampan dan keren. Kulitnya putih dan halus, tinggi dan seperti anak yang terlahir dari keluarga mampu. Pantas saja jika menjadi idola di kampus. Meski begitu, tidak pernah sampai membuat Wafa tertarik ataupun menyukai pria pria seperti itu.
"Ayo, Wafa. Tuh seniornya saja galak gitu. Serem ih!" celetuk Abigail.
__ADS_1
Entah kenapa bayangan Bian selalu saja muncul lagi ketika Wafa melihat Dani. Hati Wafa memang saat ini terpaku dengan Bian. Sudah 18 hari lamanya mereka tidak bertemu. Meski terbiasa, tetap saja sesekali Wafa memikirkan tentang Bian dan juga Grietta. Ia berjalan menuju lokernya dan menaruh semua barangnya di sana dan bergegas ke lapangan untuk menjalani ospek.