
"Kenapa diam? Saya salah jawab, kah?" Bian meletakkan berkas yang baru saja ia cek, kemudian menghampiri Wafa yang saat itu berdiri di depan kaca area office.
"Lihat disana," tunjuk Wafa.
Seorang ibu hamil rupanya menyita perhatian Wafa sore itu. Ia menunjukkan pada Bian bahwa wanita yang sedang mengandung, kandungannya pasti sudah tua dan mendekati hari perkiraan lahir.
"Memangnya kamu bidan, sehingga kamu yakin tahu bahwa wanita itu akan melahirkan?" tanya Bian lirih.
Wafa menatap sinis Bian. "Ck, dengarkan dulu, Pak Bian. Harusnya ini menjadi pelajaran penting bagi anda," ucapnya.
"Okay, ayo katakan. Bagaimana pendapat dan solusi dari kamu tentang wanita hamil yang tidak jujur dengan usia kandungannya," sahut Bian dengan tatapan yang membuat semua wanita manapun pasti akan meleleh.
'Ughh, astaghfirullah hal'adzim. Jika seperti ini terus, bisa-bisa aku yang repot sendiri. Ayo Wafa, kamu harus sadar diri. Kontrak itu harus dikerjakan dengan senang hati, bukan dengan perasaan hati!' batin Wafa kala menyadarkan diri supaya tidak jatuh hati pada Bian.
Sudah pernah terluka sekali karena mencintai seseorang, Wafa kini memilih untuk dicintai saja dan tidak berharap lebih pada Bian. Ia sadar diri jika kedekatannya dengan Bian juga karena sebuah kontrak untuk menyenangkan gadis kecil berusia 5 tahunan.
"Hei, apa yang ingin kamu katakan?" lanjut Bian, membuat lamunan Wafa terkecoh.
"Saya sangat yakin jika ibu itu hamil sudah mau memasuki usia sembilan bulan. Alasan beliau masih bekerja pasti karena kepepet dengan kebutuhan," ucap Wafa lirih.
"Tapi disini, cuti akan diberikan jika mau masuk delapan bulan. Itu pastinya kandungannya menginjak tujuh bulan," sahut Bian.
"Masalahnya ibu hamil itu kandungannya sudah delapan bulan lebih. Cara berjalannya juga terlihat berbeda," jelas Wafa. "Pak Bian, saya sering sekali menampung ibu hamil yang mau lahiran, meski saya bukan bidan ... tapi saya yakin pasti jika ibu itu sudah waktunya istirahat," Wafa berharap Bian tahu apa yang dimaksud.
Bian memanggil orang kantor, meminta laporan data karyawan untuk melihat vc yang mereka miliki. Saat itu, Wafa dan Bian duduk berdampingan di mengamati jelas pencarian data tersebut. Kebetulan memang ibu hamil itu langganan ke klinik pabrik, jadi HRD tahu betul siapa nama ibu tersebut.
Setelah membaca vc si ibu hamil, Wafa mengutarakan pernyataannya dan memberikan saran pada Bian. Ketika Wafa sibuk menjelaskan, Bian hanya terus menatapnya. Wanita yang berada disampingnya persis itu mampu membuat Bian membeku sampai tidak bisa mendengar apa yang Wafa katakan.
Beberapa orang kantor yang melihatnya menjadi iri dengan Wafa yang bisa dekat dengan duda 1 anak itu. Bian yang terkenal sulit sekali bisa dekat dengan seorang wanita, dipatahkan dengan hadirnya Wafa saat itu.
__ADS_1
"Apa yang kita lihat ini sungguhan? Pak Bian bawa wanita ke kantor untuk kunjungan, bahkan mereka juga duduk berdampingan? Wah, daebak!" seru sekretaris.
"Stt, pelankan suaramu itu. Jika Pak Bian dengar bagaimana?" sahut salah satu orang kantor disana.
"Tapi wanita itu cantik juga meski berbeda keyakinan. Kurasa hubungan mereka biasa saja, tidak mungkin Pak Bian mau dengan wanita model seperti wanita itu," seseorang yang suka dengan Bian muncul dari belakang. "Mantan istrinya saja modis sekali, seksi dan memiliki tubuh yang bagus. Mana mungkin selera Pak Bian turun drastis seperti itu?" imbuhnya dengan tatapan mengerikan.
Mendengar ucapan wanita itu, membuat Sekertaris dan teman-temannya diam. Tangan kedua dari Bian itu bernama Sadana Mayesa, suka dengan Bian sejak pertemuannya yang pertama kali.
"Kalian bubar, sebentar lagi kantor akan pergantian shift. Alangkah lebih baik jika kalian pulang daripada menggosipkan atasan!" ketus Sadana.
"Baik, Bu Sadana,"
Tatapan iri juga terlihat jelas dari maha Sadana. Bahagia ketika Bian menyandang duda, kini melihat adanya Wafa di samping pria yang dicintainya membuatnya kesal.
Ketika sudah di ujung cerita, Wafa baru menoleh ke arah Bian. Keduanya begitu sangat dekat, mungkin jaraknya hanya lima jari saja. Bahkan nafas mereka saling bertukar dalam udara, celotehan Wafa juga menjadi terhenti. Mata keduanya saling bertatap, bibirnya saling terbungkam karena waktu membekukan dalam satu pandangan yang indah.
Suara dekhem Sadana tidak mengejutkan keduanya. Antara Bian dan Wafa masih saling berpandangan. Sampai Sadana kesal dan meletakkan satu tumpukan map coklat melamar pekerjaan di meja.
Bruk!!
Mata Wafa berkedip, begitu pula dengan mata Bian dan keduanya berpaling melihat kehadiran Sadana. Sudah tersirat jelas ekspresi wajah Bian dengan kehadirannya Sadana.
"Kau mengganggu kami. Beginikah adabmu?" tanya Bian, nada suaranya sudah berbeda.
"Maaf, Tuan. Saya hanya ingin meletakkan map ini, anda duduk di bangku HRD, jadi sa—"
"Kamu benar, begitu?" Bian langsung memotong ucapan Sadana. "HRD juga sedang bertukar shift. Tak bisakah kamu meletakkan berkas-berkas itu dengan pelan? Bagaimana jika calon istri saya kaget dan jantungan?" tegasnya.
'Calon istri' kata-kata tersebut mengejutkan Wafa dan Sadana. Kedua wanita itu melihat Bian dengan raut yang bertanya-tanya.
__ADS_1
'Huft, boleh saja mengatakan calon istri. Tapi kenapa harus mengatakan kalau aku akan jantungan? Memangnya aku seringkih itu?' kesal Wafa. 'Eh, tapi ... maksudnya apa pula menyebut bahwa aku adalah calon istrinya?'
Wafa malah nge-bug sebentar, baru ia sadar jika yang dikatakan Bian membuatnya jantungnya memang bermasalah.
"Jika sudah tidak ada keperluan lagi, bisakah kamu keluar? Saya masih ada kepentingan dengan calon istri saya," lanjut Bian.
Sadana menggelengkan kepala. "Permisi ...." ucapnya lirih, kemudian meninggalkan ruangan.
Wafa menjadi menjauh dari tempat duduk Bian. Canggungnya malah menjadikannya takut dengan Bian, tapi juga ingin memarahi Bian karena asal bicara tanpa berdiskusi dulu dengannya.
Bian yang menyadari itu langsung menegurnya. "Apa ini? Kenapa kamu menjauh duduknya. Apa saya begitu menakutkan bagimu?"
Wafa menggelengkan kepala. "Tidak." jawabnya singkat.
"Lanjutkan apa yang kamu katakan tadi. Aku tidak terlalu fokus karena ... aku tidak begitu paham dengan ucapanmu," hampir saja Bian keceplosan jika dirinya fokusnya terganggu karena menatap wajah Wafa yang bersinar baginya.
Wafa kembali menggelengkan kepala. "Lupa." jawabnya masih singkat.
Bian beranjak dari tempat duduknya. Kemudian disusul oleh Wafa yang juga berdiri. Wanita itu menatap sebentar Bian, kemudian pergi begitu saja, tak lupa mengucapkan salam.
"Ada apa dengannya? Dia pun menjadi aneh, apa aku ada salah?" gumam Bian.
Wafa lari sampai ke toilet. Membersihkan wajahnya, menatap wajahnya sendiri di cermin. Pipinya memerah karena teringat dengan kata, 'calon istri'.
"Bahkan ustadz Lana pun posisinya masih belum jelas kedepannya bagaimana bersamaku. Lha ini, tanpa persetujuan dariku, malah mengatakan secara langsung pada karyawannya kalau aku adalah calon istrinya,"
"Apa Pak Bian ini tidak memikirkan perasaanku?"
Wafa terus bergumam lirih. Tapi seketika ia teringat dengan kontrak yang sudah ditandatangani. Tertulis jelas di sana jika memang keduanya akan menjadi pasangan pura-pura demi membuat mental Grietta kembali pulih. Wafa pun menjadi lemas.
__ADS_1