Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Berjuang dan Diperjuangkan


__ADS_3

Nasib sialnya hari itu Wafa ada kuliah sampai sore hari.


"Haduh, bagaimana ini? Bisa-bisanya aku salah menelpon. Kenapa juga malah ke Pak Bian, bukan ke Inneke?" gumam Wafa.


"Jika aku sampai merepotkan Pak Bian, bukankah sama saja nanti aku akan berhutang budi padanya? Tidak, tidak, tidak, Wafa! Kamu harus mencari jarak supaya Pak Bian tidak jadi membantumu,"


"Setelah pulang dari Tiongkok, kamu harus mengakhiri kontrak dengan Pak Bian, jangan ada hutang apapun setelah kontrak itu selesai,


"Yah, kamu pasti bisa mengatasi ini sendiri. Semangat, Wafa, semangat."


Wafa menarik nafas dalam-dalam dan perlahan dibuang. Beristighfar dan meminta petunjuk kepada sang khalik supaya bisa menghadapi fitnah dari Mayumi.


Ketika Wafa menoleh, ia melihat Ferdian ada di belakangnya. "Untuk apa kamu menemuiku lagi, kakak senior?" tanyanya.


Sebutan itu membuat Ferdian terdiam. Jika Wafa sudah bicara formal padanya, itu tandanya gadis itu sedang marah padanya.


"Aku minta maaf atas kata-kata yang telah menyinggungmu tadi. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu semakin jatuh dalam masalah fitnah ini," ucap Ferdian.


"Tapi perlu kamu ketahui, Aku sangat ingin membantumu, Aku ingin menjadi sandaran ketika kamu merasa lelah, sajak dulu sampai sekarang perasaanku tidak pernah berubah padamu,"


"Wafa, tak bisakah kamu mempertimbangkan aku?" secara tidak langsung, Ferdian sedang melamar Wafa.


Wafa mengangkat kepalanya, sepasang mata yang indah itu menatap pria yang usianya jauh lebih tua tiga tahun darinya. "Seharusnya aku yang minta maaf padamu." ucapnya.


"Kenapa? Kenapa harus kamu yang minta maaf, aku lah yang bersalah, Wafa!" sahut Ferdian dengan memburu.


Wafa menjauh ketika Ferdian melangkah maju mendekatinya. Melihat respon Wafa, membuat Ferdian menghentikan langkahnya. Pria ini tahu betul jika Wafa sudah mulai waspada darinya.


"Sejak awal aku sudah salah memperlakukanmu. Sejujurnya, aku tidak pernah nyaman berada di dekatmu. Semua itu kulakukan karena kamu pernah menolongku ketika aku hampir dilecehkan oleh orang suruhannya Mayumi," jelas Wafa.


"Ferdian ... um, maksudnya Kak Ferdian. Bukankah seharusnya Aku memanggilmu dengan sebutan kakak karena pada dasarnya kamu lebih tua dariku? Aku juga tidak seharusnya bicara terlalu santai seperti ini denganmu, bukan?" sambung Wafa dengan sangat hati-hati.


"Kakak senior, saya Wafa Thahirah, mengatakan bahwa mulai hari ini, antara saya dan kakak senior hanya sebatas senior dan junior di kampus saja,"


"Maaf jika selama ini sikap saya sudah tidak sopan kepadamu. Harap kakak senior bisa memaklumi segala perlakuan buruk saya terhadapmu. Saya permisi dan saya tidak akan pernah melupakan kebaikan kakak senior di waktu itu. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." tukas Wafa.


Seperti terdengar lagu yang mengiris hati ketika Wafa pergi. Apa yang dilakukan oleh Wafa memang sudah benar. Harus tegas untuk bisa menjauh dari seorang pria yang bukan mahramnya. Wafa juga baru merasa lega ketika bisa mengatakan semua itu pada Ferdian.

__ADS_1


Namun, Ferdian yang terluka itu hanya berdiri mematung di tempat yang sama. Perlahan air matanya jatuh membasahi pipi, Ferdian sampai menangis karena cintanya tak terbalaskan.


"Baru kali ini aku menangisi seorang perempuan kecuali Ibuku," gumamnya.


"Wafa, kamu adalah gadis yang sangat baik. Bahkan ketika kamu difitnah saja, kamu bisa seger ini dan masih berusaha sendiri,"


"Bodohnya aku karena terhasut oleh omongannya Mayumi. Sekarang aku benar-benar kehilanganmu, Wafa."


Ferdian pun pergi dengan arah yang berbeda dari kepergian Wafa. Pria ini sedang menenangkan hati dan pikirannya supaya bisa menerima keputusan dari Wafa yang ingin jauh darinya.


***


Di kantor, Bian sempat mengepalkan tangannya karena fitnah yang menimpa Wafa. Ia merasa sangat marah, sampai membuang ponsel yang baru saja ia beli selama dua hari.


"Tidak ada yang boleh menyentuh Wafa, apalagi sampai membuat hatinya terluka seperti itu," desis duda tampan itu.


"Zaka, kemarilah!" teriaknya.


Mendengar teriakan bosnya, Zaka Yang langsung hadir.


"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya lakukan untuk anda?"


Deg!


Zaka Yang sedikit terkejut. Belum pernah ia melihat tuannya ini begitu perhatian pada orang lain, terutama seorang wanita. Bahkan pada Grietta saja, perlakuan Bian pada gadis kecil itu sangat biasa saja, tidak ada yang istimewa.


"Baik, saya akan segera laksanakan. Saya akan membereskan semuanya untuk Nona Wafa," ucap Zaka Yang.


"Kamu hanya perlu mencari informasi tentang mereka berdua. Sisanya serahkan padaku," kata Bian dengan tatapan tajamnya.


"Baik, Tuan."


Zaka Yang keluar dari ruangan Bian. Ia sempat berpikir heran karena sang Tuan hendak turun tangan sendiri tentang hal yang bersangkutan dengan Wafa.


Tapi dengan kehebatan Bian dan Zaka Yang, dalam waktu 2 jam saja sudah bisa mengatasinya. Bian sampai datang ke kampusnya Wafa dan menangkap Dani yang saat itu tertangkap ketika dirinya sedang makan di pinggir jalan.


"Ada apa, ada apa ini?"

__ADS_1


"Wah, siapa itu? Apakah itu Dani? Senior yang playboy itu?"


"Benar, itu Dani. Dia dipukul oleh siapa? Wah siapa pria tampan itu?"


"Sepertinya dia seorang yang hebat. Bisa-bisanya Dani berurusan dengan orang seperti itu."


Wafa mendengar kata-kata dari beberapa mahasiswa yang ada disana. Ia bingung dan bertanya pada salah satu diantara orang disana.


"Ada apa ini?" tanya Wafa.


"Dani sedang dipukul oleh seseorang. Kemungkinan dia sedang mengalami masalah besar. Apa kamu ingin melihatnya? Kata beberapa anak-anak yang lain orang itu sangat tampan dan kaya," jawabnya.


'Tampan, kata? Lalu kenapa Dani yang di—'


'Apa jangan-jangan itu, Pak Bian?'


Wafa segera berlari ke kerumunan itu. Ternyata benar adanya jika yang sedang heboh itu adalah Bian yang sedang menarik kerah Dani.


'Pak Bian? Astaghfirullah hal'adzim, Pak Bian sudah tahu hal ini kah, kalau Dani adalah ayah kandung dari bayinya Mayumi?'


"Cepat katakan kebenarannya atau kamu akan merasakan akibatnya," ancam Bian.


Dani mengatakan semuanya tentang kehamilan Mayumi yang dibuahi oleh dirinya. "Iya, benar. Sebenarnya yang hamil itu bukan Wafa ta-tapi Mayumi." ungkapnya.


"Kau, katakan yang sebenarnya, atau kau akan melihat kedua orang tuamu miskin, gadis sialan!" ancam Bian lagi, menunjuk Mayumi.


"Iya, Pak. Sa-saya, akan jujur pada semua orang," Mayumi terlihat ketakutan.


"Saat itu aku yang memberikan tespek pada Wafa. Tespek itu adalah milikku dan yang hamil aku, bukan Wafa," ungkap Mayumi masih ketakutan.


"Aku sengaja melimpahkan semua masalahku pada Wafa karena aku sangat membencinya. Aku sangat membencinya sampai-sampai Aku ingin dia dikeluarkan dari kampus ini," terangnya.


"Tapi kenapa kamu membantunya. Apakah kamu mengenal Wafa, atau kamu sugar daddy-nya Wafa? Siapa kamu!" Mayumi malah semakin mencari masalah baru.


Wafa tidak mau Mayumi terkena masalah lagi karena menantang Bian, ia pun berlari ke arah Bian dan meminta duda tampan itu untuk melepaskan kerah bajunya Dani.


"Kalian tidak perlu tahu apa hubungan saya dengan Wafa. Tapi perlu kalian ketahui bahwa Wafa adalah orang yang sangat penting bagi saya. Sedikitpun kulitnya tergores atau bahkan hatinya terluka, saya tidak akan segan lagi untuk memberikan siapapun itu pelajaran yang setimpal, paham kalian!" tegas Bian.

__ADS_1


Zaka Yang beserta beberapa dosen membubarkan kerumunan. Bian menyelesaikan di tempat perkara, Zaka Yang menyelesaikan melalui pihak yayasan kampus. Pengelola kampus memanggil Dani dan Mayumi, kemudian Wafa untuk dijadikan saksi.


Dan semua masalah fitnah yang terjadi kepada Wafa telah selesai. Semua orang mengagumi Bian akan kegagahannya dan juga gemerlap gemerlap yang ia kenakan saat itu. Hal itu membuat Ferdian tentunya cemburu. Saingannya bertambah satu lagi selain Ustadz Lana.


__ADS_2