Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Drama Perjodohan Lagi


__ADS_3

Pulang ke rumah, Wafa memang di antar oleh Bian sampai di depan gerbang pesantren. Sayangnya, Wafa tidak ingin mengajak Bian mampir. Perasaannya begitu peka, tebaknya sang Abi akan menginterogasi dirinya, pasti akan lebih sulit bagi Wafa jika dia tambah mengajak pria yang membawanya pergi dini hari, mampir ke rumah.


"Apa kamu yakin, saya tidak perlu menjelaskan tentang kepergian kali ini pada ayahmu?" tanya Bian.


"Tidak perlu, Mas. Takutnya malah Abi akan salah paham karena keadaannya memang tidak tepat," jawab Wafa.


"Saat ini ... Entah kenapa Abi sedikit aneh dan terus mendesak saya untuk segera menikah. Takutnya malah nanti akan ada masalah yang sulit untuk kita selesaikan," imbuhnya. "Kumohon kamu mengerti, Mas ..." tukas Wafa lirih.


Bian juga tidak mau menjadi akibat permasalahan dalam keluarga Wafa. Apalagi dia juga sangat tahu, bagaimana hubungan Wafa dengan ayahnya. Kali itu, Bian harus bisa mengalah.


"Baiklah, Wafa. Saya mengerti keadaanmu. Kalau begitu, kamu segeralah pulang, saya juga akan bersiap untuk pergi kerja," kata Bian.


"Ha? Kerja?" Wafa menyeritkan alisnya.


Bian menanggapi ekspres wajah Wafa. "Ada apa? Apakah salah jika saya pergi kerja?" tanyanya.


"Lah, Mas?" Wafa sampai menganga cantik. "Grietta masih belum pulang, loh!" serunya.


"Iya, lalu?" enteng sekali Bian mengatakan itu.


"Kok, lalu? Ya ini waktunya membujuk Grietta supaya mau pulang, bagaimana, Mas ini!"


Wafa dan Bian malah seperti suami istri yang sedang berdiskusi tentang anak mereka. Tapi Bian malah terlihat santai karena dia sudah lega jika putrinya bersama dengan orang baik seperti ustadz Lana.


"Saya percaya dengan ustadz Lana, jadi biarkan saja dulu dia berada di sana. Bagaimanapun juga, kita harus memberikan Grietta waktu untuk berpikir." tutur Bian.


Wafa pun mengangguk paham. Mereka berpisah dan Wafa segara berjalan masuk ke halaman pesantren. Sesampainya di rumah, Zira yang baru saja keluar dari rumah dengan pakaian yang sudah rapi, menganga akan kepulangan Wafa.


"Assalamualaikum," salam Wafa.


"Wa—Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Wafa? Kamu baru pulang ini?" Zira meletakkan buku-buku yang ia bawa ditangannya. "Kemari!"


Zira menarik tangan Wafa. "Kamu dari mana saja? Cari Grietta sampai pulang pagi begini, aku nggak mau ikut campur lah!" serunya, lirih.


"Iya, aku tahu juga resikonya," sahut Wafa.


Tak selang lama, Pak kyai dan Sari keluar dari rumah. Keduanya terkejut, tapi pak kyai langsung membuang muka dan melanjutkan jalannya. Wafa tahu jika ayahnya marah, tapi dia memilih untuk diam daripada menjelaskan.

__ADS_1


"Assalamualaikum!" Wafa langsung masuk ke rumah.


Langkah pak kyai berhenti. Tatapan dipenuhi amarah itu membuat Sari dan Zira jadi ikutan tegang.


"Kalian berdua juga terlibat, sungguh mengecewakan!" desis pak kyai, pergi.


Sari tak jadi mengantar pak kyai ke pesantren, dia tetap berada di tempat berdiri sambil melihat kepergian ayahnya.


"Sampai kapan Abi dan Wafa seperti ini? Mereka sama-sama keras kepala. Jadinya masalah tidak akan selesai," gumam Sari.


"Mbuh lah, Mbak. Aku juga malas memikirkannya. Mau ke pesantren dulu, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," pamit Zira.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balas Sari.


Dari sana, Sari semakin yakin jika sifat keras kepala Wafa memang diturunkan dari pak kyai. Keduanya tidak mau mengalah satu sama lain. Berada di tengah-tengah mereka membuat Sari semakin pusing.


Wafa bergegas pergi ke kampus. Hanya pulang sebentar untuk mandi dan bersiap diri saja, setelah itu pergi lagi dari rumah. Sari menghampiri Wafa ke kamarnya.


"Wafa, kamu mau kemana?" tanya Sari.


"Kampus," jawab Wafa.


"Sudah," jawab Wafa singkat.


Sari bertanya kembali. "Alhamdulillah jika sudah ketemu. Lalu, apa dia sudah pulang ke rumah?"


Wafa menghentikan aktivitas tangannya. "Kepentingan apa selain masalah Grietta yang ingin Mbak Sari tanyakan?" tanyanya.


Tahu sekali jika adiknya bisa menebak. Sari pun mengumpulkan keberanian untuk bertanya.


"Kamu minta maaflah pada Abi. Kita semua tahu, minta maaf itu tidak akan menurunkan harga diri. Minta maaf juga bukan berarti bersalah, setidaknya kamu mengerti hal ini, Wafa," tutur Sari.


"Anak Abi hanya Mbak Sari. Setidaknya jika aku nakal, Mbak Sari adalah obat hati bagi Abi. Hal seperti ini sudah sangat sering terjadi, Mbak. Jadi ... untuk apa lagi?" Wafa meraih tasnya, kemudian melewati Sari begitu saja.


Sari pun menahan lengan adiknya itu. "Lupakan masa lalu, Wafa. Ini bukan sifat kamu yang sebenarnya. Dimana Wafa yang selalu bersikap lemah lembut itu?" katanya.


"Aku sudah terlambat, Mbak. Maafkan aku ... Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," Wafa menepis tangan kakaknya.

__ADS_1


Setelah mendengar kakaknya menjawab salam, Wafa langsung pergi.


***


Dua hari berlalu.


Grietta akhirnya minta dijemput dengan meminta ustadz Lana menghubungi Wafa. Hari itu puasa ketiga dan Wafa sedang sibuk-sibuknya dalam urusan pendidikan dan di pesantren. Jadi Wafa tidak bisa menjemput Grietta.


"Maafkan saya, ustadz. Tolong sampaikan permintaan maaf saya pad Grietta dan mohon bantuannya juga untuk memberikan pengertian padanya," sesal Wafa.


'Baiklah kalau begitu. Saya akan mencoba bicara dengan Grietta. Kamu selesaikan dulu pekerjaan kamu, nanti saya akan hubungi langsung ayahnya saja,'


"Sekali lagi saya minta maaf, ustadz. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Wafa langsung menutup teleponnya.


Ketika Wafa berjalan menuju koridor sekolah madrasah ibtidaiyah yang terletak di samping pesantren, ia tidak sengaja mendengar percayakan salah satu ustadzah dengan ustadzah yang lainnya.


"Jadi berita Ning Wafa mau dinikahkan oleh Bapak setelah lebaran itu beneran, kah?"


"InsyaAllah memang seperti itu yang saya dengar,"


"Hmm, tapi apakah Ning Wafa tahu?"


"Hust, jangan panggil Ning. Mbak Wafa paling tidak suka dipanggil Ning. Tapi sepertinya Mbak Wafa tidak tahu dengan rencana Bapak,"


"Tapi ustadz Lana juga kan adalah pria idaman bagi kaum wanita seperti kita. Akan menjadi pasangan yang sangat serasi jika Ning—eh, Mbak Wafa beneran menikah dengan beliau."


Gosipnya memang sudah menyebar sampai ke pelosok desa tentang pak kyai yang ingin menikahkan putri bungsunya setelah lebaran dengan ustadz Lana. Tentu saja berita itu membuat Wafa kesal.


'Astaghfirullah hal'adzim. Abi, kenapa Abi seperti ini padaku?' batin Wafa sedih.


Wafa pun melanjutkan langkahnya menuju kelas yang hendak ia tuju. Gadis manis ini hanya tersenyum pada ustadzah ustadzah yang sebelumnya membicarakannya.


"Wafa!"


Sedang lelah dengan perihal perjodohan, Inneke memanggilnya.


"Hei, kau!" tunjuk Inneke. "Beri aku minum dulu, dimana ada minum disini?" pintanya.

__ADS_1


"MasyaAllah, ini bulan puasa, Ke. Mana ada yang membawa minum ke sekolah. Jika kamu haus, kamu bisa pergi ke ruang guru, mungkin saja air galon masih ada di sana," jawab Wafa.


"Eh, dapur sekolah tidak jauh dari sini, 'kan? Wait, aku mau cari minum dulu, jangan pergi!"


__ADS_2