
"Ustadz, saya tidak sedang bercanda, ya? Saya serius dengan jawaban saya menolak lamaran ini. Ini bukan tentang ada seseorang di hati saya atau tidaknya. Tapi jika saya menikah, Ustadz harus menanggung semua biaya untuk anak-anak asuh saya. Apa Ustadz mampu?" tanya Wafa dengan wajahnya yang ketus.
Namun ketika melihat wajah Ustadz Lana yang sedikit berubah, membuat Wafa langsung tidak enak hati.
"Astaghfirullah, maaf. Saya bukan meremehkan Ustadz tentang materi. Tapi ini soal tanggung jawab. Saya sudah membawa anak-anak itu jadi orang tua yang tidak menginginkannya, lalu anak-anak yang tidak memiliki Bapak dan Ibu atau keduanya, belum lagi ada anak yang baru lahir dan dia pernah dari hubungan sirih dan juga di luar nikah," ungkap Wafa.
"Masih banyak yang harus saya lakukan untuk mereka. Jadi saya belum siap menikah karena saya harus membuat mereka bahagia dulu,"
"Ustadz, saya bukan seperti Mbak Sari yang akan patuh dengan pilihan orang tua atau bisa disebut dengan perjodohan dengan sesama anak pemilik dari pesantren,"
"Saya adalah Wafa Thahirah. Semoga orang bahkan hampir mengetahui sikap dan karakter saya. Jadi sepertinya, saya tetap menolak lamaran ini. Bagi saya, hidup menuju masa depan atau membangun rumah tangga itu bukanlah hal mudah yang hanya bisa dibangun dengan adanya agama saja,"
"Butuh kesiapan hati dan mental untuk melangkah ke hubungan yang sangat serius ini. Maaf saya membuat Anda terluka, Ustadz. Tapi demi tidak melukai para orang tua kita di dalam, inilah niat saya untuk membawa Ustadz Lana keluar bicara berdua,"
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." tukas Wafa, sekaligus pamit.
Semua yang dikatakan oleh Wafa masuk ke dalam hati Ustadz Lana. Kata-kata Wafa itu sangat menyentuh dan membuat Ustadz Lana semakin kagum kepadanya. Bukan sakit hati karena lamarannya ditolak. Ustadz Lana malah semakin ingin memiliki harapan untuk mempersunting Wafa sebagai makmum dalam hidupnya.
"Karena itulah kamu terlihat istimewa, Wafa. Saya sudah kagum denganmu sejak kamu mendirikan yayasan itu. Wafa, jika Allah mentakdirkan kita bersama ... Pasti akan ada jalan untuk kita bisa bersama, aamiin."
Ustadz Lana pun mengikuti langkah Wafa. Mereka kembali ke ruang tamu dengan wajah yang seperti memang tidak terjadi apapun terhadap mereka. Emang tidak ada hal yang terjadi. Namun, ada hati yang tidak tenang karena ditolak lamarannya oleh Wafa.
Acara lamaran itu berjalan dengan lancar. Pada akhirnya Ustadz Lana memberikan waktu kepada Wafa untuk berpikir kembali dan mempertimbangkan lamarannya. Setelah acara selesai, semuanya pun pamit dan rumah menjadi sepi.
Kini, giliran Wafa yang menanyakan tentang lamaran sore itu kepada Pak Kyai yang baru saja selesai makan malam. Wafa merasa tidak terima dengan jawaban Pak Kyai yang tadinya Ustadz Lana ingin memberikan waktu kepada Wafa, malah keceplosan mengatakan bahwa beliau setuju dan segera ingin melihat putrinya menikah dengan Ustadz Lana. Hal itu membuat keluarga Ustadz Lana sangat bahagia dan niatnya hari itu juga keduanya ingin dinikahkan siri terlebih dahulu.
"Hari ini Abi telah mengecewakan aku untuk yang kesekian kalinya," desis Wafa ketika usai shalat isya berjamaah.
__ADS_1
"Abi hanya memberikan yang terbaik bagi kamu saja. Seharusnya kamu bersyukur masih ada yang mau menikah denganmu, Nduk. Bukan malah bersikap seperti ini!" Pak Kyai mulai merasa benar lagi.
"Abi ... Abi kenapa seperti ini? Wafa bilang, dia tidak mau menikah. Kenapa Abi memaksakan kehendak?" Sari muncul diantara Wafa dan Pak Kyai.
Datangnya Sari malah membuat suasana menjadi keruh. Sebab, Sari masih mempertanyakan mengapa Pak Kyai menyembunyikan identitas asli Sari. Memang, selama Sari hidup, semua yang mengurus Pak Kyai. Dari mulai masuk sekolah, kuliah, hingga mengurus keperluan menikah di kelurahan. Jadi, Sari tidak tahu jika di akte kelahirannya nama sang ayah, bukankah Pak Kyai.
"Abi, pokoknya Wafa tidak akan menerima lamaran dari Ustadz Lana. Wafa juga tidak mau menikah awal, Bi!" Wafa mulai memancing perdebatan.
"Astaghfirullah hal'adzim! Istighfar, Wafa!"
"Kenapa? Apa kurangnya Ustadz Lana? Alasan apa yang akan kamu berikan kenapa kamu tidak mau menikah dengannya. Ustadz Lana itu adalah pria yang baik," jelas Pak Kyai.
"Benar. Ustadz Lana adalah pria yang sangat baik. Tapi aku yang belum siap untuk menikah sekarang, Abi. Baru saja aku mengganti kejuruan belajarku. Masa iya harus—"
"Harus apa, Wafa? Kamu ini memang anak yang pernah patuh. Selalu saja berbuat onar. Abi tidak suka!" belum saja Wafa mengungkapkan keluh kesalnya, Pak Kyai malah menyela ucapannya.
"Semua saja Mbak Sari. Semuanya Mbak Sari. Memang yang paling hebat Mbak Sari!"
"Abi selalu saja seperti ini. Pilih kasih dan tidak pernah memikirkan perasaanku. Sebenarnya aku ini anaknya atau bukan, sih?"
"Ustadz, tolong kejar Wafa, ya ...." pinta Sari kepada Ustadz Zamil.
"Jangan!" Pak Kyai menahan tangan Ustadz Zamil dengan erat. "Jangan pedulikan dia. Paling-paling pergi ke yayasan. Wafa sedang marah, alangkah baiknya kita jangan mengganggunya," sambungnya dengan tatapan cemas.
Cara didik Pak Kyai memang tidak salah jika anak harus berbekal ilmu agama. Namun, kasih sayang yang Pak Kyai berikan kepada kedua putrinya, tidak seimbang. Air mata Pak Kyai menetes sekali saja dan langsung di usap. Beliau tidak mau sampai terlihat saring bahwa dirinya sedang menahan sakit, luka hatinya.
***
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, hanya air mata yang membasahi pipinya. Meski dalam kemarahan, tetap saja masih tahan diri untuk tidak mengumpat. Bibir Wafa tertutup rapat. Mengemudi dengan ngebut tanpa arah dan tujuan yang pasti.
Di beberapa kilometer dari yayasan, mobil Bian masih terparkir di pinggir jalan. Rupanya dia belum pulang, tapi masih terbayang dengan acara lamaran Wafa. Dengan heran, dia berkata, "Kenapa tiba-tiba saja lamaran, ya? Wafa tidak bercerita kepadaku."
"Hm, mau cerita bagaimana? Kami saling terhubung tidak pasti. Kenapa aku berharap lain?" Bian masih terus bergelut dengan hatinya.
"Kira-kira Wafa menerima lamaran itu tidak, ya?"
"Oh my God, kenapa dengan diriku ini?"
Wuzzz.....
Bian melihat mobil pick up l300 milik Wafa melintas dengan cepat. Bian memahami pick up tersebut dan langsung mengenali mobil tersebut yang dimiliki oleh Wafa
"Itu mobilnya Wafa," gumamnya.
"Apa itu ... jangan-jangan itu Wafa. Haduh! Aku harus mengejarnya!"
Segera Bian menyalakan mobilnya. Mengikuti mobil yang dikendarai Waga dengan cepat. Bian tetap fokus menyetir tanpa bingung harus berbuat apa lagi kecuali mengejar mobil yang dibawa Arsy.
"Wafa, dia mau kemana? Mengapa menyetirnya ugal-ugalan seperti itu? Bagaimana kalau ....
BRUAK!!
TIIIIINNNN.......
Suara bruak tadi adalah suara dentuman keras karena mobil yang Wafa kendarai menabrak pembatas jalan. Lalu suara klakson yang nyaring itu, menandakan Wafa terpentok kemudi.
__ADS_1
Bagaimana kondisi Wafa?