Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Keadilan Untuk Qia


__ADS_3

"Aku akan bantu membereskan semua dagangan kamu. Kamu tenangkan saja anakmu dulu," ucap Inneke dengan kelembutan alaminya.


Qia mengangguk, lalu memeluk putrinya dan menjelaskan tentang apa yang terjadi. Kemudian, mengenalkan Sabrina dengan Inneke secara resmi karena sebelumnya hanya bertemu sebentar saja.


"Sepertinya mental anakmu ini sudah seperti baja, ya? Tidak ada ketakutan ataupun kegelisahan ketika Bapaknya berulah seperti itu," ujar Inneke.


"Sudah menjadi makanan sehari-hari kami. Anakku seperti sudah biasa menerima kekerasan dilontarkan dari Bapaknya," jelas Qia.


"Tapi itu tidak baik demi mentalnya, Qia. Bagaimana jika aku mengusulkan kalau Sabrina dibawa ke yayasan milik Wafa?" usul Inneke. "Nanti di sana pihak yayasan akan menguruskan akta kelahiran atau surat kelahiran Sabrina supaya Sabrina bisa bersekolah," sambungnya.


Qia terkejut. Dia memandang wajah sahabatnya dengan terheran-heran. Bagaimana tidak? Seharusnya memang dulu dirinya memberikan masalah hidupnya kepada kedua sahabatnya supaya bisa membantunya sejak dulu. Tapi, Qia malah memilih untuk menghindar Wafa dan Inneke.


"Bagaimana mungkin tiba-tiba aku membawa Sabrina ke sana, Ke. Kita telah lama tidak bertemu, dengan tiba-tiba aku mengirim Putriku kepada sahabatku dan malah merepotkan dia? Aku tidak enak hati, Ke," ungkap Qia.


"Tidak enak hati saja terus. Ini demi masa depan Putrimu, Sabrina. Anak seusia dia ini Seharusnya sudah TK besar atau kelas 1 Sekolah Dasar!" tegas Inneke.


"Jika kami seperti ini terus, itu sama saja kamu ini bersikap egois ke anakmu. Sudahlah—lebih baik ikuti saja saranku. Bawa Sabrina ke yayasan milik Wafa, bawa sekalian surat kelahiran dia dari tempat lahir dia dulu, supaya bisa di urus secepatnya," lanjut Inneke gemas lagi.


"Ah, iya! Berapa sisa hutang almarhumah Ibumu? Aku akan transfer ke rekening kamu, atau kita bisa tarik tunai sekarang dan segera melunasi ke keluarga suamimu. Setelah itu, gugat cerai suamimu itu!" Inneke memang sejak dulu adalah gadis yang tegas. Sifatnya yang keras kepala, tegas tapi pecinta lelaki ini membuat Wafa dan Qia merasa aman bersama dengannya.


Mendengar itu, membuat Qia semakin tidak enak hati kepada Inneke. Qia juga tahu bahwa Inneke itu adalah anak dari orang berada. Tapi, hutang ibunya terlalu banyak, sehingga dia tidak mau sampai membebani sahabatnya yang telah lama jauh juga.


"Astaga, masih saja merasa tidak enak hati? Jika pemikiran kamu seperti itu terus, yang ada kamu makin tersiksa batin dan pikirannya karena hidup dengan pria kasar itu, Qia!"

__ADS_1


"Hih, gemes banget deh! Sudahlah! Ayo, sebutkan berapa hutang Ibumu itu, kita lunasi hari ini juga!"


Dengan paksaan dari Inneke, akhirnya Qia pun patuh. Dia menyebutkan hutang almarhumah ibunya dan nominal itu tidak berat bagi Inneke. Setelah membereskan semua dagangan Qia, Inneke mengajak Qia untuk tarik tunai dan segera membawa uang tersebut kepada mertua Qia.


"Ingat, uang sudah ada di tangan. Setelah melunasi hutang-hutang almarhumah Ibumu, kamu harus ajukan cerai dengan suamimu itu. Aku pernah mendengar cerita dari Wafa, jika menikah siri itu tidak perlu cerai di pengadilan," ujar Inneke.


"Katakan kepada suamimu untuk segera menalak dirimu, oke? Jangan takut, ada aku yang menemanimu. Aku calon pengacara juga! Hahahahaha__" tawa Inneke itu membuat Qia merasa lega dan aman.


Meski Inneke bukan calon pengacara sekalipun, Qia percaya kepada sahabatnya jika dia pasti akan membantu dirinya sampai tuntas.


Selama di perjalanan, Inneke terus saja mengetik dialog di pikiran Qia. Dia tetap ingin membuat Qia pisah dengan suaminya. Perpisahan atau perceraian memang sangat dibenci oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tapi, juga tidak hal yang dibanggakan juga jika Qia terus bertahan dengan pria kasar seperti suaminya.


Sebelum ke rumah Qia, Inneke membawa Sabrina ke yayasan dulu karena tidak mungkin membawa gadis kecil itu menyaksikan peperangan orang tuanya. Tidak hanya membawa Sabrina ke yayasan, Inneke juga memberikan kabar itu kepada Wafa yang baru saja selesai makan bersama dengan Bian dan juga Grietta.


"Apa? Kalian sudah sampai yayasan? Oke, aku akan segera ke yayasan juga," ucap Wafa setelah selesai mencuci tangannya.


"Ada masalah apa di yayasan?" tanya Bian.


"Sebenarnya ini masalah pribadi. Tapi sangat penting. Nanti jika urusannya sudah selesai, kita bisa melanjutkan jalan-jalannya. Atau, saya bisa menemani Grietta tidur malam ini sebagai gantinya, bagaimana?" Wafa sampai bingung sendiri.


Bian adalah pria yang baik. Dia juga tidak mungkin memaksakan kehendaknya karena Wafa juga memiliki urusannya sendiri. Pria berusia 30 tahunan itu pun menyetujui permintaan Wafa. Grietta sendiri juga patuh sekali dengan apa yang dikatakan oleh Wafa. Mereka terlihat seperti satu keluarga yang harmonis.


***

__ADS_1


Sesampainya di yayasan, Inneke memperkenalkan Qia kepada Vita dan juga Mbak Nur. Qia disambut dengan baik juga oleh beberapa pengasih di yayasan. Membuat Qia merasa dihargai setelah hidup seperti orang tidak berarti selama bertahun-tahun ikut suami dan mertuanya.


"Mbak Nur, tolong bawa Sabrina dulu, ya. Kenalkan dia dengan teman-teman di sini. Soalnya, tidak mungkin juga kami mau membahas masalah dewasa di depannya," pinta Inneke.


"Siap, Mbak Inneke!" sahut Mbak Nur semangat. "Vit, tolong kamu buatkan minuman juga buat mereka, ya. Aku tak bawa adik kecil ini ke kamar dulu," ujar Mbak Nur kepada Vita. "Tapi aku kasihan padamu. Kalau kamu tidak bisa, tidak masalah. Kamu istirahat saja di kamar," sambung Mbak Nur.


"Aman, Mbak Nur," jawab Vita santai.


"Vit, aku tidak mau kamu sampai kenapa-napa, loh! Biaya operasi Caesar mahal sekali. Jadi jangan sampai kamu kenapa-napa, ya? Jaga kesehatan kamu," tutur Mbak Nur.


"Oke, Mbak," jawab Vita mengacungkan jempolnya.


Vita dan Mbak Nur juga sudah akrab. Mereka bahkan sering ghibah bersama setelah pekerjaan selesai. Sementara itu, Inneke dan Qia masih menunggu Wafa di ruang tamu. Vita ini sangat kuat sekali. Baru saja keluar dari rumah sakit, juga baru saja menjalani operasi Caesar, sudah bisa melakukan aktivitas rumah meski hanya yang ringan-ringan saja. Akan tetapi, Mbak Nur tetap memperhatikan kondisinya.


"Tadi Wafa bilangnya kemana?" tanya Qia.


"Dia lagi pergi sama anak yang pernah ditolong oleh dia. Jadi, Ayah itu anak ngajak makan dan jalan gitu lah, pokoknya. Sebagai tanda terima kasih, maybe," jawab Inneke.


"Owalah. Tak kirain memang sedang sibuk banget," imbuh Qia lirih.


"Mana ada sibuk. Wong dia aja mau mogol kuliah, kok," celetuk Inneke.


"Lah, kenapa? Bukankah dia sedang kuliah di pendidikan agama Islam, ya? Sesuai juga kan, dengan dirinya yang memang basicnya seorang Ning?" tanya Qia lagi.

__ADS_1


"Seperti tidak kenal Wafa saja. Dia kan memang anaknya aneh. Sudahlah, biarkan saja dia melakukan apapun itu yang penting positif. Kita sebagai sahabatnya, ya ... hanya bisa mendukung saja!" seru Inneke.


Qia mengangguk paham. Wafa memang selalu mementingkan kebahagiaan orang lain dibandingkan dengan kebahagiaan dirinya sendiri. Qia menebak, Wafa pasti akan fokus mengurus yayasannya. Sebab, ada lebih dari 50 anak yang hidup bernaung di bawah asuhan Wafa. Sangat bangga sekali Qia kepada sahabatnya itu.


__ADS_2