Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Emosi Di Lagi Hari


__ADS_3

"Ini bekal untuk kalian. Grietta warna biru muda, karena warna ini adalah salah satu warna kesukaan Grietta juga," ucap Wafa memberikan kotak makan yang sudah ada namanya Grietta diatasnya.


"Lalu, tas merah muda ini milik Pak Bian. Mohon dihabiskan, ya ..." lanjut Wafa.


"Ini untuk Tuan Zaka. Semoga Tuan Zaka juga menyukai makanan yang saya masak," imbuhnya, memberikan kotak makan berwarna hijau rumput laut. "Menunya lain dari menu sarapan kita pagi ini," bisiknya dengan mengedipkan satu matanya.


"Wah, saya juga dapat?" tanya Zaka Yang tidak menyangka.


"Tentu saja. Bukankah Anda akan bekerja keras hari ini, menangani monster dingin di sebelah Tuan Putri kita?" sahut Wafa melirik ke arah Bian.


Zaka Yang terkekeh, begitu juga dengan Wafa. Bian menjadi tidak suka melihat Wafa tertawa seperti itu bersama dengan pria lain. Pipinya pun mulai memerah, tak sadar, Bian pun membentak Wafa.


"WAFA!" teriaknya.


"Apa kamu sengaja ingin membuat saya malu? Untuk apa saya membawa bekal jika restoran di depan kantor saja bisa saya beli? Terlalu kekanak-kanakan!" sentak Bian.


Seketika, suasana menjadi hening. Kemudian, Wafa meminta Zaka Yang membawa Grietta keluar lebih dulu. Suara menggelegar Bian sudah membuat Grietta takut pagi itu. Setelah dirasa mereka sudah keluar, barulah Wafa menjawab bentakan dari Bian.


BRUAK!!


Wafa memukul meja makan. "Haduh, sakit," rintihnya lirih.


Beberapa pelayan yang tadinya mengintip, menjadi ikut terkejut. Juga Bian tentunya. Pria ini malah jadi khawatir karena tangan Wafa pasti sakit.


"Kenapa Pak Bian ini tidak pernah menghargai usaha orang. Saya sudah capek-capek menyiapkan bekal untuk Bapak, eh, Pak Bian malah menyebutnya dengan kata kekanak-kanakan?" kata Wafa dengan wajah ketusnya.


"Apa Bapak tidak pernah berpikir, bagaimana lelahnya saya menyiapkan tiga bekal sekaligus? Saya juga baru selesai memasak berbagai macam menu. Apa tidak bisa apabila menghargai usaha saya sedikit saja dengan mengucapkan kata terima kasih?" lanjut Wafa.


Ketika Bian hendak menyela, Wafa malah membentaknya. "JANGAN MENYELA!" sentak gadis manis itu. Seketika Bian langsung terdiam. Membuat beberapa pelayan yang sebelumnya mengintip menjadi terheran-heran dengan sikap Wafa yang mampu membuat Bian terdiam. Mereka mengagumi Wafa.


"Huh, Astaghfirullah hal'adzim. Saya tidak ingin ada perdebatan pagi ini. Mengingat Bapak sudah berbuat baik pada saya semalam, jadi sebaiknya saya pergi saja membawa bekal ini. Selamat pagi!" Wafa pergi begitu saja membawa tas berwarna pink yang berisikan bekal makanan untuk Bian.


Bian menjadi kikuk. Dia diam, tapi juga ingin menghentikan langkah Wafa yang semakin menjauh. Namun ditahan oleh rasa gengsinya. Sehingga, hanya diam dan menyesali kata-katanya karena sudah membentak Wafa.

__ADS_1


Di luar, Wafa memberikan bekal itu kepada Zaka Yang untuk diberikan kepada Bian nanti ketika makan siang. Lalu, berpamitan kepada Grietta untuk pulang lebih dulu. Grietta pun menahan tangan Wafa untuk tidak pergi.


"Kenapa? Kakak harus pulang ke rumah. Hari ini kakak ada kuliah, Sayang. Grietta jangan nakal, ya ..." ucap Wafa dengan lembut.


Grietta memandangi wajah Wafa. Lalu menyentuh pipinya. Setelah beberapa saat, Grietta melepaskan tangannya dan mengangguk pelan.


"Kakak akan sering-sering main kesini. Jika Grietta mau, Grietta boleh sesekali mampu yayasan bermain dengan teman-teman. Kakak juga terkadang ada di yayasan."


Setelah mendengar itu, Grietta kembali tersenyum. Sekolah dan yayasan hanya berhadapan. Jadi, Grietta sangat ingin jika sepulang sekolah, langsung bermain di yayasan karena banyak temannya.


"Pintar sekali Tuan Putriku," ucap Wafa mencium pipi gadis kecil itu.


"Tuan Zaka, tolong berikan bekal ini nanti kepada Pak Bian. Katakan padanya jika dirinya harus menghabiskan makanannya. Jika tidak, katakan saja jika dia akan kehilangan Putri kesayangannya karena saya akan menculiknya nanti, okay?" celetuk Wafa, memberikan tas bekal itu.


Zaka Yang tersenyum mendengarnya. "Siap, Nona Wafa. Saya akan melaksanakan perintah Anda."


"Baiklah, saya pulang dulu. Selamat berjumpa lagi semuanya ...." Wafa melambaikan tangannya kepada Grietta.


Mobil sudah keluar dari gerbang. Terlihat Wafa berjalan dengan menelpon tak jauh dari rumah Bian. Zaka Yang yang tidak tega melihat Wafa jalan kaki, mengusulkan kepada Bian untuk mengantarnya pulang. "Tuan, Nona Wafa berjalan sendirian. Apa tidak sebaiknya kita antar pulang saja?" usulnya.


"Tidak perlu!" jawab Bian.


"Tapi Tuan—"


"Jika kau mau, sana antar sendiri. Jalan kaki!"


Bagaimana mungkin mengantar dengan berjalan kaki. Apalagi jaraknya juga jauh. Terpaksa Zaka Yang mengikuti perintah Tuannya. Mobil mereka melintasi Wafa begitu saja tanpa membukakan kaca mobil juga untuk Grietta bisa melambaikan tangannya.


Wushh....


"Astaghfirullah hal'adzim, mereka memang menyebalkan!" kesal Wafa.


"Terutama si Pak Bian ini. Hampir saja aku luluh karena kebaikannya. Beruntung saja Allah menamparku dengan keangkuhan dan kesombongannya."

__ADS_1


Wafa terus saja mengumpat.


"Ini juga si Inneke kemana, sih? Sejak tadi di telepon tidak menjawab juga. Jangan-jangan dia masih tidur,"


Setelah keluar dari kompleks, terpaksa Wafa berjalan sebentar ke arah tukang ojek yang tidak jauh dari komplek di sana. Namun, sebelum memesan ojek, mobil Inneke berhenti tepat di depan Wafa.


"Woy, masuk!" teriak Inneke.


"Ck, ini dia orangnya. Rupanya di jalan?" gumam Wafa.


Wafa masuk ke mobil Inneke. Kemudian, Inneke bertanya mengapa Wafa ada di daerah sana, padahal jauh dari rumahnya maupun yayasan miliknya.


"Ceritanya panjang, Ke. Lagian ... tumben sekali kamu tidak menjawab telepon dariku? Aku sejak tadi menelpon kamu tau!" kesal Wafa.


"Haduh, cantik. Sabar, dong! Ini masih pagi, kenapa harus marah-marah, sih?" Inneke malah menggoda singa yang sedang marah.


"INNEKE!"


"Iya, iya, sorry," Inneke langsung melempem. "Ponselku ketinggalan. Ini baru mau puter balik niatnya. Malah lihat kamu sedang ngukur aspal," jawabnya.


"Lagi kenapa, sih? Kamu marah-marah seperti itu. Apa sedang PMS, ya? Eh, tidak mungkin. Kita PMS kan barengan dan aku sedang tidak PMS saat ini. Kenapa, sih, Wafa__"


Wafa menghela nafasnya. Kemudian menceritakan mulai dari perjodohan dirinya dengan Ustadz Lana yang sudah direncanakan oleh Pak Kyai. Pertengkaran antara dirinya dengan Pak Kyai juga diceritakan olehnya kepada sahabatnya itu.


Setelah kisah perjodohannya selesai, barulah Wafa menceritakan tentang kecelakaan tunggal yang dialaminya. Bagaimana cara Bian membantunya dan menginap di rumah Bian yang memang perumahan tempat tinggal Bian ada di daerah Wafa jalan kaki sebelumnya.


Kemudian, Wafa menceritakan jika dirinya bertengkar dengan Bian dan membuatnya harus pulang dengan jalan kaki. Inneke tercengang mendengar cerita Wafa sampai tidak berbicara, melainkan menganga lebar mulutnya.


"Kamu bayangkan saja betapa kesalnya aku dua hari ini. Abi juga kenapa gitu. Ini malah ditambahin sama Pak Bian. Ahhhh ... kenapa semua membuatku kesal!"


"Astaghfirullah hal'adzim ...."


Wafa mengeluh sampai membuat Inneke semakin menganga lebar. Lalu, apa yang Inneke pikirkan tentang sahabatnya itu?

__ADS_1


__ADS_2