Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Bian Terpukau


__ADS_3

"Pak, Anda apakan anak Anda ini, huh? Kenapa sampai dia ketakutan seperti ini saat di dekati Anda?" tanya Wafa dengan tatapan mata tajamnya.


"Apa?" Bian menganga.


"Ya, jika Grietta selalu mendapatkan kasih sayang, tidak mungkin dia akan ketakutan seperti ini saat anda dekati," celetuk Wafa.


"Astaga, apa yang … lihat, dia mengejek saya!" tunjuk Bian, menunjuk putrinya yang bersembunyi di belakang Wafa.


Wafa langsung menoleh. Dia sama sekali tidak melihat adanya ejekan dari wajah Grietta kepada ayahnya. Kemudian Wafa pun menatap Bian dengan tatapan sinis. "Trik macam apa ini?" tanyanya dengan ketus.


"Um, itu … Ash, benar-benar. Sudahlah, kalung itu kamu bawa pulang. Jika kamu tidak mau menerimanya dari putri saya, maka anggap saja itu adalah hadiah dari saya, selamat malam!" Bian meninggalkan ruang tamu dan naik ke atas.


Wafa dan Grietta saling menatap. "Papi kamu sangat aneh, apakah dia tidak minum obatnya malam ini?" celetuk Wafa kepada Grietta. Gadis kecil itu menahan senyumannya dan menutupi menggunakan tangannya yang kecil.


"Apa yang di katakan itu? Jelas-jelas Grietta adalah Putriku. Bagaimana mungkin aku ... tunggu, ashh, sial! Bagaimana bisa aku meninggalkan Putriku dengan orang asing?" Bian kembali turun untuk mengambil putrinya.


Tapi ketika Bian turun dari lantai dua rumahnya, Bian melihat pemandangan yang langka, yakni, senyuman Grietta yang begitu murni. Sangat jelas terdengar juga bahwa Wafa sedang bicara dengannya. Terus bergantian tatapan Bian kepada putrinya dan juga kepada Wafa.


"Gadis ini bisa bicara dengan putriku? Lalu putriku juga paham apa yang dikatakan oleh gadis ini? Ada apa yang sebentar terjadi? Kenapa bisa seperti itu?" batin Bian.


"Tuan, sebaiknya Anda turun dan segera membawa nona muda tidur. Waktunya nona muda untuk tidur sudah ..."


"Iya, iya. Saya tahu!" sebelum Zaka Yang menyelesaikan ucapannya, Bian sudah menyelanya. "Eh, apa maksudnya? Kamu memerintah saya? Siapa Bosnya di sini?" Bian menghentikan langkahnya. Kemudian meminta Zaka Yang untuk membawa putrinya ke kamar.


Tapi, sekali saja pertemuan antara Bian dan juga Wafa sudah membuat keduanya sama-sama terikat dengan kalung warisan keluarga Hutomo. Di mana kalung warisan itu memang seharusnya dipakai oleh istri dari Bian. Istri pertamanya Bian tidak pernah memakai kalung tersebut karena memang nenek dari Bian tidak memberikannya.


Namun setelah perceraian, nenek Bian tidak lagi mengekang siapapun kandidat istri Bian di kemudian hari. Kalung itu diserahkan kepada cicit kesayangannya, yakni Grietta Hutomo, sebagai orang yang pantas memilih Ibu seperti apa yang ia inginkan.


"Jangan-jangan Putriku ini menyukai gadis itu. Sudah beberapa wanita yang aku kenalkan kepadanya, tetap saja Putriku menolak," gumam Bian.


"Tapi kenapa dengan gadis itu—Putriku malah terlihat sangat bahagia dan memberikan kalung pemberian dari nenek buyutnya? Tapi jika Putriku mau dengan gadis itu, dinding kita terlalu tebal dan juga tinggi,"

__ADS_1


"Astaga, semua ini membuatku pusing saja. Alangkah baiknya jika aku ikuti sajalah alurnya!"


Bian masuk ke kamarnya dan bersiap mau istirahat. Tapi, Bian masih teringat dengan Wafa. Mengingat bagaimana caranya gadis itu pulang di waktu yang sudah selarut itu.


"Hah, benar-benar ini sangat mengganggu pikiranku saja! Ini sudah jam sepuluh malam. Bagaimana gadis itu akan pulang?" Bian malah repot sendiri.


"Daripada Zaka yang mengantarnya pulang, akan jauh lebih baik jika aku yang mengantar saja." Bian turun lagi dari ranjang dan mengambil kunci mobilnya.


Turun dari lantai dua, ternyata Bian sudah tidak melihat Wafa lagi. Bian pun bertanya kepada salah satu asisten rumah tangga di sana tentang Wafa.


"Nona Muda yang berjilbab, ya, Tuan? Owalah, beliau naik ke atas bersama dengan Nona Muda dan juga Tuan Zaka, Tuan!" jawab asisten rumah tangga tersebut.


"Ke atas? Untuk apa?" tanya Bian.


"Maaf, Tuan. Kalau itu—saya tidak tahu. Saya beberes dulu, Tuan. Permisi ...."


Bian bingung mengapa Wafa menuruti perkataan putrinya untuk menemaninya tidur. Bian sudah tahu jika putrinya itu pasti mengajaknya tidur di kamarnya. Tidak ada alasan lagi untuk Bian naik ke atas dan menuju ke kamar putrinya. Saat sudah sampai, Bian melihat Zaka Yang ada di depan pintu kamar putrinya.


"Sstt, pelankan suara Anda, Tuan. Lihatlah, Nona Muda kita sudah bisa tersenyum kembali," tunjuk Zaka Yang.


Bian melihatnya. Putrinya sudah kembali tersenyum dari kecelakaan setahun yang lalu bersama dengan ibu kandungnya. Tapi, Bian masih bingung kenapa dari sekian psikiater dan guru anak-anak, hanya Wafa, si gadis biasa malah bisa membuat mental Grietta mulai membaik.


"Kamu bilang ini pertemuan pertama bagi Grietta, 'kan?" tanya Bian.


"Benar, Tuan," jawab Zaka Yang.


"Mereka juga bersama hanya beberapa jam saja, 'kan?" lanjut Bian.


"Betul sekali," sahut Zaka Yang.


"Tapi kenapa mereka langsung bisa seakrab itu? Apa yang telah gadis ini lakukan kepada Putriku, sehingga Putriku yang manis ini bisa luluh? Aku telah menghabiskan banyak biaya juga untuk mengembalikan mental Putriku. Tapi dengan gadis ini ...." Bian bingung sendiri dengan pemikirannya.

__ADS_1


Masih menjadi misteri tentang kecelakaan setahun yang lalu antara Grietta dengan ibu kandungnya. Tetapi, ibu kandungnya masih hidup dan sehat sampai saat ini. Bian meminta semua orang tidak lagi mengungkit kecelakaan tersebut karena hal itu membuat mental putrinya jadi tidak baik.


Bian pun rela menunggu Wafa menyelesaikan dongengnya sampai membuat Grietta tertidur. Di ruang tamu, sembari bekerja Bian juga masih penasaran dengan gadis yang bernama Wafa Nadja itu.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sudah satu jam Wafa menemani Grietta di kamarnya. Tetapi belum keluar juga sampai saat itu. Bian pun mulai lelah dan mengantuk.


"Nona, terima kasih karena sudah mau direpotkan oleh Nona Muda kami," ucap Zaka Yang.


"Aduh, tidak perlu berterima kasih, Tuan. Pada dasarnya memang Grietta dan saya sudah mengenal. Itu mungkin yang membuat dia nyaman dengan saya," balas Wafa dengan senyuman manisnya.


Mendengar suara Zaka Yang dan juga Wafa bercakap-cakap sembari turun dari lantai dua, Bian langsung terbangun dan merapikan diri supaya terlihat rapi di depan Wafa.


"Loh, Tuan. Anda belum tidur, toh?" tanya Zaka Yang.


"Saya akan mengantar Nona ini pulang," sahut Bian.


"Um, tidak perlu repot-repot, Pak, eh, Tuan. Saya datang ke sini naik ojek, kok. Pasti masih di depan tukang ojeknya," tolak Wafa dengan kelembutannya.


Bian dan Zaka Yang hanya tersenyum tipis. Membuat Wafa tidak tahu, apa yang ditertawakan oleh dua pria dewasa itu. "Kenapa kalian tersenyum seperti sedang menahan tawa seperti itu?" tanya Wafa bingung.


"Ojek pribadi kamu itu sudah diusir oleh security penjaga depan sekitar setengah jam yang lalu. Lalu kamu mau pulang pakai apa jika bukan saya yang mengantar?" ucap Bian.


"Hah? Diusir? Tuan Zaka! Kenapa ojek langganan saya harus diusir?" tanya Wafa polos. "Mana bahasa majikan Anda juga bahasanya begitu pula. Bikin pusing!" lanjut Wafa.


"Hahaha, Nona. Itu adalah etika bertamu di komplek ini. Anda hanya boleh masuk di komplek ini mulai dari jam sembilan pagi sampai jam sepuluh malam saja. Jika lebih dari jam sepuluh malam dan tidak ada keterangan mau menginap atau tidaknya, maka pihak keamanan wajib untuk mengusirnya," terang Zaka Yang.


"Hah?"


Kata 'hah' Wafa, kalau menambah manisnya wajah Wafa sampai membuat Bian gemas. Tapi rasa gemasnya itu Bian sembunyikan karena tidak ingin Wafa mengetahuinya. Ini kali pertama mereka bertemu dan Bian sudah mulai tertarik dengan gadis berusia 20 tahun itu.

__ADS_1


__ADS_2