Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Otw Rumah Sakit


__ADS_3

"Ya Tuhan, Wafa! Kau mengumbar aibku? Apa kamu tidak takut karma? Tuhan menutup aibmu, kenapa kamu membuka aib sahabatmu sendiri? Menyebalkan!" akhirnya Inneke merajuk.


Perilaku Inneke itu memang membuat Wafa kesal disaat dia mabuk. Sayangnya, setelah marah-marah, Wafa kembali pusing dan membuat semuanya khawatir.


"Wafa!"


Mereka bertiga teriak bersamaan.


"Sudahlah, kamu juga sedang keadaan seperti ini malah marah-marah. Saya akan membuat kamu sarapan lagi yang baru, supaya kamu bisa memiliki energi lagi untuk memahami mereka berdua, hm?" ucap Bian dengan lembut.


Bubur yang sebelumnya terkena siku Inneke yang panik karena Wafa mengeluh sakit kepala.


"Pak Bian, ma-maaf. Buburnya ...“ sesal Inneke.


"Tidak masalah, saya akan membuatnya lagi," sahut Bian lirih. "Wafa, kamu tunggulah sebentar. Saya akan buatkan kami bubur lagi."


Kali itu Wafa mengangguk setuju dengan ucapan duda tampan itu. Dia langsung mengangguk semangat dan mengatakan akan menunggu Bian selesai membuatkan sarapan untuknya.


Bian pun beranjak dari tempat duduk, pergi ke dapur. Sementara itu, Inneke dan Zaka Yang masih berdiri sambil tatap tajam oleh Wafa.


"Sekarang aku tanya, kalian mabuk itu apartemen bawah sudah dibersihkan atau belum?" tanya Wafa, kembali mengintrogasi kedua anak balitanya yang tumbuh dalam tubuh orang dewasa.


Inneke dan Zaka Yang mengangguk, artinya mereka sudah membersihkan.


"Apakah kamu muntah sembarangan?" pertanyaan itu ditujukan kepada Inneke.


Inneke menggelengkan kepala dengan cepat. Dia menjawab bahwa dirinya muntah di tubuhnya Zaka Yang dengan menunjuk bagian tubuh mana yang ia kenai muntahan.


"Apa kalian sudah mandi sebelum datang ke sini?" pertanyaan selanjutnya dari Wafa.


Keduanya hanya menjawab dengan anggukan saja. Meski begitu, Wafa masih tidak percaya jika Inneke telah melakukan semuanya. Membersihkan diri, membersihkan rumah dan tidak membuat kulkasnya berantakan. Biasanya memang Inneke selalu menaruh makanan atau bahan makanan di kulkas secara tidak sesuai. Sayur dan buah dicampur dengan daging, lalu santan juga masuk ke kulkas, hal itu membuat Inneke selalu kesal dengan sahabatnya.

__ADS_1


Setelah sekitar 15 menit dia kembali sambil membawa semangkuk bubur untuk Wafa. Terlihat begitu imut sekali Bian masuk membawa nampan kecil di tangannya.


"Makanlah, aku sudah membuatkanmu bubur, supaya kamu lebih bertenaga jika mau memarahi mereka," Bian semangat sekali.


Wafa awalnya ragu dengan bentuk bubur yang duda kaya itu buat. Tapi karena Zaka Yang meyakinkannya bahwa Bian juga bisa memasak meski tidak semua jenis makanan, akhirnya Wafa pun mau makan.


"Bagaimana rasanya?" tanya Bian penuh harap, setelah Wafa mencicipi buburnya.


Bian mengangguk. "Tidak buruk, ini jauh lebih cukup daripada buatan Inneke." jawabnya.


"Aku lagi?" Inneke protes.


"Habiskan saja. Aku akan merasa senang jika kamu mau makan dulu karena aku buat."


Bian pun mengatakan akan mengantarkan Wafa ke dokter setelah wanita itu telah menghabiskan buburnya. Duda tampan itu juga akan bersiap setelah Wafa sudah selesai dengan sarapannya.


"Jika nanti kamu sudah selesai makannya, akan ada orang yang datang membawakan baju ganti untukmu. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit," kata Bian dengan penuh hangat.


"Baju?" tanya Wafa.


"Lagi?" Wafa masih teringat dengan gaun mahal kemarin malam.


Gadis itu kembali menyudutkan bibirnya, senyum keterpaksaan itu kembali tersirat di wajahnya.


'Kenapa lagi-lagi dia tersenyum dengan terpaksa? Apa yang aku lakukan ini adalah suatu kesalahan?' batin Bian.


"Jika kamu tidak suka, aku akan membuang baju itu. Senyamannya kamu saja, Wafa."


Melihat ketulusan Bian, membuat Wafa malah tidak enak hati. Wafa menolak karena tidak ingin merepotkan Bian saja sebenarnya. Gadis ini hanya tidak ingin sampai berhutang budi saja adalah seorang pria karena dirinya belum bisa menerima pria manapun setelah Ustadz Zamil menikah.


"Mas, apakah ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Wafa, memberikan mangkuk yang sebelumnya bekas bubur.

__ADS_1


"Aku merasa ini tidak terlalu berlebihan. Aku ingin kamu datang ke rumah sakit dan pakaian yang bagus saja. Bukan masalah harga atau yang lainnya. Kamu cantik sekali jika memakai baju seperti itu," ungkap Bian.


Jarang sekali Bian memuji kecantikan seorang wanita. Bagi Bian, melihat Wafa dalam balutan busana muslim, memang terlihat berbeda dibandingkan dengan wanita pada umumnya yang sering dijumpai.


"Tapi Inneke sebenarnya bisa mengambilkan baju untuk saya di apartemen bawah. Bukankah apartemen kita hanya atas bawah saja? Bukan begitu, Ke?" Wafa masih tetap berusaha menolak secara halus.


Tapi Inneke justru mengiyakan dengan apa yang dikatakan oleh Bian sebagai bentuk balas dendamnya. Juga akan lebih baik jika mereka di antar oleh Bian. Malah Inneke dengan senang hati memberikan izin pada Sakna.


"Eh, tapi bukankah kamu selalu bilang kalau aku tidak boleh menyentuh baju di lemarimu?" sahut Inneke.


"Masih ingatkah kamu ketika aku ingin meminjam bajumu dan malah mengobrak-abrik isi lemarimu? Apa kamu tidak takut jika aku kembali membuat pakaianmu berantakan?"


Inneke bukannya membantu malah membuat Bian semakin yakin ingin mengantarnya ke rumah sakit. Wafa memberikan isyarat sambil mencubit Inneke, tetapi sahabatnya tidak menghiraukannya.


Mau tidak mau, Wafa harus mau diantar oleh Bian ke rumah sakit. Sementara mereka ke rumah sakit, duda beranak satu itu menyuruh asistennya mengajak Inneke makan dulu sebelum mereka pergi menyusul.


Setelah menunggu Wafa dan Bian bersiap, dua orang yang sering berdebat ini tengah menikmati sarapannya. Keduanya sudah berada di dapur saat itu. Inneke yang suka makan tapi jarang bisa memasak enak hanya menonton Zaka Yang masak.


"Hei, kenapa kau diam saja? Tak bisakah kamu membantuku?" tegur Zaka Yang.


"Daripada kamu berdiri saja seperti itu, lebih baik ini ... Kau potong-potong saja sayur ini,"


Inneke menolak. Dia mengatakan kepada Zaka Yang jika sarapan itu tidak perlu harus memakan sayuran atau yang katanya sang asisten ingin membuat salad. Inneke memberi solusi untuk Zaka Yang supaya masak dengan cepat untuk sarapan, yaitu membuat waffle atau semacam makanan yang manis-manis.


"Kenapa harus sarapan yang manis-manis?" tanya Zaka Yang sibuk mengolah makanannya.


"Sebenarnya tidak baik sih, orang manis seperti aku ini makan yang manis-manis. Tapi alangkah baiknya kalau sarapan itu memang harus yang manis-manis supaya tidak eneg di perut," sahut Inneke penuh dengan kepercayaan dirinya.


Zaka Yang menaikkan alisnya. 'Dasar gadis gila. Dari mana dia mendapatkan kepercayaan diri yang begitu besar seperti itu?' batinnya.


"Oh, iya. Kita bisa saja sarapan dengan buah-buahan. Sama saja sehatnya, 'kan?" Inneke mengambil buah yang ada di sisi Zaka Yang.

__ADS_1


Tatapan datar Zaka Yang menyiratkan jika ia tidak menyukai tindakan Inneke. "Gadis pemalas!" ledeknya.


"Apa katamu?" sulut Inneke. "Potong sayur ya, potong saja. Sibuk pulaa kau mengurusi aku!" kesalnya.


__ADS_2