
Ustadz Lana merasa tidak nyaman karena ustadz Zamil yang terus menceritakan tentang Wafa, seolah dia paling tahu tentang gadis itu. Namun, ingin menyudahi obrolan pun bingung harus bagaimana.
"Dulu Wafa itu —"
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh," seru Wafa dari luar.
Pintu masih tertutup rapat dan belum terlihat orang yang mengucap salam, tapi suara cempreng gadis itu sudah menarik perhatian semua orang yang berada di rumah.
Cklek!
"Assalamu'alaikum, Abi. Eh, ramai sekali. Mbak Sari kapan datang? Sudah lama?" tanyanya sambil menyalami Abi dan Sari.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh, duduk dulu baru tanya-tanya," tegur pak kyai.
"He-he-he, iya, Abi. Ustadz Zamil, Ustadz Lana, kenapa duduk di luar?" tanya Wafa lagi.
"Iya, dari tadi itu. Padahal sudah sore begini, apa 'nggak digigitin nyamuk?" sahut pak kyai sambil menatap Sari.
"Biarin saja. Mungkin lagi asyik ngobrol. Habis dari mana, Fa?" Sari melongok ke pintu yang masih terbuka.
Terlihat Bian sedang melangkah masuk. "Selamat malam," sapa laki-laki itu yang kini berdiri di ambang pintu.
"Sama dia lagi?" bisik Sari di telinga Wafa.
"Iya, habis ngurusin sesuatu. Mmnh, Pak Bian mau duduk di sini atau mau gabung sama ustadz-ustadz di luar?" tanya Wafa.
"Saya mau duduk di sana saja." Bian melempar senyum, lalu berjalan masuk menyalami pak kyai.
"Iya, biar nyambung ngobrolnya kalau sesama anak muda," sahut pak kyai usai mempersilahkan Bian mengecup punggung tangannya.
"Baik, saya izin keluar dulu," pamitnya.
Bian pun menyapa kedua laki-laki di gazebo yang sedang asyik membahas kegiatan pondok. Sekarang, ustadz Lana tidak bosan lagi karena ustadz Zamil sudah mengangkat topik lain untuk bahan obrolan mereka.
Kedatangan Bian malah membuat kedua ustadz tampan itu semakin membahas tentang kepengurusan pondok, sengaja membuat Bian bingung karena dia sama sekali tidak paham.
"Ngobrol dong, kenapa diam saja, Pak Bian?" tegur ustadz Zamil menatap Bian.
Namun, Bian hanya mengulas senyum, lalu mendengarkan kembali obrolan mereka berdua. Sementara itu, Zira menghampiri Wafa dan Sari yang sedang duduk bersama abi mereka. Gadis itu langsung memeriksa paper bag yang berada di samping sofa, tanpa meminta izin dari pemiliknya.
"Wiih, habis belanja-belanja, nih?" ucap Zira.
"Ish! Jangan usil!" tampik Wafa sambil merebut paper bag miliknya.
__ADS_1
"MasyaAllah, anggun sekali cara naboknya," celetuk Zira sambil mengusap tangan yang baru saja dipukul Wafa.
"Abi, Wafa mau ke kamar dulu, ya. Mau mandi," pamit Wafa tanpa rasa bersalah sudah memukul Zira.
"Iya, Nduk," sahut abi-nya.
"Ecieee sekarang pergi terus sama Pak Bian. Ada urusan atau sengaja jalan berdua hayoooo," goda Zira saat Wafa akan pergi ke kamarnya.
"Lagi senang-senangnya dia, Dek. Biarin aja," balas Sari sambil tertawa kecil.
"Hmmm, kalau bukan karena ada sesuatu penting yang harus diurus, aku juga 'nggak bakal pergi-pergi," jawab Wafa seraya berlalu.
Begitu Wafa sudah masuk ke kamar, Sari memikirkan tentang hubungan Wafa dengan Bian mengingat belakangan ini mereka sering pergi berdua. Ternyata hal yang sama juga dipikirkan oleh Zira dan pak kyai.
Mereka bertiga saling menatap, lalu Zira lebih dulu berkata, "Mungkin hubungan Wafa sama Pak Bian tidak hanya sekedar mengurusi bisnis, Paman. Mereka sering sekali pergi berdua."
"Bisa jadi. Mengurus yayasan mungkin hanya sebagai pengalihan saja, Bi," timpal Sari.
"Kalian berdua jangan suudzon. Mungkin mereka memang sedang mengurusi sesuatu yang berkaitan dengan yayasan, makanya sering pergi bareng," balas pak kyai sambil melempar senyum.
"Tapi aku curiga kalau Wafa memang memiliki hubungan khusus dengan laki-laki itu. Soalnya dari raut wajah Wafa saja terlihat beda, Bi. Terlihat lebih bahagia kalau lagi sama Bian," ujar Sari lagi.
"Maaf, Pak Kyai … ini sudah hampir malam, jadi, saya mau izin pulang," kata Bian tiba-tiba—menyela obrolan mereka.
"Apa tidak sebaiknya tinggal dulu, Pak Bian? Sudah nanggung mau Maghrib juga," sahut pak kyai.
"Tidak enak kenapa? Lagian, ada ustadz Zamil, ada ustadz Lana juga di sini. Jadi jangan 'nggak enak hati." Pak kyai menimpali.
Mendengar ucapan pak kyai yang seolah menahan Bian agar tidak pulang, ustadz Lana dan ustadz Zamil langsung merasa cemburu. Adanya Bian di sana pasti akan menarik perhatian Wafa. Apa lagi—belakangan ini mereka memang sangat dekat.
"Iya, Pak Bian. Nanti Zira mau masak, biar Pak Bian bisa mencicipi masakan Zira yang sangat sangat sangat lezat," rayu gadis itu.
"Tapi …."
"Sudah, duduk dulu sini. Sebentar lagi adzan Maghrib. Pamali kalau nekat menempuh perjalanan," kata pak kyai sambil menepuk sofa kosong di sebelah.
"Pak Bian, sini duduk," pinta Zira dengan suara lembut yang terdengar begitu manja.
"Kami mau sholat dulu. Kamu nunggu di sini. Nanti kalau butuh apa-apa bisa manggil Mas-mas pondok yang lagi piket di dapur," ucap pak kyai pada Bian.
"Baik, Pak kyai," sahutnya.
"Sari, Ustadz Lana, Ustadz Zamil, Zira, ayo kita ke Mushola untuk melaksanakan sholat. Nanti lanjut ke aula utama, tadarus Al-Qur'an seperti biasa sambil menunggu waktu sholat Isya," perintah pak kyai.
__ADS_1
"Zira mau manggil Wafa dulu, Bi," pamit gadis itu.
"Iya, Nduk." Ayo yang lain langsung ambil wudhu." Pak kyai kembali memerintah.
****
Suasana ruang tamu mendadak sepi saat semua orang pergi ke mushola. Bian pun mengantuk karena tidak ada teman bicara. Akan tetapi, saat membuka handphone, ketahuan jika ternyata Wafa sedang online di room chat. Dia tersenyum tipis sambil mengirim pesan untuk gadis itu.
Pak Bian
Nona Wafa
Pak Bian
Nona Wafa
Pak Bian
Nona Wafa
Pak Bian
Nona Wafa
Pak Bian
Nona Wafa
Pak Bian
Nona Wafa
Pak Bian
Nona Wafa
Pak Bian
Nona Wafa
Pak Bian
"Dih, Pak Bian apa-apaan sih?" batin Wafa sambil menahan malu.
__ADS_1
Setelah itu room chat Bian offline. Wafa senyum-senyum sendiri sambil membaca ulang pesannya dengan Bian barusan. Sampai tidak mendengarkan sama sekali kajian yang disampaikan oleh ustadz Zamil sebagai guru kunjungan hari ini.
Padahal tanpa Wafa sadari, ustadz Zamil sesekali melirik ke arahnya. Laki-laki itu tahu jika Wafa senyum-senyum sendirian, tapi membiarkannya saja karena tidak melihat bila Wafa sedang main handphone secara diam-diam.