
Sholat taubat dilakukan sebelum sholat magrib ternyata. Ia juga mandi taubat dulu, lalu baru beribadah dan memohon ampun pada sang pemberi hidup.
"Ya Allah, jauhkan hambamu ini dengan harapan yang tidak pasti. Tolong jangan sampai aku jatuh cinta terlalu dini dengan seorang yang tidak seharusnya aku cintai,"
"Ya Allah, kenapa Pak Bian begitu baik padaku? Langkahku sudah terlalu jauh, semuanya membuatku takut, bahkan ... bahkan ...."
Wafa tak bisa lagi melanjutkan apa yang menjadi keluhannya. Tiba-tiba Wafa menangis tersedu-sedu, gadis ini mengatakan bahwa dirinya begitu malu sampai meminta pada Tuhan. Ia merasa bahwa dirinya sudah banyak bersalah pada Tuhannya, dengan menandatangani kontrak perjanjian dengan Bian yang dinilai suatu keburukan.
"Aku harus bagaimana jika nanti Pak Bian memberitahu tentang surat kepemilikan itu?"
Ketika Wafa melipat mukenanya, sahabatnya mengetuk pintu dan mengatakan bahwa Bian sudah datang. Inneke juga meminta Wafa segera untuk menemui duda tampan itu.
"Tolong cepatlah, aku tidak ingin berlama-lama dia ada disini," pinta Inneke lirih.
"Apa? Aku tidak mendengarmu, Ke. Bisa kamu masuk saja? Lagipula, aku hanya sedang melipat mukenaku," sahut Wafa.
Inneke langsung masuk, menutup pintu rapat-rapat, lalu menghampiri Wafa. "Heh, cepatlah sedikit. Pria kaya itu sudah menunggu disana," bisiknya dengan menyentil bahu Wafa.
"Iya, ini juga sudah selesai. Kenapa kamu ini? Mana memintaku terburu-buru pula," tanya Wafa masih merapikan jilbabnya.
"Entah kenapa aku mulai tidak nyaman saja tinggal di sini," kata Inneke, duduk di sudut ranjang. "Wafa, bagaimana kalau kita tinggal di hotel saja? Tenang saja aku yang akan bayar," usulnya dengan raut wajah panik.
"Heleh, maksudnya apa, sih?" tanya Wafa heran dengan sahabatnya. "Tapi apa yang kamu katakan ini benar. Alangkah baiknya kalau kita menyewa penginapan lain atau di hotel saja," Wafa mulai memikirkannya.
Tiba-tiba, pikiran Inneke berubah lagi. "Eh, Pak Bian sudah menyiapkan tempat tinggal untuk kita, kenapa juga kita harus ke hotel? Sayang duit, Wafa, sayang!"
Raut wajah Wafa langsung berubah. "Entahlah, aku paling malas kalau kita selalu membahas yang ujung-ujungnya tidak menemukan kepastian seperti ini, Inneke." ujarnya.
__ADS_1
"Lagipula kenapa kamu juga tadi menyarankan menginap di hotel? Tentu saja aku malah mau lah!" sambung Wafa, sudah siap untuk bertemu dengan Bian. "Sudahlah, ayo kita keluar." ajaknya.
Wafa melihat Bian dan asistennya sedang duduk di sofa tamu. Bian terlihat sangat sibuk dengan melihat ponselnya, sementara sepasang mata Zaka Yang, sedang menatapnya seakan menyiratkan sebuah kata ancaman. 'Astaghfirullah, kenapa pandangan mata Tuan Zaka begitu banget padaku, ya?' batin Wafa.
"Selamat malam, Pak Bian," sapa Wafa.
"Malam, Wafa. Silahkan duduk," Bian mempersilahkan Wafa duduk di depannya.
Wafa dan Inneke duduk secara perlahan, mereka seperti gadis lugu yang sedang dikuasai oleh Mafia jahat yang menakutkan.
"Apa kamu sudah makan, Wafa?" tanya Bian basa-basi.
Wafa mengangguk.
"Maaf, malam ini saya tidak jadi mengajakmu berbelanja. Hari ini saya begitu sibuk sampai meninggalkanmu bersama dengan dia," lirik Bian, pada Zaka Yang. "Apa yang dia katakan padamu tentang diriku, jangan percaya. Dia pendusta!" imbuhnya.
Zaka Yang hanya bisa terpaku saja karena tak mungkin dia meladeni Inneke. Terakhir, ketika Zaka Yang meladeni Inneke, berujung pada perdebatan dan hal itu membuat pria ini semakin pusing saja.
"Temanku benar. Ayo, kirim nomor rekeningmu, aku akan memberimu hadiah," Bian langsung semangat.
"Wow, Daebak! Tentu saja, ini rekeningku!" dengan senang hati Inneke memberitahu nomor rekeningnya pada Bian.
Tak lama kemudian, Bian menunjukkan bukti transfernya.
"Wah, Xie Xie, Pak Bian! Xie Xie," ucap Inneke girang.
Wafa dan Zaka Yang saling bertatap, keduanya sampai heran dengan tingkah Bian dan Inneke. "Tuan, apa ini tidak berlebihan?" tanya sang asisten. "Maksud saya, a—“
__ADS_1
Belum juga Zaka Yang mengatakan semuanya, Inneke sudah memotongnya. "Heh! Apa maksudnya? Apakah Pak Bian melakukan kesalahan? Kamu bahkan tidak melihat bentuk kedermawanan, asisten yang menyebalkan, jomblo berkarat!" Inneke sampai meledek.
Yang dipuji pun juga membusungkan dadanya. Membuat Wafa bisa menepuk keningnya. Ia sampai merasa jika situasi saat itu persis sekali ketika dirinya sedang berada di yayasannya. Sama halnya Wafa sedang mengasuh anak-anak asuhnya di sana dan mereka sedang mengungkap perasaannya dengan saling bertengkar.
"Cukuplah, kalian sudah dewasa. Mengapa sampai ribut-ribut, sih?" Wafa mencoba menengahi mereka.
"Ih, nggak asik! Sok serius lu!" protes Inneke, melipat kedua tangannya dan menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Hm, memang kita mau membahas hal serius, 'kan?" Wafa sedikit kesal saja dengan sahabatnya karena semakin akrab dengan Bian, itu sama saja akan semakin sulit dirinya menjauh dari Bian.
Bian pun menghadap Wafa. "Iya, benar sekali. Kita akan membahas hal penting malam ini."
Mereka pun membahas upacara peringatan kematian ayahnya Bian yang akan diselenggarakan besok malam di kediaman Huang tentunya. Sebelum malamnya datang ke acara peringatan tersebut, Bian ingin sekali mengajak Wafa pergi berbelanja dan membeli baju baru untuk dikenakan malam harinya.
"Loh, untuk apa baju baru?" tanya Wafa. "Kebetulan saya membawa gaun yang kemungkinan akan cocok dipakai di acara tersebut, Pak Bian. Saya akan menunjukkan pada anda gaun saya itu," Wafa hanya tak ingin menambah hutang lagi dengan Bian.
"Wafa, sebelumnya saya minta maaf. Bukan maksud saya untuk menghina kamu atau yang lain sebagainya. Tapi dalam acara itu akan ada banyak keluarga yang datang dan tentunya sahabat-sahabat dari teman bisnis," ucap Bian dengan ketulusan.
"Dengarkan saya. Banyak sekali dari keluarga besar saya yang tidak menyukai kehadiran saya. Dalam acara itu saya tidak ingin kamu dipermalukan, Wafa. Saya mengajak kamu datang kemari," katanya. "Um ... dan sesuai dengan janji saya pada Ayah serta kakakmu untuk menjagamu disini—" lanjut Bian, menatap kedua bola mata Wafa begitu dalam.
"Percayalah saya menghargai karena sudah membawa gaun sendiri. Tapi tolong bantu saya besok malam, jangan pernah kamu permalukan dirimu sendiri, pergilah bersamaku besok untuk membeli gaun yang bisa setara dengan kriteria keluarga Huang, hm?" Bian sebenarnya juga tidak mau mengatakan hal seperti itu karena takut menyinggung perasaan Wafa.
Inneke sudah siap-siap meledak, ia baru saja mau membuka mulut, tapi sudah dihentikan lebih dulu oleh Wafa dengan menyentuh pahanya.
"Pak Bian, ini ada acara keluarga anda. Saya tidak akan keberatan jika Bapak ingin membelikan saya sebuah gaun. Saya ikut saja apa yang Pak Bian putuskan." kata Wafa dengan senyuman tipisnya.
Dari sorot matanya, Bian sudah paham jika gadisnya ini sedang kecewa. Suasana pun menjadi canggung, mereka berempat saling diam. Bian sendiri juga merasa tidak seharusnya ia mengatakan hal yang menjurus ke pembahasan kasta, derajat dan lainnya.
__ADS_1
'Maafkan saya, Wafa. Besok, alangkah baiknya aku jelaskan lagi maksud dari perkataanku tadi. Aku tahu kamu kecewa padaku, tolong maafkan aku.' Bian menjadi tidak tenang hati.