
Selama di perjalanan, Wafa memilih untuk mendengarkan murotal melalui headset ponselnya. Bahkan Wafa juga memejamkan matanya supaya tidak terlalu gugup ketika duduk disampingnya Bian. Tidak semua orang tua lengkap yang ikut serta di acara teknik PAUD tersebut. Ada yang hanya bersama dengan ibu dan juga pengasuhnya saja. Bahkan ada juga yang mengajak paman dan bibinya.
Tapi kali itu memang Grietta yang ingin sekali mengajak Wafa dan ayahnya berpartisipasi dalam acara piknik tersebut. Bian tak henti-hentinya menatap wajah ayu Wafa, ia memanfaatkan waktu Wafa memejamkan mata untuk menatapnya.
'Wajahnya bersih sekali. Sepertinya dia hanya memakai riasan tipis, tapi wajahnya terlihat fresh dan bersih. Apa gadis seperti Wafa juga melakukan perawatan ke Salon?' batin Bian penasaran.
Saat Bian sibuk menatap Wafa, salah satu guru dari paud menghampiri mereka.
"Selamat siang, Tuan Hutomo. Bolehkah ... istrinya dibangunkan sebentar, kita mau foto soalnya," ucap Miss Tammy, nama dari guru itu.
"Oh, baiklah. Tunggu sebentar, ya." sahut Bian.
Dengan lembut, Bian membangunkan Wafa. Perlakuan lembut Bian ini menuai kecemburuan oleh beberapa orang disana. Terutama Miss Tammy yang memang mengagumi seorang Bian.
"Sayang, bangun. Sayang ..."
Panggilan Sayang itu seketika membuat Wafa terkejut. Meski telinganya ditutupi menggunakan headset, tetap saja Wafa bisa mendengar suara Bian karena dia tidak benar-benar tidur.
"A, i-iya ..." Wafa membuka matanya dan juga headsetnya. 'Kenapa Pak Bian pakai nyebut aku sayang, sih?' batinnya.
"Maaf Nyonya Hutomo. Kami mau foto bersama dan ada terlihat lucu di kamera jadi saya ingin membangunkan anda, supaya fotonya terlihat bagus," ucap Miss Tammy.
Wafa menjadi malu sendiri, pipinya memerah seperti tomat. "Oh, hehe. Maaf, ya ..."
Miss Tammy pamit, kemudian seluruh bus pun mulai berfoto bersama. Melihat Bian dan Wafa ada jarak, Miss Tammy meminta keduanya untuk lebih dekat lagi dan tersenyum supaya terlihat ceria di foto.
"Tuan dan Nyonya Hutomo silahkan agak merapat. Bagi Tuan dan Nyonya semuanya juga foto yang romantis, ya. Foto ini nanti akan saya pajang di mading," pinta Miss Tammy.
__ADS_1
Ckrek!
Ckrek!
Meski terasa canggung, tapi itu hanya sebentar saja. Kemudian Wafa kembali ke tempat duduknya dan menjaga jarak lagi. Bian pun begitu, dia memalingkan pandangannya dan melihat ke luar. Kebetulan yang ada di pojok saat itu adalah Bian.
Setelah kurang lebih 15 menit, sampailah mereka di sebuah wahana permainan keluarga. Ada banyak mainan, kolam renang, bahkan shot foto yang bagus-bagus.
Untuk wali murid, silahkan anda menikmati waktunya lebih dulu. Anak-anak akan kami bawa keliling dan juga mengikuti kelas edukasi. Di dalam sana ada edukasi taman kelinci, nanti sekitar 1 jam mendatang, kita berkumpul lagi di sini. Terima kasih, dan sampai berjumpa lagi. Ayo, anak-anak, peluk Papa dan Mama kalian.
Anak-anak langsung menyerbu ke arah para orang tua. Orang pertama yang dipeluk oleh oleh Grietta adalah Wafa. Senyum lebar gadis kecil itu membuat Wafa dan Bian bahagia juga. Bian membela rambut gadis kecilnya.
"Pergilah, nanti kita berjumpa lagi. Ingat, perhatikan apa yang Miss sampaikan padaku, ya?" tutur Bian.
Grietta hanya mengangguk, kemudian meminta Wafa untuk berjongkok.
Grietta menarik Wafa sampai dia jongkok di depan gadis kecil itu. Cup~ satu kecupan manis untuk Wafa dari Grietta. Kemudian, Bian pun juga mendapat ciuman itu. Gadis kecil ini tidak egois, tahu bahwa Bian dan Wafa bukan pasangan, dia tidak meminta keduanya saling mencium, sama halnya yang dilakukan teman-temannya.
Meninggalkan putri kecilnya bersama dengan guru dan teman-temannya, Bian mengajak Wafa berkeliling. Ketika mereka sedang menikmati suasana aku ada permainan, salah satu pengasuh dengan pengasuh yang lain dari anak-anak temannya Grietta sedang membicarakan keduanya.
"Kalian tadi lihat nggak, orang tuanya Grietta?" tanya salah satu dari perkumpulan pengasuh itu.
"Iya, iya ..."
"Jadi itu ibunya Grietta. Kok, berjilbab, ya? Apa Grietta dan Papanya juga seorang muslim? Tapi bukankah Bento kemarin itu bulunya daging pork, ya? Grietta makan, loh!"
"Aih, benar. Kemarin aku lihat Grietta makan bento daging itu. Apa jalan-jalan mereka menikah dengan keyakinan mereka masing-masing. Tapi bukannya itu illegal, ya?"
__ADS_1
"Ck, ilegal darimana? Mereka tetap bisa menikah tapi tidak tercatat di KUA hanya di catatan sipil saja dan nantinya akan menerima akta pernikahan, bukan buku nikah yang dari KUA itu." jelas salah satu dari mereka.
Apa yang mereka bicarakan ternyata didengar oleh Bian dan juga Wafa. Tidak ingin Wafa berpikiran lebih jauh dan menjadi tersinggung, Bian menutup telinga Wafa menggunakan kedua telapak tangannya. Perlakuan undian itu membuat Wafa semakin tidak karuan perasaannya.
"Jangan dengarkan mereka. Ayo, kita lanjutkan saja jalan-jalannya," ucap Bian, masih dengan kedua telapak tangannya yang menutupi telinga Wafa.
Tentu saja semua itu terhalang dengan kain jilbabnya Wafa. Tapi perlakuan Bian membuat jantung Wafa berdebar. Dan langkah kakinya tiba-tiba menjadi terasa enteng dan mengikuti kemana Bian membawa pergi.
'Apa aku akan berakhir sama seperti masa lalu? Jatuh cinta kepada seorang pria dan mencintainya diam-diam? Sudah itukah aku jatuh cinta?' batin Wafa.
Wafa kembali menatap wajah Bian yang saat itu terlihat serius. Tidak ada perkataan apapun yang keluar dari batinnya, hanya menatap wajah Bian, kemudian melihat ke arah depan. Sampai keduanya berhenti di sebuah taman-tamanan kecil yang memang digunakan untuk berfoto.
Ketika Bian melepaskan telapak tangannya yang tadi digunakan untuk menutup telinga Wafa, disitulah Wafa baru tersadar.
'Astaghfiullah hal'adim,' sebut Wafa dalam hati. 'Ya Allah cobaan apa lagi ini?'
Bian mengajak lafal duduk di bangku kecil yang ada di sana. Tanpa ragu pun Wafa mengikuti ajakan Bian. Satu bulan lebih mereka menghabiskan waktu bersama. Dua kali sehari selalu bertemu dan dalam waktu sehari bertemu lebih dari satu kali. Jika Wafa jatuh cinta pada pria yang berperawakan lembut ini, tentu saja tidak salah.
'Kenapa tidak Ustadz Lana saja yang ada di posisinya Pak Bian. Jika seperti itu, bukankah tidak ada halangan yang besar?' gumam Wafa dalam hati.
Seketika, Wafa tersadar. 'Astaghfirullah, Wafa! Apa yang kamu pikirkan ini? Sadarlah! Sadar dengan kontrak kalian, ingat juga jika Pak Bian tidak mungkin menyukaimu!'
Wafa terus bergelut dengan hatinya. Tak ingin terlibat dalam urusan cinta dalam diam karena itu sama saja akan menyakiti dirinya sendiri. Tuhan tidak salah memberikan Wafa hati, sehingga membuatnya jatuh cinta pada Bian. Tapi waktu dan tempatnya saja yang tidak tepat.
'Aku harus memastikan dulu dengan apa yang aku rasakan. Jika aku menyukainya, lalu bagaimana dengannya? Bukankah itu akan menyakitkan jika bermain cinta hanya sepihak? Pak Bian, aku harap kamu Ustadz Lana, tapi itu tidak mungkin. Kalian dua pria yang berbeda.'
Wafa memasrahkan diri pada sang Pencipta. Waktu yang Wafa dan Bian miliki juga baru sebentar bersama. Wafa tidak ingin langsung yakin jika dirinya jatuh cinta dengan duda tampan itu.
__ADS_1