Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Kekenyangan


__ADS_3

Kedatangan Bian disambut baik oleh keluarga Wafa. Akhirnya malam itu Bian dan Ustadz Lana bertemu secara langsung. Perlakuan baik keluarga Wafa terhadap Bian juga membuat Ustadz Lana kagum.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam Wafa.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh ..."


Semuanya sudah berada di meja makan.


Pak Kyai pun memperkenalkan Bian yang masih kaku kepada Ustadz Lana. "Pak Bian, perkenalkan ... namanya Maulana, atau sering dipanggil dengan Ustadz Lana. Beliau ini ada—"


"Saya temannya Reyhan, kakak sepupunya Wafa. Anda ini ...." sebelum Pak Kyai menyebut bahwa dirinya adalah pria yang sudah melamar Wafa, Ustadz Lana menyelanya.


'Jadi ini pria yang melar Wafa? Hm, pria ini terlihat tidak sederhana.' batin Bian.


Keduanya bersalaman. Saat itu Wafa benar-benar tidak bisa berkutik dan hanya bisa patuh ketika Zira mempersiapkan tempat duduknya.


Malam itu, Bian duduk diapit oleh Reyhan dan Ustadz Lana. Sementara Pak Kyai duduk di dekat Wafa dan Zira. Dian tidak ikut hadir karena harus pulang menemani ibunya yang sedang sakit.


"Nih, aku akan ambilkan untuk Wafa dan paman," ujar Zira. "Wafa, apa cukup?" tanyanya ketika selesai mengambilkan nasi untuk Wafa.


"Cu-cukup, ini sudah cu-cukup," jawab Wafa gugup.


Tangan Zira terhenti ketika ingin mengambil sayur untuk Wafa. Gadis ini menoleh ke arah sepupunya dan mempertanyakan mengapa sepupunya terdengar gugup ketika menjawab. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Zira.


"Siapa?" Wafaz tidak fokus, jadi tidak paham apa yang ditanyakan oleh Zira.


"Ck, ya kamu lah!" Zira yang kesabarannya setipis tisu ini langsung menyulut. "Jika kamu ada masalah, cerita saja. Jangan dipendam sendiri, tidak baik." imbuhnya.


"MasyaAllah, Zira. Kamu ini seorang perempuan, tapi kok, tidak ada lembut lembutnya kalau bicara. Mbok ya, yang lembut sedikit gitu," tegur Pak Kyai.


Zira hanya tersenyum. Di meja makan sudah tersedia beberapa jenis lauk dan sayur. Pak Kyai sudah meminta semua untuk mulai makan, terutama Pak Bian dan Ustadz Lana yang sedari tadi hanya menatap makanan saja.


"Pak Bian, Ustadz Lana, ayo!" ujar Pak Kyai. "Silahkan dinikmati, nanti keburu dingin kalau hanya dilihat saja," katanya.


Wafa dan Bian saling melihat. Wafa menatap Bian seolah jika dirinya minta maaf karena harus makan lagi setelah makan banyak sebelumnya. Sementara balasan Bian, dia hanya tersenyum hangat, mengedipkan matanya seakan menjawab jika dia baik-baik saja.


"Pak Bian, saya ambilkan lauknya, ya, " ucap Reyhan, di sebelahnya.

__ADS_1


"Oh, baiklah—" ingin menolak, tapi tidak mungkin bagi Bian.


Kembali Wafa menatap Bian, balasan Bian pun masih sama. Tatapan yang hangat, senyum yang tipis tapi terlihat begitu tenang.


Makan malam berlangsung dengan khidmat. Baik Wafa atau Bian sama-sama kekenyangan karena mereka sudah makan sebelumnya dan harus makan lagi dengan porsi yang banyak juga. Setelah acara makan-makan selesai, biar langsung pamit pulang.


Jalan dengan sedikit tertekan di bagian perut, Pian tetap menunjukkan ekspresi biasa saja terhadap keluarga Wafa karena tidak mungkin menunjukkan harga dirinya sedang kekenyangan.


Rahang duda kaya ini menegang, menahan sesaknya perut yang begah. Ketika sampai di luar, barulah Bian menghela nafas panjang.


"Huft ..."


"Maaf," tiba-tiba terdengar ucapan itu dari mulut Wafa.


Ucapan maaf dari Wafa dibalas dengan tatapan hangat lagi oleh Bian. Pria ini ternyata memiliki kelembutan terhadap wanita. Senyum menawannya membuat Wafa salah tingkah.


"Bapak terus saja menatap saya seperti itu. Jika saya mengartikan lain, bagaimana?"


"Saya langsung pulang saja, ya. Badan saya berat sekali. Lihatlah perut ini, sudah tidak mampu diajak berdiri. Selamat malam dan selamat istirahat, ya—" Bian membuka pintu mobilnya.


Bian mengangkat telapak tangannya. Dia tidak mau diajak bicara dulu karena masih kenyang.


Mereka berpisah malam itu. Sampai mobil Bian keluar dari area pesantren, Wafa masih berdiri di halaman rumahnya. Disusul oleh Ustadz Lana yang juga mau pulang.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam Ustadz Lana.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Ustadz Lana, anda mau kemana?"


"Saya mau ke pesantren. Malam ini Reyhan mengajak saya menginap," jawab Ustadz Lana. "Kamu sendiri, belum mengantuk? Kenapa masih di sini?" tanyanya.


Wafa menjawab jika dirinya baru mengantar Bian. Menyebut nama Bian membuat Ustadz Lana tidak begitu senang, namun juga tidak benci. Pada dasarnya Wafa juga belum menjadi mahramnya. Ustadz Lana sadar diri akan hak itu.


"Sebelumnya kamu pernah membentak saya dengan menyebut nama Pak Bian. Apa Pak Bian yang kamu maksudkan itu, beliau tadi?" tanya Ustadz Lana.


Deg!


Wafa terkejut, tak menyangka jika Ustadz Lana masih mengingatnya. Wanita itu menjadi malu sendiri karena kecerobohannya.

__ADS_1


"Ustadz, tolong bantu saya," pinta Reyhan dari belakang. "Ini berat sekali. Tolong ya—" imbuhnya.


Reyhan membawa beberapa buku yang dikemas dalam kardus. Buku cerita islami itu disumbangkan oleh Bian beberapa hari lalu, baru sampai sore tadi dan mulai di rapikan oleh Reyhan.


"Apa ini?" tanya Wafa.


"Ini bikin dari Pak Bian. Sore tadi baru datang. Untung saja bea cukainya sudah dibayar oleh beliau. Kalau tidak—bisa menguras kantong kita!" jawab Reyhan.


Wafa sendiri malah tidak tahu jika Bian mengirim buku islami ke pesantren. Dijelaskan oleh Reyhan juga, bahwa Bian juga mengirim pakaian dari Tiongkok sana untuk anak-anak di yayasan.


"MasyaAllah, mulia sekali Pak Bian ini. Pendiam tapi ternyata memiliki hati yang indah," sanjung Ustadz Lana.


"Ayo, Ustadz. Tolong bantu aku. Masih ada di dalam sana. Aku sampai lupa juga mengatakan terima kasih pada Pak Bian tadi," ujar Reyhan. "Wafa, tolong sampaikan terima kasih kami padanya, ya. Terima kasih."


Wafa mengangguk pelan. Gadis ini masih syok dengan kebaikan Bian yang tidak terduga. Hati gadis ini menjadi bingung mengenai sikap Bian yang tidak mudah ditebak.


***


Sesampainya di rumah, Bian berjalan dengan gaya yang lucu seperti robot. Pria ini kekenyangan sampai mau muntah tapi masih ia tahan supaya tidak sampai keluar makanan yang ia makan.


"Tuan, anda sudah pulang? Saya sudah menyiapkan ruang kerja untuk anda. Ada beberapa berkas yang harus diperiksa malam ini," sambut Zaka Yang, membawa banyak tumpukan map di tangannya.


Bian tidak mempedulikan asistennya, ia berjalan melewatinya.


"Tuan, anda kenapa?" tanya Zaja Yang, sadar dengan langkah kaki Bian yang aneh. "Oh, apakah anda mau ke toilet, atau mau makan lagi?" imbuhnya.


Criiiing .....


Mata Bian seperti mengeluarkan laser ketika mendengar kata 'makan' dari mulut asistennya. Bian juga menggerakkan tangannya menarik kerah baju Zaka Yang.


"Apa kau sudah bosan hidup?" desis duda tampan itu.


"Cukup katakan saja bagaimana caranya kamu ingin mati. Aku akan melakukannya untukmu."


Zaka Yang yang tidak tahu apa-apa menjadi korban amukan Bian malam itu. Hampir saja Bian mau muntah karena banyak bicara dan bergerak. Tanpa mengatakan apapun, Bian melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju Zaka Yang dan berjalan menuju kamarnya.


Perilaku Tuannya itu membuat sang asisten bingung.

__ADS_1


__ADS_2