Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Kabar Baik


__ADS_3

Wafa sedikit tidak suka rupanya jika Bian mengungkit tentang hubungannya bersama dengan Flanella. Padahal Wafa sendiri memang belum hadir dikala hubungan Bian dan Flanella ada.


'Hatiku ini kenapa. Astaghfirullah hal'adzim, ada baiknya memang aku harus perlahan menjauh darinya. Ini semakin menyiksa saja.' keluh Wafa dalam hati.


"Hei, kenapa kamu melamun? Apakah kamu dengar apa yang saya katakan?" Bian bertanya.


"Hm, iya, Mas," Wafa menjawab dengan gugup.


"Baiklah, kita harus mencari kemana lagi? Saya tidak tahu jalanan sekitar sini. Apa kamu tahu jalan?" tanya Bian lagi.


Wafa masih belum nyaman perasaannya. Masih ada rasa yang tak bisa ia artikan sendiri. Menjawab pertanyaan Bian dengan ala kadarnya. Lalu menawarkan diri untuk menyetir.


"Bagaimana jika saya saja yang menyetir? Mungkin saya bi—" belum juga Wafa menyelesaikan perkataannya, Mbak Nur meneleponnya.


"Telepon dari siapa?" tanya Bian, berharap informasi tentang putrinya.


Wafa menunjukkan ponselnya "Mbak Nur," jawabnya.


Bian meminta Wafa segera menjawab telepon tersebut.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa Mbak Nur?" tanyanya.


'Mbak Wafa, gawat! Saya lihat dari cctv depan, yang mengarah ke jalan raya. Saya melihat ada seorang anak kecil digendong oleh seorang pria. Sungguh mengerikan, Mbak!'


Telepon dari Mbak Nur di loudspeaker oleh Wafa. Mendengar pernyataan dari Mbak Nur, Wafa dan Bian saling memandang. Mereka satu pemikiran, yakni beranggapan jika anak kecil tersebut adalah Grietta.


"Mbak, bisa kirimkan hasil rekaman cctv itu? Sekarang juga, bisa tidak?" tanya Wafa.


'Waduh, untuk apa, Mbak? Jangan ikut campur, Mbak. Lagian juga rekaman itu sudah sekitar 2 jam yang lalu dan pas—’


"Mbak Nur, saya membutuhkan rekaman itu sekarang juga!" tegas Wafa.


'Um, baiklah, baiklah. Saya kirim sekarang, assalamualaikum,'


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."

__ADS_1


Mbak Nur menutup teleponnya. Wafa kembali melihat Bian. "Kenapa kita tidak kepikiran dengan cctv jalanan? Ada beberapa toko juga yang memiliki cctv mengarah ke jalanan, kenapa kita kepikiran sampai kesana?" ujarnya.


"Saya bahkan tidak tahu jika ada cctv. Jadi saya tidak berpikir sampai kesana," sahut Bian lirih.


Kling~


Satu pesan masuk. Itu adalah video dimana rekaman cctv yang Mbak Nur kirimkan.


"Sudah terkirim," kata Wafa.


Video itu diputar dan dilihat secara seksama. Berkali-kali Wafa dan Bian memutar dan nge-zoom hasil rekaman cctv tersebut. Memang tidak langsung mengetahui siapa gadis kecil dan pria dewasa yang ada di dalam rekaman itu. Tapi setelah beberapa kali dicek, akhirnya Wafa pun paham.


"Ustadz Lana," sebutnya lirih.


Sama halnya dengan Wafa yang sedikit tidak terima jika Bian mengungkit tentang masa lalunya bersama dengan Flanella, Bian juga tidak menyukai ketika Wafa menyebut nama Ustadz Lana.


'Gadis ini ... benar-benar membuat mood semakin buruk saja. Bisa-bisanya dia menyebut nama pria lain di depanku?' kesal Bian.


"Ini memang Grietta, Mas. Pria yang ada dalam rekaman itu adalah Ustadz Lana," jelas Wafa.


"Apa kamu yakin?" tanya Bian.


Bian pun memastikan kembali. Sungguh sangat disayangkan, rekaman yang sedikit jauh di sebrang jalan memang tidak membuatnya terlihat jelas. Mata sebelah Bian juga bermasalah, ia pun tidak bisa melihat dengan pasti.


'Sialan, mataku tidak bisa diajak kompromi. Alangkah baiknya jika aku mempercayainya saja,' batin Bian.


"Jika benar begitu, Ustadz itu tidak memberikan kabar kepada kita? Jika tidak dengan saya, seharusnya dia memberimu kabar, bukan?"


Apa yang dikatakan oleh Bian memang ada benarnya. Wafa pun berpikir sedemikian rupa. Seharusnya jika bukan Bian yang dihubungi, maka Ustadz Lana bisa saja memberi kabar pada Wafa.


"Untuk sementara ini berarti kita tidak perlu panik, Mas. Grietta pasti akan aman di tangan Ustadz Lana. Hanya saja ... kenapa ustadz Lana tidak menghubungi kita?" Wafa juga heran.


Namun setelah dipikir-pikir kembali, gambar yang dilukis oleh Grietta mengingatkan akan kekesalan gadis kecil itu kepada mereka berdua. Wafa menyadari itu.


"Mungkin saja Ustadz Lana tidak memberi kabar kepada kita karena Grietta yang meminta. Pasti Grietta berkata jujur pada Ustadz Lana, jadi ..."

__ADS_1


Tidak perlu Wafa menjelaskannya lagi, Bian juga sudah mau paham sekali apa yang dikatakan olehnya. Bian sangat lega karena putrinya berada di tangan yang tepat.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Waktu juga sudah masuk jam setengah tiga pagi. Bagaimana cara menemui Grietta, sedangkan Grietta saja sedang marah pada kita berdua?" tanya Bian.


"Entah, Mas. Apa kita harus menunggu kabar dari Ustadz Lana? Coba saya hubungi dulu beliau," usul Wafa.


Berkali-kali Wafa mencoba menelpon di nomor Ustadz Lana. Sayangnya tidak ada jawaban sama sekali. Makan ketika dikirim pesan, pesan tersebut hanya terkirim tapi belum terbaca.


"Telepon selulernya tidak aktif. Kemungkinan beliau kehabisan baterai atau memang sinyalnya tidak ada," kata Wafa.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Bian.


Wafa terdiam. Tak lama setelah itu, ada segerombolan remaja yang mendorong gerobak menuju ke masjid yang ada di dekat mereka. Remaja itu sepertinya bersiap mau membangunkan sahur dengan berkeliling.


"Ini baru jam tiga pagi, kurang sedikit. Mengapa ada sekelompok remaja yang berada di masjid?" tanya Bian.


Selama hidup, Bian datang ke Indonesia tidak pernah menemui waktu masuk bulan suci Ramadhan. Jadi itu pertama kalinya mengetahui bulan Ramadhan kala bersama dengan Wafa.


"Mungkin mereka hendak bersiap membangunkan sahur keliling. Ini masuk bulan Ramadhan. Kami orang muslim akan bangun makan sebelum adzan subuh untuk puasa disiang harinya sampai maghrib nanti," jelas Wafa.


Bian tercengang. Baginya memang masih sangat asing karena ia juga tumbuh dalam keluarga yang jauh dari agama Islam. Tapi dengan sabar dan dengan teliti, berhati-hati memilih kata-kata, Wafa pun menjelaskan. Bian sendiri juga sudah mulai paham.


Selang 2 menit, ada telepon masuk di ponsel Wafa.


"Telepon?" Bian sangat antusias.


"Alhamdulillah, Ustadz Lana sudah aktif kembali," tunjuk Wafa.


"Ayo, cepat jawab!" Bian mendekatkan telinganya ke telinga Wafa, karena ponsel itu akan di dekatkan di wajah Wafa.


'Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Wafa. Kamu meneleponku sebanyak 70 kali, ada apa?'


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Mengapa Ustadz tanya mengapa? Ustadz membawa Grietta bersama denganmu, mengapa tidak langsung memberi saya kabar?" tanya Wafa khawatir.


'Allahu Ya Karim, maafkan saya, Wafa. Ternyata pesan yang sebelumnya tidak terkirim karena sinyalnya tidak ada waktu itu. Ditambah lagi batre ponselnya habis. Maafkan saya, Wafa,'

__ADS_1


"Tapi Grietta memang bersama anda, kan?" tanya Wafa lagi.


Ustadz Lana pun menjawab, 'Benar. Saya bertemu dengannya di pinggir jalan tadi. Tapi sepertinya dia sedang marah kepada kalian berdua. Itu sebabnya saya tidak mengantar ke pesantren atau ke rumah Pak Bian,'


__ADS_2