
'Okay, saran telah diterima. Terima kasih dan selamat beristirahat kembali, selamat malam.'
Tuuut .... tuuuut ....
"Heh? Dimatikan? Udah begitu aja? Memang benar-benar ini si Wafa. Untung saja kau sahabatku!"
Inneke kesal dibuatnya, dia tidak bisa memaki sahabatnya. Jika orang lain, pasti Inneke sudah memaki hingga membuat stress dengan kata-katanya.
"Bajing-an memang. Ada saja yang menganggu tidur cantikku. Aku tidak bisa menyalahkan Wafa, tapi yang sebelumnya tadi? Huftt, sangat menyebalkan!" umpatnya.
Inneke ini memang calon pengacara, sebelumnya pernah mau menjadi hakim, tapi sayangnya tergoda dengan tingkah Wafa yang selalu mengubah-ubah jurusan kuliahnya. Dua gadis labil ini selalu bersikap bijak, padahal masih amburadul saja tingkahnya. Meski begitu, keduanya adalah gadis yang selalu taat pada agamanya masing-masing. Mereka berdua selalu mengingatkan satu sama lain jika sudah masuk waktunya beribadah.
Selama satu bulan Grietta tinggal bersama dengan Wafa, Inneke ini juga tidak pernah absen dalam mengasuh gadis kecil itu bersamanya. Sesekali bermain dan sesekali mengajari Grietta bermain piano. Tak luput Wafa juga selalu mengajak Grietta dengan anak-anak yang berada di yayasan termasuk anak dari almarhumah Qia.
Semalaman Wafa tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia bahkan meninggalkan Grietta di rumah bersama dengan Dian, dan pergi ke pesantren untuk shalat subuh berjamaah.
"Assalamu'alaikum, Mbak Wafa,"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
"Assalamu'alaikum, Mbak Wafa,"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
Ketika berjalan menuju pesantren, semua santri perempuan yang berpapasan dengan Wafa selalu menyapanya. Wafa hampir lupa jika dirinya adalah seorang Ning—Ning Wafa Thahirah, putri dari seorang Kyai yang terkenal akan keramahannya.
"Assalamu'alaikum, Mbak Wafa. Loh, tidak bersama dengan dek Grietta sekalian, to? Apa dek Grietta masih tidur?" tanya salah satu santri yang kebetulan bersamaan dengan Wafa masuk ke aula.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kebetulan Grietta-nya masih tidur. Dia sedang bersama dengan Dian," jawab Wafa ramah.
"Ustadzah Dian tidak rawuh (hadir)" tanyanya lagi.
__ADS_1
Wafa menggelengkan kepalanya. "InsyaAllah siang nanti tetap mengajar. Beliau sedang udzur (haid), jadi tidak bisa jamaah. Makanya saya meminta beliau untuk menjaga Grietta sebentar," terangnya.
Shalat jamaah dan ikut tilawah Al-Qur'an membuat suasana hati Wafa menjadi jauh lebih tenang. Pukul 7 pagi, Wafa mendapatkan pesan dari Dian jika Grietta sudah bangun dan menanyakan keberadaannya.
pesan dari Dian.
balas Wafa.
Tak selang berapa lama, Wafa mendapatkan pesan balasan dari Dian.
Wafa merasa sedikit lega mendapatkan beberapa tuturan dari Ustadzah yang ada di pesantren. Ada beberapa amalan dan juga doa yang harus Wafa amalkan supaya tidak memberatkan hati diantara keduanya untuk berpisah hari itu.
"Ustadzah, bagaimana jika acara nikah masal ini dirundingkan dulu dengan Abi dan Ustadzah lainnya. Nanti saya akan bicarakan dengan Abi, tugas Ustadzah, ya bicara dengan Ustadzah yang lain," usul Wafa.
"MasyaAllah, itu ide yang sangat sae (bagus), Mbak Wafa. InsyaAllah, kami semua akan membahas dengan santri lainnya yang memang sudah siap menikah," sahut Ustadzah itu.
"MasyaAllah, semoga saja dilancarkan segala urusannya, Ustadzah. Dengan niat menyatukan dua insan Allah, dalam suatu sunah Rasulullah, yakni sebuah pernikahan, insya Allah akan diberikan jalan yang selancar-lancarnya," tutur Wafa.
Sebelum Wafa pamit, ia tidak lupa menanyakan tentang menikah yang telah mereka bahas. Entah mengapa dalam hati kecil Wafa, ia juga ingin sekali menikah meski sebelumnya dia tidak terpikirkan ingin menikah secepatnya.
"Jadi, Mbak Wafa mau menikah juga dengan Ustadz Lana, ya? Kok, tanya-tanya tentang menikah, sih?" salah satu dari santri di sana menggoda Wafa.
"Eh, nggak!" tepis Wafa dengan pipinya yang mulai memerah. "Saya hanya ingin tahu saja, kok. Lagian ... kita membahas seperti ini kan ilmu juga buat saya. Hm, Siapa tahu saya bisa menyalurkan ilmu ini kepada anak-anak di yayasan. Kebetulan juga ada yang sudah menginjak remaja, jadi ... harus benar-benar dalam mendidik," alasannya.
Apapun alasan Wafa, dirasa bagi santri-santri tidak tepat juga alasan Wafa tersebut. Sedikit kurang nyambung karena anak-anak yayasan masih remaja, dan remajanya baru berusia 14 tahunan. Ilmu menikah, belum tepat disalurkan di usia segitu, meski memang harus diberitahu secara perlahan.
"Mbak Wafa, Ustadz Lana ini sangat santun sekali. Kami juga mau, loh, kalau jadi madunya Mbak Wafa, hehehe,"
"Iya, benar! Ustadz Lana ini tidak jauh-jauh sikapnya seperti Ustadz Zamil yang uwu sekali. Ahh, jadi pengen deh, menikah dengan pria sebaik Ustadz Lana atau Ustadz Zamil,"
"Ih, kamu ini!"
__ADS_1
Santri-santri di sana malah sibuk membahas tentang Ustadz Lana dan juga Ustadz zamil. Membuat Wafa tersadar jika dirinya memang seharusnya memiliki pemikiran yang sama dengan santri-santrinya. Di mana seorang wanita itu mendambakan suami seperti Ustadz Lana yang taat dalam beragama dan juga memiliki sikap yang berbudi luhur. Namun hatinya malah terpikat dengan seorang duda yang memiliki keyakinan yang berbeda.
'Apa yang dikatakan oleh santri-santri ini ada benarnya. Harusnya aku bisa menerima Ustadz Lana sebagai calon suamiku. Bagaimanapun juga beliau sudah melamarku. Tapi kenapa aku tidak terketuk sedikitpun dengan perlakuan Ustadz Lana yang begitu lembut?' batin Wafa.
Cinta memang tidak tahu kapan akan timbul dan pada siapa kita akan memberikan cinta kita. Tapi Wafa sangat yakin jika Ustadz Lana sama sekali tidak ada dalam hatinya. Bahkan namanya saja tidak ada dalam setiap ingatannya. Terbalik, malah Bian yang jarang sekali ia temui, selalu menghantui pikirannya.
Ketika jalan di lorong kelas madrasah, Wafa seperti melihat bayangan Bian yang berdiri di sana. Pria itu terlihat sedang melambaikan tangannya padanya.
'Pak Bian?' sebutnya dalam hati.
Bayangan itu tersenyum manis. Wajah Bian yang selalu terlihat serius, terlihat dikelilingi bunga-bunga yang mekar. Alunan intro musik yang indah mampu Wafa dengar ketika menatap bayangan Bian.
"Assalamu'alaikum, Mbak Wafa,"
"Assalamu'alaikum, Mbak Wafa,"
Sampai beberapa santri yang berpapasan dengannya saja, sapaannya diabaikan oleh Wafa. Gadis ini terbuai dengan perasaannya yang baru saja tumbuh. Sampai lamunannya, dikagetkan oleh Reyhan, kakak sepupunya.
"Assalamu'alaikum, Wafa,"
"Wafa, Assalamu'alaikum,"
"Woy, Wafa!"
"WAFA!"
"Astaghfirullah hal'adzim, waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Mas Reyhan, kenapa ngagetin, sih!" Wafa terus mengusap-usap tubuh bagian depan karena terkejut.
"Lah, lagian kenapa kamu melamun di sini? Orang dari tadi udah dipanggil terus nggak nyahut-nyahut," cetus Reyhan.
Wafa jadi gugup, tanpa bicara apapun, dia langsung mengucapkan dalam dan pergi begitu saja. Jalannya diiringi dengan istighfar terus-menerus karena telah memikirkan hal yang tidak seharusnya ia pikirkan.
__ADS_1