Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Terlukanya Hati Wafa


__ADS_3

Bahkan Bian sendiri juga tidak menyangka dirinya akan mengetik pesan seperti itu. Menunggu kapanpun Wafa datang. Padahal, Bian adalah orang yang paling bisa menghargai waktu. Ia tidak suka dengan orang yang suka mengukur waktunya. Tapi, ternyata Wafa pengecualiannya. Padahal, baru saja bertemu.


***


"Baiklah, aku harus apa ini?" tanya Wafa, sampai di dapur.


"Kamu lap saja semua piring dan gelas yang mau dipakai nanti. Juga, tolong siapkan ruangannya, ya. Pakai karpet saja, soalnya keluarga Ustadz Zamil lebih suka duduk di bawah," jawab Sari.


"Untuk apa sebenarnya keluarga Ustadz Zamil datang?" tanya Wafa lagi.


"Mbak mana tahu. Abi bilang, kita disuruh siap-siap saja. Ayo, lekas kerjakan supaya cepat selesai," jawab Sari.


Setelah beberapa waktu pekerjaan selesai, Wafa pun kembali ke dapur menemui kakak perempuan. "Mbak, aku sudah selesai mengerjakan semuanya. Jika sudah tidak ada yang harus aku lakukan lagi, Aku mau keluar hari ini," ujarnya.


"Tunggu, kamu mau kemana?" tanya Sari.


"Um, itu … Inneke ngajak aku pergi. Dan sepertinya mau pulang terlambat memangnya kenapa, Mbak?" baru kali itu Wafa berbohong, karena tidak mungkin mengatakan jika dirinya mau bertemu dengan seorang pria.


Kebohongan itu tidak akan menjadi kebaikan meski demi kebaikan. Yang namanya berbohong tetaplah berbohong. Jika Wafa tidak bisa menceritakan tentang perjanjian yang sedang ia lakukan bersama dengan Bian, maka selamanya Wafa tetap akan selalu berbohong.


"Loh, wong Abi saja minta kamu ikut mbak nyambut keluarga Ustadz Zamil, kok. Kenapa malah mau pergi? Apakah itu jauh lebih penting dari acara ini?" tanya Sari.


"Sebenarnya ini penting menyangkut kehidupan aku. Tapi aku juga ingin ketemu sama Ustadz Zamil, gimana, dong! Huft, aku pusing," batin Wafa tertekan.


"Kok, malah ngelamun? Wafa, apakah acaramu itu penting dari kedatangan keluarga Ustadz Zamil?" tanya Sari lagi.


"Sebenarnya … aku dan …" ucapan Wafa terhenti kala ponselnya berbunyi. Segera Wafa memeriksa siapa yang menelpon di momen yang tepat itu. Maka dia akan berterima kasih kepada si penelepon.


Siapa sangka dan tidak terduga jika penelpon itu adalah Bian. Wafa semakin terkejut dan heran dengan yang terjadi padanya saat itu. Semakin ingin menghindari Bian, malah Bian sendiri yang mendekat.


"Kenapa harus dia? Kenapa harus dia yang menelpon, sih? Diantara teman, kenalan, kenapa harus Pak Bian?" gumam Wafa dalam hati.


"Wafa, angkat!" perintah Sari membuat Wafa terkejut.

__ADS_1


"Ah, i-iya. Aku akan angkat di luar saja. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," Wafa langsung pergi.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, kenapa sih itu anak?" Sari heran dengan adiknya itu.


Wafa berlari menjauh dari dapur dan keluar menjawab telepon dari Bian. Tak disangka, Bian mengatakan jika pertemuan mereka diundur dua sampai tiga jam lagi karena ada meeting penting yang mendadak. Dari sana, Wafa bisa bernapas lega karena tidak harus mencari alasan untuk membatalkan pertemuan salah satunya.


"Bapak yakin?" tanya Wafa, meyakinkan.


"Kenapa? Apa kamu tidak sabar ingin bertemu dengan saya?" tanya Bian kembali.


"Eh, bukan seperti itu. Tapi, ah sudahlah. Kita bertemu lagi nanti, ya, Pak. Sekarang saya sedang sibuk, bisakah kita akhiri telponnya sekarang?" Wafa menjadi gugup.


"Baiklah, saya akan tutup telponnya. Sampai bertemu nanti, Wafa. Selamat siang."


"Selamat siang," jawab Wafa. "Alhamdulillah, lega sekali. Aku sempat bingung tadi, hehehe. Terima kasih, ya Allah ...." imbuhnya.


Wafa kembali ke dapur dengan wajah sumringahnya. Tidak disangka jika Allah masih mempermudah urusannya. Tapi, merasa penasaran dengan apa yang adiknya rasakan itu. "Kenapa? Ada apa? Sepertinya kamu sedang bahagia sekali?" tanyanya.


Sari menunjuk ke meja makan, kemudian Wafa pun meletakkan sepiring telur gulung tersebut ke meja makan yang pendek yang ada di ruang tengah. Sari masih penasaran mengapa adiknya begitu bahagia, sampai berdendang lagi romantis. Padahal, sebelumnya Wafa belum pernah seperti itu.


"Apa dia baru saja mendapat rezeki nomplok?" batin Sari. "Semoga saja. Supaya dia tidak merasa terbebani dengan tanggungan yayasan," imbuhnya.


**"


Setengah jam berlalu. Baik Wafa maupun Dari juga sudah bersiap-siap menyambut kedatangan keluarga Ustadz Zamil. Wafa terlihat begitu cantik di dalam balutan jilbab warna krem. Begitu juga dengan Sari, yang mengenakan pakaian serba putih dengan gamis renda biru laut.


"MasyaAllah, kalian berdua cantik sekali. Anak-anak Abi ini memang sudah dewasa. Bahkan, sudah tidak lagi terlihat se—" ucapan Kyai terhenti karena salam dari keluarga Ustadz Zamil.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Wafa, Sari dan Kyai bersamaan. "Ayo, kita bersiap!" lanjut Kyai.


Penyambutan berjalan dengan baik. Wafa begitu senang melihat kedatangan Ustadz yang sudah ia idolakan sejak kecil. Di matanya, Ustadz Zamil adalah sosok yang baik menjadi suami di masa depannya.

__ADS_1


Perbincangan awal hanya menanyakan kabar, menanyakan pekerjaan dan kegiatan apa yang dilakukan. Lalu, masuk ke perbincangan kedua, ayah dari Ustadz Zamil mulai membicarakan tentang pernikahan.


"Menikah? Apa jangan-jangan, Ustadz Zamil dan keluarga, datang ke sini karena mau melamar? Tapi siapa yang akan dilamar?" batin Wafa, penasaran.


"Kami sekeluarga datang ke sini, pertama karena ingin menyambung tali silaturahmi. Lalu, yang kedua ... Kami ingin melamar Putri pertama Kyai, untuk anak saya Zamil," ucap Ayah Zamil.


Deg!


Deg!


Deg!


Baik Wafa, Sari dan Kyai terkejut mendengar lamaran itu. Mereka tidak menyangka jika kedatangan mendadak keluarga Ustadz Zamil, karena mau melamar Sari.


"Masya Allah, Alhamdulillah ... Ini benar?" tanya Abi masih saja menggoda.


Tapi, dapat dilihat sepertinya Ustadz Zamil juga kurang senang dengan lamaran tersebut. Sesekali, dia menatap Wafa yang hanya menunduk lesu di samping Sari. Kemudian selalu menghela nafas panjang, dengan raut wajah yang kecewa.


"Patah hati," batin Wafa. "Sudahlah, mau bagaimana lagi? Tapi kok, aku sakit, ya?" batinnya. "Cinta diam-diam ini ... astaghfirullah hal'adzim, nyesek sekali nasibku ..." Wafa masih fokus dengan hatinya, sampai tidak mendengar perbincangan selanjutnya.


Lamaran tersebut juga diterima oleh Sari. Langkah berikutnya adalah membahas kapan pernikahan akan dilaksanakan karena kedua dari mempelai sudah setuju dengan lamaran tersebut.


Ketika sedang membahas tentang pernikahan, Wafa berpamitan untuk masuk ke kamar karena mau bersiap keluar. Alasannya, ingin ke yayasan karena Vita sudah diperbolehkan pulang hari itu. Padahal, Vita masih di rumah sakit. Ya meskipun hari itu juga sudah boleh pulang karena memang Vita memaksa pulang.


Abi pun mengizinkannya. Segera Wafa masuk ke kamarnya dan menyeka air matanya yang mulai mengalir. "Jangan menangis, jangan menangis, dia bukan jodohmu, Wafa!"


"Jangan menangis ...." tapi Wafa tetap saja menangis.


"Sakit banget, di sini sakitnya ya Allah. Sakit sekali. Pengen nangis ya, Allah. Hambamu ini tidak kuat. Hua …"


"Aku harus ottoke. Bagaimana caraku mengatasi hatiku ini?"


Wafa menahan tangisnya supaya tidak mengeluarkan suara. Masih memegang erat jantung hatinya, Wafa mencoba menguatkan diri, sang idaman akan dimiliki kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2