
Wafa pergi ditemani oleh Pak Imin. Tapi sebelum berangkat, Wafa di cegah ehe Reyhan yang saat itu pulang bersama dengan Pak Kyai dari masjid pesantren.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh. Wafa, kamu mau kemana pagi begini sudah mruput?" tanya Reyhan.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh," salam Wafa, tidak lupa juga salim dengan Pak Kyai.
"Aku mau piknik bersama sekolahnya Grietta. Pak Bian menyerahkan tugasnya sebagai orang tua supaya aku menemani Grietta," jawab Wafa.
"Memangnya Pak Bian-nya sendiri ke mana? Abi lihat, semenjak satu bulan terakhir ini, kamu terus-terus aja perginya bersama dengan Pak Bian," Pak Kyai sudah mulai curiga. "Hm, pekerjaan apa yang kamu lakukan dengan Pak Bian?" tanyanya.
Wafa belum sempat menjawab, Reyhan sudah menyela. Reyhan mengajak Pak Kyai untuk segera bersiap karena harus mengisi tausiyah di tiga tempat.
"Paman, ini sudah jam berapa. Biarkan Wafa pergi kemana dia mau. Wafa juga sudah dewasa, dia pasti bisa menjaga diri dengan baik. Ayok, ada tiga tempat yang harus kita isi hari ini," ucap Reyhan.
"Pulangnya jangan terlambat. Nanti kamu kelelahan, dan yang pastinya jika kelelahan akan merubah mood ketika sampai di rumah. Hari ini aku ada tausiyah, kita berjumpa lagi nanti malam. Kamu hati-hati juga ya di jalan, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," suara Pak Kyai terdengar begitu lembut di telinga Wafa.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati di jalan juga, Abi."
Papa belum pernah mendengar Pak Kyai mengucapkan salam dan bertutur kata sebelum itu untuk dirinya sendiri. Tapi dia selalu mendengar kelembutan Pak Kyai itu pada kakaknya, Sari.
Sebenarnya Wafa juga tidak ingin suudzon. Wafa berpikir Pak Kyai bisa selamat itu karena ada maunya. Yakni ingin wafat menyetujui dan menerima lamaran dari Ustadz Lana. Hanya pembicaraan itu saja yang Pak Kyai katakan ketika bersama dengannya.
Tidak mau terlambat, Wafa pergi bersama dengan Pak Imin. Gara-gara beberapa waktu yang lalu Pak Imin tidak mau membantu Wafa, baru kali ini Pak Imin kembali mengantarnya.
"Mbak Wafa, udah 1 bulanan lebih kok nggak pernah minta Pak iman antar ke mana-mana to? Mbak Wafa marah, ya, sama Pak Imin?" tanya Pak Imin.
Wafa tersenyum. "Mana ada marah, Pak. Biasa saja, kok. Tidak marah," jawabnya.
__ADS_1
"Lah, kalau nggak marah, kenapa nggak pernah ngajak Pak Imin jalan-jalan lagi?" lanjut Pak Imin.
"Ya karena saya belum membutuhkan jasa Pak Imin saja. Ini kan juga udah ngajak Pak Imin jalan-jalan. Kemarin-kemarin saya memang naik kendaraan lain," jelas Wafa..
"Tapi Mbak Wafa nggak marah to, sama Pak Imin?" pria yang seumuran dengan ibunya ini terus-menerus bertanya tentang hal yang sama sejak tadi.
Wafa menjawab dan mengatakan bahwa dirinya tidak pernah marah sedikitpun pada tukang ojek langganannya. Wafa sudah tidak lagi meminta tolong Pak Imin mengantarnya disebabkan oleh dirinya yang selalu di jemput oleh Bian, terkadang juga dijemput oleh Inneke, sahabatnya.
Sesampainya di tempat sekolah Grietta, Wafa merogoh ponselnya, hendak menelpon Bian.
"Halo, Pak Bian. Saya sudah sampai di depan sekolahnya Grietta. Apakah Grietta sudah berangkat?" tanya Wafa.
'Kamu ada di mana?' tanya Bian.
Wafa menoleh ke kanan-kiri. "Saya berdiri persis di depan gerbang, Pak. Saya menunggu disini saja jika Grietta be—"
Belum juga Wafa menyelesaikan perkataannya, Grietta sudah memeluknya dari belakang. Wafa terkejut karena tiba-tiba ada yang memeluknya. Sontak, membuat gadis itu menoleh dan melihat siapa yang sedang memeluknya.
Grietta menjawab dengan menunjuk arah sisi kanan Wafa. Rupanya Bian yang ada disampingnya.
"Pak Bian, anda ...."
"Acaranya akan diisi oleh ibu, ayah dan anak. Jadi tidak mungkin saya membiarkan kamu sendirian mengurusnya. Bukan begitu, Grietta?" ujar Bian, mengusap-usap rambut putrinya.
Grietta mengangguk dengan senyuman. Seketika, Wafa teringat jika gadis kecil manis ini masih memiliki ibu kandung yang tinggal di kota yang sama.
"Bukankah ibu kandungnya Grietta ada di kota ini? Kenapa anda harus mengajak saya dalam acara ini keluarga seperti ini?" tanya Wafa.
__ADS_1
Bian menjelaskan jika ibu kandungnya Grietta tidak mau menemani putrinya piknik bersama. Suaminya tidak mengizinkan Flanella bertemu dengan Bian. Maka dari itu, Bian harus mencari cara supaya Grietta tidak merasa iri dengan temannya yang pergi juga bersama dengan orang tuanya lengkap.
"Ada pula ibu yang seperti itu? Memang surga istri ada pada suami. Tapi bukankah membahagiakan anak itu juga salah satu bentuk dari rasa syukur? Lagi pula juga pahalanya besar jika orang tua memberikan kebahagiaan pada anaknya," lirih Wafa.
"Saya tidak semua wanita atau orang tua berpikiran seperti kamu. Bahkan saya saja tidak pernah membuat Grietta tersenyum bahagia," ungkap Bian.
Wafa tersenyum pada Grietta. Meraih tangan gadis cilik itu dan mengatakan bahwa dirinya akan berusaha mengembalikan senyum Grietta seperti semula. Tak hanya menggenggam tangan kecil Grietta, bahkan Wafa juga memeluk Grietta dengan hangat.
Dimohon untuk semua orang tua murid berkumpul di halaman sekolah karena kita sudah mau berangkat. Sebelum berangkat, dimohon juga untuk bapak dan ibu sekalian memeriksa barang bawaannya, jangan sampai tertinggal.
Mereka berangkat mengendarai bus pariwisata. Meski hanya ada murid dengan jumlah 20 orang, tapi karena pergi bersama dengan kedua orang tuanya, jadi mengharuskan menaiki bus pariwisata yang besar. Bangku di sana juga sudah diberi nama masing-masing.
Hal yang mengejutkan terjadi. Ternyata anak-anak akan duduk sendiri di depan berkumpul dengan anak-anak yang lain. Sementara para orang tua akan duduk di jok belakang dengan pasangannya masing-masing.
Wafa dan Bian sama-sama bingung ketika di jok tersebut bertuliskan dengan nama, 'Mr. Hutomo dan Mrs. Hutomo' mengingat keduanya memang bukanlah pasangan yang sesungguhnya. Tapi apa boleh buat, Bian dan Wafa tetap duduk berdampingan karena sudah menjadi peraturan dari pihak sekolah.
'Haduh, kenapa jadi canggung seperti ini? Bukankah sudah seperti biasa aku duduk di samping Pak Bian? Tapi ini bedanya sangat lekat sekali, dibandingkan dengan duduk satu mobil seperti biasa.' batin Wafa.
Bian sadar jika Wafa tidak nyaman. "Jika kamu tidak nyaman duduk bersama saya, saya bisa meminta salah satu wali murid yang laki-laki untuk duduk di sini menggantikan kamu," ujarnya dengan lembut.
"Ah, tidak perlu, Pak Bian. Ini juga sudah peraturan. Kita juga terlibat dalam suatu kontrak yang mengharuskan kita menjadi orang tua Grietta. Jadi biarkan saya menikmati peran saya," Wafa tidak sadar mengatakan itu.
Begitu sadar, dia langsung menutup mulutnya sendiri dengan matanya membulat. 'Astaghfirullah hal'adzim. Apa yang aku ucapkan tadi?' batinnya.
"Jika memang kamu ingin menikmati peran kamu. Berhenti memanggilku dengan sebutan Bapak. Kamu boleh memanggilku dengan sebutan apapun kecuali sebutan itu," lanjut Bian. "Akan terasa aneh jika istri memanggil suaminya dengan sebutan .... Bapak." tukasnya.
Deg!
__ADS_1
Deg!
Saat itu jantungnya Wafa terus berdetak kencang. Selama dua bulan terakhir memang keduanya sangat akrab dan sering menghabiskan waktu bersama. Terkadang mereka juga pergi ke pabrik maupun garmen untuk membahas pekerjaan. Selebihnya mereka menghabiskan waktu sebagai peran orang tua Grietta.