
'Pak Bian, ini sungguh menyiksa saya. Sudahi ini, saya tidak tahan lagi berbohong!' batin Wafa, menatap Bian dengan tatapan tajam.
'Ikuti saja dulu alurnya. Kamu pikir saya juga mau melakukan kebohongan?' sahut Bian.
Keduanya seolah bisa bicara melalui batin. Sedangkan Wafa terus sumringah karena kebahagiaan yang didapatkan saat ini belum pernah diasakan sebelumnya. Tidak ada salahnya temannya, putrinya Hana mengajarkan Wafa memanggil Wafa dengan sebutan Mama.
Rupanya Hana sudah menyelidiki siapa Wafa setelah melihat gambar yang Grietta lukis. Meski dia juga tahu kebenaran bahwa Wafa dan Bian belum menikah, tapi Hana mendukung saja jika keduanya mau menikah. Sahabat Hana memang Flanella, tapi dia sudah dikecewakan oleh sahabatnya itu. Jadinya tidak mau tahu lagi apa yang dilakukan Flanella. Hanya ingin melihat Grietta bahagia saja sudah cukup baginya.
"Bagaimana, apakah makanannya enak?" tanya Wafa.
Grietta mengangguk.
"Mau lagi?" lanjut Wafa.
Grietta kembali mengangguk.
Ketika Wafa hendak mendambakan lauk ke dalam piringnya Grietta, kembali gadis kecil itu memanggilnya dengan sebutan Mama. Membuat Wafa menghentikan aksinya.
"Grietta, kenapa kamu memanggil kakak dengan sebutan itu?" Tanya Wafa.
Wajah ketidak relaanya Wafa membuat Grietta menunjuk sedih. Memang Wafa tidak masalah dengan sebutan itu. Hanya saja, akan ada kesalahpahaman jika kejadian hari itu terus-menerus dilanjut.
"Grietta, lain kali kamu dengarkan kata Kak Wafa. Jangan panggil Kak Wafa dengan sembarangan lagi, okay?" timpal Bian.
"Papa sudah mengingatkan kamu. Jika kamu bandel, tidak mau bersabar, kamu bisa saja kehilangan kakakmu itu, mau?" ancam Bian.
Ancaman Bian itu rupanya membuat hati kecil Grietta terluka. Dia meletakkan nugget yang semula di tangannya ke piring. Wajah Grietta buang kecil memerah, air mata bening mengalir di kedua sudut matanya kanan-kiri.
"Grietta?" sebut Wafa lirih.
__ADS_1
Tangan Wafa ditepis olehnya ketika menyentuh bahu gadis kecil itu. Grietta menangis, tanpa bersuara. Dia berlari menjauh dari Bian dan Wafa.
"Grietta!" teriak Wafa.
"Lain kali sedang ada saya, bicaralah menggunakan bahasa Indonesia yang benar!" tegur Wafa pada Bian. Sebelumnya memang Bian menasehati Grietta menggunakan bahasa Mandarin.
'Huh, jika kau tahu apa yang aku katakan, pasti kau akan sakit hati. Aku saja yang baik hati tidak mengatakan langsung kepadamu.' desis Bian dalam hati.
Wafa mencari kemana Grietta pergi, kemudian disusul oleh Bian. Gadis kecil itu duduk sendiri di ujung taman edukasi sambil meneteskan air matanya. Bisa mengucapkan kata Mama dan Papa, sudah membuatnya lelah, tapi malah Bian dan Wafa mematahkan semangatnya.
"Grietta ..." panggil Wafa dengan lirih.
Grietta memalingkan wajahnya. Nampak jelas sekali gadis cilik itu sedang kesal. Wafa tersenyum saja melihat kelucuan anak seusia Grietta yang sedang merajuk.
"Hei, kenapa kamu menangis? Apakah Kakak berbuat salah padamu? Atau tadi Papa mengatakan hal yang buruk padamu?" tanya Wafa dengan kelembutan.
Grietta masih memalingkan wajahnya.
"Jika kakak sedih, kakak bisa saja tidak menemanimu bermain lagi," lanjut Wafa. "Bukankah kita sudah ada jadwal, dua minggu lagi mau ke luar kota bersama dengan Tante Inneke?"
Wafa berusaha membujuk Grietta supaya mau tersenyum kembali. Kelembutan Wafa bukan hanya meluluhkan hati Grietta saja, melainkan Bian juga ikut meleleh hatinya karena lakukan Wafa yang begitu tulus pada putrinya.
Dari sanalah, Bian kembali merasakan hal yang tak biasa dalam hatinya. Merasa gelisah ketika menatap Wafa lama-lama, tapi merasa kesal jika tidak melihat gadis berusia 20 tahun itu.
'Hatiku sudah tidak menentu. Sebaiknya aku pergi saja.' batin Bian, dia kembali ke tempat duduknya yang tadi.
Meninggalkan drama keluarga ala keluarga Hutomo, kini beralih ke kisah Zaka Yang yang sedang menjemput Inneke di Bandara. Sudah menunggu satu jam lebih, Zaka Yang belum juga berjumpa dengan Inneke. Dia sampai mengantuk dengan membawa kertas bertuliskan 'Sedang menjemput sahabatnya Wafa'.
"Haduh, mengapa lama sekali. Sudah satu jam lebih aku menunggu gadis yang berisik itu. Tapi kenapa dari tadi tidak sampai-sampai," gumam Zaka Yang.
__ADS_1
"Ini Tuan Jie Xi benar tidak memberi jadwal penerbangan sahabatnya Nona Wafa?"
"Hufft, sangat melelahkan." lenguhnya.
Bagai tidak melenguh, Zaka Yang sudah berdiri selama 1 jam lebih dengan membawa kertas tersebut di atas kepalanya. Takut jika nantinya Inneke tidak melihatnya, jadi Zaka Yang harus diletakkan lebih tinggi posisinya darinya.
Sekitar 15 menitan, akhirnya gadis yang bernama Inneke sampai jumpa. Dia terlihat kebingungan karena ponselnya Wafa tidak bisa dihubungi, kemungkinan memang ponselnya Wafa sedang dimatikan.
"Ini kenapa si Wafa tidak aktif nomornya? Dia tadi terus saja meneleponku padahal," gumamnya.
"Dia ini sebenarnya jadi menjemputku atau tidak, sih?"
"Takutnya nanti kalau aku pulang duluan, ternyata dia menjemputku. 'Kan bangkek jadinya,"
Selamat bergumam, terus saja isi dari kebun binatang keluar semua dari mulutnya Inneke. Gadis berusia 21 tahun ini memang sangat barbar dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar dengan gaya bicaranya ini. Inneke yang mudah sekali jatuh cinta tapi juga mudah sekali untuk patah hati, membuat gadis ini tidak pernah berpikiran serius tentang yang namanya kehidupan. Dia hanya menikmati waktu yang saat ini ia miliki saja.
"Eh, tulisan apa itu?" Inneke akhirnya melihat tulisan yang Zaka Yang buat. "Eh, bukankah itu asistennya Pak Bian, ya? Pak Bian orang yang dekat dengan Wafa saat ini? Ngapain dia jemput aku?"
"Lalu, dimana Wafa?"
Saking capeknya, Inneke tidak mau tahu siapa yang saat itu menjemputnya. Sudah sangat jelas bertuliskan bahwa pria itu diminta oleh Wafa untuk menjemputnya jadi Inneke tidak regu lagi. Gadis ini menghampiri Zaka Yang.
"Woy, Cina! Tulisan ini sungguh-sungguh Wafa yang nyuruh?" tanya Inneke begitu dekat dengan Zaka Yang.
"Kenapa rasis sekali sampai menyebut ras? Bukankah kau juga etnis Tionghoa, sama seperti saya?" sahut Zaka Yang.
"Eh buset, dah. Jawab pulak kau ini. Macam tak betul pulak jantan ini," ketus Inneke. 'Nampaknya aku harus selalu waspada dengannya!' serunya dalam hati.
Inneke masih tidak mengerti mengapa sahabatnya mengirim seorang pria asing yang belum dikenalnya untuk menjemputnya. Tapi karena Inneke adalah gadis yang tidak memperdulikan suatu keribetan, jadi dia oke saja ketika Saya Yang mengajaknya pulang.
__ADS_1
Sayangnya, keduanya memang tidak ditakdirkan untuk memiliki frekuensi yang sama. Keduanya akan ditakdirkan selalu berdebat dan terus berdebat bahkan sama sekali tidak ada kecocokan di antara mereka berdua. Di sepanjang jalan pun mereka berdua masih berdebat tentang hal yang mungkin bisa dijelaskan dengan satu alasan, tapi malah dibuat ribet oleh Inneke sendiri.