Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Diagnosa Penyakit Jantungnya Bian


__ADS_3

Pertemuan Bian dengan dokter Zian memang hanya membahas tentang perasaan Bian saja. Sampai-sampai dokter Zian saja bingung hendak menanggapi Bian. Pria dengan profesi sebagai dokter ini hanya pasrah saja ketika Bian mengeluh tidak bisa hidup tenang karena perasaannya. Pada akhirnya, dokter Zian hanya memberikan saran supaya Bian benar-benar meyakinkan hatinya.


Siang itu ketika Bian bertemu dengan dokter Zian.


"Hei, apa kabar. Sudah lama tidak berjumpa, Tuan Muda Huang," sambut dokter Zian.


"Hm, aku baik. Bagaimana denganmu?" tanya Bian dengan aura dinginnya.


Zian menyudutkan bibirnya, senyum terpaksa karena Bian masih saja tidak berubah. "Haih, seperti yang kau lihat. Aku sangat baik." katanya.


Pria yang berprofesi sebagai dokter itu menepuk bahu Bian. Ia tahu pasti jika sahabatnya sedang tidak sakit apapun. Ia juga menatap benar-benar duda kaya itu dengan tatapan heran. "Kau tidak sakit." bisiknya.


"Untuk apa kamu menghabiskan waktuku untuk membuat jadwal denganmu? Haih, kau ini sung—" ucapan dokter Zian terhenti ketika ada notif pesan yang masuk di ponselnya.


Dokter itu menerima sejumlah transferan uang dari rekening Bian. Matanya melotot sampai seperti mau lepas saja dari tempatnya.


'God, this is how the rich shut people's mouths?' gumam dokter Zian dalam hati. "Um, baiklah, ayo katakan, apa keluhanmu?" pria ini langsung berubah ekspresinya.


Sebenarnya dokter Zian juga bukan orang yang mata duitan. Dia anak orang berada juga dan keluarganya memiliki usaha properti di Singapura. Keduanya dulu dipertemukan ketika sekolah internasional yang berada di Beijing. Kemudian, mereka menjalin persahabatan hingga saat ini. Wajah dari mereka berdua juga mirip, memiliki postur tubuh yang sama dan juga suara yang hampir sama. Mereka memutuskan untuk mengambil nama yang mudah juga hampir mirip, hanya berbeda satu huruf saja.


"Aku mengenal seorang gadis," ungkap Bian.


"Uwu, seorang gadis," dokter Zian menggoda sahabatnya.


"Jika kau memperlihatkan ekspresi menjijikan itu lagi, aku tidak akan segan lagi, Zian!" tegas Bian, menegur sahabatnya yang membuat sedang menggodanya.


Dokter Zian langsung merubah ekspresinya. "Baiklah, baiklah, ayo sambung lagi ceritamu itu. Setelah mengenal gadis, lalu apa? Ayo, lanjutkan!" perintahnya.

__ADS_1


Bian pun menceritakan segalanya pada dokter Zian. Apa yang ia rasakan saat itu, tak pernah terlewat ketika menceritakan pada sahabatnya itu. Dokter Zian sendiri menduga jika Bian sedang jatuh cinta dengan gadis yang diceritakan. Siapa lagi jika bukan Wafa? Gadis yang dekat dengan Bian saat itu hanyalah putri dari pemilik pesantren itu.


Tidak ingin membuat sahabatnya merasa malu, dokter Zian pun memberikan solusi yang tepat. Sebagai seorang yang pernah jatuh cinta dan juga ahlinya cinta, Zian memberikan petuah pada sahabatnya supaya.


"Jadi, kamu harus meyakinkan hatimu dulu. Jika semua saran yang aku berikan padamu itu terbukti, maka benar kau jatuh cinta padanya," kata dokter Zian berbisik.


Bian diam sejenak. Ia menatap dokter Zian dengan tatapan yang menusuk, sehingga sampai membuat Zian sedikit takut. Tak lama setelah itu, ia pun beranjak. "Baiklah, aku akan pergi. Sisa bayarannya akan aku transfer malam ini, selamat sore!"


***


"Hei, kursimu ada di sebelah asistennya? Bagaimana mungkin?" tanya Inneke bingung. "Bukankah seharusnya kamu duduk di sampingnya Pak Bian, jika tidak di sampingku?" imbuhnya semakin heran.


Wafa sendiri juga bingung dengan kursi yang ia dapatkan.


"Sudahlah, kau duduk saja. Akan lebih baik karena kau duduk di tepi jendela. Aku akan cari tempat dudukku dulu." Inneke pergi setelah mengatakan itu.


Segera Wafa duduk di kursi yang sesuai dengannya. Tak lama kemudian, Zaka Yang duduk disampingnya. Ia tersenyum, menganggukkan kepala seolah meminta izin pada Wafa.


'Ya Allah, ini sangat canggung. Mengapa aku tidak duduk di sampingnya Grietta atau Inneke saja? Mengapa malah harus dengan Tuan Zaka? Seharusnya juga aku duduk di ... Astaghfirullah hal'adzim, apa yang aku pikirkan?' Wafa malah memikirkan jika ia bisa duduk disampingnya Bian.


Sementara itu, Bian yang terus memasang wajah kesalnya sedang mengerut unjuga. 'Sialan. Zaka Yang berani sekali dia. Awas saja, tunggu bagaimana caraku membereskan dirimu!' kesalnya.


Saat itu, Bian duduk di samping putrinya. Grietta sangat bahagia sekali karena bisa dengan dengan ayahnya. Sesekali memang Bian selalu menunjukkan rasa kepedulian dirinya pada putrinya. Namun seringkali Bian manga akan Grietta. Gadis kecil itu sampai belum berani menunjukkan jika dirinya sudah bisa bicara lagi.


Di tempat lain, Inneke juga badmood karena ia harus bersebelahan dengan seorang ibu-ibu yang badannya bau bawang. Inneke yang tidak suka bawang hanya bisa pasrah dalam perjalannya.


***

__ADS_1


Ketika sudah sampai di Tiongkok, Bian memberikan kode pada Zaka Yang untuk membawa Inneke dan Grietta pergi. Bian menginginkan waktu berdua dengan Wafa. Grietta yang juga paham dengan kode itu langsung semangat, ikut bersama dengan Zaka Yang dan Inneke.


"Oh, ayo! Kau ikut bersamaku!" Zaka Yang menarik tangan Inneke.


Tapi sebelum pergi, Zaka Yang kembali lagi. "Nona, anda juga ikutlah bersama kami," dengan senyum terpaksa, Zaka Yang membawa Inneke dan Grietta pergi bersamanya.


"Eh?" Wafa kembali bingung.


Suasana menjadi canggung karena ia hanya bersama Bian di Bandara.


"Ayo, kita juga segera menyusul mereka," ajak Bian.


Wafa mengangguk pelan. Ia pun mengikuti langkah Bian. Baru saja Zaka Yang pergi beberapa saat, mereka sudah tidak menemukan asisten pribadinya Bian itu yang membawa Inneke dan Grietta.


"Loh, kemana Tuan Zaka? Mengapa sudah tidak terlihat?" tanya Wafa.


Bian menggelengkan kepalanya pelan sembari mengangkat bahunya.


"Mobil kita datang, kau masuklah dulu!" seru Bian, sampai membukakan pintu untuk Wafa.


"Tapi—" ucapan Wafa terhenti ketika menatap wajah Bian. Pria itu masih saja membuat Wafa berdebar.


"Kemungkinan mereka sudah kembali dengan mobil yang lain. Sebaiknya kamu segera masuk dan kita akan menyusul mereka," kata Bian, meyakinkan Wafa.


Begitu Wafa melewatinya, Bian sekolah bisa mencium aroma tubuhnya Wafa. Jantungnya kembali berdebar kencang, seperti ada angin dari pegunungan yang menerpa wajahnya.


'Perasaanku mulai kacau lagi. Mengapa ketika dia lewat, jantungku mulai berdebar?' batin Bian masih tidak menyadari perasaannya. 'Ah, lupakan! Mungkin ini karena efek naik pesawat kelas ekonomi.' imbuhnya memantapkan hati.

__ADS_1


Bian duduk juga di jok belakang saat itu, persis berdampingan dengan Wafa. Mobil itu juga hanya satu jok saja, tidak ada pembatas. Jadi jika ada hal yang kurang mengenakkan, tentu saja mereka berdua bisa saja langsung bersentuhan.


Mereka sampai di apartemen mewahnya Bian. Bian sengaja membawa Wafa ke apartemen karena tidak mungkin membawanya menginap di kediamannya. Sesuai dengan janjinya pada Reyhan dan pak kyai untuk tidur di atap yang berbeda.


__ADS_2