
"Apa Tuan Huang ini jatuh cinta dengan gadis muslim itu?" gumam Zaka Yang sambil menikmati biskuit miliknya.
"Tapi tidak mungkin. Mereka bahkan baru mengenal sekitar 20 harian. Masa iya, Tuan Huang yang gagah ini langsung jatuh hati dengan Nona Wafa?"
"Benar! Itu tidak mungkin terjadi. Tuan Huang memperlakukan Nona Wafa dengan istimewa seperti ini karena Nona Muda. Iya, pasti karena Nona Muda!"
"Jika bukan karena Nona Muda, karena siapa lagi?"
"Sudahlah! Lebih baik aku segera tidur. Mengantuk sekali, aku lelah hari ini. Banyak sekali pekerjaanku ini ...."
Selesai makan, Wafa dan Bian melihat Grietta ke kamarnya lebih dulu. Wafa sangat merindukan gadis kecil itu karena sudah tidak bertemu selama 18 hari. Bahkan Wafa juga belum mendengar suara Grietta lagi karena pada waktu itu, Bian dan Grietta tidak tinggal satu rumah. Bian harus tinggal di apartemen yang berada jauh di kota keluarganya yang di sana tinggal. Alasannya, ya karena pekerjaan.
"Besok ketika dia terbangun, pasti akan senang sekali melihatmu di sini. Dalam setiap harinya dia terus saja menceritakan tentang dirimu kepada keluarga besar yang ada di sana," ungkap Bian.
Otak Wafa langsung terkoneksi. "Lah, bukannya Grietta tidak bisa bicara, ya? Maaf sebelumnya, tapi bagaimana cara Grietta menceritakan tentang saya?" tanya Wafa, pikirannya masih ngelag.
"Huh, kamu benar-benar tidak membaca kontrak yang saya berikan. Besok, ketika kamu pulang, alangkah jauh lebih baiknya jika kamu baca lagi isi kontrak itu, oke?" sahut Bian.
"Saya mengantuk. Ini juga sudah hampir pukul dini hari. Sebaiknya kita segera istirahat," sambung Bian.
"Kita?" tanya Wafa masih ngelag saja otaknya.
"Saya di kamar saya dan kamu di kamar yang sudah disiapkan oleh pelayan. Apa masih kurang jelas? Ada apa denganmu hari ini? Apakah kecelakaan itu membuat otakmu sedikit terkikis atau geser?" Bian pun melangkah ke kamarnya yang memang masih satu lantai dengan kamar Grietta.
Wafa menghela nafas. Bahkan Wafa sendiri saja juga tidak tahu mengapa dirinya bisa ngelag. Kemudian, dia masuk ke kamar dan segera merebahkan tubuhnya. Istirahat karena besok pagi harus pulang segera. Ada jadwal kuliah juga esok harinya.
***
Alarm shalat subuh membangunkan Wafa. Dia segera bangun dan siap menjalani kewajibannya sebagai seorang muslimah. Hanya saja, dia lupa jika dirinya berada di rumah Bian yang bukan dari kalangan orang muslim.
"Astaghfirullah hal'adzim, Ya Allah," sebut Wafa, menepuk keningnya.
__ADS_1
"Aku lupa jika ini bukan rumahku. Bagaimana caranya aku bisa shalat subuh? Mukena mana, mana, weh? Apakah ada di sini?" gumamnya kebingungan.
"Apa aku harus keluar dan jamaah di masjid komplek ini? Tapi komplek ini khusus non muslim. Ya Allah, aku sedih sekali__"
Wafa tertunduk lesu sampai seorang pelayan mengetuk pintu kamarnya dan mengagetkan dirinya.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Non, apa Nona sudah bangun?" tanyanya.
Klek~ suara kunci pintu terbuka.
"Iya, ada apa?" tanya Wafa lirih.
"Nona mau jamaah subuh dengan saya, tidak? Kebetulan kami belum shalat subuh juga. Jika Non berkenan, mari shalat berjamaah," ajak pelayan rumah itu.
"MasyaAllah, ternyata Mbak seorang muslimah to? Ya Allah Mbak, kenapa tidak dari tadi. Hampir saja saya mau menangis karena tidak bisa shalat subuh. Ayolah!"
Setelah shalat subuh, Wafa mandi dan mengganti pakaiannya yang lain. Pakaian yang sudah disiapkan sejak semalam oleh Bian. Setelah itu, Wafa membantu asisten rumah tangga di rumah memasak sarapan. Masih dengan keningnya yang diperban, Wafa menyiapkan sarapan yang disukai oleh Bian dan juga Grietta sesuai dengan arahan asisten rumah tangannya.
"Mereka kalau pagi sarapan nasi, ya?" tanya Wafa.
"Iya, Non. Jika bukan nasi, lalu apa lagi?"
"Kupikir mereka sarapannya roti, keju, terus apa gitu seperti orang-orang barat," celetuk Wafa.
"Hehehe, ya tidak, Non. Tapi Tuan Bian memang jarang mau sarapan. Pasti hanya Nona Muda saja yang sarapan. Itu saja nasinya sedikit sekali," ungkap salah satu pelayan di sana.
Pagi itu, Wafa menyiapkan sarapan yang memang menu di sukai oleh Bian dan juga Grietta. Wafa juga menyiapkan bekal untuk mereka. Wafa melakukan itu juga sebagai tanda terima kasihnya karena sudah memperbolehkan dirinya untuk menginap.
"Bekal mereka sudah siap. Tolong di kasih nama di atas kotak makannya. Biar saya nanti tidak bingung. Yang warna hijau untuk Tuan Zaka," perintah Wafa. "Saya mau membangunkan Grietta dulu," sambungnya.
__ADS_1
"Baik, Nona,"
"Wah, andai saja Nona Wafa dan Tuan Bian berjodoh. Setiap pagi, pasti suasananya akan cerah ini terus," celetuk salah satu pelayan.
"Benar! Pasti akan indah kalau Nona Wafa menjadi Ibu sambung untuk Nona Muda. Tidak seperti Nyonya yang dulu. Bawaannya marah-marah terus," sahut pelayan yang sudah bekerja lama bersama dengan Bian, sejak Bian masih bersama dengan mantan istrinya dulu.
Sedang asik menggosipkan majikannya, para pelayan itu langsung terdiam ketika melihat Zaka Yang melintas di depan dapur. Sudah lama sekali memang, rumahnya tidak se-berwarna itu. Bahkan, jendela jendela yang biasanya gordennya tidak dibuka saja, pagi itu dibuka oleh Wafa.
"Aku penasaran reaksi Grietta ketika aku yang membangunkan dia. Hmm ... pasti sangat menyenangkan!" gumam Wafa senang sekali.
Namun, ketika naik ke atas, untuk ke kamar Grietta harus melewati kamarnya Bian terlebih dahulu. Tidak menyangka bagi Wafa bertabrakan dengan Bian yang saat itu hanya mengenakan handuk saja dan bertelanjang dada.
"Aduh!" rintih Wafa.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Bian, dengan polosnya.
"Saya ti—hah! Ya Allah, astaghfirullah hal'adzim, Pak Bian!" Wafa seketika langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Bian. Dia begitu terkejut ketika melihat tubuh Bian yang tidak memakai sehelai benangpun.
"Kenapa Bapak tidak memakai baju, sih?"
Tanpa menjawab, Bian malah berniat menggoda Wafa dengan berdiri di depannya. Wafa yang kaget, langsung memutar tubuhnya lagi. Berusaha memalingkan pandangannya, tapi Bian terus saja menggodanya.
"PAK BIAN!" Wafa sampai berteriak karena saking kesalnya digoda oleh Bian.
"Kenapa kamu jadi galak sekali kepada saya?" tanya Bian masih bersikap lugu.
"Jangan seperti ini. Kalau Bapak terus bersikap seperti ini kepada saya, saya akan marah besar pada Bapak!" tegas Wafa.
Bukan terkekeh. "Baiklah, baiklah, saya minta maaf, ya. Tadi saya ingin memanggil Zaka Yang setelah selesai mandi karena ada yang menelepon saya. Tapi Zaka Yang tidak mendengar panggilan saya. Makanya saya terburu-buru keluar untuk meminta Zaka Yang menjawab telepon itu," jelas Bian. "Maafkan saya, ya ...."
Ketika Wafa berteriak, kebetulan para pekerja di rumah Bian sedang ada di dalam rumah sehingga bisa mendengar teriakan tersebut. Tapi yang membuat mereka terkejut lagi adalah perlakuannya Bian kepada Wafa yang sama sekali tidak marah ketika dibentak olehnya gadis yang jauh lebih muda darinya.
__ADS_1