Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Kejutan Dari Grietta


__ADS_3

Satu minggu berlalu, selama itu Grietta menghabiskan waktu bersama dengan orang yang dekat dengan Wafa termasuk Inneke. Sesekali Inneke mengajari Grietta bermain piano di rumahnya. Inneke juga pandai sekali bermain piano karena memang sebagai sama-sama etnis Tionghoa, pasti identik dengan kelebihan bermain musik atau rajin les kesana-kemari.


Selama seminggu juga, Grietta semakin akrab pula dengan Ustadz Lana yang sering datang ke pesantren hanya demi bermain dengannya. Ustadz Lana tidak pernah menolak jika Wafa memintanya datang karena Grietta yang memintanya datang.


***


Wafa terbangun saat merasa ada yang menyentuhnya. Ketika menyadari jika ternyata Grietta tengah duduk di tepi tempat tidur sambil menatap dirinya penuh arti, tapi sama sekali tidak mengatakan apa pun.


"Cantik, kamu sudah bangun?" tanya Wafa dengan lembut.


Seperti kemarin, Grietta tidak mengucap sepatah kata pun untuk menyahuti pertanyaan Wafa. Sungguh Wafa kebingungan mengartikan tatapan anak itu.


"Kamu ingin buang air kecil?" tanyanya lagi, sesuai apa yang Wafa lihat saat ini—Grietta menyilangkan kedua kaki seolah sedang menahan sesuatu.


"Jangan ditahan. Ayo ke toilet," ajak Wafa sembari turun dari tempat tidur lalu menuntun gadis kecil nan cantik itu.


"Bisa pipis sendiri, kan?" Grietta mengangguk kali ini. "Kalau gitu aku tunggu di sini, nanti sekalian Grietta ambil air wudhu karena kita akan sholat subuh," perintahnya kemudian.


Usai sholat subuh berjamaah, Wafa mengajak Grietta bertadarus di pendopo hingga mentari pagi menyapa. Hampir tiga puluh menit berlalu Wafa tidak mengamati anak kecil di sampingnya yang ternyata sudah tidur meringkuk.


"Wafa, Wafa, Grietta bobo," lirih Zira seraya menyenggol lengan Wafa.


Melihat Grietta tertidur—Wafa pun menyudahi kegiatannya. Kemudian membopong anak itu menuju kamar. Hati kecil Wafa merasa tidak tega ketika memperhatikan Grietta yang tidur dengan pulas seperti itu, apa lagi masih mengenakan mukena yang membuat Grietta menggemaskan sekali.


Selagi putri kecil Bian tengah tertidur, Wafa bergegas menyiapkan sarapan—dibantu Zira yang kebetulan sedang tidak sibuk hari ini. Mereka berdua memilih menu-menu enak serta bergizi yang pantas diberikan untuk Grietta nanti. Waktu pun cepat berlalu di tengah-tengah kesibukan dua gadis itu.


*****


Hari selanjutnya, Grietta berada di pesantren membuatnya mulai nyaman dengan lingkungan yang begitu hangat dan penuh keceriaan. Termasuk sikap Wafa dan Zira yang bikin betah, juga pak kyai yang selalu menceritakan kisah Nabi dan Rasul di kala senggang.


Siang ini, Grietta mengikuti kegiatan bersih-bersih di pesantren. Wafa terus mengajarinya cara menyapu lantai, mengelap kaca jendela, membersihkan debu-debu dari rak buku dan banyak hal lagi.


"Grietta lelah?" tanya Wafa diiringi senyuman tipis yang terasa sangat menenangkan bagi Grietta.


"Tidak." Jawaban anak itu langsung membuat Wafa membulatkan bola mata.


"Eh? Mmm … tolong bantu siram rumput-rumput itu, ya? Grietta pasti bisa," pinta Wafa.


"Bisa," sahut Grietta lagi.


Dia langsung berlari kecil menuju taman, lantas mengambil selang air. Namun—Grietta menoleh ke arah Wafa dan seketika membuat perempuan itu mengerti. Wafa senang sekali Grietta bisa merespon dan menjawab semua yang ia perintahkan.


Wafa menghampiri, dengan begitu sabar mengajari Grietta cara menyirami rumput-rumput di sekitar pendopo hingga semuanya basah. Hingga akhirnya Grietta meminta selang air tersebut dan mencobanya.

__ADS_1


Terlihat senyum kecil di sudut bibir Grietta. Wafa merasa senang sekali karena ini pertama kalinya anak itu tersenyum.


"Wafa, ke sini sebentar, Nduk." Pak kyai memanggilnya.


"Iya, Abi," sahut Wafa, "Zira, temani Grietta sebentar!" serunya pada gadis yang tengah sibuk mengepel lantai koridor.


"Iya, bawel," jawabnya.


Zira bergegas menghampiri Grietta dan menemaninya. Ketika Wafa pergi — santri lain berani mendekati Grietta karena ingin kenal. Pipi anak kecil yang tembem memang menggemaskan sekali sehingga membuat siapa saja menyukainya.


Waktu terus berlalu membawa siang menjelang sore hari. Usai kegiatan bersih-bersih tadi membuat semua santriwati kelelahan sehingga sebagian besar memilih untuk tidur, lagi pula hari ini libur dan kegiatan mengaji akan dilakukan kembali besok.


Namun, Grietta tidak mau tidur siang ini. Wafa yang mengantuk sekali pun terpaksa menahan agar tetap terjaga menemani Grietta. Padahal dia bisa saja tidur karena anak itu diam dan tidak mungkin pergi ke mana-mana.


Allah Akbar, Allah Akbar …


"Allahu Akbar," gumam Wafa begitu mendengar kumandang adzan ashar.


Dia berdiam diri mendengarkan adzan hingga selesai. Tadi Grietta belum mandi karena tidak mau. Sekarang Wafa ingin membujuknya lagi mengingat hari sudah sore. Badan anak itu pastinya lengket dan bau setelah melakukan kegiatan di luar beberapa jam lalu.


"Aku mau siapin air hangat buat Grietta mandi. Mau ikut atau nunggu di sini?" tanyanya penuh kelembutan.


"Nggak mau," jawab singkat Grietta.


Grietta menatap kesal Wafa sekilas, lalu tiba-tiba berlari ke luar membuat Wafa terkejut. "Sayang, mau ke mana?" serunya sambil beranjak.


"Grietta, jangan lari-lari nanti kamu jatuh," ucap Wafa yang terus mengejarnya.


"Wafa, kenapa lari-larian?" tanya Zira saat Wafa melewati ruang tamu. "Kau belum puas main lari-larian pas kecil, kah?" imbuhnya.


"Grietta kabur!" seru Wafa.


Pandangan Zira pun tertuju pada Grietta yang telah sampai di pendopo. Anak itu berlarian, hingga menarik perhatian beberapa santri yang berada di sana.


"Zira bantu aku kejar Grietta," perintah Wafa.


"I-iya," jawabnya.


Zira pun mengurungkan niat untuk mandi demi bisa membantu Wafa mengejar Grietta. Melihat tiga orang yang berlarian, beberapa santri pun ikut turun tangan karena merasa Wafa dan Zira membutuhkan bantuan.


"Jangan lari-lari, Sayang, nanti kalau jatuh gimana?" teriak Wafa.


"Wafa, aku kejar ke arah sana ya biar dia nggak keluar!" seru Zira.

__ADS_1


"Iya, buruan!"


Grietta justru tertawa tanpa suara saat melihat ke belakang dan ada lumayan banyak orang yang berlarian. Apa lagi saat Wafa menyuruh lebih banyak santri lagi untuk membantunya menangkap Grietta. Semakin banyak yang berlari—makin bahagia perasaan anak itu.


"Nah! Akhirnya, kena juga," kata Zira saat Grietta tidak sengaja menabrak tubuhnya.


"Huh … anak kecil segini bikin capek aja sore-sore," gumam Zira.


Wafa tersenyum lebar dari kejauhan. Kini dia menghampiri Grietta dan langsung menggendongnya. Sekarang baru Wafa tahu jika anak itu memang sengaja ingin membuat keributan kecil.


"Badannya banyak keringat ih, bau acem," ucap Zira sambil membuka baju Grietta.


Dia terkekeh kecil saat mendapati Grietta tersenyum. "Senang, bikin semua orang heboh tadi?" tanyanya.


"Aku senang." Untuk pertama kalinya Zira mendengar suara anak itu.


"Wah … akhirnya kamu bicara," lirih Zira. "MasyaAllah tabbarallah. Sejak kapan ini dia mulai bicara?" tanyanya.


"Dia bicara kok, tapi memang anaknya pendiam jadi bicara seperlunya saja," timpal Wafa, "air hangat sudah siap. Grietta—ayo mandi dulu," ajaknya.


Padahal Wafa sendiri juga terkejut ketika mendengar Grietta sudah mulai bicara. Meski dengan logat yang lucu, tetap saja Wafa bahagia sekali dengan usaha pak Kyai dan Sari membantunya mengurus si kecil Grietta.


***


Sehari telah berlalu, tidak terasa sudah dua minggu lamanya Grietta tinggal bersama keluarga Wafa. Pak Kyai pun menganggap anak itu seperti cucunya sendiri dan sangat menyayangi Grietta.


Malam ini setelah kajian dibubarkan, santri-santri masih berada di pondok karena melihat tingkah lucu Grietta yang sedang menghafalkan huruf Hijaiyah tapi masih salah dan terlalu pelan suaranya. Wafa merasa, Grietta mungkin sudah cukup nyaman berada di sana sehingga tidak terlalu menutup diri seperti sebelum datang ke pesantren. Dia memiliki ide untuk melatih mental Grietta di depan orang-orang. Namun, tidak yakin jika itu akan berhasil.


"Sebelum kembali ke kamar masing-masing, saya mau kalian maju ke sini satu per satu lalu memperkenalkan diri dengan nama lengkap kalian. Gimana? Setuju, ya?" ucap Wafa dengan senyuman ramah.


"Setuju …." Mereka kompak menyahuti.


"Baiklah, mulai dari siapa dulu? Dari sebelah kiri dulu, ya?" Semuanya menurut dan mulai melakukan apa yang diperintahkan Wafa.


Ketika sebagian anak sudah memperkenalkan diri dengan nama lengkap mereka, Wafa sengaja menyuruh Grietta maju juga. Ini memang tujuannya agar dia tahu seberapa berani anak itu sekarang.


"Ayo, jangan takut. Biar teman-teman yang lain juga tahu nama lengkap Grietta," pinta Wafa seiring senyuman lebar yang terasa menenangkan.


Tidak mau menyerah begitu saja, Wafa menuntun Grietta untuk berdiri di depan para santri. Pelan-pelan membisikinya jika semua akan baik-baik saja, hingga tidak disangka kalau ternyata Grietta sudah seberani itu.


"Halo, namaku Grietta Huang. Umurku 6tahun, dan aku menyukai Mama Wafa." Grietta bicara dengan lancar, lalu menoleh menatap Wafa di sampingnya.


Deg!

__ADS_1


Kelopak mata Wafa terbuka lebar mendengarnya. Tak terasa air matanya saja sampai mengalir di pipinya. Beruntung sekali Dian mengabadikan momen tersebut dan langsung mengirimkan pada Wafa.


__ADS_2