Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Pagi Yang Cerah


__ADS_3

Malam itu juga, Bian memberikan kabar pada Wafa jika dirinya akan terbang ke Tiongkok malam itu.


- Bian.


Mendapat notif pesan, Wafa segera meraih ponselnya yang ia letakkan di atas bantal. "Siapa yang mengirim pesan selarut ini?" gumamnya. "Eh, Pak Bian?"


- balas Wafa.



Wafa tentu saja mau merawat Grietta. Dengan bersama gadis cilik itu membuat suasana hati Wafa tenang.


- balas Wafa.


- Bian.


Tidak ada balasan lagi dari Wafa karena gadis itu benar-benar sedang tidak baik-baik saja. Bian yang sibuk dengan urusannya juga tidak terlalu memperhatikan apakah Wafa membalas pesannya atau tidak. Yang terpenting baginya Wafa sudah setuju untuk merawat putrinya untuk sementara waktu.


***


Pagi hari, ketika sarapan suasananya tidak begitu hangat. Wafa memilih untuk diam dan fokus dengan sarapannya. Sementara pak kyai yang baru saja pulang dari pesantren bersama dengan Ustadz Zamil, duduk di ruang tengah melewatkan sarapan bersama dengan kaum perempuan di rumah.


"Mbak Sari, aku mau telur dadarnya, dong!" seru Zira.


"Tumis janggelnya, mbak Sari. Aku mau juga, tolong ambilkan, ya—" timpal Dian.


Meski mengambilkan apa yang diinginkan kedua adik adik sepupunya, perhatian Sari tetap pada Wafa yang saat itu terlihat menikmati sarapannya. Sari tidak melihat adanya kesedihan dalam diri adiknya.


"Wafa, mau ini nggak? Tadi aku tumis buncis campur bakso," Zira menyodorkan sayur yang ia masak.


Tanpa menjawab, Wafa mengambil saja seperlunya dan melahap-nya. Sari menjadi tidak enak hati, karenanya, adik dan ayahnya berseteru.

__ADS_1


"Wafa, apa kamu mau teh? Aku akan buatkan kamu teh jika kamu mau," Sari menawarkan diri.


Wafa menggelengkan kepala. "Aku sudah buat susu. Nanti kalau aku pulang makan siang, baru buatkan teh untukku." jawabnya.


Deg!


Mendengar jawaban itu, membuat Sari sedikit tersinggung, mengira adiknya sedang marah padanya. Ia pun pergi ke dapur dan meneteskan air mata. Sari juga sedang hamil, jadi apapun itu, akan terbawa dalam suasana hatinya. Sedangkan Wafa juga belum tahu pasti Sari beneran hamil atau tidaknya.


"Heh, kamu tahu nggak, sih? Kalau Mbak Sari sedang hamil?" bisik Dian.


"Memangnya beneran hamil, ya?" tanya Wafa.


"Astaghfirullah hal'adzim, Wafa. Kamu ini—ya Allah, bisa-bisanya, ya ...." sahut Zira.


Wafa terdiam, kemudian merenung sejenak. "Sudahlah, nanti aku akan memberinya hadiah sebagai ucapan selamat. Pagi ini aku harus ke sekolahnya Grietta, aku berangkat dulu, ya ... Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh,"


Wafa mengangkat jempolnya. Ketika melewati ruang tengah, Wafa menjadi ragu hendak pamit pada ayahnya. Tapi dia tidak mungkin tidak pamit, itu hanya akan memperkeruh suasana jika Wafa tidak melunak.


"Abi, aku pamit," Wafa meraih tangan pak kyai. "Aku pulang agak lambat hari ini. Ada kegiatan di kampus, assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." imbuhnya.


Berpamitan dengan ayahnya, tapi ketika bersama dengan Ustadz Zamil, dia hanya mengangguk saja dan mengucapkan salam. Kemudian pergi begitu saja. Barulah pak kyai menjawab salam Wafa ketika putrinya itu sudah keluar dari pintu rumah.


"Abi, Apa baik jika Abi dan Wafa terus berseteru seperti ini? Saya bukan mau ikut campur, tapi situasi seperti ini membuat kami, yang lainnya tidak nyaman," celetuk Ustadz Zamil.


Pak kyai tidak menjawab, dia menatap kepergian Wafa.


"Abi—" lanjut Ustadz Zamil.


Jalan nafas pendek itu terdengar sangat berat. "Abi hanya ingin tahu, mengapa Wafa berubah semenjak dekat dengan Pak Bian," jelasnya.

__ADS_1


"Bukannya Abi ingin melarang Wafa berhubungan dengan siapapun itu. Abi hanya ingin tahu saja, hubungan mereka ini sudah sampai tahap mana. Takutnya, mereka memiliki hubungan yang serius, dan Abi tidak mengetahuinya," ungkap pak Kyai.


"Tidak ingin membuat Pak Bian merasa tak bebani karena hubungan mereka juga terhalang dengan keyakinan, aku juga tidak ingin melihat putri Abi hatinya terluka." tukas beliau.


Apa yang dikhawatirkan oleh Pak Kyai memang benar adanya. Namun cara Pak Kyai menyikapi situasi tersebut sedikit salah karena sebelumnya memang sudah ada cekcok diantara kedua. Wafa juga sudah terluka karena perlakuan ayahnya yang tidak adil padanya. Jadi apa yang diributkan keduanya, pasti akan menuai salah paham saja.


Sifat yang sama-sama keras membuat keduanya tidak bisa mengendalikan emosi satu sama lain. Tapi Ustadz Zamil berusaha untuk menjadi penengah di antara mereka.


"Abi, jika memang guava memiliki hubungan serius dengan Pak Bian, saya rasa memang tidak ada salahnya," kata Ustadz Zamil dengan lembut.


"Bisa kita lihat, meski Wafa tidak semangat lagi kuliahnya, tapi saya melihat kalau Wafa ini memang pekerja keras supaya bisa memuliakan anak-anak asuhnya, Abi,"


"Dengan bekerja sama dengan perusahaan Pak Bian, saya rasa memang passion Wafa ada dalam bidang bisnis. Jika sudah seperti itu, kenapa kita tidak mendukung potensi yang Wafa miliki saja?"


"Soal perasaan Wafa terhadap Pak Bian, biarlah itu menjadi urusannya, Abi. Kita percayakan semuanya pada Wafa. Abi juga tidak ingin 'kan, terus berdebat dengannya?"


Pak Kyai merenungi ucapan dari Ustadz Zamil. Ada beberapa usulan yang diterima baik oleh Pak Kyai, ada juga yang belum bisa diterima oleh beliau tentang hubungan antara Pak Bian dan juga Wafa jika benar-benar dalam tahap serius. Bukan masalah Bian seorang duda dengan satu anak, melainkan karena keyakinan yang berbeda.


Percakapan mereka terhenti ketika Dian datang membawakan teh dan camilan. Dian mengatakan pada pak kyai jika Wafa pagi itu sarapan seperti biasanya, banyak dan terlihat menikmati makanannya.


"Apa dia makan sebanyak itu?" tanya pak kyai.


"Benar paman Kyai!" seru Dian. "Bahkan Wafa terlihat sangat tenang dan juga ceria. Apa pan Kyai tahu, Apa alasannya Wafa suasananya baik di pagi hari ini?" lanjutnya.


"Apa itu?" tanya pak kyai.


"Itu semua karena anaknya Pak Bian. Wafa bilang mau ke sekolahnya anaknya Pak Bian pagi ini. Lalu, baru mengurus urusannya di konveksi dan yayasan," ungkap Dian.


"Begitu, ya?" Pak Kyai mengangguk-anggukkan kepala.


Saat ini Pak Kyai tahu apa yang membuat putrinya senang. Yakni—gadis kecil yang bernama Grietta. Gadis cilik itu, mampu membuat suasana hati Wafa menjadi baik semula, padahal semalam Wafa baru berdebat dengan beliau

__ADS_1


Apakah Wafa hendak membawa Grietta pulang ke rumah?


__ADS_2