Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Hari Pertama Menjaga Grietta


__ADS_3

Setelah bertemu dan mengobrol sebentar dengan Hana, Wafa segera pergi ke kampusnya. Dia sedang menunggu bus di halte saat itu. Wafa memang jarang sekali mengendarai kendaraan sendiri, meski bisa.


"Tumben sekali jam segini belum datang busnya?" gumamnya. "Bisa terlambat ini aku."


2 menit kemudian, mobil Ustadz Lana melintas. Wafa tidak paham jika itu mobil yang selalu Ustadz Lana kendarai. Bahkan mobil itu sampai berhenti di depannya persis saja, Wafa masih belum ngeh. Wafa malah sibuk dengan ponselnya, berharap ada kabar dari Bian.


"Assalamu'alaikum, Wafa. Kamu sedang menunggu bus?" suara seorang pria menyapa.


Wafa mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang menyapanya. Ustadz Lana tersenyum manis di depan matanya. "Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh," jawab Wafa.


"Ustadz, anda—"


"... mau kemana?" tanya Wafa menoleh ke kanan-kiri.


"Naiklah, saya akan mengantarmu ke kampus. Ayo, sebelum busnya datang," ajak Ustadz Lana.


Awalnya Wafa hendak menolak, tapi dari belakang sana, bus yang akan berhenti di halte tersebut sudah datang. Segera Wafa membuka pintu mobil, kemudian masuk ke mobilnya Ustadz Lana.


"Kalau boleh tahu, kenapa tadi ada di halte sana?" tanya Ustadz Lana, dia tahu kalau halte itu bukan halte tempat yang dekat dengan pesantren.


"Habis ke yayasan dan menengok Grietta sebentar," jawab Wafa.


"Grietta? Siapa Grietta?" lanjut Ustadz Lana.


"Anaknya Pak Bian," jawab Wafa. "Sekolahnya berhadapan dengan yayasan kasih, jadi sekalian menyapanya," imbuhnya.


Ustadz Lana mengangguk pelan. Ingin sekali dirinya bertanya mengapa Wafa menemui Grietta. Namun ia tidak bertanya karena berpikir akan membuat Wafa tidak nyaman. Apalagi, tentang Bian dan Grietta tidak ada urusannya dengannya.


"Ada kelas pagi, ya?" tanya Ustadz Lana lagi. Basa-basi karena suasana menjadi sunyi.


Wafa mengangguk. "Iya." jawabnya.


Sudah, tidak ada lagi pembahasan yang hendak dibicarakan. Ustadz Lana menjadi sedih karena Wafa masih tidak bisa akrab dengannya. Mengingat kemarin melihat Wafa dan Bian bisa tertawa bersama, membuatnya begitu iri.


'Wafa, saya tidak tahu hubungan kamu dengan Pak Bian itu yang bagaimana. Semoga saja kamu bisa mempertimbangkan aku, sebagai calon masa depanmu.' batin Ustadz Lana.

__ADS_1


Sesampainya di kampus, Wafa turun sambil mengucapkan terima kasih. Tanpa basa-basi dan Ustadz Lana memaklumi itu, ia menduga jika Wafa memang sedang terburu-buru.


Langkah Wafa semakin cepat karena dia tidak mau terlambat, sampai tak sengaja menabrak seorang lelaki yang tengah berdiri di depannya.


BRUKKHHHH!!!


"Aduh, maaf. Saya terburu-buru," ucap Wafa memungut tasnya yang jatuh.


Belum sampai meraih tasnya, lelaki itu sudah mengambilkannya. Ternyata, Ferdian yang tadi ia tabrak. "Lain kali hati-hati.' ucapnya lirih.


Wafa menerima tasnya yang diambilkan oleh Ferdian. Kemudian menundukkan kepalanya seraya mengucapkan terima kasih. "Maaf juga untuk yang tadi. Saya benar-benar tidak sengaja, karena terburu-buru. Terima kasih juga sudah mengambilkan tas saya," ucapnya.


"Lagi-lagi kami bicara dengan formal padaku. Mengapa, Wafa? Bisakah kita seperti dulu saja? Kita bahkan sudah mengenal sejak lama 'kan?" Ferdian memandang Wafa dengan pandangan memelas.


"Maaf, saya terburu-buru." Wafa pergi begitu saja.


Perlakuan Wafa pada Ferdian membuatnya sedih. Ia merasa jika Wafa semakin jauh dan sulit untuk mencapainya. Seringkali Ferdian mencari Wafa dan ingin bertemu tapi tetap saja Wafa tidak mau menemuinya.


"Semoga kamu selalu baik-baik saja. Kita benar-benar sudah jauh saat ini, Wafa." gumam Ferdian.


***


Selesai kelas, Wafa menjemput Grietta sekitar jam 12 siang di sekolahnya. Terlihat ia terburu-buru sekali takut terlambat dan membuat gadis kecilnya menunggu, sampai harus mengabaikan Kristian dan Lestari yang menyapanya di depan gerbang kampus.


"Hai, aku pulang dulu ya ...." ucap Wafa, sambil melambaikan tangan, masuk ke angkutan umum.


Sesampainya di sekolah, pas sekali anak-anak sedang keluar. Wafa segar berlari supaya Grietta tidak mencarinya.


"Wafa, kamu naik angkutan umum?" tanya Hana, yang juga baru saja sampai.


Wafa mengangguk.


"Memangnya dari mana kamu? Kok, naik angkutan umum? Nggak diantar oleh supir saja?" imbuhnya.


Wanita berusia 27 tahun itu sangat antusias jika sedang bersama dengan Wafa. Sementara Wafa saja responnya biasa saja, dia tidak mau terlalu dekat dengan siapapun karena takut kebohongan bersama dengan Bian akan terbongkar, meski Hana juga sudah tahu tentang kebohongan itu.

__ADS_1


"Aku pulang dari kampus, hari ini ada kelas pagi. Kupikir aku bisa lebih awal dari jam pulangnya Grietta. Ternyata sedikit terlambat," jawab Wafa dengan senyuman.


"Lalu, sopirnya?" tanya Hana lagi.


"Tadi aku berangkat dari rumahku. Tidak mungkin juga harus merepotkan sopir di rumahnya Grietta. Lagipula, takbiran juga pergi ke luar negeri, Grietta harus pulang ke rumahku hari ini." jelas Wafa.


Hana memang orang yang mudah mengerti. Dia paham apa yang dikatakan oleh Wafa. Sampailah anak-anak menghampiri mereka. Wafa mengatakan bahwa dirinya masih harus mengantar Grietta les.


"Les? Grietta memangnya sedang mengikuti kegiatan apa?" tanya Hana.


"Dijadwalnya sih—hari ini ada les piano. Tapi tidak tahu Grietta bersedia atau tidak. Aku tidak akan melaksanakannya," jawab Wafa menunjukkan jadwal kegiatan Grietta ketika di luar rumah.


"Tapi yang aku tahu ... Grietta ini tidak menyukai musik. Tapi mungkin Grietta suka main piano, itu sebabnya dia masuk les pi—" ucapan Hana terhenti.


"Kenapa? Ada apa? Kenapa kamu tidak melanjutkan ucapanmu?" tanya Wafa menjadi penasaran.


Hana jadi teringat dengan Flanella yang juga menyukai piano. Hal itu membuat Hana sedikit tidak suka karena mengingat seseorang yang telah melukai perasaannya. Hana pun bertanya kepada Wafa untuk menanyakan Siapa yang membuat jadwal les piano untuk Grietta.


"Jadi, aku harus menelpon Papanya nih?" tanya Wafa.


"Sebaiknya kamu bawa dulu Grietta ke tempat lesnya. Nanti kalau dia sudah masuk ke kelas, kamu bisa menanyakan hal yang aku tanyakan tadi kepada Bian," sahut Hana.


"Wafa, aku tidak ingin menyulitkan kamu. Tapi aku juga tidak ingin ada anak kecil seperti Grietta dipaksa menjadi sempurna oleh orang tuanya. Pergilah, aku juga mau ke salon soalnya, bye!"


Hana lagi begitu saja setelah mengatakan hal yang tidak bisa Wafa pahami. Hanya ini menyimpan sekali banyak teka-teki dan juga rahasia, membuat Wafa semakin penasaran dengan Hana. Tapi memang ada baiknya juga Wafa mempertanyakan kepada Bian tentang les yang dijalani oleh Grietta.


'Apa yang dikatakan Hana memang ada benarnya. Di jadwal ini saja banyak sekali les yang harus Grietta ikuti. Sebenarnya siapa yang menjadwalkan semua ini?' batin Wafa.


"Mama ..." panggil Grietta.


"Hei, iya. Ada apa, cantik? Mau ke tempat les hari ini? Ada les piano untukmu, apa kamu sudah siap pergi?" Wafa selalu tanggap dengan panggilan lirih Grietta.


Tapi ekspresi Grietta ketika mendengar bahwa ada les hari itu, membuatnya murung. Tangannya langsung lemas sampai melepaskan genggaman tangan Wafa. Dari sana, Wafa mulai curiga dengan jadwal yang Bian kirimkan itu.


Bab ini malah ke up di cerita 'Mengejar Cinta Mas Tama' huhuhu sad

__ADS_1


__ADS_2