
Wafa berpikir sejenak. Sayangnya, bukannya bisa berpikir, pikirannya malah terus saja dipenuhi dengan Bian yang lagi tadi membentaknya. Alhasil, Wafa pun mengangguk, menyetujui dan mengiyakan ajakan Ustadz Lana. Terlihat Mayumi yang sepertinya sudah tidak tahan serta sudah gatal tangannya ingin mempermalukan Wafa di depan umum. Dia pun beranjak dari tempat duduknya dan menuangkan es teh yang telah Wafa pesan ke hoodie-nya.
"Astaghfirullah hal'adzim," sebut Wafa, masih bisa bersabar. Wafa langsung menatap Mayumi yang saat itu memang duduk di sebelahnya.
"Kenapa? Mau marah? Hoodie yang dipakai ini pasti cuma harga 35 Ribuan 'kan? Sini, gue beliin setoko-tokonya," kata Mayumi dengan kesombongan dirinya.
"Astaghfirullah hal'adzim, Wafa. Ini, baju kamu basah. Gunakan ini—bisa menyerap air di baju kamu," ucap Ustadz Lana memberikan Wafa tisu.
Ustadz Lana adalah orang yang sabar. Namun, melihat gadis yang dia sukai dibully di depan matanya, Ustadz Lana mengambil langkah yang tegas. "Mbak, ada masalah apa, ya? Kenapa Mbak sampai menuangkan es seperti ini terhadap orang lain? Itu namanya tidak sopan, loh!"
"Hey!" Mayumi meneriaki Ustadz Lana.
"Asal lu tahu saja, ya. Elu itu cuma dianggap selingan sama nih, cewek!" Mayumi sampai menunjuk-nunjuk wajah Wafa.
Tak hanya sampai di situ saja, Mayumi juga fitnah Wafa sebagai wanita yang sama siapa saja mau. Apa yang dilihatnya kemarin, juga dikatakan saat itu. Mayumi tidak tahu saja jika pria yang kemarin itu adalah kakak sepupunya Wafa.
Tak ingin berdebat dengan Mayumi yang dianggapnya masih terlalu labil, Wafa cukup diam dan membersihkan pakaiannya dari air es teh. Ustadz Lana menatap gadis yang dikaguminya dengan tatapan bangga.
"Mbak Wafa?" panggil pemilik restoran.
"Iya, Pak. Saya di sini," sahut Wafa melambaikan tangannya.
"Owalah," pemilik restoran mendekatinya. "Loh, ini ada apa ini? Kenapa bersitegang seperti ini?" tanyanya.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Wafa sama sekali. Dia cukup diam dan tidak mau menambah masalah lagi. Sementara Mayumi terus menghina dan mengatakan segalanya yang tidak pernah Wafa lakukan. Gadis berusia 21 tahun itu juga mengatakan dengan lantang bahwa Wafa dan Ustadz Lana adalah pasangan zina. Sampai mengganggu para pengunjung.
"Perlu kalian ketahui bahwa gadis dan pria yang ada di sampingnya ini adalah pasangan zina. Kalian jangan pernah tertipu dengan penampilan orang-orang seperti mereka berdua ini," ungkap Mayumi sambil teriak.
__ADS_1
"Banyak sekali di antara mereka yang berkedok wanita muslimah dan juga seorang pria muslim dengan pakaian yang seperti ini, tapi ternyata kelakuannya minus," sambungnya.
"Siapa tahu, bisa jadi kalau anaknya seorang pelakor dan playgirl seperti dia, pasti ibunya juga sama. Atau bisa jadi, Ibunya adalah seorang pelacur. Hm, aku ja—"
PLAK!!
Mayumi mendapat tamparan keras tangan Wafa yang mengenai pipi mulusnya. Riasan tebal di wajah Mayumi seketika longsor. Pemilihan warna foundation yang salah itu menempel di tangan Wafa.
"Kamu boleh saja menghinaku sesuka hatimu. Tapi jangan pernah sesekali kamu menghina Ibuku. Jika saja kamu tahu siapa aku—Astagfirullah hal'adzim," Wafa masih mengontrol emosinya.
Hampir saja emosinya membuatnya sombong dengan membongkar jati dirinya. "Pak, gurame dan bakso-nya, apa sudah jadi?" Wafa mengalihkan emosinya dengan bertanya kepada pemilik restoran tentang pesanannya.
"Alhamdulillah sudah, Mbak. Ini pesanan Mbak dan Ustadz Maulana," ucap pemilik restoran tersebut dengan memberikan pesanan Wafa.
Pemilik restoran itu memang sudah mengenal Ustadz Lana ketika ada pengajian-pengajian dan tausiah yang dihadiri oleh Pak Kyai. Namun, tidak tahu jika Ustadz Lana dan Wafa sudah saling dijodohkan.
"Bayarnya nanti saja, ya. Biar nanti, Zira atau Mas Reyhan yang datang ke sini. Saya benar-benar sudah tidak tahan dengan wanita ini," desis Wafa, melirik ke arah Mayumi.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab pemilik restoran.
"Woy, nggak bisa bayar jangan sok bergaya memesan makanan di restoran mahal. Dasar gembel!" teriak Mayumi.
Apa yang dilakukan oleh Mayumi ini siapa saja mempermalukan diri sendiri. Beberapa orang yang bekerja di restoran juga tahu siapa Wafa. Bahkan pemilik restoran saja sempat menahan tawa karena ketidaktahuan Mayumi ini. Tapi karena apa yang terjadi itu adalah urusan orang lain, maka pemilik restoran pun tidak mau ikut campur selagi tidak ada kekerasan ataupun merugikan beliau.
Bahkan Ferdian yang sudah tahu segalanya tentang Wafa saja tidak tega ingin memberitahukan kebenaran tentang siapa Wafa ini kepada Mayumi. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sesampainya di mobil, Wafa terlihat begitu sangat kesal. Yah, Siapa yang tidak kesal jika orang tuanya, apalagi ibunya yang sudah melahirkan anaknya dengan susah payah, dihina-hina oleh orang lain yang tidak tahu kebenarannya. Apalagi orang yang dihina itu sudah tiada.
__ADS_1
Sakit hati sekali Wafa merasakannya. Bisa saja tadi Wafa membalasnya. Namun, karena tidak ingin memperkeruh suasana, dan juga saat itu dirinya bersama dengan Ustadz Lana bukan dengan Bian, jadi Wafa tahan saja kekesalannya.
"Apa sudah bisa jalan sekarang?" tanya Ustadz Lana, setelah melihat gadis yang dikaguminya masih kesal.
Tidak ada jawaban, Wafa rupanya masih belum bisa diajak bicara. Tapa persetujuan Wafa, Ustadz Lana menyalakan mesin mobilnya dan segera pergi dari restoran.
Selama di perjalanan, Wafa hanya diam saja. Ustadz Lana pun berharap bisa menghibur Wafa. Namun, dia belum menemukan caranya. Sampai terpikirkan untuk membuat candaan.
"Kalau bibirnya terus saja cemberut seperti itu, nanti malah yang ada tanduknya keluar. Lalu, matanya berapi-api, loh!" seru Ustadz Lana.
"Mana ada?" kesal Wafa.
"Masya Allah, serius, loh! Nanti tanduknya berwarna merah. Mau seperti itu?" lanjut Ustadz Lana.
Ustadz Lana terus saja menggoda Wafa supaya bisa membuat Wafa tersenyum. Sayangnya, karena bukan gaya Ustadz Lana seperti itu, jadinya terdengar terasa tidak nyaman. Tiba-tiba, pikiran Wafa dipenuhi oleh Bian. Sampai dirinya meneriaki Ustadz Lana dengan nama pria kaya itu.
"PAK BIAN, CUKUP!"
Teriakan Wafa membuat Ustadz Lana menghentikan mobilnya secara mendadak. Beruntung saja di mobil mereka tidak ada kendaraan yang sedang melaju. Jika ada, maka lain lagi ceritanya.
"Siapa Pak Bian?" tanya Ustadz Lana.
Wafa menjadi gugup. Dirinya juga tidak sadar bahwa seharian terus saja memikirkan Bian. Pria yang dia kenal belum genap satu bulan itu terus saja mengganggu pikirannya. Jantungnya berdebar kencang.
"Um, dia ... dia hanya tokoh dari novel yang saya baca. Saya masih kesal saja dengan wanita tadi karena menghina Umi saya," jawab Wafa, pandai sekali tanpa merasa gugup parah.
"Maafkan saya, saya jadi membentak Anda, Ustadz," sambung Wafa, menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Meski sedikit kecewa karena Wafa menyebut nama seorang pria, Ustadz Lana tetap tersenyum membalas permintaan maaf Wafa. "Masya Allah, santai saja, Wafa. Untuk apa kamu meminta maaf kepada saya? Kamu tidak melakukan kesalahan dengan saya 'kan?" ucapnya.
Wafa membalas senyuman Ustadz Lana. Lalu, kembali menatap luar dan Ustadz Lana pun fokus menyetir lagi. Meski itu hanya alasan Wafa saja, tapi Ustadz Lana yakin jika nama Bian memang orang yang nyata, bukan tokoh dalam novel.