
"Astaga, Wafa. Aku sampai tidak tahu harus berkata apalagi tentang kisahmu yang begitu rumit itu. Tapi, aku bisa memberimu satu kata saja. Semangat!" celetuk Inneke.
"Sekarang kamu bisa ambilkan tas kuliahku di rumah, tidak? Sepertinya aku masih malas pulang. Kamu bisa 'kan? Hehehe,"
Seketika, ekspresi wajah Inneke langsung berubah drastis dari sedih menjadi datar. "Huh, sudah kuduga!"
Sejak dulu, Wafa memang seperti itu. Jika dirinya dianggap belum tenang hatinya, Wafa belum mau pulang dan selalu meminta Inneke untuk mengambil kebutuhannya seperti peralatan sekolah, tas sekolah, pakaian ganti dan seragam ketika masih menjadi pelajar SMA dulu. Kini, Inneke harus mengambilkan tas dan juga buku-buku yang akan Wafa bawa ke kampus.
***
Seharian di kampus, Wafa tidak bertemu dengan Ferdian, Dani, Mayumi dan juga Lalita. Hati Wafa tenang jika tidak bertemu dengan keduanya. Ketika mau pulang, ternyata Inneke tidak bisa menjemputnya karena ada kelas lagi, dadakan. Alhasil, Wafa yang masih enggan untuk pulang memutuskan untuk naik angkutan umum menuju ke yayasan.
Sekitar 5 menit menunggu angkutan umum tidak datang, ada mobil yang berhenti di depan Wafa berdiri. Gadis berusia 20 tahun ini penasaran dengan pemilik mobil yang berhenti di depannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam pemilik mobil tersebut.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Wafa.
Pemilik mobil itu adalah Ustadz Lana. Entah kebetulan atau memang sengaja Ustadz Lana melintas di kawasan kampus. Sebab, rumah Ustadz Lana ini sangat jauh dari kota yang ditinggali Wafa. Tentu saja jauh karena Ustadz Rizal tinggalnya di beda kota.
"Ustadz, Anda ...."
"Hari ini saya ingin berkunjung ke rumah kamu. Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Pak Kyai dan juga Mas Reyhan," jawab Ustadz Lana sebelum Wafa menyelesaikan pertanyaannya.
Wafa hanya mengangguk saja. Kemudian diam kembali.
"Ayo, sekalian saja kamu bareng saya. Bukankah kita satu tujuan?" ajak Ustadz Lana. "Kita juga sudah dewasa. Tidak mungkin kita akan berbuat hal yang tidak tidak hanya karena di dalam satu mobil." sambung Ustadz Lana.
__ADS_1
Melihat dari raut wajah Wafa, memang sepertinya Wafa merasa ragu. Ustadz Lana menjelaskan kepada Wafa untuk tidak khawatir ketika mereka hanya berdua. Padahal jika dirasa, Wafa sendiri sudah mulai tidak menjaga diri sebagai seorang muslimah dengan bersama Bian meski hanya sesaat.
Mau tidak mau, Wafa juga tidak bisa menolak karena merasa tidak enak. Segera Wafa masuk dan memalingkan wajahnya ke sebelah kiri.
"Oh ya, bakso langganan Mas Reyhan itu dimana, ya? Tadi dia sudah telepon, kalau sudah sampai di Jogja, minta dibawain bakso langganannya. Tapi tidak memberi alamat warung baksonya. Saya jadi penasaran sama rasa dari bakso itu. Kamu tahu 'kan?" tanya Ustadz Lana memecah keheningan yang membuat suasana canggung.
"Pertigaan depan ini, nanti belok ke kiri. Ya, memang baksonya enak sekali. Bahkan gurame bakarnya juga enak. Rumah makan itu memang langganan keluarga kami," jawab Wafa, dengan menatap lurus ke depan.
"Oh ya? Kamu juga suka ikan gurame kah?" lanjut Ustadz Lana bertanya.
Wafa mengangguk. "Suka, saya sangat suka ikan gurame. Dulu, kata Abi ... ketika Umi mengandung saya, beliau ngidam gurame. Mungkin karena itu saya juga suka ikan gurame. Tapi memang ikan gurame itu mau diolah berbagai macam masakan, tetap saja enak," ungkap Wafa, tanpa sengaja bercerita panjang.
Ustadz Lana senang karena Wafa sudah tidak kaku lagi ketika bersamanya. Namun, Ustadz Lana juga sadar diri karena perasaan Wafa tidak bisa dipaksakan. Hanya dengan cara halus, itulah yang mampu Ustadz Lana lakukan.
"Kalau begitu, sepertinya saya juga mau belajar membuat gurame bakar," celetuk Ustadz Lana.
"Mengapa seperti itu?" tanya Wafa penasaran.
Tidak menduga, Wafa malah tertawa dengan apa yang Ustadz Lana katakan. Dia teringat ketika dirinya belajar bakar gurame, jawabannya sama dengan jawaban yang Ustadz Lana berikan.
***
Setelah sampai di tempat langganan keluarga Wafa, mereka tidak sengaja bertemu dengan Mayumi, Dani dan juga Lalita. Ternyata Ferdian juga ada bersama mereka. Dia baru saja keluar dari toilet. Ferdian ini sering bersama dengan Dani karena memang mereka berteman. Ada hal yang membuat mereka selalu bersama.
Keluarlah Wafa dan Ustadz Lana dari mobil yang terbilang mobil mewah. Ferdian melihat Wafa dengan pria lain, apalagi penampilan Ustadz Lana juga cocok dengan Wafa, menimbulkan rasa cemburu dihatinya.
"Siapa cowok itu? Kenapa Wafa terlihat sangat bahagia dengannya? Huft, cowok itu juga pasti bukan keluarganya!" pandangan mata Ferdian, Wafa sedang bahagia.
__ADS_1
Memang saat itu Wafa masih bisa tertawa karena lawakan yang Ustadz Lana berikan. Keduanya sudah mulai akrab. Wafa sendiri juga merasa tidak sepantasnya dirinya bersikap ketus kepada Ustadz Lana karena memang pria berusia 27 tahun itu tidak bersalah apapun kepadanya.
Tiba-tiba ....
"Eh si miskin tuh!" tunjuk Mayumi. "Buset, mobil cowoknya keren juga. Dasar jiwa pelakor ya, gitu dah. Pasti dia selingkuh dari cowok yang kemarin mengantar dia pakai motor butut. Secara yang ini mobilnya keren banget!" Mayumi mulai suudzon.
"Gue juga mau ah, jadi selingkuhannya!" seru Dani bahagia.
"Astaga, cowok lu, Yumi," sahut Lalita, si tukang kompor.
"Eh, cumi. Mau lu, gue jadikan pepes cumi balado?" ketus Mayumi, cemburu lagi.
"Berisik sekali kalian ini. Sudahlah biarin saja. Toh, Wafa juga tidak merugikan kalian 'kan?" timpal Ferdian yang sedang dimabuk cemburu, bukan dimabuk cinta.
Wafa melihat mereka berempat. Dia hanya melirik ke arah Ferdian saja. Berharap pria yang pernah mengenalnya selama berbulan-bulan di pesantren dulu tidak mengungkap identitasnya di depan teman-temannya yang nakal itu. Pemilik restoran mempersilahkan Wafa untuk duduk secara hormat seperti biasa.
Ustadz Lana mulai memesan dan lagi-lagi Ferdian hanya bisa melihat dari kejauhan saja. Di sisi lain, Mayumi malah merasa heran, kenapa pemilik restoran itu begitu ramah kepada Wafa tapi tidak dengan dirinya dan teman-temannya yang hanya dilayani oleh pelayannya saja. Muncullah pikiran pikiran kotor mengenai Wafa di otaknya.
"Bungkus saja, ya. Kamu mau juga mau di pesankan atau tidak?" pertanyaan Ustadz Lana, didengar oleh mereka berempat.
Sengaja mereka pasang telinga untuk mendengar apa yang dibicarakan oleh Wafa dan Ustadz Lana di meja yang kebetulan ada disebelah mereka.
"Iya, satu saja. Gurame di sini besar. Jadi, satu porsi bisa buat makan satu keluarga di rumah saya," jawab Wafa.
"Kamu tidak mau bakso?" tanya Wafa lagi.
"Um, baiklah," jawab Wafa iya, iya saja.
__ADS_1
"Apa kamu mau menemani saya berkeliling, besok? Setelah kuliah tidak masalah. Saya bisa jemput kamu," ajak Ustadz Lana.
Ajakan Ustadz Lana mengingatkan dirinya dengan Bian. Selalu saja yang dalam ingatan Wafa saat itu hanyalah duda muda yang bernama Bian. Tidak tahu bagaimana perasaan Wafa ini, tapi dirinya selalu saja mengingat Bian jika sedang bersama dengan orang lain. Apakah Wafa mengiyakan ajakan Ustadz Lana?