
"Huh, justru makan manis itu malah bisa buat eneg di perut, wahai Nona Inneke. Makanya harus makan yang berkuah meski tidak harus dengan nasi."
Keduanya kembali berdebat di dapur. Memang tiada waktu tanpa berdebat jika sudah bertemu. Sebentar sebentar berbaikan, sebentar lagi juga akan berdebat seperti itu. Keduanya tidak pernah bisa akur sebentar saja. Apapun diperdebatkan sampai Bian dan Inneke sendiri sering kesal mendengarnya.
Mengambil keputusan di tengah-tengah, keduanya membuat sarapan dengan dua versi, manis dan juga asin. Sayangnya Bian malah lebih memilih sarapan dengan makan biskuit dan kopi saja. Hal itu membuat Zaka Yang dan Inneke sama-sama harus makan makanan yang mereka buat sendiri.
Suasana sarapan pagi itu hanya diisi oleh suara peraduan antara piring dan sendok saja. Baik Inneke atau Zaka Yang hanya saling menatap, seperti keluar laser berwarna biru dan merah diantara keduanya.
"Makan sana itu sup nasimu. Aku tidak suka!" ketus Inneke. "Biasa saja melihatku, aku tau kalau aku cantik!" sambungnya.
"Makan juga itu waffle-mu, aku juga tidak suka!" balas Zaka Yang, ketus. "Cantik kalau di lihat dari sedot. Sedotan di sini dan kau di tembok raksasa."
Baju yang dipesan oleh Bian juga sudah datang. Baju yang sederhana dan simple itu cocok sekali untuk Wafa. Meski tidak dengan riasan wajah, Wafa tetap terlihat cocok sekali dibalut pakaian tersebut.
"Kalian makan saja dulu. Saya akan mengantar Wafa sendiri. Kalian terus berdebat, membuat suasana semakin ricuh saja!" dari belakang, Bian sudah bersiap membawa Wafa keluar.
"Eh, tunggu! Kamu ju—"
Belum selesai Inneke berkata, Wafa sudah pingsan saja. Semuanya menjadi panik dan segera Bian menggendong Wafa, sementara Inneke dan Zaka Yang juga membantu membuka pintu untuk Bian. Zaka Yang segera menyiapkan mobil, lalu Inneke membantu membawa tas Wafa yang baru saja ia ambil dari apartemen Wafa dengan cepat.
Antara Inneke dan Zaka Yang memang kompak sekali jika sudah panik. Keduanya menjadi partner yang hebat dalam menangani situasi genting.
Sesampainya di rumah sakit, Bian langsung berteriak setelah membuka kaca mobilnya.
"Hei, apa kalian tidak melihat mobil di sini? Cepat datang kemari! Ada pasien yang sudah tidak sadarkan diri!" teriaknya.
"Pak Bian, tenang lah ...." Inneke mencoba membuat Bian lebih tenang. Namun apa yang dia dapatkan?
"Diam! Apa kau tidak mengerti betapa paniknya aku?" sentak Bian pada Inneke.
Setelah mendapat bentakan dari Bian membuat Inneke merasa kecil hati. Gadis itu langsung diam saja dan memasang raut wajah yang melas sekali.
__ADS_1
'Kasihan juga dia ...' batin Zaka Yang.
Segera para perawat. Tapi aksi Bian kali itu membuat Zaka Yang sendiri semakin pusing. Saat itu ada perawat laki-laki yang ingin menyentuh tangannya Wafa secara langsung.
"Singkirkan niat burukmu itu!" sentak Bian. "Jangan sentuh dia sembarangan, apa kau mengerti!" imbuhnya.
"Tapi, Tuan ..." perawat itu sampai bingung.
"Aku minta dokter perempuan dan juga perawat perempuan yang menangani dia. Wanitaku tidak boleh disentuh oleh pria manapun, meskipun dokter bekerja di bawah sumpah sekalipun, apa kalian paham!" tegas Bian.
'Oh, Tuhan ... pria ini sudah menggila. Sungguh edan, sangat edan!' Inneke menggerutu dalam hati.
Setelah Zaka Yang menjelaskan tentang keadaan yang ada, barulah apa yang diinginkan Bian terwujud juga. Saat itu yang menangani Wafa, semuanya seorang perempuan. Bian pun sudah mulai tenang.
Kini semuanya baik-baik saja. Wafa juga langsung membaik karena hanya kelelahan dan telat makan saja. Tapi saat itu Wafa sedang tidur, disampingnya Bian selalu setia menunggu.
"Tuan, meeting kita akan dilaksanakan satu jam lagi. Bagaimana jika anda bersiap dulu?" ujar Zaka Yang lirih. "Lagipula ada sahabatnya disini. Setelah selesai nanti, anda bisa langsung ke sini," imbuh sang asisten gugup.
"Maafkan saya, Tuan ...." ucap Zaka Yang.
"Haiya, Pak Bian. Sebaiknya anda memang pergi saja ke rapat penting itu. Wafa bersamaku, aman lah ..." timpal Inneke. "Dia juga sedang tidur, jadi nanti begitu dia terbangun tapi Pak Bian belum sampai sini, aku akan paksa dia untuk tetap terpejam, bagaimana?" usulnya.
Usulan Inneke membuat Bian semakin kesal saja. Ia merasa semua orang sedang mengajarinya, padahal pria itu hanya sedang mengkhawatirkan Wafa.
Meeting kali itu sangat penting, jadi terpaksa Bian harus meninggalkan Wafa tanpa menunggu Wafa bangun dulu.
"Baiklah, ayo kita pergi, Zaka," ajak pria itu. "Kau, jaga Wafa baik-baik. Segera bergambar jika terjadi sesuatu pada diri, mengerti?" tunjuk Bian pada Inneke.
Inneke mengangguk disertai rasa takut pada Bian. Setelah Bian dan Zaka Yang pergi, barulah Inneke bisa duduk dengan leluasa tanpa memikirkan rasa sungkan lagi.
"Haih, Wafa ... segala macem sakit pula kamu ini. Beruntung saja selama kita disini keluargamu belum menelepon," gumam Inneke.
__ADS_1
"Sebaiknya aku cek dulu. Apakah ada tugas dari kampus apa tidak, hmm ... dasar ponsel jadul, sulit sekali menerima sinyalnya," keluh Inneke, memukul kecil ponselnya.
Baru saja mengatai ponselnya buruk, ada panggilan dari Sari.
"Eh, buset. Mbak Sari ngapain telepon, sih?" Inneke menjadi panik. "Kamu harus pasang perasaan tenang, tenang ...."
Inneke mengambil napas dalam-dalam, kemudian mengeluarkan secara pelan. Baru mau menjawab telepon dari Sari, telepon tersebut sudah mati.
"Loh, mati? Sudah tah, teleponnya? Syukurlah, Tuhan ...."
Sayangnya tak lama kemudian ponselnya kembali berdering. Inneke terkejut sampai melempar ponselnya dan mengenai kening Wafa yang saat itu masih terlelap.
"Aw ..." lirih Wafa. "Ke, kenapa sih, kamu?"
"Ora iso di alem-alem, yakin! Mbak Sari telepon, Fa. Hpku, hpku, kui telpon Seko Mbak Sari, angkaten!" Inneke sampai keluar jawanya.
"Astaghfirullah hal'adzim, Allahu Akbar. Aku masih pusing, loh!" keluh Wafa.
Inneke kembali meraih ponselnya, kemudian memberikan ponselnya itu pada Wafa. "Ora urus! Aku ora urus! Jawaben dewe, aku emoh meluhmelu," kekeh Inneke.
Ragu-ragu menjawab telepon, tapi tetap saja Wafa jawab telepon dari kakaknya tersebut karena tidak mau sampai membuat keluarga yang ada di tanah air menjadi khawatir.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, Mbak. Ini aku, Wafa ..." sapanya.
'Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah, Wafa, kamu ini .... Kenapa kamu tidak bisa dihubungi, sih? Sejak kemarin Abi mencemaskan kamu, loh!'
"Ya Allah, maafkan aku, Mbak. Nomorku tidak bisa di pakai lagi jika di sini. Kebetulan aku belum sempat membeli kartu baru yang khusus area ini," alasan Wafa.
'Mbak dan Abi sangat khawatir. Sejak kemarin kok, perasaan kita yang di rumah tidak enak gitu. Kamu baik-baik saja, kan, di sana? Abi sampai tidak tentram, makan pun tidak mau banyak karena kami belum memberi kabar.'
Rasanya sakit sekali menjadi Wafa ketika mendengar orang tuanya tidak mau makan dengan lahap. Wafa sampai meneteskan air matanya, begitu peka perasaan ayah dan kakaknya ketika ia sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1