Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Kaburnya Grietta


__ADS_3

Menyadari perasaan yang tidak tenang, Bian tiba-tiba teringat dengan putrinya. Bian juga merasa bersalah karena tidak sengaja mengusir putrinya ketika ingin bicara dengannya.


"Aku sudah keterlaluan pada Grietta. Apakah dia marah padaku?" gumamnya.


"Hmm, tapi aku sama sekali tidak mengatakan apapun. Dia pergi begitu saja, bagaimana mungkin dia marah padaku?" masih saja Bian membela diri.


Tok... Tok ... Tok ...


Suara pintu diketuk.


Zaka Yang datang membawakan makanan yang sudah Bian pesan.


"Tuan, makanan anda ...." Zaka yang menyajikan.


Bian hanya memberikan kode melalui tangannya. Terima kasih dan meminta Zaka Yang untuk segera keluar dari ruangannya.


"Iya, kau cek Grietta ke kamarnya, apakah dia sudah tidur apa belum. Tadi dia datang, tapi tiba-tiba pergi begitu saja," perintahnya.


"Baik, Tuan."


Segera Zaka Yang pergi ke kamar Nona mudanya.


~~


Sementara itu, ketika berada di perjalanan pulang dari pesantren, Ustadz Lana melihat Grietta sedang duduk di tepi jalan raya persis depan sekolahnya. Saking sayangnya, Ustadz Lana sampai paham sekali jika gadis kecil yang sedang duduk termenung di trotoar itu adalah Grietta.


"Astaghfirullah hal'adzim," ucap Ustadz Lana, menghentikan mobilnya.


Saat itu mobil Ustadz Lana sudah ada di sebrang jalan.


"Ya Allah, itu—Grietta?"


Ustadz Lana memastikannya lagi. "Pandangan mataku belum kabur. Tapi ini hampir jam 11 malam, bagaimana mungkin ji—"


Kembali Ustadz Lana memastikan apa yang ia lihat. Yakin jika yang ia lihat adalah Grietta, pria yang berperawakan tinggi dengan suara lembut ini langsung turun dari mobilnya. Dia menyeberang jalan yang saat itu hampir sepi dan sesekali lewat bus besar ataupun truk.


"Grietta!" panggil Ustadz Lana.

__ADS_1


Gadis kecil yang sedari tadi menundukkan wajahnya itu, mengangkat wajahnya kala mendengar namanya dipanggil.


"Nana?" suara Grietta sudah mulai serak, dia berjalan jauh sekali dari rumahnya sampai di depan sekolah.


"Sayang, kamu kenapa disini sendirian? Dimana Papamu?" tanya Ustadz Lana sangat khawatir.


"Mama Wafa," sebut Grietta berusaha payah supaya bisa bicara.


"Suaramu, suaramu kenapa? Ayo, kamu ikut Nana, ya. Kemarilah, Nana akan menggendongmu."


Tanpa berpikir lagi, Ustadz Lana langsung menggendong tubuh Grietta yang sudah lemas. Segera membawanya ke mobil untuk diberi minum.


"Ayo minumlah. Kebetulan Nama tadi habis beli air mineral dan masih belum Nana minum. Perlahan saja minumnya ... bismillah ...."


Cinta kasih Ustadz Lana yang seperti itulah yang mampu membuat Grietta sang gadis kecil introvert langsung melunak padanya.


"Apa kamu sudah baikan? Apakah Nana harus mengantarmu pulang?" tanya Ustadz Lana lagi.


Grietta menggelengkan kepala.


Gadis kecil itu langsung memeluk sang Ustadz dengan erat. "Tidak mau, aku tidak mau pulang!" tolaknya.


Dari nada bicaranya kereta saja Ustadz Lana sudah bisa menebak bahwa gadis kecilnya yang manis itu sedang memiliki masalah di rumahnya.


"Grietta, kenapa diam saja? Jika kamu diam saja seperti ini, Nana mana tahu apa yang kamu inginkan. Lalu, kemana juga tujuanmu, Nana tidak tahu," Ustadz Lana berusaha membujuk.


Semakin bingung karena Grietta hanya diam saja. Ustadz Lana pun meraih ponselnya, dia mencari nomor Wafa supaya bisa disambungkan pada Bian dan menjemput Grietta yang saat itu ada padanya.


Namun, niat Ustadz Lana ternyata dihentikan oleh tangan kecil Grietta. Gadis kecil itu menggelengkan kepala, "Jangan, aku ingin bersama Nana saja," ucapnya lirih.


"Apa kamu ingin menceritakan segalanya pada Nana? Dengan itu, kamu boleh ikut pulang bersama Nana," Ustadz Lana memang ahli dalam membuat hati anak kecil luluh, tapi tidak dengan hati Wafa.


Grietta mengangguk pelan.


Ustadz Lana pun meletakkan ponselnya. "Baiklah, mari kita bicarakan hal ini. Nana akan mendengar ceritamu, mengapa kamu sampai kabur dari rumah. Ayo, cerita!"


Grietta menceritakan tentang dirinya yang enggan bertemu dengan ibu kandungnya. Gadis kecil itu juga menceritakan kepada Ustadz Lana bahwa ada perjanjian antara kedua orang tuanya begitu dia bisa bicara lagi. Keinginannya untuk tinggal bersama Wafa juga ditentang oleh ayahnya. Hal itu juga membuat Grietta merasa kesal dan juga sedih. Disisi lain Grietta juga ingin sekali Wafa bisa menikah dengan ayahnya supaya bisa bersamanya setiap saat.

__ADS_1


Dari cerita Grietta, Ustadz Lana langsung mengerti. Pria ini tersenyum mendengar cerita Grietta yang memang wajar karena masih kecil. Siapa juga yang tidak ingin memiliki ibu sebaik Wafa, bahkan Ustadz Lana pun yang sudah dewasa juga ingin menjadikan Wafa sebagai partner hidupnya.


"Kenapa Nana hanya tersenyum? Aku sedang marah, jangan meledekku!" gadis kecil itu menyulut, berkacak pinggang seperti orang dewasa.


"Apa yang Grietta rasakan saat ini, sebenarnya juga pernah Nana rasakan dulu waktu kecil," kata Ustadz Lana.


Gadis kecil itu masih kesal saja.


"Sewaktu kecil, Nana dirawat oleh kakek dan nenek Nana. Kedua orang tua Nana, sibuk dengan urusan lain dan juga orang lainnya. Sehingga Nana tidak terurus dengan baik oleh mereka," lanjut Ustadz Lana.


Nampak sekali jika Grietta mulai tertarik dengan cerita Ustadz Lana.


"Sejak kecil, Nana sangat dekat sekali dengan nenek dan kakek Nana. Pada suatu ketika, nenek meninggal," lanjut Ustadz Lana.


"Saat itu hanya ada kakek yang merawat Nana. Lama kelamaan, kakek berniat ingin mengembalikan Nana pada ayah dan ibu, padahal Nana sudah sangat sayang sekali dengan kakek dan ingin tinggal dengannya terus,"


"Kenapa kakek ingin mengembalikan Nana? Bukankah ayah dan ibu Nana tidak mau Nana? Mereka sudah memberikan Nana pada kakek nenek? Mengapa kakek tidak mau Nana lagi? Apa Nana tidak marah pada kakek?"


Pertanyaan Grietta begitu banyak sampai membuat Ustadz Lana terkejut. Gadis itu baru memulai bicaranya lagi, tapi sudah begitu banyak kata-kata yang mampu diucapkan.


"Tentu saja Nana marah. Nana tidak mau ayah dan ibu Nana lagi. Sampai pada akhirnya, Nana kabur dari rumah kakek," lanjut Ustadz Lana.


"Seperti aku?" tanya Grietta polos.


Ustadz Lana mengangguk. "Iya, kabur sepertimu. Nana berlari jauh dan tidak pernah pulang," ungkapnya.


"Kemana Nana perginya?" tanya Grietta lagi.


"Ke rumah saudara," jawab Ustadz Lana. "hmm, tapi setelah itu Nana sangat sedih,"


"Kenapa?" Grietta semakin penasaran.


"Nana mendapat kabar bahwa kakek telah meninggal dunia karena sakit. Beliau kecelakaan tertabrak mobil ketika hendak mencari Nana," jelas Ustadz Lana, mengingat kejadian masa lalunya.


"Sejak saat itu Nana tidak ingin membuat orang yang ngana sayang menjadi kesusahan. Nana menerima keputusan ayah dan ibu kemudian tinggal bersama mereka. Ternyata kakek minta Nana kembali dengan ayah dan ibu, karena kakek sendiri merasa ayah dan ibu Nana yang bisa mengurus Nana, bukan karena membenci Nana—"


Kisah itu memang kenyataan yang Ustadz Lana alami. Di asuh oleh kakek dan neneknya, kemudian satu persatu diantara keduanya meninggalkannya. Kemudian kembali bersama dengan orang tuanya meski harus adaptasi lagi karena kedua orang tuanya jarang sekali menengoknya.

__ADS_1


__ADS_2