Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Dukungan Keluarga


__ADS_3

Sarapan pagi, Grietta ikut Zira menyiapkan teh untuk pak kyai. Gadis kecil itu memaksa Zira untuk mengajarinya membuat teh untuk 'Yeye' barunya. Tentunya dengan tingkah lucunya ketika mengajak Zira yang sedang sibuk mau berangkat mengajar santri kecil di pesantren.


"Kenapa Grietta? Kenapa kamu terus mengikutiku? Apa yang kamu inginkan?" tanya Zira.


Grietta memperagakan orang sedang menuang minuman ke cangkir, kemudian memperagakan bagaimana meminum dan siapa orang yang meminumnya. Entah keahlian dari mana yang Zira dapatkan, dia mampu menebak dengan mudah dengan peragaan yang Grietta lakukan.


"Oh, kamu mau membuatkan paman kyai teh, kah?" tanya Zira.


Grietta memasang wajah imutnya dengan terus mengedipkan matanya berulang-ulang kali. Dia ternyata tidak paham dengan sebutan, 'paman kyai'.


"Maksudku, Yeye. Iya, Yeye. Kamu mau membuatkan teh untuk Yeye?" tanya Zira mengubah pertanyaannya.


Grietta mengangguk senang. Barulah Zira paham bagaimana cara memahami gadis kecil manis itu. Segera Zira pun mengabari Dian jika dia tidak bisa mengajar di pesantren pagi itu.


"Iya, aku sedang bersama dengan Grietta. Kamu bisa handle dulu, nggak?" tanya Zira.


"Aman, tenang saja. Aku akan meminta Mbak pondok untuk menggantikan tugasmu sementara waktu."


"Terima kasih, ya ...."


Zira menutup telepon dan segera mengajak Grietta ke dapur rumahnya. Biasanya memang Zira dan Dian tidak pernah ikut memasak di dapur umum pondok karena disana sudah ada yang menangani dapur. (Ndalem)


Pagi-pagi sekali Wafa sudah bersiap hendak ke kampus, dia memang mulai kembali aktif. Wafa ke dapur dan melihat Grietta disana. "Assalamu'alaikum," salamnya.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, " jawab Zira. "Wafa? Eh, kamu mau kemana? Tapi bener dah!" tanyanya.


"Biasa, ngampus," jawab Wafa.


Grietta datang memberikan Wafa segelas susu hangat yang ia buat bersama dengan Zira.


"Loh, apa ini—susu? Buat kakak?" tanya Wafa.

__ADS_1


"Mama!" seru Grietta dengan jelas.


Wafa tersenyum, menerima segelas susu tersebut, duduk, kemudian meminumnya sampai habis. "Pas sekali manisnya, terima kasih, ya ...." ucap Wafa.


"Zira, hari ini aku ngampus pagi saja. Kamu bisa jagain Grietta sebentar tidak? Sekolah dia masuk jam 9 karena gurunya sedang rapat. Bisa kamu antar juga kah? Pulang nanti aku yang jemput, kok!" pinta Wafa.


Zira langsung menoleh, memasang tatapan yang seakan-akan mengeluarkan laser tajam pada Wafa. Gadis lucu ini seperti tidak mau jika diminta mengurus Grietta. "Apa kamu tidak melihat tumpukan buku di sana? Seharusnya pagi ini aku mengajar, Wafa. Masa iya jam berikutnya aku juga libur?" jelasnya.


"Zir, hanya hari ini saja, kok!" sahut Wafa. "Kamu ini kenapa sulit sekali diminta membantuku saja? Hanya hari ini, karena besok sampai hari dimana Bapaknya pulang, aku yang akan menjaga," desaknya.


"Zar, Zir, Zar, Zir. Namaku Zira, Wafa Tahirah!" tegas Zira.


Wafa menahan tawa. Pipi sepupunya sudah menggebu, bibirnya sampai bisa dikuncir sebanyak dua belas karet Jepang. Melihat tanggapan Wafa itu malah semakin membuat Zira kesal saja.


Datanglah pak kyai dengan ditemani Sari. Hari itu Ustadz Zamil pulang lebih dulu karena ada pekerjaan di pesantrennya. Jadi meninggalkan Sari yang masih rindu dengan keluarganya di rumah.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


"Tidak berdebat paman, tapi anak paman ini melakukan pemaksaan kepadaku supaya aku mau menjalankan tugas dari Pak Bian untuk merawat Grietta," Zira menjawab dengan kekesalannya.


"Hanya hari ini, Zira. Itu saja juga cuma sampai tengah hari. Nanti aku yang jemput Grietta sekolah padahal," Wafa pun tidak mau disalahkan.


Grietta sendiri malah sedang sibuk membuat teh untuk pak kyai dan juga Sari. Perlahan, Grietta membawa baki kecil dan memberikan teh tersebut pada keduanya.


"Yeye!"


Suara imutnya itu membuat perdebatan Wafa dan Zira terhenti. Grietta malah seperti tidak peduli mau bersama siapa dirinya nanti ketika Wafa pergi. Masih ada banyak orang yang akan menjaganya di rumah itu.


"Yeye!"

__ADS_1


Memanggil sebutan kakak lagi, membuat pak kyai hatinya tersentuh.


"MasyaAllah, apa ini? Untuk Kakung? Eh, Yeye?" tanya pak kyai menerima secangkir tehnya.


Grietta mengangguk. Lalu menyodorkan sisa cangkir berisi teh hangat itu pada Sari.


"Kakak juga?" tanya Sari.


Grietta mengangguk tenang.


"MasyaAllah, tabarakallah, terima kasih cantik. Pintar sekali sih, kamu. Gemes banget." Sari sampai membelai rambut lembutnya Grietta.


Grietta juga membawakan cemilan untuk keduanya sarapan. Membuat hati pak kyai dan Sari semakin luluh pada gadis kecil itu. Sari bahkan menawarkan diri untuk mengurus Grietta hari itu.


"Abi juga mau menjaganya. Kebetulan Abi tidak ada jadwal apapun. Kamu bisa kuliah dengan tenang, Wafa. Nanti juga biar yang lain saja yang menjemput Grietta ke sekolah," kata Abi, sambil mengusap rambutnya Grietta.


"Tapi Abi, apa tidak terlalu merepotkan Abi? Wong Zira saja masih muda, jika ada yang lebih muda, ngapain juga to, Wafa ngrepotin Abi atau Mbak Sari," ucapnya.


"Kamu tenang saja, Wafa. Ada kami disini bersamanya. Kami juga akan membantu untuk menyembuhkan luka batin Grietta semampu kita. Dia hanya butuh kasih sayang banyak orang, kasus yang dialaminya tidak terlalu parah, kok," Sari pun juga sudah menaruh kasih pada gadis kecil itu.


"Benar apa yang dikatakan Mbak Sari. Wafa, kamu tinggal kasih arahan saja tentang jadwalnya Grietta. Serahkan pekerjaan itu pada paman kyai atau Mbak Sari," timpal Zira.


Mata Wafa langsung menyipit mendengar kata-kata itu dari mulutnya Zira.


"Hei, apa kamu lupa dengan Nabila dulu? Bukankah kasusnya sama dengan yang dialami oleh Grietta? Dia bahkan bisa sembuh dalam waktu dua minggu saja dan bisa kembali bicara lagi. Mentalnya juga membaik setelahnya. Bagaimana tidak, kita coba saja cara yang sama dengan pengobatan Nabila." lanjut Zira.


Pak kyai dan Sari setuju dengan usulnya Zira. Trauma yang dialami oleh Grietta pernah juga dialami oleh salah satu santri di pondok pesantren itu. Awalnya Wafa sedikit ragu karena usianya Grietta dan Nabila jauh berbeda. Tapi karena melihat ayahnya yang begitu yakin, Wafa pun setuju.


Hari itu, pak kyai akan mulai mentirakati Grietta dengan meminta nama lengkapnya dan juga tanggal lahir. Setiap pagi dan malam beliau akan memberikan segelas air doa. Pak kyai sampai ingin mengajak seluruh santrinya untuk membantu mentirakati gadis kecil itu supaya bisa bicara lagi.


Sari sendiri akan menciptakan suasana gembira pada Grietta. Meski Sari bukan ahli dalam bidang itu, tapi dia memiliki teman yang bisa membantunya nanti.

__ADS_1


Hati Wafa menjadi campur aduk pagi itu. Semua keluarga mau membantunya untuk menyembuhkan Grietta. Ia pernah berpikir bahwa keberadaan Grietta tidak mungkin diterima karena dia adalah anaknya Bian yang dimana pernah membuat pak kyai kesal karena dirinya terus pergi bersama dengan Bian sampai bolos kuliah.


Namun ternyata, mereka tetap menyayangi Grietta tanpa syarat karena memang kepedulian mereka terhadap anak kecil juga tinggi. Grietta sendiri yang tidak paham dengan apa yang diucapkan orang-orang dewasa di sampingnya hanya diam saja menikmati roti dan susunya.


__ADS_2