
"Kita sudah sampai rumah. Ayo, kita turun dan jangan membahas lagi tentang kamu yang merasa merepotkan saya, oke?" Bian memang memperlakukan Wafa dengan istimewa.
Wafa hanya mengangguk saja. Kemudian mengikuti langkah Bian masuk ke rumah. Rumah yang besar itu memang dihuni banyak orang dan pastinya tidak mungkin keduanya berdua-duaan. Tapi yang membuat gadis ini tidak nyaman adalah, karena di rumah itu pemiliknya hanya Bian dan juga Grietta saja. Tidak ada keluarga lain kecuali mereka berdua. Lalu, yang lainnya hanya seorang pekerja.
"Ya Allah, semoga keputusanku untuk menginap di rumahnya Pak Bian ini tidak menimbulkan masalah. Soalnya aku kan hanya numpang istirahat saja," gumamnya dalam hati. "Hooh, tidak ada hal lain yang aku lakukan kecuali numpang tidur!" Wafa meyakinkan diri.
"Kamu duduklah di sofa itu," pinta Bian. "Aku akan membersihkan badan dulu ke atas. Nanti akan ada pengurus rumah dia akan memberikan kamu pakaian dan juga mengantarmu ke kamar," imbuhnya.
"Baik, Pak." jawab Wafa.
Setelah Bian naik, Wafa duduk dengan pelan dan mengamati di sekitar ruang tamu yang begitu luas dan mewah. Wafa memang orang yang cukup berada juga. Tapi dirinya tidak pernah melihat furniture yang elegan dan mewah seperti yang ada di rumah Bian.
"Permisi, Nona Wafa," tiba-tiba ada yang mengagetkan gadis itu.
"Ah, iya?" sahut Wafa langsung menoleh ke arah pelayan tersebut.
"Saya adalah salah satu pelayan di rumah ini. Mari, saya akan tunjukkan di mana Anda akan istirahat malam ini. Tuan juga sudah menyiapkan pakaian ganti untuk, Nona juga," lanjut pelayan itu.
"Oh—"
Saking bingungnya ingin berekspresi apa dan juga berkata apa, Wafa hanya menjawab dengan jawaban 'oh' saja. Dian sungguh-sungguh memperlakukannya dengan baik.
"Jika perlakuannya seperti ini terus, bisa-bisa Aku bermainnya menggunakan hati. Padahal jelas-jelas dikontrak hanya pura-pura saja untuk membahagiakan Grietta," batin Wafa.
Wafa hanya belum mengerti saja jika Bian juga sebenarnya bermain menggunakan perasaan. Bukan berdasarkan kontrak. Menurut sifat dan karakter Bian ini tidak seperti perlakuannya terhadap Wafa. Bian yang terkenal dingin, sulit untuk sosialisasi kecuali membahas pekerjaan, juga terkenal sekali dengan sebutan pria tanpa perasaan karena memang tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Tapi bersama dengan Wafa, monster baik hati itu langsung menunjukkan sisi terbaiknya.
"Ini adalah kamar, Nona. Silahkan untuk bersih-bersih dulu. Jika sudah, Nona diharapkan turun untuk makan malam. Saya dan pelayan yang lainnya akan menyiapkannya dulu, permisi ..." pelayan itu langsung pergi.
"Kamarnya bagus sekali. Ini mah bukan kamar tamu, melainkan kamar pribadi. MasyaAllah, Allahumma sholli ala sayyidina muhammad. Aku sholawatin aja dulu. Siapa tahu nanti kamarku sebagus ini," gumam Wafa. Dia tidak henti-hentinya mengagumi rumah mewahnya Bian. Padahal kalau niat saja, Wafa bisa membuat kamar seperti itu.
__ADS_1
Melihat ada baju yang tergeletak di atas ranjang, Wafa yakin jika itu adalah baju ganti untuknya. Melihat ada tulisannya untuk baju ganti malam dan baju ganti besok pagi, Wafa pun ngikut saja dan bersyukur atas pemberian Bian kepadanya.
Setelah mandi selesai, Wafa segera turun untuk makan malam dulu. Dia tidak mau membuat para pelayan di rumah Bian kecewa karena tidak makan makanan yang mereka siapkan.
"Piyama ini rupanya nyaman juga," ungkapnya senang.
"Bahkan jahitannya saja begitu rapi. Kira-kira, berapa harganya, ya?" lanjutnya dengan terus menatap piyama berwarna biru mudanya.
Rupanya, Bian sudah di ada di dapur. Bertemulah mereka di dapur dan sama-sama terkejut karena piyama yang mereka pakai ternyata piyama pasangan. Bian sampai menyemburkan air minum yang sebelumnya sudah ada di mulutnya.
"Kenapa piyamanya sama?" tanya Bian.
"Lah, mana saya tahu, Pak. Piyama ini sudah tersedia saja di atas ranjang." jawab Wafa. Dia juga bingung.
Wafa pun duduk. Suasana pun menjadi canggung hanya karena piyama pasangan yang mereka kenakan. Wallpaper menanyakan apakah piyama milik Bian itu piyama baru atau tidaknya. Dengan tegas, Bian menjawab jika piyama itu sudah pernah dirinya pakai meski hanya sekali dan dibeli sejak dua tahun yang lalu. Itu juga berpasangan dengan putrinya, Grietta.
"Zaka!" panggil Bian.
"Zaka Yang!" panggilnya lagi. "Jika kau tak datang sekarang, aku pastikan gajimu bulan depan akan aku potong!"
Wafa terkejut dengan ketegasan Bian. Ia hanya diam dan tidak mau mencari masalah baru bagi Bian.
"Iya, Tuan!" sahut Zaka Yang, teriak dari kamarnya yang tidak jauh dari ruang tamu.
Tempat terburu-buru sekali Zaka Yang datang. Nafasnya masih tersengal-sengal dan masih berusaha mengatur nafasnya. "I-iya, Tuan? Apakah ada tugas yang harus saya selesaikan?" tanyanya.
Bian menunjuk piyama yang Wafa kenakan. "Piyama ini."
"Piyama? Maksudnya? Piyamanya kenapa, Tuan?" tanya Zaka Yang.
__ADS_1
"Apakah piyama ini kamu ambil dari lemari saya?" tanya Bian.
Zaka Yang mengangguk. "Benar, Tuan." jawabnya.
"Astaga ..." Bian menghela nafas. "Bukankah saya di telepon tadi mengatakan, bahwa saya memintamu membelikan baju untuk Nona Wafa yang baru?" lanjutnya.
"Benar," jawab Zaka Yang.
"Lalu kenapa kamu berikan Nona Wafa baju yang sudah dibeli dua tahun lalu, hah! Se—"
"Pak Bian ..." panggilan Wafa nan lembut ini membuat Bian berhenti bicara. "Pak Bian tidak perlu membentak Pak Zaka seperti ini. Mau pakaian ini dibeli dua tahun yang lalu, empat tahun yang lalu atau bahkan dari zaman orang tua kita masih muda, tetap saja ini adalah baju baru. Belum pernah dipakai oleh siapapun. Jadi, dimana masalahnya? Intinya Pak Zaka sudah menjalankan tugas dari Pak Bian untuk memberikan saya baju baru?" lanjutnya.
"Jadi, dimana salahnya?"
Zaka Yang mengangguk. Merasa bahagia karena ada yang melindungi dari amukan Bian.
"Sudahlah, saya lapar. Ayo duduk dan segera makan. Biarkan saya yang mengambilkan nasi untuk Anda," Wafa sampai lupa jika Bian juga majikannya saat ini.
"Oke." jawab Bian patuh.
Sikap Bian dan Wafa ini membuat seorang Zaka Yang bingung. Sebelumnya ada seorang pelayan yang tidak melayani Bian dengan baik dengan membantah ucapan Bian dan juga pelayan itu juga memintanya untuk segera makan, Bian marah besar sampai pelayan tersebut dipecat secara tidak hormat dari pekerjaan. Kurang lebih, sama dengan yang Wafa lakukan saat ini.
Namun, saat itu Bian malah patuh kepada Wafa dan tidak ada bantahan sama sekali. Malah menjawab, 'oke' dan duduk seperti anak kecil yang patuh terhadap ibunya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Tuan Huang ini? Mengapa beliau sangat patuh kepada Nona Wafa? Bukankah mereka berdua hanya sedang menjalankan kontrak saja? Kenapa sampai di tahap seperti ini?" kebingungan Zaka Yang dibawanya kembali ke kamarnya.
Zaka Yang bingung dengan sikap Bian sejak bertemu dengan Wafa di Gereja tempo hari ketika pernikahan mantan istri Bian. Zaka Yang sudah mengikuti Bian sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Saat itu, Zaka Yang dibully di sekolahnya dan Bian yang menyelamatkannya. Sekolah mereka berbeda. Tapi kebetulan saja Bian sedang lewat di jalanan dimana Zaka Yang sedang dibully. Sejak saat itu, keduanya menjalin persahabatan.
Pria berwajah serius tapi lucu ini terus saja memikirkan tentang Bian yang berubah menjadi lebih hangat. Padahal, sudah sejak dulu Bian memiliki sikap yang dingin dan tidak banyak bicara. Tapi bersama dengan Wafa, Bian banyak sekali basa-basinya.
__ADS_1