
Ramai langkah kaki orang-orang di luar yang baru saja pulang dari aula pondok. Bian mengintip dari jendela, ternyata pak kyai juga sedang menuju rumah utama. Laki-laki itu langsung duduk lagi dan merapikan penampilan karena akan bertatap muka dengan Wafa juga.
"Lama, ya?" Pak kyai menyapa.
"Lumayan, Pak kyai," jawab Bian sambil tersenyum.
Ustadz Lana, ustadz Zamil berjalan di belakang pak kyai. Disusul Sari, Zira dan Wafa yang masih mengenakan mukena. Pandangan Bian langsung tertuju pada Wafa, gadis itu tersenyum tipis, tapi benar-benar membuat hati Bian meleleh.
Ustadz Lana memperhatikan Wafa dan Bian secara bergantian. Mereka terlihat berbeda, tatapan dan senyumannya seperti untuk seseorang yang spesial. Jelas saja ustadz Lana merutuki Bian dalam hati karena telah membuat Wafa terpesona.
"Nduk, kalian siapkan makan malam dulu. Biar nanti Pak Bian tidak pulang terlalu malam, kasihan," perintah pak kyai.
"Baik, Abi," sahut Wafa lebih dulu.
Kemudian, Sari dan Zira menyusul Wafa ke kamar karena akan melepas mukena lebih dulu. Barulah mereka pergi ke dapur menyiapkan hidangan makan malam.
Sementara, para laki-laki tetap di ruang tamu dan mulai mengobrol. Kali ini Bian menjadi pembicara karena pak kyai sedang menanyakan perkembangan kerja sama antara pondok pesantren beliau dengan para pemilik yayasan.
Wajah datar ustadz Zamil sudah menjelaskan jika dia sangat tidak suka dengan topik pembicaraan malam ini, karena Bian menjadi yang paling diperhatikan oleh mertuanya.
Begitu pula dengan ustadz Lana, dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk bicara karena obrolan kyai dengan Bian cukup serius.
****
"Tadi ngurusin yayasan atau cuma jalan aja sama Pak Bian, Fa?" tanya Zira.
"Ngurusin yayasan. Nggak percaya banget jadi orang," jawab Wafa sambil melirik Zira.
"Tapi kok pulangnya bawa belanjaan. Banyak lagi," timpal Sari yang sedang memotong sosis.
"Karena kita lewat Supermarket tadi, ada sesuatu yang mau aku beli ya udah kita mampir," sahut Wafa lagi.
"Hmmm … sebenarnya aku curiga kalau kamu punya hubungan serius sama Pak Bian." Sari tidak sabar berbasa-basi sehingga langsung mengatakan apa yang sedang mengganggu pikirannya.
"Iya, kita serius banget ngurusin yayasan biar __"
"Jangan bohong deh, Wafa," pungkas Zira.
Wafa mulai kesal karena kedua sepupunya itu terus saja menggoda. Walaupun dalam hati dia senang karena memang Bian adalah laki-laki yang telah mengambil hatinya.
"Senyum-senyum terus. Tadi pede banget lagi di aula malah chatan," sindir Zira.
__ADS_1
"Lama-lama kena hukuman Abi baru tahu rasa." Sari tertawa kecil.
"Tenang saja selama nggak ketahuan. Kalian berdua ini kenapa? Lagian, mana mungkin aku sama Pak Bian punya hubungan spesial. Kita beda keyakinan. Masa … aku yang spek ukhti begini malah punya pasangan yang tidak seiman?" ungkap Wafa kemudian.
"Utututu, makanya nyari cowok yang seiman-seiman saja. Udah untung didekati ustadz Lana," celetuk Sari.
"Mbak Sari nggak tahu kan, gimana rasanya ada di posisi ini. Nyaman tapi harus menahan diri." Pada akhirnya Wafa mengeluh juga.
"Eh, udah yuk kita bawa ke ruang makan yang sudah masak ini," sela Zira.
Sari menyelesaikan menggoreng ayam krispi saat Zira dan Wafa membawa makanan yang sudah siap ke ruang makan. Tidak begitu lama kemudian—semua hidangan telah disajikan.
Zira pun memanggil pak kyai dan semua laki-laki untuk segera ke ruang makan. Ustadz Lana sudah sangat bersemangat untuk makan bersama Wafa. Sehingga dia masuk dengan cepat ke ruang makan dan mencari tempat duduk yang paling dekat dengan Wafa.
"Silahkan dinikmati, hanya masakan sederhana, tapi insyaallah nikmat jika kita mensyukurinya," ujar pak kyai begitu sampai di ruang makan.
Semuanya tidak ragu untuk mengambil menu masakan yang mereka suka. Kecuali Bian. Laki-laki itu segan sekali saat berada di tengah-tengah keluarga Wafa.
Dia duduk di seberang meja, tepat berhadapan dengan Wafa yang duduk di samping ustadz Lana. Mereka berdua masih saja saling menatap meskipun yang lainnya sudah mulai makan.
"Pak Bian mau sayur asem nggak? Ini aku ambilin kalau mau," tawar Wafa.
Ketika Wafa sedang mengambilkan sayur asem untuk Bian, tatapan ustadz Lana sangat berbeda. Apa lagi ustadz Zamil yang malah mengaduk-aduk makanannya dengan kesal sambil memperhatikan betapa perhatiannya Wafa terhadap Bian.
"Saya juga mau," sela ustadz Lana setelah Bian mendapatkan sayur asem itu.
"Oh, ini, ustadz bisa ambil sendiri. Kan dekat," sahut Wafa.
Wajah tampan ustadz Lana merah padam seketika. Betapa malunya dia saat Wafa menyuruhnya mengambil sayur asam sendiri, padahal Bian saja diambilkan. Namun, dia langsung mengambil sedikit dan kembali makan.
"Ikan ini juga aku yang kasih bumbu, lho. Mau coba juga nggak, Pak Bian?" tanya Wafa lagi.
"Saya mau sekali," jawab Bian yang membuat iri ustadz Lana dan ustadz Zamil.
"Ustadz juga mau ikannya? Ini Sari ambilkan," ujar Sari pada suaminya.
"Iya, Dek," jawab ustadz Zamil, pasrah.
"Zira juga mau ikan itu. Wafa, tolong ambilin," rengek Zira dengan suara manjanya yang khas..
"Ya … nih." Wafa langsung mengambilkan daging ikannya untuk Zira.
__ADS_1
"Maaf, Pak kyai, saya terpaksa harus pulang lebih dulu. Maaf jika sangat tidak sopan, tapi … Reyhan baru saja mengirim pesan kalau ada hal penting yang harus dibahas secepatnya," pamit ustadz Lana.
"Loh, loh, harusnya makan dulu sampai kenyang," sahut pak kyai.
"Terima kasih banyak. Besok saya berkunjung lagi. Maaf sekali, Pak Kyai." Dia pun beranjak dari tempat duduknya.
"Hati-hati, Ustadz Lana," ucap pak kyai saat dia melangkah pergi.
Kepulangan ustadz Lana tidak membuat Wafa berhenti memberikan perhatian lebih untuk Bian. Kali ini hanya ada ustadz Zamil yang menahan kesal setiap kali Wafa bicara dengan sangat lembut pada Bian. Namun, ustadz Zamil hanya bisa diam karena disampingnya ada Sari sebagai istrinya.
Usai makan malam, Bian juga harus pamit pulang. Wafa mengantar laki-laki itu sampai teras rumah dan mereka mengobrol sebentar di sana.
"Masakannya enak semua," puji Bian.
"Makasih, Pak. Aku kira Pak Bian nggak akan mau makan di sini, apalagi tadi suasananya ramai karena sepupu-sepupu saya lagi ngumpul," ujar Wafa.
"Enak kok. Aku juga nggak keberatan mau makan di mana saja," balasnya kemudian.
Ddrtt! Ddrt!
"Sebentar saya mau jawab telepon dulu dari Zaka dulu," pamit Bian, lalu melangkah sedikit jauh dari Wafa.
"Baik, saya segera ke kantor!"
Sebentar sekali Bian berkomunikasi dengan asisten pribadinya.
"Saya harus pulang sekarang. Sesuatu terjadi di kantor jadi saya mau melihatnya langsung," ujar Bian usai menerima panggilan dari Zaka.
"Iya, hati-hati Pak Bian." Wafa panik, tapi tidak banyak bertanya setelah melihat Bian terburu-buru.
Cklek!
Wafa masuk ke rumah. Pak kyai masih duduk di ruang keluarga, tapi Sari dan suaminya sudah masuk kamar karena ingin istirahat. Seketika kyai ingin menanyai Wafa tentang hubungannya dengan Bian setelah tadi Sari dan Zira sempat mencurigai jika mereka memiliki hubungan spesial.
"Tidak seperti itu, Abi." Wafa menyangkal tuduhan Abi-nya.
"Kamu itu Ning, putri kesayangan Abi yang seharusnya memiliki sikap terpuji untuk ditiru santri-santri di sini. Kamu malah senang sekali keluar sama laki-laki. Berbeda sekali dengan Sari yang sangat patuh pada Abi."
"Tapi —"
"Kuliahmu saja berantakan. Pindah-pindah jurusan itu biar apa, Wafa? Abi sampai lelah melihat tingkah kamu selama ini."
__ADS_1