Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Perdebatan Inneke dan Zaka Yang


__ADS_3

"Kamu, ihh ... aku malas melihat wajahnya yang menyebalkan itu!" desis Inneke. "Wafa! Kenapa kamu malah membiarkan dia masuk? Hancur sudah hari indahku disini hari ini." keluhnya.


Keduanya masih berdebat, Wafa hanya menikmati perdebatan itu dan bermain dengan ponselnya. Ponselnya belum bisa digunakan untuk membuka layanan internet. Jadi Wafa hanya bisa main game yang sempat ia download dari rumah.


"Apa kamu pikir, saya juga mau bertemu denganmu? Tidak, Nona menyebalkan!" sulut Zaka Yang. "Huft, kamu membuatku kesal saja!" imbuhnya.


"Jadi, kamu pikir aku bahagia bertemu denganmu? Oh, sangat jelas males. Aku yakin hari ini pasti akan menjadi hari terburukku. Akan ada kesialan dalam hariku ini jika bertemu denganmu, jomblo karatan!" Inneke tak mau kalah.


Perdebatan semakin sengit, padahal mereka bertengkar juga tepat di atasnya Wafa saat duduk. Inneke berdiri di depan Wafa, kemudian Zaka Yang berdiri di belakang sofa yang diduduki Wafa persis.


"Apa kalian tidak lelah ribut terus? Apa kalian tahu, suara bising mulut kalian itu didengar oleh Bos besar yang sedang membicarakan bisnis denganku," tegur Bian dengan tegas.


"Tuan, dia yang memulai dulu. Semu—" ucapan Zaka Yang terhenti.


"Apa dengan dia memulai lebih dulu, jadi kamu bebas membalasnya? Ada etika dalam berdebat, Zaka Yang. Seharusnya kalian berdebat di depan aku dan Wafa?" Bian menyela ucapan Zaka Yang.


"Kamu juga!" tunjuk Bian pada Inneke. "Apakah bagimu Zaka Yang itu adalah musibah? Bagaimana bisa dia membuat harimu hancur karena pertemuan ini?" lanjutnya.


"Lihatlah Wafa yang ada di bawah kalian. Apa kalian tidak memikirkan, apakah dia terganggu atau tidak dengan perdebatan konyol kalian, hah!"


Ketika Bian bicara, tidak ada yang berani menyelanya. Bagaimanapun juga, apa yang dikatakan oleh Bian memang ada benarnya. Itu sebabnya mereka memilih untuk diam dan mendengarkan nasihat dari duda kaya itu.


"Wafa," panggil sang duda.


"Iya?" sahut gadis itu.


"Ayo, kamu ikut bersama dengan saya. Biarkan mereka berdua tinggal disini," ajak Bian.


Wafa mengangguk pelan, kemudian beranjak dan mengikuti langkah kaki Bian.


"Wafa, jangan tinggalkan aku bersamanya, kumohon jangan pergi, aku tidak ingin bersama dengan si jomblo berkarat itu," Inneke sampai memohon pada Wafa dengan menahan lengannya. Tapi Wafa hanya menggelengkan kepala dan segera pergi.


"Tu-Tuan, anda ..." tatapan mata Bian sudah membuat Zaka Yang terdiam.


Kini, tinggallah mereka berdua di apartemen itu. Mereka saling menatap tajam, seolah sampai mengeluarkan laser dan kedua bola mata masing-masing. Setelah beberapa saat, mereka kompak membuang muka.

__ADS_1


'Untuk apa Pak Bian mengirim dia kemari? Jika dia mau jalan-jalan dengan Wafa, aku juga bisa tinggal di sini sendiri. Dia pikir aku tidak berani sendirian?' keluh Inneke dalam hati.


'Huft, hanya akan membuatku kesal saja kehadirannya itu!'


Sementara Zaka Yang, hanya diam saja. Tak banyak mengomel meski dalam hati. Lucunya, tiba-tiba mereka duduk secara bersamaan sebelumnya ditempati oleh Wafa.


"Woy, lah!" teriak Inneke, langsung menepi sampai duduk di sudut sofa.


Bug!


Zaka Yang menepuk sofa. "Ya Tuhan, bisakah kamu tidak berteriak?" Zaka Yang mengusap dadanya. "Kenapa harus berteriak?"


"Lah, ngapain kamu kenapa duduk di sofa ini? Aku kan jadi terkejut karena tiba-tiba kamu duduk di sebelahku. Mana sampai tangannya menyenggol tanganku pula!" ketus Inneke, otot lehernya sampai nampak karena memang bicaranya terlalu ngotot.


Zaka Yang menepuk keningnya. "Dari sekian sofa, kenapa kamu duduk di sofa yang ini? Kamu bisa saja duduk di sofa yang itu, 'kan?" penuh kesabaran, ketika pria ini menghadapi Inneke.


"Pokoknya kamu yang salah, bukan aku!" teriak Inneke.


"Terserah!" Zaka Yang mulai terpancing emosi. Beruntung saja dia hanya mengatakan satu kata itu, kemudian sibuk dengan ponselnya.


"Kenapa harus dia yang Pak Bian kirim untuk menemaniku? Masa iya tidak ada karyawannya yang gagah dan tampan seperti Daddy Shahrukh Khan?"


"Mengapa harus modelan seperti asistennya yang jomblo berkarat itu?"


"Eh, jomblo? Astaga, dari mana aku tahu jika pria itu jomblo?"


"Hm, tentu saja dari perawakannya. Siapa juga yang mau dengan orang cupu seperti dia? Biarlah, untuk apa aku memikirkannya. Tidak penting!"


Inneke meraih ponselnya, ia hendak bermain game di ponselnya. Sayangnya gamenya tak bisa dimainkan karena harus online, itu saja juga Inneke belum mengaktifkan data karena harus mengganti kartu simnya.


"Tidur saja lah!" serunya.


Tubuhnya terus berguling ke sana-kemari, tapi mata sipitnya itu tak kunjung mau terpejam. Otaknya terus memikirkan hal-hal random sampai Inneke kesal sendiri. "Hash!" ia menendang bantal yang ada disisinya.


"Tidak bisa dibiarkan!" kesalnya.

__ADS_1


"Aku akan meminta jomblo berkarat itu untuk membuatku senang. Oh, tidak meminta, tapi aku akan membuat dia bisa menyenangkan diriku!"


Inneke berjalan dengan cepat, seperti karakter tokoh Hulk yang sedang marah. Kakinya dihentak-hentakkan seperti anak kecil yang merengek minta balon pada ibunya.


"Woy!"


Teriakan dari Inneke membuat Zaka Yang terkejut sampai melempar ponselnya.


Kletek~


Suara renyah dari ponsel milik sang asisten yang kompeten jatuh menimpa vas bunga yang ada di meja. Kemudian kembali bersuara renyah jatuh ke lantai yang saat itu memang belum ada karpetnya. Melihat ponsel milik Zaka Yang yang kelihatan mahal, membuat Inneke menganga lebar.


Suara helaan nafas kasar keluar dari mulut Zaka Yang.


"Astaga, asisten jomblo berkarat. Apa kamu sudah tidak menginginkan ponselmu itu, sampai kamu harus melemparnya?" tanya Inneke lirih.


"Um, jika kamu sudah tidak menginginkannya, alangkah baiknya ponselmu itu didonasikan padaku. Tapi jika sudah jatuh seperti itu ... Sepertinya aku juga tidak mau," sambungnya percaya diri.


BRUAK!!


Zaka Yang menggebrak meja.


Tapi ia masih bisa menjaga emosinya, menahan amarahnya supaya keadaan tidak membuat dirinya dalam situasi yang rumit karena sebelumnya Bian mengatakan jika dirinya tidak ingin mendengar sedikitpun keluhan dari Inneke tentangnya.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Zaka Yang memungut ponselnya dan melangkah pergi dari ruang tamu. Dia berjalan menuju pintu dan ingin keluar dari apartemen.


"Hei, kamu mau kemana?" tanya Inneke menghentikan langkah Zaka Yang. "Apa kamu ingin meninggalkan aku? Jika iya, kamu harus membelikan aku kartu Internet dulu, aku sangat bosan jika tidak bermain game online kesukaanku." perintahnya dengan santai.


Zaka Yang merogoh sakunya. Sebenarnya dia sudah membelikan kartu internet untuk Wafa dan Inneke, ia hanya ingin bermain dengan Inneke dan baru akan memberikan jika Inneke sudah menyerah. Sayangnya, Inneke sudah membuatnya kesal lebih dulu. Jadi Zaka Yang juga tak ingin menyimpan kartun internet itu lagi.


"Ambil dan jangan berisik. Aku malas meladeni gadis yang tak punya tata krama sepertimu." Zaka Yang mengucapkan kata itu menggunakan bahasa Mandarin, kemudian melempar kartun tersebut ke meja.


BLAM!!


Pintu tertutup. Zaka Yang tak bisa masuk lagi karena tidak tahu pin apartemen itu. Tentu saja Inneke tahu PINnya karena sebelumnya Wafa sudah memberitahunya. Tapi saat itu, Inneke hanya diam dan menatap kepergian Zaka Yang dengan raut wajah yang tidak senang.

__ADS_1


__ADS_2