Cinta Dari Mas Duda

Cinta Dari Mas Duda
Suka


__ADS_3

"Tunggu, tunggu sebentar!"


Wafa menutup teleponnya. Ia kembali masuk ke aula, tapi langkahnya terhenti karena ketiga saudarinya sudah berdiri di depan aula.


"Kalian ngapain disini?" tanya Wafa lirih.


"Hmm, kita hanya ... hanya mencari udara segar saja, hehe," jawab Dian.


"Mana ada mencari udara segar? Kita mah nguping, penasaran saja dengan apa yang terjadi," celetuk Zira.


Jawaban Zira membuat Wafa memutar bola matanya. Tak disangka jika Zira malah jujur terhadapnya. Namun tidak dengan Sari, alih-alih menjawab, dia malah bertanya, "Bagaimana? Apakah Grietta sudah pulang?"


Wafa menggelengkan kepala.


"Ya Allah, astaghfirullah hal adzim. Lantas, bagaimana? Wafa, sebaiknya kamu ikut mencari. Entah kenapa Mbak menjadi khawatir padanya, dia masih kecil sekali. Mau kemana malam-malam seperti ini?" imbuh Sari, panik.


"Tadarus sudah akan dimulai. Ini juga sudah sangat larut, santri lain pasti juga ingin istirahat mbak. Bagaimana mungkin aku meninggalkan kegiatan yang selalu aku lakukan setiap tahunnya?" Wafa semakin bingung.


"Lalu, apa kamu tega jika terjadi apapun pada Grietta?" sahut Dian.


"Jangan bicara seperti itu!" sentak Wafa. "Kalian sangat tahu bagaimana sayangnya aku padanya. Mana mungkin aku bisa tenang jika terjadi sesuatu padanya," lirihnya.


Ketika saudarinya pun mengusulkan untuk Wafa ikut dalam pencarian Grietta. Sangat berat dalam hati untuk memilih antara sesuatu yang selalu ia lakukan dalam setiap tahunnya atau mencari gadis kecil yang sudah mengubah warna hidupnya.


"Wafa, apa yang dikatakan Mbak Sari dan Dian memang ada benarnya. Kita akan menjelaskan kepada paman Kyai dan santri lain dengan masalah ini. Pasti mereka mengerti," Zira mode bijak.


"Tapi ..."


Kebimbangan Wafa membuatnya malah sakit kepala. Belum sempat ia menjawab usulan dari Zira, Bian malah meneleponnya.


Ddrrtt ... drrttt ...


"Mas Bian?" Wafa membaca nama kontak yang meneleponnya.


"Apa itu dari Pak Bian?" tanya Sari.


Wafa mengangguk.


"Kalau begitu, jawablah!" Sari sangat tidak sabaran. Sebagai calon ibu, hatinya semakin sensitif jika sudah menyangkut soal anak.

__ADS_1


Wafa mengangguk, kemudian menjawab telepon dari Bian. Tidak lupa mengaktifkan loudspeaker supaya para saudarinya bisa mendengar.


'Wafa, Grietta masih belum ditemukan. Bisakah saya menjemputmu dan membantu mencarinya? Kita sama-sama mencari Grietta jika kamu ada waktu luang. Saya tahu ini sudah sangat larut, tapi saya juga bersedia bicara dengan ayahmu, supaya mendapatkan izin keluar bersama saya malam ini, tolong ....'


Bian memang pria yang baik jika sudah tulus dengan seseorang. Bahkan Zaka Yang dan keluarganya saja sejak dulu diperlakukan dengan sangat adil. Tak heran jika Zaka Yang mengabdi lama dengan Bian.


Sari mengangguk, dia mengizinkan adiknya untuk pergi bersama dengan Bian. Wafa menatap Zira dan Dian, keduanya juga mengangguk setuju. Wafa pun melenguh, akhirnya dia kalah dalam benteng pertahanan menjadi pembuka tadarusan.


"Baiklah, Mas. Jemput saja saya di depan gerbang pesantren. Abi saat ini sudah istirahat karena memang tidak enak badan. Saya tunggu—segera," jawab Bian.


"Baiklah, saya langsung menuju ke pesantren."


Tut .... tuuut ....


Telepon terputus. Wafa menghela nafas pelan, mencerna dan memahami situasinya yang tidak mudah.


"Kenapa masih disini? Sana bersiaplah. Kami akan mengantarmu sampai gerbang pesantren," Sari menepuk bahu adiknya.


Wafa mengangguk.


Setelah bersiap, segara mereka pergi ke gerbang pesantren. Zira yang menggantikan Wafa membuka awal tadarus di bulan Ramadhan. Sementara Sari dan Dian yang mengantar Wafa sampai gerbang pesantren.


"Ikhlas, Wafa. Grietta harus segera ditemukan, kasihan dia," Sari kembali menepuk bahu Wafa.


"Tapi biasanya memang kalau sahut kan kita bersama-sama. Mbak Sari aja bela-belain nginep lama di sini untuk menjaga Abi disaat aku pergi dan sekarang juga sahur pun bersama dengan Abi," ucap Wafa lirih.


Dian meraih tangan Wafa, mengusap dengan lembut serta mengatakan, "Kamu tidak perlu khawatir. Memang akan terasa tidak puas hati jika biasanya dilakukan, tapi sekarang tidak. Besok kan juga sahur lagi, masih ada waktu,"


"Hmm, aamiin. Tapi kan sahur pertama, buka pertama, tadarus pertama, alangkah indahnya jika dilakukan bersama keluarga di rumah. Butuh setahun lagi untuk kembali untuk bertemu dengan sahur pertama," kata Wafa.


"Bagaimana jika tahun depan kita sudah tidak lagi bersama dan sibuk dengan urusan masing-masing? Kan meng sad," celetuk Wafa, masih memasang muka masam.


Sari tersenyum manis, dia mengatakan pada adiknya untuk tidak terlalu mencemaskan. Menemukan Grietta saat itu sangat penting. Setelah bercengkrama sedikit lama, akhirnya mobil Bian sudah kelihatan.


"Itu mobil, Pak Bian," kata Wafa.


"Ekh, bukankah tadi kamu sudah memanggilnya dengan sebutan, Mas? Kenapa ini lain lagi? Ada denganmu, Wafa?" ledek Dian.


"Hish, bukan urusanmu!" kesal Wafa. "Sudahlah, aku pergi dulu. Mbak, pamit," Wafa mencium tangan Sari seperti biasa ketika mereka bertemu maupun berpisah.

__ADS_1


"Aku pergi," lanjut Wafa, menatap Dian. "Kalau aku terlambat pulang nanti, tolong berikan alasan yang tepat untuk Abi, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,"


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


Wafa masuk ke mobil Bian. "Selamat malam," sapanya.


"Malam," sahut Bian.


Tanpa basa-basi lagi, Bian langsung tancap gas dan mulai mencari Grietta. Wafa terlihat tidak semangat ketika mencari Grietta, hal itu membuat Bian pun harus bertanya.


"Kita sudah sampai disini, saya rasa Grietta tidak datang kemari," kata Bian, menghentikan mobilnya.


"Ada apa denganmu? Apakah saya mengganggu waktumu?" tanya pria itu sedikit lebih hangat.


Wafa menggelengkan kepala. "Saya hanya sedikit mengantuk saja. Bisakah kita jalan lagi? Segera kita menemukan Grietta, entah kenapa perasaan saya tidak enak seperti ini," katanya.


Bian masih belum menjalankan mobilnya. Helaan nafas kasar itu sangat jelas mendeskripsikan bahwa pria itu juga sebenarnya sudah lelah.


"Sebenarnya apa yang terjadi sebelumnya? Tidak mungkin jika Grietta kabur tanpa alasan, Mas," tanya Wafa.


"Seperti biasa memang tidak ada apapun yang terjadi menurut saya. Hanya saja, sebelumnya dia meminta ingin tinggal bersamamu dan mengatakan jika dia tidak ingin kembali bersama ibunya," ungkap Bian.


"Saya juga tidak tahu mengapa dia terus-menerus mengatakan hal seperti itu. Padahal saya juga sudah berulang kali mengatakan tidak akan ..." ucapan Bian terhenti kala melihat betapa cerahnya wajah Wafa.


Mereka berdua saling bertatap. Entah tatapan yang keberapa, Bian tidak tahu. Yang sangat pasti, Bian selalu merasa tentram kala melihat tatapan mata indahnya Wafa.


"Tidak akan apa, Mas?" tanya Wafa dengan suaranya yang begitu lembut.


"Mas,"


"Mas Bian!"


Sempat ngelamun, Bian pun akhirnya tersadar. 'Huft, apa yang terjadi padaku? Ini sudah di luar nalar, bagaimana bisa aku suka sekali ketika dia melihatku seperti itu?' batinnya.


"Mas! Kenapa tidak dilanjutkan? Tidak akan apa?" Wafa mengulangi pertanyaannya.


"Sebenarnya dulu saya dan Flanella—ibu kandungnya, Grietta pernah berdiskusi tentang masalah hak asuh. Menyetujui apa yang sudah menjadi keinginannya Flanella. Jika suatu saat nanti dia menginginkan putrinya kembali, maka saya tidak bisa menolaknya," jelas Bian.


"Sudah sangat jelas anda begitu mencintainya. Mengapa harus berpisah? Bukankah itu malah membuat anak menjadi korban?" lirih Wafa, memalingkan pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2