
Ramadhan telah datang, seluruh umat muslim di dunia melaksanakan sholat tarawih dan mengisi penuh masjid, mushola di setiap daerah. Wafa telah bersama dengan keluarganya, dia juga terlihat bahagia sekali bisa menyambut bulan suci Ramadhan bersama ayah dan kakaknya.
"Mbak Sari mau menetap disini, kah?" tanya Wafa.
Wafa, Sari, Zira dan Dian sedang berjalan menuju aula santri putri untuk melaksanakan sholat tarawih.
"Tidak tahu juga. Ustadz masih ada di luar kota, jadi Mbak menunggu ustadz kembali saja," jawab Sari.
"Hmm, apa kalian tidak memiliki panggilan lain apa? Ustadz, ustadz, ustadz. Jadi kek nggak ada bedanya antara Mbak Sari dengan orang lain ketika memanggil Ustadz Zamil," sahut Zira, gadis itu itu geli mendengar Sari terus menyebut suaminya dengan sebutan Ustadz.
"Cerdas!" timpal Wafa mengacungkan jempol pada Zira.
"Kalian tidak ada di posisiku, mudah sekali kalau ngomong saja," Sari merajuk.
Sari berjalan cepat meninggalkan ketiga adiknya.
"Hmm, mood ibu hamil memang begitu ya. Sulit ditebak dan tidak stabil, kita harus lebih sabar ini mah!" seru Dian.
Shollu sunnatat-tarawihi rak'ataini jami'atan rahimakumullah.
Shalat tarawih dimulai, setelah melaksanakan shalat isya' tentunya.
Sementara Bian, dia masih saja berdiam diri di depan laptopnya. Pria ini tidak tahu apa yang ia pikirkan tentang Wafa, sampai-sampai ia harus kehilangan waktu lemburnya.
"Kenapa akhir-akhir ini aku mulai kepikiran tentang Wafa?"
"Memang sebelumnya dia selalu ada dalam pikiranku. Tapi untuk sekarang ...."
"Dia gadis yang cantik. Siapa yang tidak mau menikahinya?" Bian melihat foto Wafa yang berada di layar laptopnya.
Beberapa hari lalu ketika masih di Tiongkok, Grietta merubah wallpaper laptop Bian menggunakan foto mereka bertiga bersama Wafa. Foto itu diambil begitu mereka sampai di sana.
"Wajahnya yang teduh ini ..."
Kekaguman Bian pada Wafa menjadi rasa suka. Pria ini sampai seperti orang gila karena terus tersenyum sendiri menatap layar laptopnya.
Tok... Tok ... Tok ....
Suara pintu diketuk, membuat lamunan Bian terpecah.
__ADS_1
"Siapa?" tanyanya.
"Ini saya, Tuan!" suara Zaka Yang.
"Haih, dia ini selalu saja. Mengganggu kesenanganku," keluh Bian secara lirih. "Masuklah!" perintahnya sambil menutup laptopnya.
Pria yang sama-sama usianya menginjak kepala tiga itu masuk membawakan secangkir kopi dan makanan yang baru saja ia buat. "Tuan, makanlah sedikit. Ini daging B2 dengan kecap asin, kesukaan anda. Silahkan ..."
"Hmm, terima kasih," ucap Bian, meraih sumpit yang sudah Zaka Yang sediakan juga.
B2 kecap memang kegemaran Bian sejak dulu. Namun setelah mengenal Wafa, Bian tidak lagi makan makanan seperti itu. Waktu mau memasukkan potongan kecil daging itu, ia teringat akan gadis yang telah membuatnya sulit tidur.
"Kenapa, Tuan? Apakah aromanya tidak sedap?" tanya Zaka Yang memastikan.
Bian meletakkan kembali daging itu.
"Berapa banyak stok daging sejenis ini?" tanya Bian balik.
"Tidak banyak, tapi ada 3 toples daging B2 ini, Tuan," jawab Zaka Yang.
Bian menghela nafas pendek.
"Kau pesankan aku makanan lain di luar sana. Carilah daging ayam atau sapi. Lalu, minta pelayan rumah untuk mengganti semua perkakas di rumah ini. Buang semua alkohol, makanan atau minuman yang mengandung alkohol, juga daging B2 seperti ini. Aku sudah tidak ingin mengonsumsi makanan dan minuman sejenisnya," perintah Bian.
"Tuan, saya khawatir sekali dengan anda. Bagaimana mungkin anda yang suka dengan daging, sekarang beralih menjadi vegetarian? Tuan, an—" ucapan Zaka Yang terhenti.
"Saya mengerti, Tuan. Saya akan pesankan makanan untuk anda secepatnya," lanjut Zaka Yang, tahu betul jika Tuannya tidak ingin mendengarkan protesan.
Secangkir kopi Zaka Yang letakkan, sepiring daging B2 kecap ia bawa kembali. Tapi baru saja mau keluar ruang kerja, langkah Zaka Yang terhenti. "Itu, Tuan?"
"Apa lagi?!" suara Bian sudah berubah.
"Um, ini ... jika ini tidak mau Tuan makan, apa saya boleh memakannya?" dengan gugup, Zaka Yang bertanya itu.
Tatapan Bian membuat Zaka Yang bingung. Antara boleh atau tidaknya, Zaka Yang tidak bisa menebak dari raut wajah Tuannya.
"Jika tidak boleh, maka aku akan berikan pada anjing kita saja," suara Zaka Yang lemas, kecewa karena makanan seenak itu harus diberikan pada anjing yang mungkin saja juga tidak suka.
"Kau makan saja, tapi setelah ini kau pun juga tidak beh mengonsumsi makanan yang sama, paham?!"
__ADS_1
Mendebarkan sekali perintah Bian. Zaka Yang yang sangat menyukai daging B2 dan alkohol sampai tercengang. Tapi apa boleh buat, dia harus patuh saja karena bagaimanapun juga, semua itu demi kesehatannya. Dengan berat hati, Zaka Yang menyetujuinya.
"Baik, Tuan."
Setelah Zaka Yang pergi, kini giliran Grietta yang datang. Gadis kecil itu membawa boneka beruang diperlukannya.
"Papa!"
Suara lembut Grietta membuat Bian menghentikan aktivitasnya. "Grietta? Kamu datang kesini? Kemarilah!"
Gadis kecil berponi itu berlari semangat menghampiri ayahnya. "Apa aku boleh duduk disini?" tunjuknya mengarah ke paha Bian.
"Tidak!" tolak Bian.
Masih saja Bian bersikap dingin terhadap putrinya. Tentu perlakuan Bian membuat Grietta sedih. Si cilik cantik ini mengurungkan niatnya untuk bicara dengan ayahnya.
"Hei, kau mau kemana?" tanya Bian, menghentikan langkah putrinya.
"Papa tidak menyayangiku. Jadi, aku tidak mau bicara denganmu!" Grietta langsung lari keluar.
Si cantik yang malang itu berlari masuk ke kamarnya dan segera membenamkan wajahnya. Terisak karena merasa ayahnya tak pernah menyayanginya.
Lagi-lagi ingatan pendengaran Grietta dalam percakapan ayah dan ibu kandungnya, dimana mereka sedang berdebat tentang hak asuh. Grietta takut sekali jika ibunya akan mengajaknya pergi dari rumah itu. Ketakutannya hanya semata dia tidak bisa lagi bertemu dengan Wafa.
"Aku tidak mau Papa Ji Xie dan Mama Flanella. Aku hanya ingin Mama Wafa dan Nana. Aku ingin bersama dengan Mama Wafa dan Nana, aku tidak mau tinggal dengan Mama Flanella,"
Griatta terus mengatakan itu dalam tangisnya.
Tepat pukul 10 malam, Grietta kabur dari rumah. Gadis itu hanya memakai pakaian yang melekat pada tubuhnya. Ia hanya menambahkan jaket tipis dan memasukkan semua uang yang ia tabung di sakunya.
"Aku harus menulis surat, tapi aku belum bisa menulis," gumam gadis itu.
"Um, sebaiknya aku gambar saja!"
Tangan mungil Grietta menari di atas kertas menggunakan pensil. Gambarnya memang tidak bagus, tapi disana jelas bagaimana perasaan yang saat itu ia rasakan.
"Aku pergi dari pintu belakang saja,"
Grietta berjalan dengan sangat hati-hati menuju pintu belakang. Pintu dari belakang memang langsung mengarah ke jalan raya besar. Tidak ada tembok pembatas lain disana. Memang didesain oleh Zaka Yang untuk para pelayan di rumahnya.
__ADS_1
"Kunci, dimana kuncinya?" gumam gadis kecil itu.
Hanya bermodalkan tenaga dan juga uang tabungan saja, Grietta mampu kabur dari rumahnya. Gadis berusia mau 7 tahun ini benar-benar melahirkan diri.